
@@@
Hari telah malam, namun di Kota Awan ini terlihat masih ramai. Rombongan kami juga telah sampai ke kota ini. Sungguh terasa berbeda Antara kehidupan pedesaan dan perkotaan. Meskipun di sini malam hari namun terasa seperti pedesaan di siang hari. Masih terdapat beberapa orang yang masih bekerja.
Sesampainya di Kota Awan ini aku mencoba mencari tempat tidur. Namun tak disangka salah satu peserta rombongan menawariku untuk tidur di rumahnya. Karena hari sudah agak malam kuputuskan untuk ikut ia saja. Rumahnya memang tidak besar namun cukup mewah bagi kami orang orang pedesaan.
Di dalam rumahnya tinggal istrinya serta anaknya. Anak mereka masih berusia sekitar tujuh tahun. Terpaut tujuh tahun denganku. Sampai di rumahnya istrinya telah menyambut kedatangannya. Namun ia tak menduga bahwa aku akan ikut dengannya. Sang pemilik rumah memberikanku salah satu kamar kosong. Sebenarnya kamar itu memang di peruntukkan untuk tamu mereka.
Aku pun pergi tidur. Sambil tiduran aku membayangkan dengan apa yang telah terjadi. Mulai dari saat ayah tiada sampai tadi saat aku melawan sekawanan perampok. Melihat hal hal yang sudah terjadi, hal apa lagi yang akan aku alami.
Dengan keramaian perkotaan, aku terbangun dari tidurku. Bahkan di pagi hari pun di kota sudah begitu ramai. Setelah bangun aku pergi menuju keluar rumah untuk menghirup udara segar. Ternyata sang pemilik rumah telah duduk di teras rumahnya ditemani dengan secangkir kopi.
“nak kau sudah bangun.” Kata sang pemilik rumah.
“iya paman.” jawbku singkat.
__ADS_1
“kemarilah dan temani aku berbicara.” pintanya.
“baik paman.” Jawabku sambil berjalan menuju ke arahnya.
Tak lama setelah itu istri pemilik rumah dating dengan membawa secangkir kopi lagi. Nampaknya sang istri telah lama mengamatiku. Maka kuseruput kopi tersebut untuk menghangatkan badanku. Setelah itu aku dan paman pemilik rumah berbicara tentang banyak hal. Bahkan kami juga berbicara tentang mage. Namun aku tak mengatakan bahwa aku adalah mage petir aku hanya berbicara bahwa aku ingin menjadi seorang mage.
Di tengah perbincangan istrinya datang kembali. Ia mengatakan bahwa sarapan telah siap. Paman pun mengajakku untuk sarapan. Kami pun segera menuju ke ruang makan. Di sana telah menanti istrinya dan juga anaknya. Anaknya yang masih kecil Nampak imut dan menggemaskan.
Setelah sarapan selesai aku berkata pada paman pemilik rumah bahwa aku akan pergi melanjutkan perjalanan. Perjalananku masih harus melewati danau Bangau untuk bisa sampai di Kerajaan Quardia. Paman ternyata telah menyiapkan bekal untukku.
“paman sangatlah baik terhadapku aku tak punya banyak uang untuk bisa membayar kebaikan paman.” Jawabku.
“tak usah dihiraukan kamu telah menyelamatkan nyawa paman dari kawanan perampok hal ini tak ada apa apanya di banding kebaiakanmu.”
“baiklah jika itu memang keinginan paman. Aku mengucapkan banyak terima kasih kepada paman.”
__ADS_1
Setelah perbincangan tersebut aku pergi bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Tak lupa aku berpamitan dengan paman pemilik rumah. Perjalananku pun di mulai kembali. Tujuanku kali ini adalah menyeberangi Danau Bangau.
Danau Bangau berada di ujung Kota Awan ini. Perjalanan dari rumah paman untuk sampai di danau membutuhkan sekitar lima belas menit. Sambil berjalan aku melihat lihat keramaian kota. Kota ini ternyata memiliki keindahan yang sungguh berbeda.
Sesampainya di danau aku mencoba mencari tumpangan. Untunglah ada salah satu kapal yang memang akan menuju ke Kerajaan Quardia. Setelah membayar tiket untuk menaiki kapal aku langsung naik kapal tersebut. Di kapal tersebut ternyata cukup ramai orang. Dari yang tua hingga yang muda semua ada disitu.
Tak lama kemudian kapal tersebut berangkat. Bagiku ini adalah perjalanan kapalku yang pertama. Di atas danau ini sungguh berbeda dengan di daratan. Hamparan danau yang luas menyapu pandangan mata. Untuk sampai di kerajaan membutuhkan waktu sekitar setengah jam lebih.
Di atas kapal aku habiskan dengan bersantai dan menikmati udara pagi di danau. Terlihat beberapa anak kecil berlarian saling kejar kejaran. Beberapa orang tua bahkan ada yang kesulitan menjaga anaknya. Namun selain itu ada juga yang tidak beruntung, mereka adalah orang orang yang sedang dilanda mabuk kapal.
Berselang beberapa menit kemudian, di ujung danau terlihat sebuah daratan yang menjulang tinggi. Nampaknya itu adalah Kerajaan Quardia. Melihat dari jauh sini, kerajaan tersebut sangatlah indah. Semakin lama pandangan semakin jelas. Di ujung bukit yang dapat dilihat dari danau terdapat sebuah istana.
Kapal kami pun mulai berlabuh. Perjalan ini sungguh tidak terasa. Setelah sampai di pelabuhan ternyata pemandangannya berbeda dengan saat berada diatas kapal. Kerajaan ini sungguhlah luas. Ternyata bukit yang terlihat tadi juga sangat jauh letaknya.
Setelah kapal selesai berlabuh, aku pun turun dari kapal. Akhirnya aku sampai juga di kerajaan. Setelah melewati segala hal yang terjadi semua itu terbayar sudah. Namun bukan berarti aku bisa bersantai. Justru disinilah perjalananku yang sesungguhnya. Masih banyak hal hal yang harus aku lakukan.
__ADS_1