
Aku menutup kedua mataku. Sekarang sudah hampir tengah malam. Jadi, semua orang di istana ini pasti sudah tidur. Dan, tidak akan ada yang bisa menolongku. Kali ini, aku akan benar-benar tamat.
Aku membuka mata kananku dan melirik bayangan di balkon kamarku itu. Bayangan seorang pria tinggi berbadan besar itu jelas sangat menakutkan untuk dilihat bayi yang baru bisa tengkurap.
"Siapapun!!! Kumohon tolong aku!!!"
Aku ingin menangis agar para pangeran datang menolongku. Tapi, aku yakin pemilik bayangan itu lebih dulu membunuhku bahkan sebelum aku sempat membuka bibirku.
Mana mungkin tidak ada orang yang berniat membunuhku. Aku kan satu-satunya putri dari dua kekaisaran. Ditambah lagi dengan berkah naga yang mengatakan kalau Kekaisaran Peranto akan menjadi kekaisaran terhebat jika memiliki seorang putri. Dan, sekarang Kekaisaran Terium juga menjadi semakin kuat. Tentu saja para anti kekaisaran sangat membenci kehadiranku.
Dan, pembunuh itu adalah salah satunya!
Aku memutuskan untuk menutup kedua mataku dengan rapat. Setidaknya, aku tidak perlu melihat akan mati dengan cara apa. Cukup sudah aku melihat kematian konyolku di kehidupan lama dulu.
Pemilik bayangan itu berjalan dengan mengendap menuju kotak bayiku. Perlu waktu 15 menit baginya untuk bisa berdiri di dekatku. Kotak bayi ini memang berada di tengah kamar yang lebih luas dari jidatku. Entah kenapa kaisar memberikan kamar seluas ini untuk bayi yang bahkan belum bisa berjalan ini. Aku rasa aku tahu jawabannya. Hal ini berguna untuk membuat pembunuh lelah karena harus berjalan. Sehingga, tidak punya banyak tenaga untuk membunuhku. Atau, untuk mengulur waktu sampai para pangeran dan ksatria datang.
"Ristel! Kau tidur, ya?"
"Iya! Aku tidur! Jadi, tolong bunuh aku dengan cepat!"
Aku mengernyitkan dahiku. Pembunuh ini benar-benar sangat tidak berpengalaman dalam hal membunuh. Apa dia tidak tega kalau harus membunuh bayi bulat yang sedang tidur ini? Dia kan hanya tinggal menancapkan pedang di jantungku. Aku akan mati dengan cepat!
Tunggu! Apa mungkin dia memang sudah melakukannya? Kalau begitu, kali ini aku benar-benar sudah mati? Tapi, aku sama sekali tidak merasa sakit. Rasanya juga tidak ada darah yang mengalir. Apa dia benar-benar membunuhku?
Aku membuka kedua mataku. Jantungku rasanya hampir melompat keluar begitu melihat seorang pria berambut pirang dengan manik mata hijau tengah menatapku. Bibir tipisnya melengkung ke atas. Tanpa harus bertanya pun aku tahu dia siapa.
Dia adalah Frans Jin Peranto. Mantan kaisar dari Kekaisaran Peranto. Ayah dari ratu dan kelima paman gilaku. Ayah mertua dari pemilik Kekaisaran Terium. Kakek dari para pangeran gila sekaligus juga kakekku. Yah, dia adalah kakekku!
__ADS_1
Kuulangi sekali lagi! Pemilik bayangan yang aku kira pembunuh bayaran itu adalah kakekku!
Argh! Apa dia tidak tahu ada benda bernama 'pintu' di ruangan ini? Kenapa dia malah menggunakan jendela? Dan, kenapa juga dia muncul di tengah malam saat semua orang tidur?!?! Aku ingin sekali memukul kepalanya. Tapi, tanganku tidak cukup panjang. Tunggu hingga aku bisa berdiri dan akan aku jamin kakek tua ini akan menyesal.
Tunggu!!! Usia pria ini bukankah seharusnya lebih dari 50 tahun? Tapi, kenapa wajahnya nampak seperti masih berusia 30 tahun? Ah, kalau dipikir-pikir, wajah para pangeran tua dan ratu juga nampak muda. Tentu saja!!! Berkah lain dari naga yang agung!
Aku menatap pria itu datar. Dia sudah menatapku selama sepuluh menit tanpa berkedip sedetik pun. Dan, sekarang matanya jadi berair. Orang lain pasti berpikir kalau aku menyiksanya sampai dia menangis.
