The Only Princess

The Only Princess
Chapter 1


__ADS_3

Satu-satunya hal yang bisa aku syukuri atas kejadian ini hanyalah kenyataan bahwa aku masih menjadi seorang pengangguran. Aku tak perlu bekerja. Sekolah. Belajar. Ataupun membersihkan kamar. Yang aku lakukan hanyalah minum susu. Tidur. Menangis. Minum susu lagi. Tidur. Dan, menangis lagi. Bahkan, nyamuk yang terbang di atas kepalaku pun bosan melihat kegiatan hidupku. Oh, aku lupa! Tidak ada satupun nyamuk di kamar ini. Serangga lain pun tidak ada. Aku harus bertanya pada wanita tadi, obat serangga apa yang dia gunakan.


Orang-orang aneh berpakaian seperti pelayan selalu memberiku susu setiap 4 jam sekali. Seolah, aku akan mati jika mereka tidak memberiku susu. Tidakkah mereka sadar kalau pipi dan tubuh ini jadi semakin bulat? Aku bahkan kesulitan menggerakkan tangan dan kaki gempal ini.


Mereka ingin mengubahku jadi seberat anak kuda nil, ya?


Usia bayi ini mungkin sekitar 2 bulan. Tangan dan kakinya masih lemah. Yah, sebenarnya semua bagian tubuhnya masih lemah. Hanya mulutnya saja yang kuat menghisap botol susu.


Dua bulan lagi aku akan bisa tengkurap. Lalu, duduk di usia 8 bulan. Merangkak di usia 9 bulan. Berdiri di usia 10 bulan. Bicara di usia 11 bulan. Dan, jalan di usia 12 bulan. Apa? Aku ini cuman seorang yang pengangguran. Bukan seorang yang bodoh. Aku selalu memperhatikan setiap kali guruku menjelaskan.


Rasanya aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aku terpeleset kulit pisang dan mati. Lalu, terbangun sebagai bayi bulat yang tidak bisa apa-apa. Aku juga tidak tahu di mana aku berada. Padahal, biasanya orang-orang bereinkarnasi di novel atau cerita yang mereka tahu. Lalu, kenapa tidak denganku?!?!?!


Satu-satunya hal yang aku tahu adalah namaku. Auristele Axl De Terium. Satu-satunya putri Kekaisaran Terium. Lima anak laki-laki aneh itu adalah para pangeran. Sekaligus kakak laki-lakiku. Para pelayan yang menceritakan tentang mereka.


Pangeran pertama, Alaric Ace De Terium. Usianya mungkin sekitar 9 tahun. Dia lumayan tampan dengan rambut pirang dan mata hitam. Dan, dia sedikit gila.


Pangeran kedua, Bervan Bry De Terium. Usianya 8 tahun. Rambutnya hitam dengan manik mata yang senada.


Pangeran ketiga, Cedric Bry De Terium. Usianya sama dengan Bervan. Warna rambut dan matanya juga sama. Karena mereka anak kembar. Seperti kutub magnet yang sama. Kembar. Tapi, saling tolak-menolak.


Bervan adalah pangeran yang kalem. Sedangkan, Cedric adalah pangeran yang tak bisa diam. Aku rasa, Cedric sama gilanya dengan kakak pertamanya.


Pangeran keempat, Dimitri Inx De Terium. Usianya 7 tahun. Warna rambutnya sama sepertiku, hitam. Sedangkan, warna matanya hijau. Sama seperti ratu. Dimitri sedikit lebih waras dibandingkan kakak pertama dan ketiganya.


Pangeran terakhir, Euclid Zar De Terium. Usianya 6 tahun. Warna rambutnya pirang dengan manik mata hijau. Dia adalah pangeran yang acuh. Tidak peduli dengan keadaan sekitar. Bisa dibilang dia adalah kulkas dua pintu yang dilengkapi AC. Yah, aku rasa dia akan jadi idaman gadis bangsawan ketika dewasa.


Melihat Dimitri dan Euclid yang memiliki warna manik mata yang berbeda, aku rasa mereka berdua adalah anak pungut.


Ibuku adalah Qiya Arl Peranto. Putri satu-satunya Kekaisaran Peranto. Hanya itu yang aku tau tentang ratu. Dan, ayahku adalah Carl Lude Terium. Hanya itu yang aku tahu tentang mereka. Para pelayan tak banyak membicarakan mereka.


Baiklah, cukup sekian perkenalan keluarganya.


Aku punya kencan dengan botol susu.


Aku menghisap botol susu. Manik mataku menatap plafon yang terasa sangat tinggi. Ruangan ini juga terasa sangat luas. Hanya kotak bayi ini yang sempit. Aku ingin tahu kenapa kaisar dan ratu menempatkan bayi yang bahkan tidak bisa berjalan ini ke ruangan seluas ini.

