
Kalian tahu, apa hal yang paling aku sesali dalam kehidupanku selain menjalani hidup sebagai putri di kekaisaran gila ini? Jawabannya adalah pergi ke aula pesta. Kaisar mengira aku sudah tidak sabar untuk berpesta dengan bayi para bangsawan. Alhasil, pesta yang harusnya diadakan besok itu berubah menjadi malam ini. Padahal, baru tiga jam lalu aku ditemukan dalam keadaan diselimuti bubur kering. Tapi, kaisar langsung menyuruh semua pelayan yang ada di istana putri mempersiapkan diriku untuk pesta.
Dua menit setelah aku ditemukan, kaisar langsung mengumumkam perubahan jadwal pesta mendadak yang akan dilaksakan dua jam lagi. Semua bangsawan yang berada di luar ibukota langsung kembali demi menyelamatkan kepala mereka. Para bayi yang diundang langsung bergegas dibawa ke salon. Bayi usia 6 hingga 8 bulan itu harus memakai gaun yang mengembang dan berdandan secantik mungkin. Kaisar tak mengundang bayi laki-laki karena takut akan terjadi hal yang tak diinginkan seperti jatuh cinta pada pandangan pertama misalnya.
Para ksatria yang bertugas menjemput para bayi langsung datang ke rumah para bangsawan yang dengan setengah hati memberikan bayi mereka. Beberapa bayi itu menangis. Sedangkan, sisanya nampak senang karena bisa pergi jalan-jalan dengan kereta kuda. Kesenangan mereka menghilang ketika kereta kuda itu berjalan memasuki gerbang istana kekaisaran. Sementara, bayi yang menangis langsung diam dan mematung.
Lihat!!! Bahkan para bayi yang katanya belum bisa berpikir pun tahu kalau istana kekaisaran adalah tempat yang sangat berbahaya!
"Aboo!!!"
Aku menatap mainan bebek yang mengambang di hadapanku. Aku benar-benar kesal karena harus berendam di air mawar. Sudah 30 menit aku berendam dalam air mawar ini. Saking lamanya, rasanya keringatku pun akan berbau mawar. Para lebah pasti akan mengejarku karena bau bunga mawar ini.
Mainan bebek yang memenuhi bak mandi membuatku semakin kesal. Kulitku bahkan sudah seperti jeruk tua! Sebenarnya, apa gunanya ini semua?!?! Untuk apa aku berdandan di pesta yang isinya hanya bayi perempuan yang bahkan belum bisa bicara?!?! Apa kaisar ingin menjodohkanku dengan salah satu dari mereka?
Tidak mau!!! Aku masih berada di jalan yang lurus tahu!!!
"Putri, coba lihat bebek ini. Mereka bisa mengambang!" Seorang pelayan yang bertugas memastikan aku tetap berada di dalam bak mandi tersenyum sembari menunjuk mainan bebek kuning di hadapanku.
Aku menatap dinding bath up datar. Kedua tanganku bergerak. Menenggelamkan bebek yang mengambang di hadapanku tanpa belas kasih. Yah, aku tahu kalau mereka sama sekali tidak bersalah. Tapi, aku benar-benar kesal!!!
"Hahahaha, apa Putri sudah selesai mandi??" Tanya pelayan lain dengan canggung.
Aku melemparkan tatapan kejam padanya. Apa dia mengira aku sangat senang berada di sini sampai tidak menawarkan untuk berhenti?
Harusnya dia menanyakan hal itu sejak 25 menit lalu. Tubuhku rasanya seperti spons tua yang menyerap terlalu banyak air. Mereka benar-benar merusak kulit halus yang indah ini!
"Baiklah!!! Ayo kita pergi!" Salah seorang pelayan mengangkat tubuhku.
__ADS_1
Beberapa tetes air mawar menetes. Ah, kulitku yang semula keriput langsung kembali seperti semula. Rupanya ini adalah air dari spirit Bervan. Pantas saja para pelayan ini tetap tenang meski putri mereka sudah berendam selama 30 menit.
Para pelayan mengeringkan tubuhku. Rasanya sedikit memalukan karena orang lain melihat tubuhku. Tapi, tak ada yang bisa dilakukan bayi ini. Pokoknya, kalau usiaku sudah 1 tahun, aku akan mandi dan mengganti baju sendiri!
Aku pikir berendam air mawar selama 30 menit adalah awal dan akhir penderitaanku. Tapi, rupanya itu hanyalah awal.
Aku harus memakai gaun mengembang dengan taburan permata yang terlihat norak. Aku sudah berkali-kali menendang gaun sialan itu. Tapi, para pelayan ini tak mengenal kata menyerah. Mereka terus berusaha memakaikan gaun itu padaku. Sampai akhirnya, aku menyerah.
