THE LAST STAR

THE LAST STAR
chapter 12


__ADS_3

PUTRI ANNITA


Pagi hari di Kerajaan Quardia. Sang putri terlihat sedang memandang ke luar kerajaan dari lantai atas istana. Raut mukanya terlihat sedih. Ia seperti sedang mengharapkan sesuatu. Ia berada di atas sendirian. Tak banyak orang yang mengetahui tentang kegelisahannya.


Suamiku sudah lama kita tak bertemu. Aku juga sudah rindu dengan anak kita. Aku ingin segera bertemu dengan kalian.


Putri Annita itulahh sebutannya. Selain menjadi tuan putri ia juga adalah kepala sekolah mage Quardia. Ia menjadi kepala sekolah atas keinginannya sendiri. Ia berjanji pada suaminya ketika anak mereka berumur lima belas tahun mereka akan bertemu kembali di sekolah mage Quardia dan mengungkapkan rahasia mereka.


Ia dan suaminya telah berpisah selama sepuluh tahun. Dahulu mereka berpisah karena masalah klan khasiari dan pihak kerajaan. Dahulu putri sering mengunjungi mereka ketika ada waktu namun setelah menjadi kepala sekolah ia jadi tak punya banyak waktu. Oleh karena itu sang suami memberi saran padanya agar mereka tidak bertemu demi keselamatan anak mereka dan menyerahkan pendidikan anak mereka pada sang suami. Setelah sang anak berumur lima belas tahun baru mereka akan bertemu dan menjaga anak mereka bersama.


Tahun ini anak mereka berumur empat belas tahun dan setahun lagi anak mereka akan berumur lima belas tahun. Janji yang mereka buat akan mereka penuhi. Sang putri juga tak pernah menyebarkan rahasia mereka bahkan pada ayah mereka. Mereka sepakat sebelum waktunya mereka tak boleh membuka identitas mereka.


Ketika sang raja bertanya kepada sang putri tentang apakah sang putri ingin memiliki suami, putri hanya menjawab ia belum ingin berkeluarga. Hal itu terus ia lakukan ketika raja bertanya begitu.

__ADS_1


@


“hari ini sangat sibuk sekali. Aku sangat lelah rasanya.” Aku berbicara sendiri.


Aku adalah putri kerajaan Quardia. Aku juga seorang kepala sekolah mage Quardia. Walaupun aku seorang putri aku lebih sering menghabiskan waktuku di sekolah mage ini daripada di kerajaan. Karena di sekolah ini aku bertemu dengan belahan jiwaku. Meskipun sekarang kami tak pernah bertemu aku percaya bahwa kami akan bertemu kembali.


Semua orang menyebutku putri es. Ada dua hal yang menyebabkan orang orang memanggilku putri es. Pertama aku adalah mage expert bertipe air. Karena levelku yang sudah tinggi dan aku juga seorang expert kekuatan airku hamper mirip seperti es. Sikapku juga sangat dingin ketika aku sedang bertarung, sedingin es.


Hari ini seperti biasa aku berada di sekolah. Aku telah menjadi kepala sekolah sejak sepuluh tahun yang lalu. Untuk masalah kerajaan masih ada ayahku yang mengurusnya. Aku akan mengambil alih kerajaan nanti jika sudah saatnya. Sekarang aku ingin membuat generasi penerus mage kerajaan Quardia menjadi mage mage yang hebat terlebih dahulu.


Di tengah pekerjaanku tiba tiba ada yang mengetuk pintu ruanganku. Ketika aku bertanya siapa disana, terdapat jawaban seorang anak perempuan. Anak tersebut adalah sepupuku, jadi aku menyuruhnya masuk. Ternyata ia tak dating sendirian ia juga dating dengan salah satu murid terbaikku. Mereka datang dengan membawa seorang anak laki laki. Ketika melihat anak laki laki tersebut aku seperti melihat bayangan suamiku sekilas namun bayangan itu segera pergi. Memang anak itu agak sedikit mirip dengan suamiku.


Anak laki laki itu adalah anak non mage. Ia berkeinginan untuk dapat bersekolah di sekolah mage ini. Sebenarnya tak ada larangan yang melarang anak non mage untuk bersekolah disini. Hanya saja ada persyaratan khusus yang harus di penuhi untuk bisa masuk. Syarat itu adalah sang anak harus menunjukkan kemampuannya dengan membunuh salah satu monster tingkat A.

__ADS_1


Saat kukatakan bahwa akan sulit baginya untuk masuk kesini akan sulit ia tampak begitu putus asa dan ingin meninggalkan ruangan ini. Aku berpikir bahwa jika ia memang tak memiliki kepercayaan diri maka akan sulit baginya jika ia berhasil masuk kesini. Karena di sekolah ini semuanya di tentukan oleh peringkat kemampuan magic sedangkan ia tak memiliki kemampuan magic.


Aku mencoba menambah rasa putus asanya dengan mengatakan syarat yang harus ia penuhi jika ingin masuk kesini. Akan tetapi justru ia malah berubah menjadi anak yang bersemangat dan menerima syarat tersebut. Setelah menerima syarat tersebut aku mengatakan padanya lokasi monster tingkat A terdekat, dan ia pun segera pergi kesana. Saat itu aku berpikir mungkin anak ini akan sedikit menarik.


Ketika anak itu pergi, sepupuku dan juga muridku ikut pergi. Tampaknya mereka berdua terlihat peduli dengan anak tersebut. Jadi aku membiarkan mereka pergi. Setelah mereka pergi aku melanjutkan kembali pekerjaanku. Aku sedikit cemas, apabila anak itu gagal membunuh monster tingkat A dan malah terbunuh.


Sejam kemudian datanglah hujan yang agak lebat. Aku melihat kejendela diruanganku. Terlintas dipikiranku jika anak tadi jadi melawan monster bagaimanakah nasibnya. Untuk menghilangkan rasa cemasku aku mencoba untuk kembali fokus terhadap pekerjaaanku.


Deegghh, hatiku bergetar. Aku merasakan sebuah kekuatan yang mirip dengan kekuatan suamiku. Aku merasakannya dengan jelas. Namun rasa itu langsung hilang kembali. Aku berpikir apakah suamiku ada di kerajaan ini. Jika ia kesini kenapa ia tidak menemuiku. Dan masih banyak lagi pikiran yang melintas dipikiranku.


Karena diriku merasa tidak fokus aku memilih untuk kembali ke kerajaan dan pergi beristirhat. Aku pulang ketika hujan sudah begitu reda. Pikiran pikiran itu masih saja berada di otakku. Ingin rasanya aku menangis dan menumpahkan segala emosiku. Aku pulang dengan terburu buru ingin segera sampai. Begitu sampai di kamarku aku langsung menuju ke tempat tidurku. Tangisku pecah, aku membiarkan segalanya mengalir.


Sebenarnya aku sudah sering kepikiran tentang suamiku namun setelah sekian tahun baru kali ini aku menangis lagi ketika kau mengingatnya. Mungkin karena serentetan kejadian tadi aku bisa seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2