
ANGGREK
Aku adalah salah satu murid di sekolah mage Quardia. Sejak kecil aku sudah berlatih menjadi seorang mage. Sebenarnya aku adalah mage expert tipe api. Aku mewarisi kemampuanku dari ayahku. Ayahku dahulu juga merupakan mage yang hebat. Ia juga mage expert yang bertugas melayani putri Annita. Karena tuan putri terlalu baik hati ia membebaskan ayahku dan mage expert lainnya untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Mereka hanya akan melaksanakan tugas jika tuan putri membutuhkan mereka.
Mungkin sebab itu, sejak aku kecil ayahlah yang selalu mengajariku berlatih menjadi mage. Sampai saat aku sudah dirasanya cukup siap untuk bersekolah di sekolah mage. Ayah juga mengimku kesekolah mage Quardia karena banyak alasan. Selain rasa terimakasihnya kepada tuan putri, ia juga mengirimku untuk berlatih agar siap menanggung tanggung jawabku sebagai mage expert kerajaan.
Hari ini seperti biasa aku berangkat kesekolah. Sekarang aku tinggal di asrama sekolah. Meskipun begitu aku masih dapat bertemu keluargaku ketika hari libur. Di sekolah ini aku hanya mengulang pelajaran yang pernah ayahku ajarkan. Jadi tak heran jika aku menjadi murid terbaik di kerajaan ini.
Sebagai murid terbaik sekolah, ada hal yang baik terjadi dan ada juga yang sebaliknya. Hal hal yang baik seperti banyak anak yang menghormatiku. Mungkin karena mereka tak berani melawanku. Namun aku tidak mau memanfaatkan hal ini untuk menindas mereka yang lemah. Aku terkadang malah membantu mereka dari gangguan anak lain.
Untuk hal buruknya, aku selalu saja mendapat tantangan dari oranglain yang ingin merebut posisiku sebagai yang pertama. Bahkan ada yang membicarakanku di belakangku. Seperti contohnya adalah hari ini. Hari ini aku harus melayani salah satu anak laki laki yang agak sedikit sombong. Meskipun ia termasuk sepuluh besar sekolah ini namun karena kesombongannya aku berhasil mengalahkannya. Ia adalah Rona.
Seperti yang sudah kami janjikan, aku akan menemui sahabatku setelah berhasil mengalahkan si Rona ini. Begitu aku selesai mengalahkannya aku segera pergi menuju ke hutan kerajaan Quardia. Hari ini aku akan menemaninya berlatih disana. Karena hari ini libur kami memanfaatkannya untuk berlatih dan bersantai diluar sekolah.
Airin itulah nama sahabatku. Ia adalah putri kerajaan Quardia. Meskipun ia tak akan menjadi ratu di kemudian hari namun ia tetaplah ratu kerajaan Quardia. Ia adalah sepupu dari putri Annita. Ibunya dan putri Annita adalah saudara, mereka hanya terpaut dua tahun lebih tua putri Annita. Airin juga seorang mage expert. Ia adalah tipe air.
__ADS_1
Begitu aku sampai di sana ia telah berlatih terlebih dahulu. Aku pun menghampirinya. Ia menghentikan latihannya dan pergi menemuiku. Ia menanyakan tentang pertandinganku kali ini. Aku menjawabnya dengan sedikit bangga bahwa aku berhasil menghajarnya lagi kali ini. Dan ia pun hanya tersenyum tertawa seolah olah ia telah memprediksikannya.
Tiba tiba terdengar sesuatu terjatuh. Kami langsung menghampirinya. Kami terkejut ternyata yang jatuh itu adalah seorang anak laki laki. Aku sedikit curiga dengannya bagaimana ia bisa sampai di sini. Apakah ia telah mengamati kami sejak tadi. Akupun mengeluarkan pedangku dan menyuruhnya untuk berbicara.
Anak laki laki tersebut menjelaskan bahwa ia juga sedang berlatih bergelantungan di pohon. Aku tertawa dalam hati, anak ini memangnya monyet apa berlatih kok berlatih bergelantungan di pohon. Setelah ia menjelaskan semuanya ternyata ia juga bisa bermain pedang. Karena penasaran aku memintanya untuk bertanding melawanku.
Akhirnya kami pun bertanding. Agar pertandingan ini adil aku berusaha untuk tak mengeluarkan kemampuan mageku. Ia ternyata lebih hebat dari dugaanku. Kecepatan dan kemampuannya bermain pedang melebihi kemampuanku. Baru kali ini aku melihat anak sehebat ini. Akhirnya aku terpaksa mengeluarkan kemampuan mageku. Kami berhadapan sekali lagi dan akupun kalah.
