
Pallium
jianying lagi duduk sambil memandangi luar pallium nya.
Entah kesambet apa kaisar chen menambah jumlah prajurit yang berjaga di sekitar pallium. Datang juga udah di tambah cuman di suruh pergi sama jianying. jianying memikirkan tentang anak buah nya.
" Jia li bagaimana keadaan anak buah ku" Tanya jianying tanpa mengalihkan pandangannya.
" tuan putri anak buah anda belum ada perkembangan karena tuan putri belum mengajarinya" Jelas Jia li.
" Ah aku lupa,,, Aku bingung gimana caranya biar aku bisa keluar dari sini" jianying memutar otak.
" Astaga aku sangat pusing" Keluh jianying memutar mutar kepalanya.
" tuan putri apa yang Anda lakukan, " Khawatir Jia li melihat keadaan jianying.
" Aha... Aku tau ... Jia li ambilkan aku alat tulis" Perintah jianying yang langsung di kerjakan oleh Jia li.
Jia li kembali dengan alat tulis. Jia li meletakkan semua alat tulis itu di meja.
jianying langsung mengerjakan sebuah seketsa seni bela diri. Detik demi detik, menit demi menit , jam demi jam. jianying menyelesaikan sketsa nya dengan bagus.
" Jia li pergi dan berlatihlah bersama yang lain. " jianying memberikan sketsa itu pada Jia li.
Jia li mengengguk dan pergi, setelah kepergian Jia li , jianying merasa bosan.
Pallium yang di tempati jianying sangat lah sunyi. Bagaimana tak sunyi bahkan tak ada satu pun bunga.
Di halaman ini hanya ada rumput liat dan juga danau buatan.
jianying berdiri dan keluar. Ternyata di luar kamarnya sudah ada sekitar 8 dayang yang berdiri.
jianying menyatukan alisnya, dia bingung bukannya dia menyuruh dayang dayang ini untuk pergi kenapa masih di pallium nya.
" Apa yang kalian lakukan disini" Tanya jianying datar.
" Jika kami meninggalkan pallium tanpa tuan putri maka kami akan di cambuk tuan putri" Jelas salah satu dayang.
jianying memutar bola matanya malas.
' apa apaan ini aku bukan anak kecil' batin jianying
" Baiklah sekarang kalian bantu aku, kau pergi cari tukang kebun" Tunjuk jianying pada dua dayang yang ada .
Mereka berdua mematuhi dan segerah mencari tukang kebun.
__ADS_1
" Kalian sisanya cabut rumput liar itu, eh tunggu dua orang mencari bibit bunga di pasar" Perintah jianying lagi.
' aku akan buat pallium ku ini menjadi indah agar jika aku di kurung seperti ini aku bisa menghirup bunga bunga' batin jianying.
Mereka semua mengerjakan perintah jianying. Bahkan jianying ikut melakukannya.
" Tuan putri apa yang Anda lakukan biar kami saja yang melakukan pekerjaan ini" Tahan salah satu pelayan.
jianying menyatukan alisnya, dia ingin melakukannya makannya dia lakukan.
" Aku ingin berkeringat agar tubuhku sehat, kalian ingin membuatku menjadi tidak sehat ha.. " Tanya jianying dengan sedikit marah.
jianying hanya berpura pura marah agar semua yang dia inginkan tidak di halangin. Dayang itu sujud di depan jianying. jianying kaget dan langsung mundur kebelakang.
" Yak apa yang kau lakukan hah" Bentak jianying.
Dayang itu semangkin takut karena jianying membentak nya.
" Ampuni Dayang ini putri, hamba sangat bersalah" Dayang itu menangis sambil bersujud.
" Kau berdirilah aku tak suka kalian semua melakukan apa yang dia lakukan mengerti" jianying membantu Dayang itu bangun.
Dayang itu sudah berdiri tapi masih menunduk dengan air mata yang terus mengalir.
" Ha... Hiks... Hamba... " Dayang itu berucap dengan terbata bata.
" Ck... Diam buar ku kasih tau apa kesalahan mu. " jianying menjeda perkataan nya.
" Pertama aku tak suka di halangi jika ingin melakukan sesuatu. Kedua aku tak suka kau melakukan hal tadi, aku tak suka Dayang ku bersujud pada siapapun kecuali Tuhan, ketiga jangan menangis dan kau tak perlu takut pada ku. Apa kau mengerti? " Tanya jianying tapi kali ini dengan senyum hangat yang dia tunjukkan.
Dayang itu mengangkat kepala melihat tuan putrinya tersenyum hangat membuatnya mengangguk.
" Baiklah lanjutkan pekerjaan kalian" Semua melanjutkan pekerjaannya.
Tanpa mereka sadari pangeran fengying sedari tadi mendengar dan melihat semuanya.
Pangeran fengying pergi dari tempat persembunyian nya.
Tukang kebun pun datang bersama dengan dua dayang yang di utus oleh jianying
" Salam putri jianying " Tukang kebun itu memberi hormat.
" Ah iyh... Tukang kebun bisa kah kau membantu aku membuat taman yang indah di sini? " Tanya jianying
" Tentu putri hamba akan membuat... " Perkataan tukang kebun itu di sela oleh jianying.
__ADS_1
" Aku tidak menyuruhmu membuat kan kebun untukku tapi membantuku" Jelas jianying.
Tukang kebun itu mengangguk mengerti.
" Baik tuan putri" Tukang kebun itu mulai membantu para dayang untuk mencabut rumput liar.
Semua rumput liar pun telah selesai di cabut.
Dayang yang di suruh membeli bibit bungan lu sudah datang.
jianying dan para Dayang mulai membuat taman yang di inginkan jianying. Jangan lupakan tukang kebun itu juga membantu.
Mereka bekerja dengan keras bahkan mereka lupa kalo matahari sebentar lagi akan tenggelam.
Pakaian jianying sudah sangat kotor bahkan wajahnya juga sudah celemotan.
Keringat menbasahi wajah celemotan . Para Dayang juga terlalu asik dalam bercocok tanam.
Tiba tiba kaisar chen datang ke pallium dan melihat jianying dengan keadaan yang sangat kotor.
" KAISAR CHEN MEMASUKI PALLIUM" teriak penjaga.
Kaisar chen masuk dan melihat para Dayang, seorang tukang kebun, dan putrinya penuh dengan tanah.
Pakaian kotor, muka juga kotor , keringat membasahi wajahnya.
" Apa yang kau lakukan putriku? " Tanya kaisar chen bingung.
"Hamba bercocok tanam yang mulia" Jawab jianying seadanya.
" Aku lebih suka kau memanggil diri ini dengan sebutan ayahanda putriku" Jelas kaisar chen.
" Baiklah ayahanda" jianying terlalu capek untuk berdebat jadi dia mengiyakan saja.
" Cepat lah bersiap kita akan makan malam bersama, ayahanda mu ini menunggumu putriku" Kaisar chen tersenyum hangat.
" Baiklah " Jawab jianying setengah hati.
Kaisar chen pergi dari pallium jianying
" Kalian pergi dan siapkan air mandi ku" Perintah jianying dan meninggalkan taman itu.
jianying memasuki kamarnya. Dia sangat lelah, tapi dia tidak mungkin tidur sekarang tubuhnya sangat lengket dan juga berkeringat. jianying duduk di kursi riasnya.
' astaga wajahku' batin jianying ketika melihat cermin.
__ADS_1