
Perang. Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak bahkan sebelum matahari terbit karena perang. Entah dengan alasan apa. Alarm tanda perang itu dibunyikan di pagi buta. Bendera lambang Kekaisaran Terium berupa dua pedang bersilang di dalam tameng dengan bunga teratai di tengah persilangan pedang itu dikibarkan di seluruh sudut kekaisaran.
Semua ksatria kekaisaran memenuhi halaman depan istana. Berbaris dengan rapi. Mereka semua kompak memakai baju zirah berwarna perak dengan pedang di tangan.
Barisan depan ksatria menaiki kuda yang juga memakai zirah. Sementara, barisan tengah menunggangi black panther asli yang sudah dijinakkan oleh kaum pengubah wujud. Barisan belakang ksatria yang merupakan pengguna spirit penyembuh menunggangi naga yang merupakan lambang kekaisaran sebelah. Para pemilik spirit penyembuh itu akan langsung menyembuhkan ksatria yang terluka dari atas.
Aku tidak tahu mengapa kaisar tiba-tiba menyiapkan pasukan sebanyak ini seolah perang besar akan terjadi. Yang jelas, bukan karena bayi perempuan yang membuatku hampir memiliki darah tinggi dua bulan lalu. Bayi itu bahkan masih hidup sampai sekarang. Yang artinya, kaisar tidak berniat memerangi bayi itu maupun keluarganya.
Kekaisaran lain juga tidak mungkin memulai peperangan dengan Kekaisaran Terium. Karena itu artinya mereka juga berperang dengan Kekaisaran Peranto. Apalagi jika hal itu berkaitan denganku.
Mana mungkin ada kekaisaran bodoh yang mau berperang dengan dua kekaisaran besar dan kuat. 30 pangeran pemilik kekuatan spirit paling gila. Kaisar dengan spirit api yang bisa membakar setengah bumi. Empat pangeran tua lain juga dengan spirit super hebat. 5 putri yang juga kuat. Dan, jangan lupa mengenai kaisar dengan spirit penghancur yang bisa membunuh jutaan musuh hanya dengan menggerakkan tangan. Belum lagi ratu yang bisa mengeluarkan tanaman rambat dari dalam tanah dan mengendalikan binatang.
Kalau sampai ada yang berani mengajak perang sih namanya bukan perang. Tapi, membinasakan diri dengan cara praktis dan tragis.
Jadi, makhluk mana yang bisa membuat kaisar mengumpulkan seluruh pasukan yang dia miliki. Kaisar bahkan sampai meminta dua pangeran kembar untuk memimpin pasukan. Sementara, pangeran putra mahkota, dua pangeran terakhir dan ratu akan berjaga di kekaisaran.
Aku sih tidak terlalu khawatir dengan kaisar dan Cedric. Karena aku yakin mereka akan kembali dengan selamat. Mungkin, hanya terkena beberapa tusukan pedang. Tapi, aku sangat khawatir dengan Bervan. Dia adalah asetku yang berharga. Kalau dia tergores sedikit saja, rasanya hatiku akan sangat hancur.
Kalian tahu? Kaisar sudah menyiapkan pasukan itu sejak dini hari. Tapi, setelah matahari terbit dia masih belum berangkat ke medan perang dan malah bersimpuh di kakiku. Mataku rasanya sampai sakit melihat dia yang terus memasang tampang seolah dunia akan kiamat besok. Telingaku juga hampir tuli karena mendengar ucapannya yang sama sejak 6 jam tadi.
"Ristel! Ayah janji akan pulang dengan selamat! Tolong tunggu sampai ayah pulang!"
Aku yang duduk di kursi berlapis emas yang merupakan hadiah dari Biby hanya bisa diam dan menepuk kepala kaisar lembut. Sudah 4 jam dia bersimpuh di kepalaku. Apa dia tidak pegal? Apa kakinya itu tidak merasa tersiksa?
"Tumbuhlah dengan baik selama kakak ketiga pergi!" Cedric yang juga melakukan hal yang sama seperti kaisar menangis.
Hah!!! Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.
Dia berkata seolah mereka akan pergi selama belasan tahun. Tunggu?!?! Bagaimana kalau mereka memang pergi selama itu? Tidak!!! Kalian tidak boleh pergi sampai belasan tahun! Tidak jika dengan Bervanku tercinta!
"Makanlah yang banyak agar kau tumbuh dengan baik!" Bervan yang berdiri di sampingku tersenyun. Tangan kanannya mengusap rambutku yang terkuncir dua.
