
Kalian tahu apa yang lebih cepat dari sebuah cahaya? Tidak! Bukan kuda. Bukan juga mobil balap. Baiklah, akan aku beritahu. Hal yang paling cepat didunia ini adalah mulut rakyat kekaisaran ini. Berita jika aku sudah bisa tengkurap langsung tersebar ke seluruh penjuru kekaisaran hanya dalam waktu 2 menit. Bahkan, kekaisaran sebelah tempat para sepupu gilaku tinggal juga sudah mendengar kabar ini.
Dan, kejutan- yang sama sekali tidak mengejutkan! Mereka langsung datang ke kekaisaran ini hanya dalam waktu 2 jam. Padahal, seharusnya perlu waktu hingga 3 sampai 4 hari untuk sampai ke sini. Entah cara apa yang mereka gunakan. Mungkin, ada semacam jin yang membantu mereka untuk sampai lebih cepat.
Apa?!?! Jika ada anak laki-laki yang bisa mengeluarkan air dan api dari tangan mereka, mungkin saja ada jin di dunia ini.
Aku terus tidur seharian. Mengacuhkan para pelayan yang datang untuk memberiku makan. Aku tidak sedang berusaha membuat diriku mati untuk kedua kalinya dengan cara mogok makan. Lagipula, aku yakin bayi yang punya banyak cadangan lemak ini tidak akan mati hanya karena tidak makan sehari.
Aku hanya sedang berusaha menenangkan diriku sebelum para pengacau itu kembali menghancurkan semuanya. Rencanaku sih begitu. Tapi, kaisar lagi-lagi mengundang para saintess untuk mengecek keadaanku. Bayi 4 bulan yang hanya berbaring dan menolak susu jelas adalah penyakit yang harus disembuhkan.
Ingatan tentang jarum yang menusuk kulit membuatku tak bisa menolam botol susu lagi. Rasa sakitnya bahkan masih berbekas sampai sekarang.
Pilihanku yang gegabah itu membuat 30 anak laki-laki usia 6 hingga 13 tahun selalu muncul di atas kepalaku secara bergantian. Hah! Andai saja aku bisa melenturkan tanganku seperti kartun bajak laut di dunia lamaku. Sudah lama aku memukul kepala mereka dengan kencang.
Aku yang bayi ini saja jarang sekali menangis dan membuat kebisingan. Tapi, mereka yang sudah jauh lebih besar dariku malah menangis dan berisik. Entah karena berebutan mainan. Berebutan tempat untuk melihatku. Atau karena kalah main batu, kertas, gunting. Istana ini bahkan hampir roboh lagi karena lagi-lagi mereka menggunakan kekuatan.
Empat kakak laki-laki yang setengah gila saja sudah membuatku kewalahan. Dan, sekarang aku harus menghadapi 25 anak laki-laki yang sudah sepenuhnya gila.
Hidup sebagai putri kekaisaran memang tak selamanya bagus.
Aku rindu kehidupanku sebagai pengangguran yang menghabiskan waktunya di kamar!
Bangunkan aku dari mimpi buruk ini! Kumohon! Aku janji akan keluar dari kamar 1 jam sehari. Tidak! 2 jam sehari!
Hah! Buah sudah jadi jus. Tak ada yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan jus jadi buah lagi. Kalau aku mati, mungkin saja aku bisa kembali ke kehidupan lamaku. Sebagai batu atau mungkin jadi rumput liar di pinggir jalan. Atau mungkin menjadi tahanan perang. Atau malah jadi arwah penasaran yang mencari rumahnya. Haha, aku rasa jadi putri kekaisaran ditengah pangeran gila tidak buruk juga.
"Ristel!!!" Alaric dan Euclid membuka pintu kamarku dengan kasar.
Apa mereka tidak punya rasa kasihan pada pintu itu? Kalau pintu itu bisa bicara, aku yakin dia akan menceramahi anak-anak itu selamanya sampai mereka tidak lagi membukanya dengan kasar.
"Ristelku sayang!!!" Cedric dan Dimitri membuka pintu kamarku dengan lebih buruk.
__ADS_1
"Ristel!" Bervan muncul dari balik pintu yang setengah terbuka. Anak laki-laki itu membukanya dengan sangat pelan hingga tak ada suara pun yang muncul. Memang cuma Bervan yang paling waras di antara para pangeran lain.
"Auristele!!!" Gerombolan anak-anak usia 5 sampai 8 tahun mendobrak pintu kamarku. Disusul gerombolan anak lain yang lebih dewasa. Gerombolan terakhir muncul. Sama seperti Bervan, gerombolan itu membuka pintu kamarku dengan sangat pelan.