Hatiku langsung terasa kosong. Sudah lama sekali aku tak merasakan kekalahan. Airin membantuku berdiri. Kemudian ia mengutarakan maksud kedatangannya. Ia ingin aku dan Airin membantunya masuk ke sekolah kami. Kami hanya bilang bahwa kami hanya bisa membawanya masuk menemui kepala sekolah saja untuk selanjutnya kepala sekolahlah yang menentukan.
sejak saat itu setiap kali aku bertemu dengannya hatiku selalu berdegup kencang. Seolah olah ada sesuatu yang menarik darinya. Mungkin sebab ia adalah anak pertama yang berhasil mengalahkanku. Atau mungkin sebab ia yang perhatian denganku. Seperti tadi ketika aku kalah ia menghiburku dengan mengatakan bahwa mungkin aku sedang kelelahan karena sebab itu aku kalah. Ternyata ia juga melihat pertandinganku.
@
Hari ini seperti biasa aku masuk sekolah. Aku sekelas dengan Airin. Pelajaran kali ini seperti biasa sangat membosankan. Meskipun aku sangat bosan aku mencoba untuk memperhatikannya. Aku tak ingin reputasiku sebagai murid terbaik tercoreng. Pelajaran di sini aku telah menguasainya Bersama ayah.
__ADS_1
Di tengah pelajaran aku ingin sekali untuk segera keluar istirahat. Meskipun begitu sangat susah untuk mencari alasan. Tiba tiba ada panggilan untuk aku dan Airin, katanya kami ditunggu oreh seseorang. Aku baru ingat bahwa kami ada janji dengan seseorang. Kemudian kami meminta ijin untuk meninggalkan kelas.
Kami pergi ke gerbang sekolah untuk menemui anak yang kemarin. Ternyata ia benar benar datang. Kami pun dating menghampirinya. Setelah itu kami meminta ijin kepada satpam untuk membawanya bertemu kepala sekolah. Setelah mendapatkan ijin kami pun segera pergi menemui kepala sekolah.
Ketika kami menemui kepala sekolah, ternyata ia bisa masuk kesekolah ini namun ada syarat yang harus ia penuhi. Bagiku itu adalah syarat yang berat. Namun ia menyanggupinya. Aku merasa khawatir dengannya namun karena itu adalah pilihannya maka aku tak bisa menghalanginya. Aku hanya dapat mendoakannya.
Setelah menerima syarat tersebut ia segera pergi melaksanakan syarat tersebut. Sebenarnya aku ingin Bersama dengannya lebih lama lagi. Namun ia terburu buru pergi. Aku juga berharap agar ia berhasil dan dapat bersekolah disini. Sehingga kelak kami dapat Bersama.
Namun sejak saat itu aku tak pernah mendengar kabar tentangnya. Aku sedikit cemas kepadanya. Apakah ia baik baik saja. Kalua tidak kenapa ia tak pernah menghubungi kami lagi. Ada sedikit penyesalan di hatiku karena tak menghentikannya waktu itu. Sebelumnya aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini.
@
Pelajaran telah dimulai, namun aku masih tidak focus dengan pelajaran. Sejak saat berpisah dengan Shaka aku tak pernah serius mengikuti pelajaran. Pikiranku selalu di penuhi tentang dia. Terkadang aku selalu merasa bersalah. Airin mengetahui tentang perasaanku ia juga menghiburku saat aku sedang terpikir tentangnya.
Ditengah pelajaran, tiba tiba aku dan Airin dipanggil kepala sekolah. Kami pun segera menuju ke ruangannya. Setelah sampai di ruanganya kami membicarakan tentang Shaka. Seketika hatiku langsung bersemangat ketika ia ternyata berhasil masuk ke sekolah ini. Ternyata selama ini ia tak pernah menghubungi kami sebab ia sedang dalam masa pemulihan.
__ADS_1
Yang lebih membahagiakan lagi adalah kamu mendapat tugas khusus untuk melindunginya. Aku dengan senang hati menerima tugas ini. Besok Shaka baru akan bersekolah disini. Setelah selesai berbicara dengan kepala sekolah kami diperbolehkan untuk kembali kekelas kami. Di sepanjang jalan kekelas, Airin selalu menggodaku bahwa aku menyukai Shaka. Namun aku selalu menyembunyikannya dengan mengatakan bagaimana mungkin aku mage api terhebat jatuh cinta dengan anak nonmage.