__ADS_1


Apa mereka ingin menjadikanku sebagai persembahan?? Aku pernah membaca tentang gadis kecil yang dijadikan persembahan oleh keluarganya demi kekuatan. Tapi, ratu dan kaisar terlihat sangat menyayangiku. Begitu pula dengan kelima pangeran. Aku memang bukan cenayang yang bisa melihat perasaan orang lain. Tapi, dapat aku pastikan bahwa perkataan mengenai orang tua dan para kakak bayi ini benar.


Aku penasaran, bagaimana rasanya punya 5 orang kakak laki-laki di saat kau adalah satu-satunya anak perempuan yang ada. Apakah mereka akan memanjakanku seolah aku adalah putri? Lupakan soal putri. Aku kan memang seorang putri. Kalau begitu, apa mereka akan menjagaku dengan seluruh jiwa dan raga mereka, seolah aku adalah permata yang berharga? Argh!!! Membayangkannya membuat jantungku berdegup kencang.


Tunggu! Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika mereka memperlakukanku seperti pelayan saat kaisar dan ratu tidak ada? Bagaimana jika mereka selalu menjahili dan mengangguku? Tidak!!! Aku tidak mau punya kakak laki-laki!!!


BRUAK!!!!


Pintu kamar setinggi 10 meter itu dibuka dengan kencang.


Aku ingin tahu siapa yang membuka pintu sekasar itu.


Tidak!!! Jangan kau pangeran!!!


Kepala Alaric muncul di atas kotak bayiku. Bibirnya tersenyum. Kedua tanganny dengan hati-hati mengangkat tubuhku dari kotak bayi.


"Hei!!! Kembalikan aku!!! Kau ingin menjualku, ya?!?!?!"


Aku memukul dada Alaric dengan kedua tanganku yang gempal. Percuma. Tubuh bayi ini masih lemah. Aku yakin, calon kaisar ini tidak merasakan apapun selain kumpulan daging empuk menghantam dadanya.


"Ristel lucu sekali!!!" Alaric berputar beberapa kali.


"Ristel adalah adik kakak yang paling lucu!!!" Alaric mengangkat tubuhku lebih tinggi dari tubuhnya.


Entah kenapa, dia nampak seperti seorang ayah yang bangga atas bibitnya.


"Kakak!!!" Cedric menatapku galak.


Tubuhku merinding. Dia menatapku seolah aku adalah makhluk asing yang tiba-tiba masuk ke keluarganya dan mengambil kakak kesayangannya.


"Cedric!!! Kau lebih lucu dariku. Dan, aku sama sekali tidak berniat mencuri kakakmu. Jadi, tolong berhenti menatapku seperti itu!"


Aku menenggelamkan kepalaku ke dalam dada Alaric. Dimitri nampak semakin kesal. Dia berjalan sembari menekankan kakinya di atas lantai pualam. Berusaha membuat suara kencang. Menambah kesan jika dia sangat marah.


"Aku juga ingin menggendong Ristel!"

__ADS_1


Sebuah tangan mencekal pinggan kecilku.


Tunggu?!?! Tatapan seramnya itu ditujukan pada Alaric?


"Tidak boleh!!! Kau masih lemah!!!" Aluric memutar tangannya.


Bisakah dia melakukannya dengan pelan? Aku ini bayi manusia tahu! Bukan boneka!


"Kembalikan Ristelku!!!"


Alaric berlari kencang. Berusaha menghindari Cedric yang balas mengejarnya. Rasanya, seluruh organ tubuhku saling bertabrakan karena terguncang.


Mereka terus berlarian sampai pintu tinggi itu terbuka.


"Alaric!!! Cedric!!! Kembalikan Ristel!!" Kaisar menatap kedua putranya yang seketika langsung berhenti berlari.


"Maaf, Ayah!!!" Kedua pangeran itu berjalan pelan mendekati kaisar. Kepala mereka menunduk.


"Hei!!! Kau juga harus meminta maaf padaku!!!"


Ugh!!! Kepalaku rasanya pusing. Terima kasih banyak pangeran bodoh.


Kaisar mengulurkan kedua tangannya. Alaric menyerahkanku. Aku diam di dalam pelukan kaisar. Aku rasa, aku akan mun.....


"Hoek!!!!"


Cairan putih kental keluar dari mulutku dan mengenai pakaian kaisar. Alaric dan Cedric nampak semakin ketakutan. Kaisar tersenyum manis. Tapi, auranya nampak seolah dia akan membunuh siapapun yang berada di luar pelukannya. Terutama dua anak laki-laki di depannya.


"Dah, ayah!!!" Kedua pangeran itu kompak berlari keluar dari kamarku.


Aku menatap kaisar yang masih tersenyum. Tangan kananku bergerak. Berusaha membersihkan cairan putih itu.


"Jangan!!!"


Aku berhenti.

__ADS_1


"Bisakah kau pelankan suaramu, kaisar?"


Kaisar meletakkanku kembali di atas kotak bayiku yang empuk dan lembut. Dia lantas pergi tanpa mengucapkan apapun.


__ADS_2