
Selepas pertarungan yang amat melelahkan, Rei yang masih terbang di tengah pusat kota Raven pun secara perlahan menjatuhkan dirinya. Kehabisan energi, memudarnya penglihatan, serta rasa pusing yang menerjang membuat tubuh yang kekar itu tak sanggup lagi menahan kesadarannya.
Namun, beberapa saat sebelum tubuh itu terjatuh, datanglah beberapa rombongan malaikat yang terbang dari langit. Entitas Supranatural tersebut dengan segera menghampiri Rei seraya membawa tubuhnya menuju kahyangan.
Setibanya di kahyangan, para malaikat meletakkan tubuh pria itu diatas hamparan rerumputan yang luas nan segar. Mereka kemudian bergegas menuju tempatnya masing-masing, setelah mendapati Dewi kesuburan yang turun perlahan dari langit seraya mengibaskan kedua sayapnya yang besar. Melihat Rei yang tertidur pulas, Sang Dewi dengan segera meletakkan kepala pria itu di atas pahanya hingga beberapa saat sebelum Rei tersadar dari tidurnya.
"Di-dimana aku?" ucap Rei yang membuka matanya dengan perlahan.
"Kau sudah sadar?" tanya Dewi Kesuburan seraya mengelus rambut pria yang hitam nan halus tersebut.
Rei pun tercengang setelah mendapati dirinya dalam pangkuan Sang Dewi yang belum pernah dilihatnya sama sekali. Wajah cantik dan jelita, rambut hitam memanjang hingga pinggangnya, serta keindahan bentuk tubuh yang ditutupi sehelai kain sutera berwarna putih nan lembut tersebut telah membuat Rei terkagum karenanya.
"Ada apa? apa kau gerah?" tutur Sang Dewi yang tersenyum seraya mengibaskan kedua sayapnya dengan perlahan.
"Apakah anda kembaran Dewi Kesucian?" Rei tak bisa memalingkan wajahnya sedikitpun dari Sang Dewi.
"Tentu saja tidak. Walau kami memiliki kesamaan paras, tapi sejatinya kami sangat berbeda," kata Sang Dewi Kesuburan.
Sang Dewi pun semakin melebarkan senyumanya setelah melihat kepolosan yang terpampang dari wajah Rei. Ia seketika merasakan sosok yang kuat nan mengerikan setelah memandang tajam ke arah mata pria tersebut. Mengingatkannya akan sosok Dewa Kehancuran yang sangat dihormati dan dikaguminya.
"Apakah kau sudah mengetahuinya?" tanya Sang Dewi seraya meraba tubuh pria nan kekar tersebut.
"Ya, aku sudah sangat mengetahui semuanya," jawab Rei dengan penuh keyakinan.
Ia kemudian membangunkan kepalanya dari pangkuan Sang Dewi. Hatinya merasa tidak enak atas perlakuan tidak sopan yang dilakukannya terhadap Dewi yang selalu tersenyum tersebut. Rei pun dengan sontak bersujud seraya memohon ampunan pada Sang Dewi.
"Hamba memohon pengampunan atas tindakan tidak sopan yang telah hamba lakukan!" tegas Rei dengan penuh harap.
__ADS_1
"Tidak! justru aku senang melakukannya. Kalau kau mau, kau boleh berkunjung bila ingin mendapatkan perlakuan manja dariku, kapanpun!" Sang Dewi mencegah Rei untuk bersujud dihadapannya.
Rei pun dengan segera menegakkan tubuhnya seraya melihat-lihat disekitar. Ia seperti pernah merasakan hal yang sama sebelumnya. Semakin terlintas dibenaknya akan sosok Dewi Kesucian yang selama ini selalu menemani perjalanannya dalam menyusuri area kahyangan.
"Apakah beliau sedang sibuk?" tanya Rei sambil memfokuskan pandangannya pada perkebunan yang indah di seberang.
"Dewi Kesucian? Beliau akan segera tiba," jawab Sang Dewi.
"Begitukah," Rei menghela napasnya secara perlahan.
"Baiklah, kalau begitu silahkan nikmati kunjungan mu selama berada kahyangan ini!" Sang Dewi kemudian mengibaskan kedua sayapnya yang besar alih-alih beranjak terbang menuju tempat lain.
"T-tunggu!" Rei berusaha menghimbau Sang Dewi yang terlihat semakin jauh darinya.
Sang Dewi pun kemudian menghilang secara perlahan. Rei masih menyimpan banyak pertanyaan yang belum selesai ia tanyakan terhadap Dewi cantik tersebut.
