
Kalian tahu? Para paman ini serius soal tidur bersamaku! Dan, mereka juga serius soal membawa sendiri kasur mereka. Paman pertama membawa kasur api yang entah mengapa tidak membakar kamarku. Malah terasa dingin dan hangat di saat bersamaan. Seperti bisa menyesuaikan suhu. Paman kedua membawa kasur dari tanah. Untung tidak ada cacing yang mencuat di atasnya. Dan, kelihatannya tanah itu bersih juga nyaman.
Paman keempat memakai kasur dari angin. Aku bahkan bisa merasakan angin sepoi yang membuat kamar ini terasa sangat sejuk. Paman terakhir membawa kasur air. Anehnya, pakaiannya sama sekali tidak basah. Air itu seolah memiliki lapisan anti air di atasnya. Hanya paman ketiga yang memakai kasur normal. Sepertinya, kekuatan paman ketiga tidak memungkinkan dia untuk memakai kasur dari elemen alam. Kasurnya normal. Sama seperti tingkat kewarasannya.
Mith adalah kaisar dari kekaisaran sebelah. Dia adalah putra tertua. Sama seperti Alaric dan Euclid, dia masuk ke peringkat sangat gila. Begitu juga dengan Kiel, si pangeran keempat. Lalu, Luca dan Dego masuk ke bagian yang sama dengan Cedric dan Dimitri. Terlalu gila. Hanya Niel yang waras.
Hah! Entah kenapa aku sama sekali tidak heran.
Sejauh ini, aku sudah bertemu dengan para paman, sepupu dan bibiku. Tapi, kemana perginya kakekku, ya? Apa dia sudah mati? Tapi, aku dengar dia masih hidup.
Aku ingin sekali bertemu dia. Dan, aku harap dia sama warasnya dengan putra ketiganya.
"Ristel tahu? Paman juga pernah tidur bersama ibu Ristel saat dia masih bayi!" Paman Luca menatap langit-langit yang seolah tak terbatas.
Ah, rupanya kalian juga menyiksa ratu di masa lalu. Lantas, karena sekarang ratu sudah dewasa, kalian ganti menyiksaku? Kalian sudah terlalu tua untuk melakukan ini tahu! Istana kekaisaran ini punya 20 istana yang masih kosong. Kalian bisa memakainya sesuka hati kalian! Jadi, pergilah dari kamarku, para bapak tua!
"Rasanya seperti mengenang masa lalu. Haha...!!!"
Suara tawa itu bersahutan. Membuat mataku tetap terjaga. Rasanya ingin sekali aku menendang pantat mereka keluar dari kamarku. Baiklah, karena aku masih kecil dan tidak melalukan apapun. Mari kita minta pertolongan orang dewasa.
Dimulai dari menarik nafas panjang. Tahan sejenak. Dan.....
"Hua!!!!!"
Lepaskan dengan sekuat tenaga.
Itu adalah tata cara menangis yang baik dan benar bagi bayi. Para bayi sangat membutuhkan tata cara ini karena siapa tau mereka akan menghadapi bahaya seperti yang sedang terjadi padaku saat ini.
Teriakan itu terdengar membahana di seluruh istana. Kaisar, ratu dan kelima pangeran langsung masuk ke kamarku. Para paman yang mendengar tangisanku langsung berhenti berceloteh dan menghampiriku.
"Tenanglah, Ristel sayang!"
__ADS_1
"Mau berlian? Atau permata?"
"Bagaimana dengan susu?"
"Mau lihat kepala yang paman penggal?"
"Gendong?"
Aku menepak semua benda yang ada di atas kepalaku. Yang aku mau itu kalian pergi dari kamarku. Bukan permata, berlian atau kepala orang. Tunggu! Darimana makhluk ini mendapatkan kepala?!?!
Hey!!! Darahnya bahkan masih menetes!!! Dan, matanya menatapku. Singkirkan ini!!!
"Ada apa dengan Ristel?"
"Penyusup?"
Kaisar dan kelima pangeran membuka pintu kamarku dengan kasar. Tangan mereka teracung ke depan. Elemen kekuatan mereka muncul di sekitar kamarku.
"Kakak?"
Ratu yang berdiri di belakang para laki-laki menatap kelima kakak laki-lakinya. Ratu berkacak pinggang. Mengangkat kedua alisnya. Bibir tipisnya terangkat. Para pria dewasa itu nyengir. Aku terus menangis. Ratu berjalan dan menggendongku. Tangisanku terhenti.
