
@@@
Pagi telah tiba, sesuai pertemuan kemarin aku akan pergi menuju ke Sekolah Mage Quardia. Aku akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. ,umgkin hal ini tak akan terjadi lagi. Jadi sebelum pergi aku menyiapkan segalanya. Baik secara fisik maupun mental aku telah menyiapkan semuanya.
Aku pergi setelah hari agak siang. Jika aku pergi terlalu cepat mungkin aku akan dilihat banyak orang. Jadi aku pergi agak siang ketika semua murid telah masuk ke kelas. Hal tersebut akan lebih baik lagi jika aku bisa langsung bertemu dengan kepala sekolahnya.
Aku telah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Tak ada siapapun disitu, hanya ada dua satpam yang sedang berjaga. Maka aku datang menghampiri mereka dan menjelaskan maksud kedatanganku kesitu. Kedua satpam tersebut terlihat sangat besar.
Aku menjelaskan bahwa aku datang untuk bertemu dengan dua murid sekolah tersebut. Lalu mereka menanyakan siapa yang ingin aku temui. Mereka menanggapiku dengan agak tidak serius. Mungkin karena umurku yangmasih muda bahkan jika aku masuk kesekolah mage aku pasti masih menjadi murid kelas satu.
Setelah aku memberitahukan nama orang yangingin aku temui. Mereka tampak mengambil pengeras suara dan memanggil orang yang aku sebutkan. Setelah itu mereka menyuruhku untuk menunggu. Maka akupun menunggu dengan perasaan sedikit kesal.
Tak lama kemudian datanglah dua perempuan. Akhirnya orang yang aku tunggu datang juga. Setelah mereka datang, mereka berbicara dengan satpam agar mengijinkan aku masuk. Setelah mereka mendapatkan ijin, kami segera masuk ke dalam.
“ tak kusangka kau benar benar datang.” Kata anggrek membuka pembicaraan.
“ya, ini adalah hal yang penting bagaimana aku tak datang.” Jawabku.
“kukira kau akan datang pagi pagi dan menunggu di depan gerbang”
“hei... aku tak sebodoh itu untuk mempermalukan diriku.”
Sekolah ini ternyata sangat besar. Meskipun luas namun hanya ada beberapa gedung besar disini. Namun disini terdapat banyak sekali lapangan untuk berlatih magic.
“hei apakah disini siswanya banyak?” tanyaku.
“ya cukup banyak namun tak begitu banyak juga.” Jawab anggrek.
“hei apakah masih lama lagi sampai bertemu kepala sekolah?”
“ya... sebentar lagi.”
“sekolah ini cukup luas.”
“yah... sekarang kita sudah sampai.”
Kami tiba di depan sebuah gedung. Gedung ini agak kecil dari pada gedung lain. Ternyata kepala sekolah memiliki gedungnya tersendiri. Tak kusangka ternyata sekolah ini lebih hebat dari yang kubayangkan.
__ADS_1
Setelah itu kami bertiga masuk kedalam gedung tersebut. Di dalam gedung ternyata jauh lebih tak terdruga. Stelah melewati pintu masuk terdapat sebuah lorong panjang. Di sepanjang lorong tersebut terdapat banyak sekali foto.
Diantara foto foto tersebut ada satu foto yang membuatku terkejut. Di dalam foto tersebut ada sosok pemuda yang sangat aku kenal. Ia adalah ayah. Aku tak menyangka bahwa ayah pernah berada di sekolah ini.
“hei nggrek, siapakah orang orang yang berada di foto foto ini?” tanyaku memberanikan diri.
“ooohhhh, mereka adalah orang orang yang terhebat dimasanya.” Jawabnya’
“ooo..” sahutku sambil mengangguk anggukkan kepala.
Akhirnya kami sampai di ujung lorong tersebut. Terdapat sebuah pintu dengan tulisan kepala sekolah didepannya. Airin mengetuk pintu tersebut. Beberapa saat kemudia ada suara dari balik pintu tersebut. Suara seorang perempuan.
“siapa disana?” tanyanya.