Rasanya manis, dagingnya padat dan kenyal serta banyak sekali kandungan airnya, batin Rei seraya mengunyah buah berwarna kuning keemasan tersebut.
"Itu adalah buah pir emas."
Rei seketika terkejut setelah mendengar suara yang sangat dikenalinya. Ia kemudian membalikkan tubuhnya dan mendapati Dewi Kesucian yang sedang turun seraya mengibaskan kedua sayapnya secara perlahan. Sang Dewi pun dengan segera berjalan menghampiri Rei yang sedari tadi mengunyah buah pir tersebut.
"Apa kau menikmatinya?" tanya Dewi Kesucian yang tak pernah sedikitpun memperlihatkan senyumannya.
"Ya, Sangat berbeda dengan yang ada di bumi," Rei dengan segera menghabiskan buah tersebut tanpa tersisa sedikitpun.
Merasa tidak enak karena hanya mempersembahkan sebuah perkebunan milik kahyangan, Sang Dewi pun berinisiatif membawa Rei untuk mengelilingi seluruh area Kahyangan.
__ADS_1
"Rei, persiapkan dirimu." tutur Sang Dewi seraya memeluk punggung pria tersebut.
Dewi Kesucian kemudian mengibaskan kedua sayapnya alih-alih membawa Rei terbang menuju suatu tempat yang belum pernah dikunjungi pria tersebut. Ia ingin memberikan kejutan kepada Rei tentang keindahan lain yang terdapat di sekitar area Kahyangan.
"Rei, lihatlah!" ucap Sang Dewi sambil mengacungkan telunjuknya ke arah sebuah telaga dengan air terjun yang besar.
Ia pun terkesima setelah mendapati sebuah air terjun yang mengalir deras serta suara pergerakan air yang semakin menenangkan jiwa dan pikiran dari pria tersebut. Sang Dewi kemudian membawanya menuju pinggir telaga.
"Rei, pulihkanlah tenagamu dan berenanglah menuju air terjun tersebut. Kau akan menemukan sebuah keajaiban disana." seru Dewi Kesucian seraya meraup sekumpulan air di telapak tangannya.
"Baiklah!" Rei mengalihkan perhatiannya menuju air terjun tersebut.
Namun, ia terkejut setelah mendapati Sang Dewi menanggalkan sehelai kain yang menutupi tubuhnya. Rei pun sempat menatap ke arah tubuh mulus nan indah tersebut. Namun, demi menjaga kehormatan Sang Dewi, ia dengan segera bergegas menanggalkan pakaiannya lalu berenang menuju air terjun tanpa menghiraukan keberadaan Dewi Kesucian.
Apakah di kahyangan tidak menerapkan perbedaan antara pria dan wanita? batin Rei yang sedari tadi menahan rasa birahinya terhadap Sang Dewi.
Setelah berenang beberapa menit, Ia pun tiba didepan air terjun yang mengalir deras tersebut. Rei kemudian mendaki sebuah bebatuan alih-alih menjangkau pusat ketinggian dari air terjun itu. Hatinya berniat untuk duduk di sebuah batu besar yang membelah puncak aliran air tersebut seraya bermeditasi menenangkan jiwa dan pikirannya.
Namun, cobaan demi cobaan pun datang menimpa pria dengan tubuh kekar itu. Beberapa saat kemudian, muncullah sekumpulan bidadari tanpa sehelai kain yang menutupi mereka. Bidadari-bidadari itu pun turut menemani Sang Dewi dalam membersihkan tubuh mereka di tengah telaga tersebut. Rei pun tercengang setelah mendapati keriuhan para bidadari yang saling berbincang seraya bermain air dengan Dewi Kesucian.
Wahai diriku!!! perkuatlah imanmu!!! batin Rei seraya memejamkan matanya.
Beberapa menit kemudian, hal yang dikhawatirkan pun terjadi. Rei yang telah memasuki tahap meditasi pun harus dikejutkan dengan himbauan Sang Dewi yang menyeru padanya agar segera menghampiri mereka.
"Rei!!! kemarilah!!!" seru Sang Dewi dengan nada keras.
Hatinya pun berdegup kencang setelah mendengar seruan tersebut. Rei menjadi sungkan untuk menuruti himbauan Dewi Kesucian yang menyeru padanya. Ia tetap bergeming dan mempertahankan posisi meditasinya dengan harapan Sang Dewi dapat mengerti kondisi yang dialami pria tersebut.
__ADS_1
~To be continued