
Happy Reading
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
jianying dan jia li sudah berada di istana. jianying sedang asik tidur, sedangkan jia li sedang berada di taman yang di bangun oleh jianying dan beberapa dayang yang membantu nya.
Entahlah jianying suka sekali tidur, padahal dulu jarang sekali tidur karena tugas yang harus di jalankan nya sehingga dia tak bisa tidur.
jianying bangun dari tidurnya tapi tak menemukan jia li sama sekali, dia pun berinisiatif untuk keluar. Tapi tetap saja tak menemukan jia li, karena jia li berada di taman belakang kediamannya.
Karena tak menemukan jia li, jianying melangkah pergi meninggalkan kediamannya. Sekarang menjadi tempat tujuannya adalah lapangan pelatihan bagi prajurit.
•°•°•°
Lapangan pelatihan
jianying memasuki lapangan itu, terakhir kali dia memasuki lapangan itu ketika dia membuat masalah. Seperti melesatkan panah hingga menancap didinding istana, hingga membuat orang tercengah.
Sekarang apa lagi yang akan dia lakukan, ketika jianying memasuki lapangan jendral zi dan jendral feng segera menemui nya.
" Salam tuan putri, semoga... " Perkataan jendral feng dan jendral zi langsung di potong oleh jianying.
"Bisakah kalian tak perlu memberi salam dengan angat panjang? " Tanya jianying ketus.
"Emm baik putri " Jawab mereka serentak.
"Putri ada keperluan apa kesini? " Tanya jendral feng
__ADS_1
"Ingin berlatih memanah!! " Seru jianying santai, lalu berjalan kearah busur dan panah yang terletak di atas meja.
jianying memusatkan perhatiannya kearah sasaran, menarik tali busur lalu melepaskannya dengan sangat cepat hingga membuat panah itu menancap pada dinding .
Banyak para prajurit yang kagum dengan keahlian dan juga keterampilan jianying dalam menggunakan busur.
jianying kembali mengambil anak panah dan kembali menembakkan anak panah itu pada target. Semua anak panah itu melesat dan saling bertubrukan hingga membuat terbela anak panah yang lain.
Semua semangkin terkagum kagum dengan ke ahlian jianying dalam hal memanah. Karena bosan memanah sendiri dia mengajak jendral feng untuk bertanding memanah dengan dirinya.
Mereka memanah dengan ahlinya, mereka saling bertarung dengan sangat bagusnya. Jendral feng memanglah pemanah yang ahli jadi pertandingan ini sangat lah seru dan juga menarik.
Bahkan pangeran mahkota fengying sedang menonton mereka dari kejauhan. Bahkan dia sangat menyukai pertandingan antara jianying dan juga jendral feng yang sangat lah hebat.
Mereka sama sama pemanah yang ahli bahkan mereka bisa memanah mata burung kayu yang terletak pada ranting pohon yang ada di situ.
"Jendral feng kau sangat hebat " Puji jianying sambil tersenyum tipis.
"Benarkah? " Tanya jendral feng tak percaya bahwa jianying baru memuji kehebatan dirinya.
jianying hanya mengangguk saja sebagai jawaban lalu dia beralih menatap pedang lalu mengambil dan mengarahkannya pada jendral zi. Jendral zi memang sangatlah ahli dalam masalah berlatih pedang.
Melihat tantangan dari jianying membuat jendral zi mengangguk dan menarik pedangnya dan mulai pertarungan. Pertarungan ini sangat ketat dan juga tegang. Karena kekuatan jendral zi dan juga jianying sama sama kuat dan keahlian mereka sangat baik.
Bahkan pangeran mahkota juga di buat tegang akan pertandingan pedang ini. Mereka sama sama kuat dan juga tangguh. Pangeran mahkota di buat tegang sendiri melihat pertarungan pedang yang sangat menegangkan ini.
Sreg.....
__ADS_1
Darah keluar dari bekas gorasan yang telah di buat oleh jianying membuat jendral zi meringis. Ntahlah gorasan yang di buat oleh jianying sangatlah sakit. Padahal dulu dia pernah tertusuk oleh pedang dan dia tak merasakan sakit seperti yang sedang dia rasakan saat ini.
Jendral zi menampakkan raut wajah kesakitan yang sangat teramat menyakitkan membuat beberapa orang iba dengan jendral zi.
Karena kekurang waspadan jendral zi membuat jianying dengan cepat ngacung kan pedangnya tepat di leher jendral zi. Jendral zi menjatuhkan pedangnya dan memegang bekas goresan yang telah di buat oleh jianying.
" Jendral zi pergilah keruang kesehatan sebelum darahmu habis " Usul jianying dengan datar sambil membersihkan darah yang ada di pedang yang dia gunakan.
Tapi karena lemah jendral zi hanya diam tak bergeming. Melihat kediaman jendral zi membuat jianying menyuruh beberapa prajurit untuk mengantarnya keruang kesehatan.
"Melelahkan aku akan kembali ke kediamanku" jianying berjalan meninggalkan lapangan pelatihan dan menuju kediaman miliknya.
Dengan malas jianying meninggalkan ruang pelatihan, dia sekarang sangat letih. dia berjalan menyusuri jalanan istana dengan perasaan yang sangat lelah. jianying berhenti mencari tempat untuk duduk, melihat tak ada tempat untuk duduk dia pun langsung duduk aja di jalan itu tanpa rasa bersalah dan yang lainnya.
dayang yang lewat di buat terkejut karena tuan putri mereka sedang duduk di jalan istana tanpa alas atau apapun yang menghalangi tubuh taun putrinya itu duduk di jalan itu. tuan putrinya itu seperti gelandang yang ada di jalan jalan pasar itu.
"tuan putri apa yang Anda lakukan" ucap seorang dayang dengan histeris karena tingkah laku tuan putrinya itu.
jianying menatap sekilas dayang itu. "duduk apa lagi" jawab jianying dengan santai mesin menikmati duduk di jalan itu.
dayang itu tak habis pikir dengan jalan pikir tuan putrinya. dayang itu menatap jianying dengan tatapan yang sulit di artikan.
"baiklah aku akan pergi" mengerti akan tatapan dari dayang itu jianying pun berdiri dan berjalan kearah pallium miliknya. Dengan malas dan lelah jianying berjalan dengan cepat agar cepat sampai di pallium nya.
H**appy Reading 📖
vote, like dan komen untuk meninggalkan jejak**.
__ADS_1