Aku tak menaruh banyak harapan besar pada mantan kaisar ini. Tapi, aku harap dia jauh lebih waras dibandingkan kelima anak dan ketiga puluh cucu laki-lakinya itu. Karena aku sudah muak berada di limgkaran setan!
"Ristel cantik sekali! Mata Ristel sangat mirip dengan nenek dan ibu!"
Aku masih menatapnya datar.
Ratu adalah yatim piatu sejak dini. Jadi, sudah pasti nenekku telah berada dalam tanah.
Hening sejenak. Mantan kaisar masih menatapku dengan mata penuh binar.
Tapi, dia tidak menaruh dendam padaku, kan? Aku kan hanya bayi kecil yang lucu dan tidak tahu apa-apa.
"Apa kakek boleh tidur dengan Ristel?" Tanya mantan kaisar itu.
Aku masih belum memberikan jawaban. Tapi, dia tiba-tiba langsung naik ke dalam kotak bayiku. Padahal, kotak ini hanya memiliki lebar 50 cm dengan panjang 1 m. Tinggi pria ini kan hampir 2 meter. Lihat! Dia bahkan harus menekuk kedua kakinya agar muat berada di sini.
Lalu, wajahnya juga sangat dekat dengan kepalaku. Semburan nafas dari hidungnya bahkan sampai bisa meniup rambutku!
Tunggu! Aku baru sadar kalau pakaian kaisar sedikit terbuka di bagian dada. Aku tak tahu apa Kekaisaran Peranto jatuh miskin karena memiliki banyak pangeran. Atau, memang kaisar yang satu ini hobi tebar pesona.
__ADS_1
"Wow! Roti sobek!"
Aku langsung menutup kedua mataku erat. Bisa-bisanya aku menodai mata bayi yang masih suci ini dengan beberapa kotak roti sobek.
Hey! Karena kakek tua ini mendekatkan diri padaku, aku bisa dengan mudah memukulnya bukan? Memang tidak akan terlalu menyakitkan, sih. Tetapi setidaknya bisa mengurangi sedikit rasa simpati dan dendamku.
Aku melayangkan tangan kananku ke atas dada mantan kaisar yang sekeras baja ini. Entah kenapa malah tanganku yang terasa sakit.
"Apa Ristel ingin memukul kakek?" Tanya mantan kaisar yang nampak seperti udang yang sudah mati itu.
Leher dan kedua kakinya harus ditekuk karena kotak bayi ini tidak cukup luas untuknya. Aku yakin, besok pagi dia akan merasakan pegal di seluruh tubuhnya. Untung saja sulur rambat perak milik ratu bisa digunakan untuk menyembuhkan. Setidaknya, dia bisa merasakan usia yang digambarkan wajahnya.
Mantan kaisar itu bangkit dan duduk. Aku menatapnya.
Apa dia ingin membalas dendam padaku karena aku sudah memukulnya? Tapi, kan pukulanku rasanya tidak seberapa. Lagipula, masa mantan kaisar mau melawan bayi perempuan yang lemah dan tidak berdaya ini!
"Kalau Ristel ingin memukul seseorang, kepalkan tangan Ristel dan bidik titik vitalnya. Seperti di tenggorokan!"
Aku menatapnya datar. Apa dia baru saja mengajari bayi usia 6 bulan ini untuk membunuh orang? Aku bahkan belum bisa berdiri. Bagaimana mungkin aku bisa membunuh! Yang ada malah aku yang dibunuh!
"Lakukan seperti ini!"
Kaisar itu mengepalkan tangan kanannya dan dengan cepat memulul tenggorokannya. Seketika, pria yang dikenal tak bisa dikalahkan itu langsung tumbang. Kepalanya berada di luar kotak bayiku. Sementara, punggungnya bersandar pada pagar kotak bayi. Mantan kaisar itu pingsan. Karena pukulannya sendiri.
Aku tercengang atas apa yang baru saja mataku lihat.
Sekarang aku tahu, orang yang bisa mengalahkan kaisar adalah dirinya sendiri. Dan, aku juga tahu kalau memukul seseorang di tenggorokan akan membuat orang itu langsung tumbang. Aku tak habisa pikir, kakekku ini akan mempraktikkan langsung materi yang baru dia berikan dua detik lalu. Apa semua berkah yang diberikan naga itu membuat kewarasan mereka menguap?
__ADS_1
Hah! Memang sebaiknya aku tidak menaruh harapan pada anggota keluarga kekaisaran.
Aku harap, siapapun orang pertama yang datang ke kamarku, dia tidak mencurigaiku.