The Only Princess

The Only Princess
Chapter 17


__ADS_3

Jam makan siang seharusnya sudah dimulai 2 menit lalu. Dan, masih belum ada seorang pun yang menyadari kalau tuan putri mereka tidak ada dalam kotak bayinya. Sebenarnya, kemana perginya semua orang? Aku sudah mulai lelah tidur beralaskan lantai marmer.


Ini semua terjadi karena aku terlalu ingin tahu pesta apa yang direncanakan oleh kaisar. Andai saja aku lebih memilih diam dan menunggu, aku pasti masih berada di atas lembutnya kasurku. Hah! Apa boleh buat!


Aku menatap tembok aula pesta yang dipenuhi lukisan mozaik dari kaca. Jarak tempatku berbaring dengan tembok memang cukup jauh. Sekitar 10 meter. Tapi, entah kenapa aku bisa melihat lukisannya dengan jelas. Mungkin karena lukisan itu sangat besar.


Ah, ada gambar seekor sapi dan anak-anaknya yang dikelilingi 5 anak laki-laki di salah satu lukisan itu. Yah, aku rasa aku tahu kenapa bisa ada lukisan keluarga sapi di tembok itu. Kelima pangeran yang ada di kekaisaran ini maupun di kekaisaran sebelah meminum susu sapi sejak bayi. Sebab, permaisuri bagi pangeran atau pun ratu biasanya tidak menyusui bayi mereka.


Dengan kata lain, anak-anak mereka memiliki hubungan darah dengan anak-anak sapi. Karena memiliki ibu susu yang sama. Bisa dibilang, kami semua adalah saudara kandung anak sapi. Menyedihkan sekali! Lebih menyedihkan lagi karena lukisan di sebelah, para anak laki-laki itu membunuh si ibu sapi beserta anak-anaknya. Tega sekali mereka melakukan hal itu pada ibu susu dan saudara kandung mereka.


Hah!!! Karena kelaparan aku jadi memikirkan hal yang aneh dan tidak penting.


Aku memutar kepalaku, melihat lukisan kaca yang menjadi dinding aula pesta.


Kalau dilihat-lihat, lukisan itu hanya dipenuhi oleh gambar hewan saja. Apa kekaisaran ini adalah pencinta hewan? Tapi, lukisan di sebelahnya selalu soal membunuh hewan. Aku rasa, kekaisaran ini lebih ke tidak menyukai hewan. Mereka jelas bukan vegetarian. Yah, aku senang dengan fakta itu karena aku benci makan sayur.


NGUNG!!!


NGUNG!!!


NGUNG!!!


Suara yang terdengar seperti alarm bencana alam terbesar berbunyi di seluruh istana. Bahkan, rasanya di seluruh kekaisaran.


Para ksatria penjaga istana yang berdiam diri di setiap pintu istana langsung bergegas menuju lapangan tempat latihan para ksatria. Pelayan yang tengah membersihkan istana dan membantu memasak di dapur langsung ikut bergabung bersama para ksatria. Para rakyat yang tengah sibuk melakukan aktivitas mereka masing-masing langsung berhenti dan berbaris di sepanjang jalan. Kelima pangeran bergegas memimpin para ksatria. Ratu memimpin para pelayan. Dan, kaisar memimpin rakyat.


Aku yang masih sibuk mencerna arti lukisan di dinding aula pesta hanya diam. Lagipula, aku sama sekali tidak tahu apa arti alarm itu. Mungkin, itu adalah cara kekaisaran ini mengundang para bangsawan untuk berpesta. Yah, apapun itu, aku sama sekali tidak peduli. Yang aku pedulikan adalah fakta kalau sekarang perutku lapar lagi.


Aku bangkit dari tidur singkatku. Tanganku kembali mengambil sebuah mangkok berisi bubur cair.


Kalau dilihat lagi, meja tempat makanan dihidangkan sangat pendek. Ukuran yang sesuai untuk para bayi yang baru bisa merangkak. Kaisar rupanya sangat teliti soal hal ini.


Aku mengangkat mangkok itu. Mengarahkannya ke bibirku. Aku dengan pelan menyesap bubur itu. Beberapa tetes bubur kembali jatuh ke atas gaunku yang kini lebih nampak seperti kain lap. Tak apa. Aku yakin tidak akan ada yang marah.

__ADS_1


Sebuah hal yang wajar kalau seorang bayi nampak seperti baru saja mandi bubur ketika makan. Orang-orang pasti malah berpikir kalau hal ini sangat lucu dan menggemaskan. Berbeda sekali kalau orang dewasa yang makan sampai membuat tubuh mereka kotor. Orang-orang pasti langsung mengecap hal itu sebagai hal yang tidak pantas dan menjijikkan.


Hah!!! Jadi bayi benar-benar menyenangkan. Aku harap aku bisa jadi bayi selamanya.


Tunggu!!! Kalau aku jadi bayi selamanya, para pangeran itu akan bersikap kurang aja padaku selamanya juga. Tidak!!! Tidak jadi!!! Aku cabut kembali harapanku!!! Aku tidak mau jadi bayi selamanya!!!


Aku ingin cepat besar. Lalu, membalas perbuatan para pangeran. Dan, mengubah berkah naga sialan itu. Aku tidak mau hidup dalam rangkulan penderitaan yang tak ada habisnya ini.


Kapan aku akan tumbuh besar?


