
Seperti yang sudah aku duga. Aula pesta ini hanya berisi bayi perempuan. Bukankah ini tak adil? Para bayi dari golongan rakyat biasa bermain dengan senang hati di rumah mereka tanpa khawatir berbuat kesalahan yang pada akhirnya membuat mereka kehilangan kepala. Sementara, bayi para bangsawan harus memakai gaun mewah dan menghadiri pesta yang lebih mirip dengan neraka ini?
Lihat saja! Dari ratusan bayi yang ada di aula ini, hanya ada belasan bayi yang berani memasukkan bubur dan susu ke dalam mulut mereka. Dan, hanya ada hitungan jari tangan kanan bayi saja yang berani merusak dekorasi bunga.
Aku rasa, akan ada yang kehilangan nyawanya malam ini.
Aku melempar pandanganku. Menatap ratu dan kaisar yang berdiri di lantai atas sembari memperhatikanku. Juga kelima pangeran yang menebar pandangan seperti akan membunuh siapapun yang bergerak. Aku rasa, kehadiran kelima pangeran adalah suatu ancaman besar bagi para bayi ini. Pantas saja mereka diam saja. Aku pikir, para bayi ini tahu dari awal kalau mereka tengah berada di aula pesta di kekaisaran gila. Rupanya, tatapan para pangeran yang memberi tahu mereka.
Sekarang, aku harus apa?? Bicara dengan bayi lain? Tapi, yang aku tahu hanyalah aboo dan appu. Lagipula, bayi lain mungkin tak tahu apa yang sedang aku bicarakan. Jangankan mereka. Aku sendiri saja terkadang tak tahu.
Hah!!! Jadi bayi memang sangat sulit.
Aku merangkak menuju salah seorang bayi yang merusak dekorasi bunga. Sepertinya, bayi itu punya banyak nyawa. Atau mungkin sel otak yang merangsang rasa takutnya sudah rusak. Tapi, dilihat dari kelakuannya, dia mungkin bisa jadi anak yang pendiam kalau besar nanti. Biasanya sih bayi akan tumbuh berlawanan dengan sifatnya.
Ugh!!! Gaun bodoh ini membuatku jadi sulit merangkak. Padahal, dibandingkan gaun milik bayi bangsawan lain, gaun yang aku pakai jauh lebih tipis dan nyaman dipakai. Tapi, tetap saja! Bayi mana yang bisa merangkak dengan nyaman jika tubuhnya terbalut gaun mengembang seperti ini? Taburan permata ini juga membuat gaunnya jadi berat. Aku jadi nampak seperti toko permata yang bisa merangkak. Benar-benar menyebalkan!
Semua mata ketujuh manusia yang menatapku dari lantai atas langsung tertuju padaku. Rasanya ingin sekali aku mencolok mata mereka.
Mereka selalu saja memperhatikan setiap gerak-gerikku. Mau aku berkedip sekalipun mata mereka akan tetap tertuju padaku. Rasanya seperti rusa yang sedang diawasi oleh harimau.
Perlu waktu 10 menit bagiku untuk bisa sampai dengan selamat. Padahal, jarak kami hanya 3 meter. Gaun ini benar-benar memperlambat diriku. Lihat saja! Aku akan membakarnya nanti. Tentu saja setelah mencabut semua permatanya.
Aku duduk di dekat bayi yang sama sekali tidak peduli dengan kehadiranku. Menghancurkan bunga lebih menarik baginya daripada menyambut tuan pemilik acara.
Aku menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Rambut coklat pendeknya dikuncir dua dengan pita berwarna abu-abu tua. Manik mata hijaunya nampak seperti dedaunan segar yang menyejukkan. Gaun yang dia pakai terlalu sederhana untuk ukuran bangsawan. Rasanya bahkan gaun ini dijahit oleh seorang yang tidak terlalu pandai dalam hal itu. Dilihat dari tampilannya yang sederhana, sudah pasti dia adalah putri seorang baron. Tapi, bukankah walaupun berada di tingkat paling bawah dari kasta para bangsawan, baron tetap mampu membelikan sebuah gaun untuk putrinya? Apalagi, ini adalah pesta kekaisaran. Artinya, anak ini berasal dari baron yang tidak kaya alias miskin.
Tak apa. Niatku untuk mengajaknya berteman sama sekali tidak berubah.
"Ahem!!"
Aku berdehem. Bayi itu masih tak peduli. Berkali-kali aku berdehem sampai tenggorokanku seperti mau patah. Tapi, hasilnya tetap sama. Bayi ini masih tidak peduli padaku. Argh!!! Sekarang aku marah!!
"Abooo!!!!" Aku berteriak kencang.
__ADS_1
Semua bayi menatapku. Aku menundukkan kepalaku sebagai permintaan maaf. Kelima pangeran kecuali Bervan menajamkan tatapan mata mereka. Semua bayi kembali mematung. Bayi yang ada di hadapanku akhirnya memutar kepalanya. Setidaknya, tujuanku tercapai.
"Abooo!!" Ucapku sembari mengulurkan tangan kananku.
