
Happy Reading📖
•••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••
jianying sedang bergulat di alam mimpinya. Ntah bencana apa yang terjadi di Kekaisaran sehingga mengganggu tidurnya. jianying yang merasa tidurnya terusik pun bangun dari tidur nyaman dan mimpi indahnya.
Melihat kamarnya yang sunyi dan juga tak ada seorang pun ada di kamarnya kecuali dirinya merasa bingung.
'Dimana jia li? "Tanya jianying pada dirinya sendiri.
jianying bangkit dari tidurnya dan pergi ke ruang pemandian. Tak ada air disana, dengan sangat malas memanggil jia li, jianying pun mengisi bakal mandinya sendiri.
Hari ini jianying menjadi putri yang mandiri. Padahal dulu sebelum dia ber tranmigrasi dia selalu melakukan apapun sendiri dan juga sekarang dia tak perlu kesusahan untuk sekarang .
Setelah selesai jianying pergi keluar, jianying bingung karena banyak pelayan yang hilir mudik. jianying hanya menatap mereka dengan tatapan bingung plus datarnya.
Karena tak ingin terlalu memikirkan apa yang terjadi jianying pergi ke lapangan pelatihan. jianying bingung karena lapangan pelatihan hari ini kosong tak ada orang.
Karena jianying orang yang bodoh amatan jadi orang dia pun tak menperdulikan sekitar. Dia pun mengambil pedang dan mulai berlatih pedang. Dia berlatih dengan sangat ahlinya, tapi tanpa dia sadari ada seseorang yang sedang Mengamatinya.
'Akhirnya aku menemukanmu gadis kecil' batin pria yang sedang mengamatinya.
" Yang mulia kita harus segera pergi, "ujar salah satu bawahannya.
Pria itu mengangguk dan pergi dengan rombongannya. jianying masih dengan kegiatannya yaitu berlatih pedang.
Banyak juga beberapa bangsawan yang memperhatikan dia yang sedang berlatih, tapi tidak di hiraukan oleh jianying.
Setelah puas dengan pedang jianying pun beralih pada panah. Dia memanah tepat sasaran , hingga suara membuatnya terusik dan mengalihkan atensinya.
__ADS_1
" Wah kau sangat ahli dalam memanah, bagaimana jika kita bertanding? " Ajak seorang pangeran dari arah belakang jianying
jianying menatap datar pangeran itu, ntahlah dia sangat malas berlawanan dengan pangeran itu.
"Tidak Terima kasih " jianying ingin meninggalkan pangeran itu, namun tangannya di tahan oleh Pangeran itu.
jianying menatap tangannya yang di tahan lalu menatap pangeran itu dengan tajamnya.
"Apa kau takut? " Tantang nya dengan remeh.
jianying hanya menatap dengan datar, tanpa niatan membalas. Dia melepas tangan pangeran yang sudah berani menyentuh dirinya.
"Tidak" Jawab jianying dengan datar dengan tatapan tajam miliknya.
Pangeran tersebut semangkin tertantang karena sifat jianying yang sangat berbeda dari yang lain. Karena biasanya putri tak pernah memegang senjata, biasanya seorang putri hanya diam di kamar. Mungkin kegiatannya hanya merajut, melukis, bernyanyi dan yang lainnya.
Tapi putri di depannya ini sangatlah berbeda dari putri yang lainnya. Sungguh dia sangat menarik jika bisa bertanding dengan putri ini.
"Sebelum itu kenalkan namaku wang chun, kau bisa panggil aku pangeran chun. " Ujarnya tersenyum manis.
jianying tak menanggapi dia lebih memilih melangkah pergi mengambil anak panah dan mulai membidik. Pangeran itu hanya tersenyum, dia juga mengambil anak panah dan busur untuk memanah.
Anak panah pertama milik jianying menancap dengan tepat sasaran. Pangeran itu pun sama. jianying mengakui kehebatan pangeran itu, dia pun merasa tertantang dan mulai melanjutkan pertandingan.
Pertandingan berjalan dengan sengit. Baik jianying dan pangeran chun mereka sama sama kuat sehingga hasil selalu berakhir dengan sering.
Pertandingan pun berakhir dengan jianying yang menang itupun karena pangeran chun tak fokus karena pada saat itu angin berhembus dengan sangat kencang sehingga membuat fokus pangeran chun sedikit Teralihkan.
"aku menang pangeran" bangga jianying sambil tersenyum manis, sedangkan pangeran chun hanya bisa mendengus saja.
__ADS_1
"aku tau" jawabnya malas, jianying pun terkekeh mendengar jawaban malas dari pangeran chun.
"bagaimana kalau kita bertarung pedang? " tantang jianying yang membuat pangeran chun menatap jianying dengan tatapan sulit di artikan.
"kau tak takut apa?" tanya pangeran chun ."aku bisa saja melukaimu" sambung pangeran chun yang di balas kekehan dari Jianying.
"aku tak yakin kau bisa melukaiku, pangeran chun jangan terlalu percaya diri sebelum kau melawan diriku ini" senyum remeh jianying. sebenarnya dia tak mau meremehkan tapi pangeran chun luan yang telah meremehkan dirinya jadi jangan salahkan dirinya jika dia sedikit meninggi.
"kalau begitu ayo kita buktikan" tantang pangeran chun yang langsung di angguki oleh jianying.
mereka bertarung pedang dengan sangat sengit, mereka seperti seorang jendral perang terkuat yang sedang berkelahi. sangat sengit dan juga kuat pangeran chun dan jianying terus saja menggunakan pedangnya .
mereka tak berhenti henti bahkan keringan sudah meluncur dari wajah mereka masing masing. sungguh ini sangat menguras tenaga, membuat mereka kelelahan.
tring tring tring
bunyi suara pedang beraduan, jianying sudah lelah sama hal nya dengan pangeran chun dia juga sudah sangat letih. hingga akhirnya pangeran chun kehilangan kekuatan dan kehilangan kewaspadaan hingga jianying bisa menggoles sedikit di lengan pangeran chun.
pangeran chun meringis menahan sakit dan juga darah yang keluar dari lengannya yang tergores. jianying terkekeh melihat ringisan dari pangeran chun.
"apakah sangat sakit? " tanya jianying sambil tersenyum sinis. pangeran chun bukannya menjawab dia memilih meninggalkan ruang pelatihan dan menuju ruang kesehatan.
melihat itu jianying malah tertawa terbahak bahak. para prajurit dan juga jendral yang ada di sana di buat bingung dengan tingkah jianying.
"kenapa anda tertawa tuan putri ? " tanya salah satu jendral
"karena aku berhasil meruntuhkan ego dan juga kesombongan dirinya... haha... siapa suruh dia melawan ku.. " ujar jianying sambil tertawa dengan tawa sinis yang di campur dengan senyum kemenangan.
"aku akan kembali" jianying pergi meninggalkan ruang pelatihan dan menuju kearah pallium miliknya.
__ADS_1
Happy Reading📖
vote, like, dan komen untuk meninggalkan jejak.