Dan, kapan mereka akan menemukanku?


*****


Aku kembali tidur. Sekarang sudah jam makan malam. Matahari sudah tenggelam di bumi bagian barat. Lampu kristal raksasa yang tergantung di tengah aula pesta bersinar dengan terang dan indah. Di sekitarku, mangkok dan genangan bubur berserakan. Tubuhku juga rasanya lengket dan gatal. Tumpahan bubur di gaunku sudah lama kering.


Di antara 12.362 pelayan, 53.742 ksatria, 5 pangeran dan sepasang kekasih, masa tidak ada yang menyadari kalau aku hilang!?!


Apa ada penyihir yang datang ke kekaisaran ini dan menghapus ingatan semua orang tentangku??? Para ksatria dan pangeran sempat melawan penyihir itu dan membunyikan alarm sebagai tanda peringatan tapi, penyihir itu berhasil mengalahkan mereka? Kalau begitu, aku bakalan jadi gelandangan, dong! Aku kan masih bayi. Setidaknya, kalau memang ada penyihir yang mengambil ingatan semua orang tentangku, tidak bisakah dia menunggu hingga aku cukup besar untuk mencari uang?!?!


Aku akan berdiam diri saja di sini. Lagipula, aula ini sudah menyiapkan banyak makanan dan susu.


Baiklah, aku akan memakan semua bubur dan susu yang ada. Aku akan menjadi bulat. Lalu, setelah itu tidak perlu makan karena sudah punya banyak cadangan lemak!!


Aku memakan bubur sebanyak yang aku bisa. Sudah 5 mangkok yang kosong. Perutku rasanya mau meledak hanya dengan memakan satu sendok kecil bubur lagi. Padahal, aku sangat suka dengan bubur ini. Tapi, entah kenapa rasanya aekarang aku bisa muntah hanya dengan melihatnya.


Sudah cukup!!! Aku tidak tahan lagi. Biarkan saja aku mati secara perlahan di aula pesta ini. Mati dan dilupakan begitu saja. Hiks.


Tidak!!! Aku sudah mati konyol karena terpeleset kulit pisang di kehidupan lamaku! Aku tidak mau mati konyol juga di sini. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai pintu aula pesta dan kembali ke kamarku. Aku juga akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mengembalikan ingatan semua orang tentangku.


Baiklah!!! Ayo mulai merangkak menuju pintu yang berjarak 20 meter itu!!!


Aku mulai mengambil ancang-ancang untuk merangkak. Kedua kakiku menekuk. Telapak tanganku mulai menapak di atas lantai marmer. Aku mulai bergerak. Perutku yang buncit karena bubur membuatku nampak seperti kucing hamil yang tengah berjalan. Perut besar ini rasanya sangat berat dan membuatku kesulitan merangkak. Baru merangkak 2 meter saja rasanya seperti mau mati.

__ADS_1


Aku berhenti merangkak setiap menempuh jarak 1 meter.


Kaki dan tanganku rasanya mati rasa. Tinggal 1 meter lagi dan aku akan segera keluar dari neraka berkedok surga ini. Yah, mungkin begitu seandainya aku bisa membuka pintu raksasa itu.


Argh!!! Aku lupa soal pintu itu. Padahal, aku sudah merangkak sejauh ini. Lihat! Perutku bahkan langsung kempes.


Tidak akan aku biarkan sebuah pintu menghalangi niatku untuk kembali ke kasurku yang empuk. Baiklah, mari kita lakukan dengan cara kasar.


Aku duduk. Tangan kananku mengepal. Dengan cepat aku melayangkan kepalan tangan itu.


TOK!!! TOK!!! TOK!!!


"Boo!!! Au abbo iaaa!!!"


Apa-apaan itu?!?!


Aku kan ingin bilang, 'Tuan Pintu, aku ingin keluar dari sini. Jadi, tolong buka tubuhmu!' Kenapa malah kata-kata aneh yang keluar?!?!


Tunggu!!! Kalau aku meminta pintu untuk membuka dirinya. Haruskah aku bilang buka tubuhmu atau buka pintumu atau buka dirimu?? Argh!!! Bodo amat!!


Pintu itu perlahan terbuka. Sebuah cahaya menyilaukan mataku membuatku harus menutup kedua mataku.


"Ristel!!!"


Ratu langsung memelukku. Para pangeran dan kaisar juga ikut memeluk kami berdua. Di belakang mereka, puluhan ribu pelayan dan ksatria berbaris rapi. 25 pangeran dari kekaisaran sebelah juga ada di sini. Paman, bibi dan kakekku juga.


Apa yang terjadi?? Apa penyihir itu sudah mengembalikan ingatan keluargaku? Lalu, kenapa ada banyak pelayan dan ksatria di sini. Apa kami akan perang? Atau.... aku rasa mereka mencariku. Alamr kencang tadi bukanlah peringatan akan bahaya. Tapi, peringatan kalau putri mereka menghilang.


Aku menatap ratu yang menangis. Para pangeran yang semula nampak ketakutan sekarang jauh terlihat tenang.


Rupanya, semua orang mengkhawatirkanku, ya? Senangnya karena ternyata ada yang menyayangi dan merasa kehilangan saat aku pergi. Aku balas memeluk ratu dan ikut menangis.


"Ristel sudah tidak sabar dengan pestanya, ya?"

__ADS_1


Tangisanku jadi semakin deras.


__ADS_2