Bayi itu menatapku sekilas. Lantas, berganti menatap tanganku. Dia berusaha mencerna apa yang aku inginkan. Aku tersenyum ketika dia mengulurkan tangannya. Tangan kami saling bertaut. Ketika dia menarik kembali tangannya. Aku menyadari sesuatu. Tangannya basah. Dan, hangat.
Dia mengelap bekas ompolnya di tanganku?!?!?! Argh!!! Tanganku yang suci terkena bekas ompol bayi!!!
Padahal, aku dengan baik mengulurkan tanganku. Tapi, dia malah membalas kebaikanku dengan ompolnya?
Bervan menggerakkan tangannya. Sebuah gelembung air muncul dan bergerak menuju tangan kananku. Entah mengapa, rasanya tanganku jadi bersih dan kesat. Setelah melaksanakan tugasnya, Bervan menjetikkan jari. Gelembung air itu menghilang. Aku mengangkat kedua jempolku. Bervan tersenyum bangga. Keempat pangeran lain dan kaisar menatap Bervan seakan ingin membunuhnya.
Kalau kekuatan seperti Bervan ada di dunia lamaku. Aku mungkin sudah jadi kaya dengan membuka bisnis cuci. Cuci baju. Cuci piring. Cuci mobil. Aku akan menguasai semua jenis bisnis yang berkaitan dengan cuci mencuci. Pasti mudah. Karena yang harus aku lakukan hanyalah menggerakkan tangan lalu menjetikkan jari. Itu bahkan lebih mudah dibandingkan mengambil permen dari bayi.
Bicara soal bayi. Dimana bayi perempuan yang tadi ada di hadapanku?!?! Berani sekali dia pergi setelah apa yang dia lakukan padaku!
Aku memutar kepalaku. Mencari pelaku kejahatan pengelapan bekas ompol yang menghilang setelah melalukan aksinya! Ketemu! Dia sedang makan bubur dan susu.
Mudah sekali menemukannya! Bayi yang lain hanya diam. Kalau pun bergerak, mereka bergerak dengan perlahan. Berbeda sekali dengan bayi itu yang justru nampak sangat mencolok.
Aku merangkak menuju bayi baron yang masih sibuk makan. Sudah ada belasan mangkok dan botol susu yang berserakan di dekatnya. Aku tahu bayi memang punya selera makan yang bagus. Tapi, ini sih namanya terlalu bagus.
"Aboo!!!"
Aku kembali menjulurkan tangan kananku. Bayi itu melihatnya. Keringat mengalir dari dahiku. Sekarang, apalagi yang akan dia lakukan?!?!
Kedua tangan bayi itu bergerak. Meletakkan mangkok berisi bubur bayi yang setengah kosong di atas tanganku. Lantas mengambil mangkok bubur lain. Yah, setidaknya mangkok bubur lebih baik daripada bekas ompol. Atau tidak.
Aku membalik telapak tanganku. Mangkok itu terjatuh. Bekas bubur lengket bercampur dengan air liur menempel di tanganku.
Sebenarnya, bagaimana cara bayi ini makan sampai ada bekas air liur di bawah mangkoknya?!?!
Sudah cukup!!! Aku sudah muak!!!
__ADS_1
Tangan kananku bergerak. Menarik pita yang mengikat rambutnya. Pita itu terlepas. Begitu juga dengan rambutnya yang langsung tergerai.
Aku pikir bayi itu akan menangis. Tapi, dia malah menjambak rambutku. Membuat gulungan rambutku jadi berantakan.
Padahal aku hanya menarik pitanya. Tapi, dia malah menjambakku. Tidak adil!
Aku menarik pita lainnya. Bayi itu balas meludahkan buburnya di atas kepalaku.
Amarahku memuncak. Berani sekali dia melakukan hal itu padaku! Baiklah! Mari kita lakukan dengan kekerasan.
"Anggg!!!"
Bayi itu menjambak rambutku yang sudah tak karuan.
"Aboo!!!"
Aku balas menampar pipinya. Tak terlalu sakit karena tanganku juga masih lemah. Dan, pipinya sangat tembam.
Bukannya berkenalan dan menjadi teman, kami malah bertengkar dan menjadi musuh.
"Ayo, Ristel!!! Jambak rambutnya!!!"
"Tarik hidungnya!"
"Injak kakinya!"
"Pukul wajahnya!"
"Tendang pipinya!"
Kaisar dan kelima pangeran berteriak menyemangati. Aku melemparkan tatapan tajam. Mereka terdiam. Tanganku kembali fokus menjambak rambut bayi di hadapanku. Para pelayan yang melihat kejadian itu langsung memisahkan kami.
Pesta itu akhirnya selesai sebelum waktunya. Ratusan kereta kuda berjalan di tengah gelapnya malam dan mengembalikan para bayi itu ke tempat asal mereka.
__ADS_1
Tak terkecuali bayi yang bertengkar denganku. Dia kembali ke rumah setelah mendapatkan penyembuhan karena bekas biru tercetak di pipinya. Dia juga mendapatkan beberapa kantong koin emas sebagai permintaan maaf. Bagaimana pun, aku duluan yang menarik pitanya.
Hah!!! Aku ingin cepat dewasa.