Gaun ini sebenarnya tak terlalu buruk. Hanya saja, gaun ini terlalu mengembang dan warnanya terlalu terang. Benar-benar tak sesuai dengan seleraku.
Aku rasa, gaun ini adalah pilihan ratu. Yah, harus aku akui kalau ratu punya selera yang bagus. Hanya saja, tidak untukku.
"Putri kami memang yang paling cantik!!"
Aku menatap pelayan itu datar. Dia nampak bahagia sekali karena sudah menyiksaku. Sekarang apa? Mengikat rambut dan memakai riasan? Yah, aku rasa tidak. Atau mungkin iya.
Aku menatap bayanganku yang terpantul di cermin. Kalau dilihat aku cantik juga. Rambut lebat berwarna hitam dengan ujung sedikit ikal. Manik mata biru yang bersinar di bawah cahaya. Kulit putih lembut seperti salju. Visual seorang putri kekaisaran memang tak bisa dianggap remeh, ya.
Salah seorang pelayan menyisir rambutku dengan perlahan. Pelayan lain sibuk memilih sepatu dan perhiasan. Sisanya, sibuk dengan riasan wajahku. Padahal, aku hanya bayi usia 8 bulan yang akan menghadiri pesta konyol. Para bayi itu juga tak akan mengingat penculikan berkedok pesta ini.
Hah!!! Mau memberontak pun rasanya percuma. Para pelayan ini akan tetap mendandaniku seolah aku akan menikah.
"Abooo!! Booo!!!"
Aku mengeluh. Sudah 1 jam aku duduk di atas kursi ini. Memang ada bantal empuk yang membuat bokongku tak sakit meski sudah duduk selama itu. Punggungku juga tak sakit karena sandarannya yang lembut. Tapi, tetap saja! Bayi ini tersiksa!!!
Mereka sebenarnya ingin aku menghadiri pesta atau membunuhku secara perlahan, sih?
__ADS_1
"Saya Eilian Fflur Len Anela Von Riesel memberi salam pada satu-satunya bintang kekaisaran!" Seorang wanita yang entah berasal dari mana berdiri di belakangku dan membungkukkan badannya dengan penuh hormat.
Bukankah namanya itu terlalu panjang??? Nama putri kekaisaran ini saja tidak sepanjang itu. Usiaku masih 8 bulan. Jadi, mana mungkin aku bisa mengingat nama sepanjang dan sesulit itu.
Apa tadi dia bilang namanya adalah alien? Nama yang aneh.
Pelayan memutar kursiku agar aku bisa melihat wanita itu dengan jelas. Rasanya aneh melihat seorang wanita seusia ratu tengah membungkuk di hadapan bayi ini. Tapi, aku senang juga. Itu artinya aku adalah orang yang paling berkuasa.
Ayo tampil anggun! Bukannya norak!
Aku berdehem. Kedua tanganku berada di atas dengkul. Sementara, kedua kakiku yang berada di atas kursi lurus ke depan. Nampak sangat anggun selayaknya putri kekaisaran. Yah, walau di mata orang dewasa aku hanyalah bayi menggemaskan yak bersikap menggemaskan juga.
"Saya adalah pemilik Butik Von Riesel."
"Ya, aku tidak tahu butik itu dan tidak mau tahu juga!"
Tapi, kalau dia adalah pemilik butik dan datang ke kamarku, artinya butik miliknya sangat terkenal di kekaisaran ini. Yah, dilihat dari tampilannya yang mewah namun elegan pun aku sudah bisa menilai.
"Saya diutus Yang Mulia Kaisar untuk mengantar pesanan gaun untuk pesta Tuan Putri Auristele malam ini!"
Begitu kalimat Eilian selesai, beberapa orang yang nampak seperti pegawai toko langsung masuk ke dalam kamarku. Tangan mereka sibuk mendorong lemari mungil yang setengah terbuka. Puluhan gaun dengan berbagai macam warna dan model tergantung rapi di sana. Aku ternganga.
"Yang Mulia Kaisar tidak tahu gaun mana yang akan Tuan Putri pakai. Jadi, beliau meminta saya mengirim semua gaun yang saya punya!"
Aku menatap Eilian tak percaya. Kaisar mengirim gaun sebanyak ini hanya untuk bayi yang bahkan tak peduli jika dipakaikan kantong plastik sekali pun?? Aku yakin tindakan kaisar yang memborong semua gaun bayi perempuan di butik terkenal membuat bayi bangsawan yang diundang ke pesta dengan terpaksa harus memakai gaun lama mereka.
Sebenarnya, dia itu terlalu kaya atau terlalu boros, sih.
__ADS_1