Aku menatap manik mata Bervan. Dia terlihat sangat serius sangat mengatakannya. Dan, karena Bervan adalah pangeran yang paling waras dan bisa dipercaya, artinya ketiga makhluk ini memang akan pergi sangat lama.
Sebenarnya, kau mau kemana? Kenapa kau mau diajak oleh dua makhluk ini dan meninggalkanku? Suruh saja Alaric, Dimitri atau Euclid untuk berperang. Kau tidak perlu pergi, wahai asetku!
Aku menatap Bervan dengan mata berkaca-kaca. Bibirku bergetar. Sedetik kemudian aku menangis kencang.
__ADS_1
Padahal hidupku yang menderita karena dikelilingi makhluk setengah waras menjadi lebih baik karena ada Bervan. Tapi, pada akhirnya dia harus pergi juga.
"Hue!!!"
Kaisar dan Cedric langsung bangkit dan memelukku erat. Mereka ikut menangis kencang. Bahkan, lebih kencang dari tangisanku.
"Ristel!!! Jangan menangis!!!"
"Kami pasti akan kembali dengan selamat!!! Kami pasti akan memenangkan perang itu. Ristel tidak usah menangis!"
"Aku bukan menangisi kalian tahu!"
Aku menghentikan tangisanku. Kedua makhluk itu masih menangis dan memelukku erat. Aku menatap lantai berlapis karpet bulu beruang datar. Entah mengapa mereka lebih bersikap dramatis dibandingkan aku. Rasanya ingin sekali aku memasukkan kembali air mata yang keluar sia-sia tadi.
Pentas drama dadakan itu akhirnya selesai ketika ratu menarik kedua pemeran utama itu dengan sulur rambat peraknya. Akhirnya, aku selamat dari kedua makhluk setengah waras itu. Dan, entah mengapa aku merasa senang karena dua orang dari 47 orang gila yang ada di sekitarku sudah pergi. Tapi, tetap saja aku merasa sedih karena mereka juga membawa satu-satunya orang waras yang aku punya. Hiks, rasanya aku akan menangis lagi jika hanya berdiam diri dan memikirkan Bervan tanpa melakukan apapun.
Aku harus bangkit dari keterpurukan sementara ini! Bervan pasti akan baik-baik saja. Dia kan waras dan kuat. Aku tidak perlu khawatir!
"Tuan Putri Auristele! Saatnya bermain!"
Beberapa orang pelayan terus keluar masuk kamarku begitu pasukan perang itu menginjakkan kaki di luar gerbang istana. Sekarang, sudah 2 jam sejak mereka pergi. Dan, sudah dua jam pula para pelayan membawakanku makanan dan mainan demi menghiburku. Tapi, aku terus mengacuhkan mereka. Aku terus tidur dalam keadaan tengkurap dengan wajah yang terbenam dalam boneka kelinci setinggi pria dewasa, hadiah dari Ilvy, ratu kekaisaran sebelah sekaligus bibiku.
Para bibi dan paman juga sepupuku selalu memberikan hadiah untukku. Katanya sih agar aku bisa termotivasi dalam berlatih berjalan. Dan, itulah alasan mengapa kaisar sampai membangun istana baru untuk menyimpan hadiahku.
Hah!!! Aku memang ingin sekali hidup bergelimang harta meski pengangguran. Tapi, ini sih namanya berlebihan.
Kaisar dan keempat saudaranya mengirim permata dan perhiasan lain yang super langka dan berharga. Kelima bibiku memberikan mainan yang tak terbilang jumlahnya. 25 sepupuku memberikan hadiah yang berbeda. Pedang. Pakaian. Surat kepemilikan toko. Wilayah kekuasaan. Dan, bahkan obat-obatan langka.
Memangnya, mereka pikir semua benda itu berguna bagi bayi 10 bulan ini?!?!
Aku rindu Bervanku yang waras!
"Aboo!!!" Aku menunjuk mainan berupa balok kayu mungil. Kalian bisa menumpuk balok kayu ini dan membangun rumah, istana atau apapun yang kalian inginkan. Bisa dibilang, ini sama dengan lego di kehidupan lamaku. Hanya saja tanpa lubang di bawahnya.