Entah karena aku tak pernah dipeluk oleh seorang ibu atau memang karena pelukan ratu memang hangat. Aku tersenyum dan langsung tertidur.
"Hahahaha, kami hanya ingin tidur dengan Ristel!" Kakak laki-laki tertua menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Wuah, kepala asli! Darimana paman Luca mendapatkan ini?" Alaric dan Cedric berjalan ke arah Luca yang mencekal sebuah kepala manusia asli.
Luca menatap ratu. Keringat bercucuran dari dahinya. Dengan cepat dia melempar kepala itu keluar jendela.
"Hahaha, itu hanya kepala palsu!"
__ADS_1
"Kakak! Qiya tahu kalau kakak ingin memanjakan Ristel lebih dari kakak memanjakan Qiya dulu. Tapi, Ristel butuh malam yang tenang untuk tidur!" Ratu mengusap punggungku.
"Baiklah! Kami mengerti!" Para pria itu menunjukkan wajah yang nampak nelangsa. Seolah ratu baru saja mengusir mereka dari kekaisaran ini. Mereka pergi dengan menyeret kaki jenjang mereka.
Ratu kembali meletakkanku di dalan kotak bayi. Lantas memutar badannya.
"Silakan kembali tidur! Tapi, tolong tenang, ya!" Ratu tersenyum.
Wajah para pria itu nampak sumringah. Dengan cepat kembali ke tempat tidur masing-masing. Ratu dan kaisar tersenyum.
"Qiya! Boleh minta ciuman selamat malam?" Kiel tersenyum malu-malu.
Ratu tertawa kecil. Kembali berjalan mendekati kelima kakaknya yang tidur mengelilingiku. Padahal usia mereka sudah hampir mendekati 30 sampai 35 tahun. Tapi, kelakuan mereka lebih kekanakan dari aku yang masih bayi!
Ratu mengecup kening kelima kakaknya bergantian. Lantas kembali ke pelukan kaisar yang hanya bisa nyengir. Sepertinya, ada seorang suami yang takut dengan kakak iparnya.
"Ibu! Kami mau tidur dengan paman di sini. Boleh, kan?" Alaric memasang tampang melas. Keempat adiknya langsung mendekat. Juga ikut memasang tampang melas.
Ratu menatap kelima anaknya. Tersenyum. Mengangguk. Para pangeran langsung bersorak dan merebahkan diri di atas kasur para paman yang langsung meluaskan kasurnya.
Ratu kembali berjalan dan menggendongku. Ratu menjetikkan jarinya. Sulur rambat muncul dari balik tanah dan memindahkan kotak bayiku ke sudut kamar. Sulur rambat itu lantas kembali. Menganyam dirinya sendiri dan membentuk sebuah kasur yang terhubung dengan kasur kelima pangeran. Ratu lantas menempatkanku di atas kasur lembut ini.
"Terima kasih, Qiya!"
Ratu tersenyum manis. Menyambut uluran tangan kaisar. Lantas berjalan kembali ke kamarnya setelah menatapku yang terlelap dalam penjelahan pulau kapuk.
Para pangeran dan paman yang memiliki kebiasaan tidur yang buruk terus berguling. Kepala mereka yang menghadap barat berubah menjadi menghadap timur ketika tengah malam. Dan, entah kenapa mereka semua kompak jadi tidur di atas kasur anyamku. Kaki mereka menyentuh kepala satu sama lain.
Dan, seolah tau dengan kebiasaan biadab para kakak dan putranya ketika tidur, ratu menampatkan sulur rambat yang mendepak benda apapun yang berada 30 cm dariku. Entah sudah berapa kali kaki dan tangan Luca di tampar oleh sulur rambat itu. Lihat! Ada bekas yang mirip seperti tali tambang di tangan dan kakinya. Di tangan dan kaki para pangeran lain juga sama. Sepertinya, ratu sedikit menyimpan dendam, ya.
Malam itu, malam yang seolah panjang dan tak terbatas. Aku bermimpi buruk. Buruk sekali.
__ADS_1
Aku bermimpi aku tidur bersama dengan para pangeran dan pamanku. Dan, ketika aku membuka mata, mimpiku jadi kenyataan.