THE LAST STAR

THE LAST STAR
chapter 13


__ADS_3

Pagi telah datang, ternyata aku tidur terlalu awal. Lelahku juga telah hilang. Aku bersiap kembali untuk bekerja. Seusai sarapan aku langsung pergi menuju ke sekolah. Ternyata pagi ini masih terasa sangat dingin meskipun cuaca hari ini sangat cerah. Mungkin hanya tubuhku saja yang kurang enak.


Begitu aku sampai di sekolahpun suasananya masih sepi. Aku datang agak cepat dari biasanya karena tak ada hal lain yang kulakukan. Aku juga sering menghabiskan banyak waktuku di sekolah. Mungkin di sekolah juga aku dapat menghilangkan rasa rinduku. Dengan kesibukan di sekolah aku terkadang lupa tentang masalah masalahku.


Di lorong gedung tempatku berada terdapat banyak sekali foto foto yang di pajang. Orang orang yang berada di foto adalah orang orang yang hebat dari sekolah ini. Mereka merupakan tokoh hebat di masanya masing masing. Namun ada salah satu foto yang paling berharga bagiku. Foto itu adalah foto orang yang sangat kukenal. Tak ingin larut dalam kesedihan aku segera menuju keruanganku.


Ditengah pekerjaanku tiba tiba terdengar suara panggilan dari satpam penjaga gerbang. Katanya ada seorang anak kecil yang ingin menemuiku. Anak kecil mungkinkah ia adalah anak yang kemarin. Aku menyuruh satpam itu untuk membiarkan anak tersebut masuk.


Aku berpikir, apakah anak kecil ini berhasil melakukan hal kemarin. Jika ia memang berhasil maka ia adalah anak yang hebat. Tapi bukanlah sangat sulit untuknya dapat mengalahkan seekor monster. Apalagi yang harus ia hadapai adalah monster tingkat A. Bahkan bagi murid di akademi ini untuk bisa mengalahkan monster tingkat A bukanlah hal yang mudah.


Ditengah aku berpikir, terdengarlah suara ketukan pintu aku menyuruhnya masuk. Ternyata benar yang datang adalah anak kecil tersebut. Kali ini ia datang dengan tubuh penuh dengan perban. Mungkinkah ia memang berhasil. Aku menanyakan kepadanya tentang monster yang ia hadapi. Ia pun menjelaskannya. Ketika aku bertanya tentang kristal monster ia juga mengeluarkannya.


Ternyata monster yang ia hadapi adalah monster tipe api. Tak heran jika ia bisa mengalahkannya karena kemarin turun hujan yang lebat. Ia juga menjelaskan tentang keberuntungannya itu. Melihat dari lukanya nampaknya ia memang berjuang mati matian untuk mengalahkan monster tersebut. Bahkan tangan kirinya pun tampak terluka parah. Hanya saja aku tak dapat melihat lukanaya dengan jelas sebab ia memakai jaket panjang. Aku hanya melihatnya sekilasika ia mengangkat tangannya.


Sesuai dengan yang kubicarakan kemarin ia berhak masuk ke sekolah ini. Ia juga telah memenuhi syarat yang harus ia lakukan. Namun karena lukanya aku menyuruhnya untuk masuk beberapa hari menunggu lukanya sembuh. Ia pun meminta waktu sepuluh hari. Aku menyanggupinya dan memberi tahunya tentang urusan masuk kesekolah ini.


Aku mengatakan padanya untuk masalah masuknya ia kesekolah ini, aku yang akan mengurusnya. Ia hanya perlu untuk menyiapkan diri. aku juga mengatakan bahwa ia akan tinggal diasrama jika ia telah masuk kesekolah ini, jadi aku menyuruhnya bersiap selama masa pemulihan. Aku juga menyarankan baginya untuk menukarkan kristal yang ia dapatkan di koperasi sekolah dengan uang jasa pembunuhan monster.

