The Only Princess

The Only Princess
Chapter 6


__ADS_3

Para pelayan berlarian tak tentu arah. Semuanya terlihat sangat sibuk. Begitu juga aku. Sebelum matahari terbit, aku sudah sibuk berdiam diri di kursi sulur perak yang dibuat ratu dan menjajal semua pakaian yang ada. Bayi 4 bulan yang bahkan belum bisa merangkak ini sudah memakai ratusan pakaian dalam waktu 3 jam. Semua pelayan juga nampak sudah lelah. Padahal, semua pakaian yang membalut tubuhku tidaklah buruk Malahan, terlalu bagus. Tapi, kaisar selalu saja melempar penilaian buruk terhadap pakaianku.


Terlalu seksi.


Terlalu tertutup.


Terlalu rapi.


Terlalu formal.


Terlalu ketat.


Argh!!!! Aku sudah muak. Biarkan saja aku mengikuti pawai itu hanya dengan menggunakan popok! Aku sudah tidak kuat lagi. Kenapa tidak ada yang mau mendengarkan pendapat bayi 4 bulan ini?!?! Aku suka semua baju yang ada. Jadi, tidak usah membuang waktu dan tenagaku untuk mencoba semuanya. Aku sudah lelah!!!


"Ristel mau memakai baju yang mana?" Ratu menatapku penuh kasih.


Akhirnya, ada orang waras yang mau mendengarkanku. Ratu memang sama seperti pangeran kedua yang waras.


"Abooo!" Aku menunjuk gaun berwarna ungu dengan gradasi putih di bawahnya. Hiasan bunga asli berwarna merah muda di pingang bagian depan. Lengan gaun ini pendek. Jadi, aku bisa bebas menggerakkan tanganku.


"Pilihan yang bagus, Ristel!" Ratu mengambil gaun itu dan memakaikannya padaku.


"Abooo!!!"


"Ristel cantik sekali!"


Yah, aku tahu itu. Walau aku tak pernah melihat bagaimana penampakanku di cermin. Aku sudah tahu kalau aku ini sangat cantik dan menggemaskan. Soalnya, semua orang selalu melempar tatapan gemas saat melihatku. Para pelayan bahkan diam-diam mencubit pipiku setiap kali memberiku susu. Aku sih tidak keberatan. Siapa juga yang bisa menolak pesona bayi cantik nan lucu ini?


"Nah, sekarang waktunya riasan wajah!" Ratu mengangkat toples kecil dan kuas.


"Siapapun!!! Tolong aku!!!"


Perlu waktu hingga 2 jam sampai riasan itu selesai. Bukankah ini terlalu berlebihan untuk bayi usia 4 bulan? Pakaian cantik dan mewah saja bagiku sudah cukup. Kenapa harus ditambah riasan segala? Lagipula, memangnya riasan ini cocok untuk kulit bayi yang sensitive? Tapi, kalau dilihat aku cantik juga.

__ADS_1


Ah, manik mataku warnanya biru. Dan berkilau. Seperti permata. Sama seperti milik ratu.


Jadi, aku punya rambut sehitam milik kaisar dan mata biru permata secantik ratu. Kalau dilihat, aku juga sama seperti mereka berdua. Aku mirip kaisar versi perempuan bermata biru. Dan juga mirip ratu versi berambut hitam.


"Ristel! Kami sudah siap!"


Dimitri mendobrak pintu kamarku kasar.


Keempat pangeran lain mengekor di belakang. Mereka semua memakai jas yang dihiasi banyak sekali bros. Pakaian resmi kekaisaran memang seperti itu. Pakaian milik Alaric punya lebih banyak bros. Ah, mereka juga memakai mahkota.


Warna mahkota mereka juga berbeda. Alaric berwarna hitam. Sama seperti mahkota kaisar. Bervan, biru. Cedric warnanya merah. Punya Dimitri berwarna abu-abu. Dan, Euclid, putih.


Ratu mengambil mahkota kecil di atas meja rias. Mahkota berwarna ungu dengan permata senada. Ah, sepertinya, warna mahkota ini disesuaikan dengan warna gaunku. Tapi, mahkota milik para pangeran sama sekali tidak sesuai dengan warna pakaian mereka. Milik ratu juga. Ratu memakai gaun berwarna biru dengan taburan permata di bagian dada. Tapi, mahkotanya berwarna perak.