Aku cukup hebat memainkan balok kayu ini. Aku bisa membangun istana dengannya. Berkat hal itu, kaisar mengumumkan kalau aku adalah bayi jenius dan meminta para ilmuwan untuk menulis namaku di daftar para jenius. Yah, harus aku akui kalau aku memang cukup pintar untuk bayi usia 10 bulan. Tapi, tetap saja hal itu berlebihan!
Bagaimana kalau aku tidak tumbuh menjadi gadis jenius di masa depan nanti?!?! Itu sih sama saja dengan mempermalukanku!
__ADS_1
"Putri ingin bermain dengan balok kayu lagi?"
Aku mengangguk. Seorang pelayan mengangkat tubuh bulatku. Dengan perlahan dia meletakkanku di atas karpet bulu. Tanganku bergerak. Mulai menumpuk balok kayu itu satu-persatu. Tiga orang pelayan siaga di dekatku.
"Kaisar dan Pangeran Kembar pergi demi Tuan Putri!" Salah seorang pelayan berambut pendek angkat bicara.
Aku menghentikan tanganku. Manik mata biruku langsung fokus menatap pelayan itu. Apa maksudnya perang demi diriku? Perasaan, tidak ada satu pun orang yang melakukan kesalahan hingga layak diajak berperang.
"Arti nama Tuan Putri adalah 'Bintang Emas' karena Tuan Putri lahir saat peristiwa bintang emas terjadi." Pelayan lain menambahkan.
"Bintang Emas adalah kejadian setahun sekali dimana langit akan dipenuhi dengan bintang jatuh yang berwarna emas."
"Kaisar kemudian memberikan nama 'Auristele' untuk Tuan Putri! Dan, kaisar mematenkan nama itu. Jadi, tidak boleh ada orang yang memakai nama itu."
Mulutku ternganga. Memangnya nama adalah suatu hal yang bisa dipatenkan?!?!
"Kaisar kemudian mendatangi semua orang yang memiliki nama Auristele. Beliau meminta mereka mengganti nama mereka dengan nama lain. Kaisar memberikan sekarung permata sebagai imbalan. Tapi, jika mereka menolak, kaisar akan melangsungkan perang tanpa pikir panjang! Perlu waktu hingga 3 minggu bagi kaisar untuk mendata seluruh orang dengan nama Auristele."
Entahlah. Aku tidak bisa berpikir. Rasanya sebagian jiwaku menguap.
Kaisar menghabiskan sekarung permata hanya untuk menyuruh seseorang mengganti namanya? Memangnya, dia pikir hanya ada satu dua orang yang memiliki nama Auristele?!?! Aku tidak tau berapa karung permata yang dihabiskan kaisar dan berapa banyak ksatria yang mati di medan perang. Dan, berapa banyak orang yang dia kerahkan untuk mendata orang dengan nama Auristele. Memangnya, dia pikir bumi ini seluas daun kelor? Aku yakin, siapapun yang disuruh oleh kaisar adalah orang yang paling menderita kedua di dunia setelah aku.
"Semua orang langsung mengganti nama mereka begitu mendengar kaisar mematenkan nama Tuan Putri Auristele. Tapi, ada juga yang memanfaatkan hal itu demi mendapatkan permata!"
"Mantan Ratu Kerajaan Mounever yang menjadi bagian dari Kekaisaran Mandela, Auristele Amber Mounever menolak mengganti namanya. Jadi,...."
"Aboo!!" Aku meletakkan tangan mungilku di bibir pelayan itu.
Aku sudah tahu apa yang terjadi tanpa harus mendengar penjelasan lagi.
Kaisar menyiapkan seluruh pasukannya hanya untuk memerangi seorang mantan ratu yang menolak mengganti namanya. Argh!!!!! Aku bisa gila!!!
"Ristel!!! Kami merindukanmu!!!"
Kaisar dan Cedric mendobrak pintu kamarku. Mereka berdua langsung menghambur dalam pelukanku. Aku menatap datar balok kayu yang hancur karena langkah kaki mereka.
Mereka bersikap seolah mereka akan pergi selamanya. Padahal, mereka hanya pergi selama 2 jam.
__ADS_1
Aku yakin, Ratu Auristele dari Kerajaan Mounever langsung mengganti namanya begitu melihat kaisar datang bersama seluruh pasukannya. Dugaanku benar. Hari itu, Auristele Amber Mounever berganti nama menjadi Marethe Amber Mounever.
Aku memang tidak pernah melakukan kesalahan. Tapi, aku yakin kalau seluruh rakyat dan penduduk bumi membenciku.