__ADS_1


Setelah semuanya telah selesai ia pun pergi. Mungkin ia adalah anak yang sangat berlatih keras. Meskipun saat ia bertarung melawan monster kemarin ia mendapatkan sedikit keberuntungan. Akan tetapi bukanlah hal yang mudah untuk tetap bisa mengalahkan monster tipe A. Seandainya saja ia adalah anakku aku akan sangat bangga padanya. Di umurnya yang masih anak anak ia berhasil mengalahkan monster tingkat A sendirian. bahkan ia juga mengalahkannya tanpa menggunakan kekuatan magic,karena ia tak memiliki kekuatan tersebut.


@


Hari ini adalah hari yang aku janjikan dengan anak laki laki waktu itu. Aku bilang kepadanya untuk mengambil seragam dan membicarakan tentang sekolah ini kepadanya sehari sebelum iamasuk ke sekolah. Dan hari itu dalah hari ini. Melihat kemampuannya aku menjadi sangat tertarik kepadanya.


Ia telah datang. Aku memberikannya seragam seragam sekolah ini. Ia tak perlu membayar untuk mendapatkannya karena biaya di sekolah ini sudah di tanggung kerajaan. Selain memberinya seragam aku juga memberikan kartu tanda siswa. Aku juga memberitahukannya tentang peraturan dan tata tertib sekolah ini.


Melihat keadaanya tampaknya ia sudah sembuh dari luka lukanya. Perbannya pun sudah tidak ada. Kemarin ketika ia datang ia menggunakan jaketnya. Sekarang ia datang menggunakan baju lengan panjang. Tampaknya ia tak ingin orang lain mengetahui tentang luka lukanya. Karena khawatir apakah luka lukanya sudah sembuh atau belum aku menyuruhnya untuk memperlihatkan lukanya.


Ia pun melepaskan bajunya. Terlihat tubuhnya sangat penuh dengan luka. Ternyata tak hanya tangannya saja yang terluka namun juga tubuhnya dan juga kakinya. Melihat luka yang begitu banyak di tubuhnya aku tambah yakin bahwa ia memang berusaha sungguh sungguh untuk bisa masuk kesini. Aku sangat terharu melihat perjuangannya melalui luka lukanya.


Tak butuh waktu lama, mereka berdua pun datang kesini. Mereka berdua adalah murid terbaik sekolah ini. Mereka juga adalah mage expert generasi selanjutnya. Seharusnya mereka akan menjadi petarung mage di bawah pimpinan anakku. Namun karena anakku belum datang kemari jadi mereka belum menanggung beban tersebut.


“Airin, Anggrek ada hal yang ingin kuminta dari kalian.” Kataku membuka percakapan.


“apa itu bibi.” Jawab Airin.

__ADS_1


“apakah kalian masih ingat dengan anak laki laki yang kalian bawa waktu itu?” sambungku.


“ya kami masih mengingatnya, apakah ia baik baik saja? Sebab aku tak pernah melihatnya lagi.” Jawab Anggrek bergantian.


“jadi ia tak memberi tahu kalian ya. Jadi sehari setelah kalian datang kepadaku, ia berhasil melaksanakan syarat tersebut. Dan besok ia akan mulai masuk sekolah di sini.”


“apa ia berhasil.” Anggrek sedikit tidak percaya.


“sebenarnya ia terluka cukup parah namun ia berhasil mengalahkan monster tingkat A.”


“kami kira, kami tak akan bertemu dengannya lagi.”


“jadi aku ada tugas khusus bagi kalian. Aku ingin kalian menjaganya dari gangguan anak anak lain. Ia mungkin kuat namun aku tak ingin ada konflik di sekolah ini.”


“ya kami akan melakukannya.”


“baguslah kalau kalian menerimanya. Sekarang kalian boleh kembali kekelas kalian lagi.”

__ADS_1


Mereka berdua pun kembali ke kelas. Sekarang aku berada di sini sendiri lagi. Aku jadi teringat masa masaku waktu masih menjadi murid disini. waktu itu adalah masa yang menyenangkan bagiku.


@


__ADS_2