"Ristel! Ayo, kita berangkat!" Kaisar ikut mendobrak pintu kamarku.


Aku ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas tata krama buruk para pria penghuni ruangan ini.


Dasar anak-anak tak tahu diri!


Aku diam dalam gendongan ratu. Kaisar berjalan di samping ratu. Sedangkan, para pangeran berjalan di samping kanan dan kiri kedua orang tua mereka sesuai dengan urutan kelahiran.


Puluhan kereta kuda berwarna emas berbaris di depan halaman istana. Suara riuh para rakyat sudah terdengar bahkan dari istana putri. Aku ingin tahu apa yang sudah dilakukan kaisar hingga semua rakyat terlihat sangat antusias dengan pawai yang tidak penting ini. Apa kaisar mengancam rakyatnya? Siapapun yang tidak berseru saat pawai berlangsung akan berakhir di tiang gantung? Atau kaisar mengancam akan mengusir rakyatnya yang tidak bersorak? Apapun yang kaisar lakukan pada rakyatnya. Jelas itu bukanlah hal yang bagus.


Aku dan kaisar juga ratu duduk di dalam kereta kuda yang setengah terbuka. Ah, rasanya seperti naik becak di dunia lamaku. Bedanya, becak ini ditarik dengan kuda. Dan, punya tampilan yang mewah.


Kaisar memasang kain untuk menutupi wajahku. Aku menatapnya datar.


Apa gunanya aku menghabiskan waktu seharian hanya untuk memakai riasan setebal badut jika pada akhirnya wajahku ditutupi?!?!?!


"Orang-orang masih belum boleh melihat wajah Ristel sebelum usia Ristel 1 tahun!" Ratu menatapku penuh kasih.


"Appuuu!"

__ADS_1


Aku memasang wajah masam. Ratu dan kaisar tertawa pelan. Kedua pemimpin negara itu melambaikan tangannya. Aku tidur dengan tenang di atas kasur yang lembut. Sesekali tengkurap dan kembali tidur. Orang-orang di kekaisaran ini terus meneriakkan namaku.


"Hidup, Putri Auristele!"


"Kami sayang Putri Auristele!"


"Semangat, Putri Auristele!"


Entah mengapa, aku merasa seolah aku adalah artis yang memiliki jutaan penggemar. Haha..... jadi begini ya perasaan para artis saat orang lain meneriakkan nama mereka. Sangat merusak gendang telinga. Pantas saja para artis selalu melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Rupanya itu adalah upaya pencegahan penyakit tuli.


"Ristel senang?" Ratu kembali menatapku.


"Abuu!"


"Ibu juga senang!"


"Ayah juga senang!"


"Kami juga!" Kelima pangeran muncul dari belakang kereta kuda.


Ugh! Kalian mengagetkanku. Aku bisa saja terkena serangan jantung lalu mati seperti tokoh dalam drama aneh yang aku tonton.


"Para pangeran! Kembali ke kereta kuda kalian!"


Kelima pangeran itu memasang tampang masam. Dengan wajah terlipat turun dari kereta kuda dan kembali ke kereta kuda mereka.


Kan sudah kubilang! Punya 5 anak itu sangat melelahkan. Apalagi jika anak kalian gila seperti itu. Satu anak sih kuranb. Dua anak saja sudah cukup. Tiga anak tak masalah. Empat anak mulai ada masalah. Lima anak benar-benar masalah. Dan, enam anak adalah masalah besar.


Lagipula, naga bodoh mana yang memberikan anugerah berupa 5 anak laki-laki? Memangnya dia pikir keturunan 5 anak laki-laki itu tidak akan banyak? Jumlahnya saja sudah cukup untuk membuat dunia ini sesak.


Jika aku punya kesempatan, aku akan menemui naga itu dan mencolok matanya sampai dia mau mengubah anugerah itu. Tapi, sebelum kesempatan itu datang, biarkan aku tidur lagi. Teriakan orang-orang itu membuatku mengantuk. Dan, pawai ini nampaknya tak akan selesai dengan cepat. Karena kami akan berjalan memutari ibukota yang perlu waktu seharian penuh untuk diputari dengan kereta kuda.


Ini jelas sangat melelahkan untuk bayi.

__ADS_1


__ADS_2