Aku ingin tahu darimana anak-anak menyebalkan ini mempelajari cara membuka pintu. Apa kekaisaran sebelah tidak punya pelajaran tata krama? Ah, aku rasa semua guru tata krama sudah menyerah mengajar para gangster ini.
Puluhan kepala muncul di atas kotak bayiku. Suara celotehan khas anak-anak membuatku tetap terjaga.
Selamat tinggal, ketenangan yang fana!
Halo, kerusuhan yang nyata!
Punya 5 kakak laki-laki saja sudah snagat menyebalkan. Apalagi 25 sepupu laki-laki.
Aku ingin cepat dewasa dan membunuh naga yang memberikan berkah 5 anak laki-laki ini. Memangnya dia tidak tahu seberapa tersiksanya aku?!?!
Yah, setidaknya masih ada yang waras diantara mereka yang gila.
Baiklah, mari buat tingkatan kegilaan para pangeran. Dimulai dari waras. Gila. Sangat gila. Dan, terlalu gila.
Alaric dan Euclid masuk ke bagian sangat gila. Cedric dan Dimitri masuk ke bagian terlalu gila. Yah, aku rasa kalian sudah tahu.
Alaric mengangkat tubuhku. Aku menatapnya datar. Kedua tanganku bergerak, meninju kepalanya. Memaksanya untuk menurunkanku. Tapi, anak itu tetap menggendongku.
Aku yakin, saat sudah dewasa nanti, pangeran pertama ini akan tetap melajang seumur hidup karena sangat tidak peka. Sangat disayangkan. Padahal mukanya tampan juga kaya.
Semua anak-anak bersorak. Dengan cepat membuat lingkaran di tengah kamarku yang luas.
Suara sorakan itu terus terdengar. Malah semakin riuh ketika Alaric menurunkanku di atas karpet berbulu yang lembut. Padahal yang mereka lihat hanya bayi. Tapi, mereka bersikap seolah melihat keajaiban dunia saja. Yah, aku tahu kalau aku ini sangat cantik dan menggemaskan. Tapi, jujur saja. Sikap mereka itu berlebihan. Mereka bisa mengusir semua gadis jika bersikap seperti itu dihadapan gadis lain.
Alaric menjauh dariku. Berbaur dengan sepupunya yang lain.
__ADS_1
Tanganku meraba karpet berbulu. Sangat lembut. Aku rasa, Alaric hanya ingin menidurkanku di tempat yang lebih nyaman. Yah, dia lumayan baik juga. Tapi, tetap saja dia akan terus melajang.
"Ristel, kakak dengar kau sudah bisa tengkurap!" Seorang anak laki-laki berambut pirang dengan mata ungu menatapku dengan penuh kebanggaan.
"Siapa yang kau maksud kakak? Lima kakak saja sudah cukup!"
Aku menatapnya datar. Semua orang selalu menjauh ketika seorang bayi menatapnya seperti itu. Tapi, entah kenapa tidak dengannya. Dia malah semakin terlihat bangga. Ah, anak ini kan masuk ke kategori terlalu gila. Yah, aku cukup memaklumi sikapnya sekarang.
"Maukah Ristel menunjukkannya pada kami? Kami mohon!"
Puluhan anak laki-laki memasang tampang melas lengkap dengan mata boneka yang berkilau. Aku tidak tahu siapa yang bayi dan siapa yang anak-anak.
Tunggu! Rupanya Alaric meletakkanku di sini agar aku bisa menunjukkan pada anak-anak bodoh ini kalau aku sudah bisa tengkurap? Kutarik kembali kata-kataku kalau dia baik.
Aku menatap Alaric yang tersenyum bangga sambil membusungkan dadanya.
"Dasar kau bajingan kecil!"
Aku melempar tatapan tajam pada Alaric yang masih merasa bangga. Dia bersikap seolah adik perempuannya bisa membelah gunung.
Aku menghembuskan nafas panjang. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menolak permintaan anak-anak ini. Mereka malah akan semakin gila jika aku tidak menuruti kemampuannya.
Aku mengambil ancang-ancang untuk tengkurap. Semua anak bersorak kencang ketika aku berhasil melakukannya.
"Ristel yang terbaik!"
"Calon kaisar kami yang terhebat!"
"Auristele memang sangat pintar!"
Sorakan itu berlanjut selama dua jam tanpa henti. Rasanya telingaku mau pecah mendengarnya.
__ADS_1
"Awas saja kau naga bodoh!"