“ini aku bibi.” Jawab Airin.
“baiklah, silahkan masuk.” Kami akhirnya masuk keruangan tersebut.
Didalam rungan tersebut hanya ada seorang perempuan. Perempuan itu sangatlah cantik.
“bibi ada hal yang ingin kami bicarakan denganmu.” Jawab Airin.
“apa itu?”
“sekarang adalah giliranmu untuk bicara, monster kecil.” Ucap anggrek sambil mendorongku maju kedepan. Apa monster kecil sejak kapan aku berubah menjadi monster.
“kepala sekolah, perkenalkan namaku adalah Shaka. Ada hal yang ingin aku bicarakan.”
“ya lanjutkan.”
“seperti yang kita tahu bahwa sekolah ini hanya menampung anak anak yang dapat mengendalikan mage saja. Lalu apakah ada kemungkinan bagi seseorang yang tak memilki kemampuan magic untuk dapat masuk ke dalam sekolah ini?” sambungku.
“itu adalah hal yang sulit. Sebelumnya hampir tak ada anak nonmage yang dapat masuk kesini.”
“jadi begitu ya. Ternyata hal ini memang tidak mungkin.” Jawabku pasrah.
Setelah mengetahui bahwa hal itu mustahil dilakukan, aku memutuskan untuk pergi. aku berjalan berbalik arah. Sebelum aku sampai di pintu Airin tampak berbicara dengan kepala sekolah.
__ADS_1
“tunggu bibi apakah tidak ada hal lain untuk bisa memasukkan anak nonmage kedalam sekolah ini.”
“sebenarnya ada namun itu jika ia dapat bertahan.” Jawab kepala sekolah. Seketika aku berhenti dan bertanya hal itu.
“apakah hal tersebut.” Tanyaku.
“sebenarnya ada peraturan yang membolehkan anak nonmage untuk bersekolah disini. Namun hal tersebut sangat sulit di lakukan. Hampir tak ada anak non mage yang dapat bertahan. Itu sebabnya tak ada siswa non mage disini.” jelasnya.
“apa itu?”
“melawan monster tingkat A.” Monster tingkat A. Seumur hidup aku bahkan belum pernah melihat monster. Lalu seperti apa monster tingkat A. Seberapa hebatnya sampai tak ada anak yang berhasil mengalahkannya.
“baiklah aku aku akan mengambilnya. Meskipun aku tak tahu seoerti apa monster tingkat A aku akan mencobanya.”
“apa kau tak tahu monster A tapi kau mau mengambilnya.”kata Anggrek sedikit kesal.
“memangnya seperti apa?” lanjutku.
“aku bahkan masih belum bisa mengalahkan monster tingkat A sendirian bagaimana mungkin kau bisa mengalahkannya?”
“hei, jangan lupa aku pernah mengalahkanmu sekali. Baiklah kepala sekolah aku akan melakukannya.”
“ok, jika kamu memang ingin mengalahkan monster tingkat A di dalam hutan baru saja muncul laporan bahwa ada monster tingkat A yang muncul. Apakah kau bisa mengalahkannya?” kata kepala sekolah”
“ya aku akan pergi kesana.” Jawabku lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Meskipun aku tak bisa mengalahkannya tanpa menunjukkan kekuatan magicku aku masih bisa mengeluarkannya jika keadaan mendesak. Tak lama kemudian Anggrek dan Airin menyusul keluar. Mereka tampak cemas begitu aku akan pergi.
“apakahkau yakin akan pergi kesana?” kata Airin menghentikan langkahku.
“ya aku akan pergi.”
“kalau begitu bawalah peluit ini. Jika keadaan memburuk tiuplah dan kami akan datang kesana.”
“baiklah dan terimakasih atas perhatiannya. Sampai jumpa lagi.”
Aku meninggalkan mereka berdua. Mereka tidak tahu bahwa aku juga seorang mage. Bahkan aku adalah mage petir, magic terkuat di antara lima magic. Tak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Apalagi aku juga telah menerima kemampuan ayah yang juga termasuk mage terkuat di sekolah ini.
__ADS_1