
#Flashback sebelum pertemuan pertama Felicia dengan Rei.
"Felicia, kamu mau kemana?" tanya Angelina setelah mendapati gadis itu mengepakkan kedua sayapnya.
"Kamu mau ikut? Ayo!" Felicia menoleh kearah Angelina seraya berseru padanya.
Angelina pun turut mengikuti gadis malaikat itu sambil mengibaskan kedua sayapnya. Ia pun menaruh rasa penasaran terhadap seorang pria yang akan ditemui oleh saudarinya. Mereka kemudian terbang melintasi sudut bawah kahyangan menuju pada salah satu tempat yang telah ditentukan oleh Sang Dewi Kesucian.
Setelah menembus batas langit dan melayang beberapa puluh meter dari daratan, Ia kemudian mendapati seorang pria yang sedang tertidur di atas hamparan rumput yang luas.
Angelina menatap penuh kagum dengan pria yang sedang tertidur itu. Ia lalu mengikuti pergerakan Felicia yang meluncur dengan segera, menghampiri pria tersebut. "Felicia, inikah pria yang dimaksud oleh ibunda?" tanya Angelina seraya menapakkan kakinya ke atas tanah.
"Ya! Kau menyukainya?" Felicia mencoba menggoda Angelina setelah mendapati rasa ketertarikannya terhadap pria itu.
"Hmm!!! Mana mungkin seorang malaikat sepertiku bisa menikah dengannya!" Angelina menggerutu sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Felicia sontak meraih kedua pipi gadis itu. Ia lalu mencubit pipi Angelina karena sudah tak tahan dengan sikap malu-malu kucingnya. "Hehe..., pipi yang memerah ini takkan bisa membohongiku!" ucap Felicia seraya menggoyang-goyangkan kedua pipi Angelina.
"Aww!!! Lwe... pwas... -kan!" Angelina melepaskan pipinya dari genggaman Felicia sambil memasang wajah kesal. Merasa tidak terima dengan hal itu, Angelina pun turut membalas perlakuan Felicia. Mereka saling bergelut hanya karena persoalan sepele. Keakraban dan kegaduhan dari dua gadis itu memang tidak mengenal waktu dan tempat. Bahkan, Sang Dewi yang menyaksikan mereka dari langit pun menggeleng-gelengkan kepalanya karena ulah kedua putrinya itu.
"Hentikan, huft... huft... Aku mengaku kalah," ucap Felicia dengan nafas terengah-engah setelah mendapati tubuhnya tertahan dibawah tubuh Angelina.
"Huft... huft... kalau begitu, berikan pria itu padaku." Angelina menghela nafasnya seraya menahan kedua tangan Felicia.
"Hah???" Felicia menjadi geram setelah mendengar perkataan itu.
Dan, babak kedua dari pergelutan mereka pun terjadi. Sang Dewi yang semakin tak tahan dengan perlakuan kedua putrinya pun dengan segera mengambil tindakan. Ia kemudian turun dari langit guna melerai perkelahian mereka. "Angelina! Felicia! Hentikanlah perseteruan ini!" tegur Sang Dewi sambil mengibaskan kedua sayapnya.
__ADS_1
Kedua gadis yang saling membalas cubitan itu pun sontak mengambil sikap duduk seraya menunduk setelah mendapati teguran Sang Dewi. Mereka merasa menyesal dan khawatir akan diberikan hukuman oleh Dewi tersebut. "Kami mengaku bersalah, Mama," tutur Felicia yang tak berani menatap ke arah wajah ibunya.
"Apa yang sebenarnya kalian perebutkan dari pria itu?" tanya Sang Dewi kepada kedua putrinya dengan raut wajah gemas sambil menapakkan kakinya ke atas tanah.
"Tidak ada. Kami hanya sekedar bermain-main saja, Mama," Angelina pun tak kalah menunduknya setelah mengetahui Dewi Kesucian mendapati pergelutan mereka.
"Kalau begitu, aku akan mencabut tugas Felicia dan memberikannya pada Angelina. Bagimana menurutmu, Felicia?" Sang Dewi menguji seberapa besar tanggung jawab Felicia dalam memenuhi permintaannya.
"J-jangan Mam—"
"Ya! Mama! Aku tidak keberatan! Angelina dengan polosnya memotong pembicaraan Felicia.
"Felicia, kau tidak keberatan?" Sang Dewi mengulangi pertanyaan kepada gadis itu.
Setelah termenung beberapa saat, Felicia merasakan bila dirinya sedang di uji oleh Dewi Kesucian. Ia sontak mendirikan tubuhnya seraya menghampiri Sang Dewi. Dihadapan ibundanya, Felicia menegaskan bila dirinya sanggup menjalani tugas yang diberikan oleh Dewi tersebut. "Mama, demi menjaga kehormatanmu, aku tidak akan menolak segala tugas dan permintaan yang telah kau berikan kepadaku," tutur Felicia yang kemudian duduk bersimpuh dihadapan Sang Dewi.
Setelah merasa yakin dengan keteguhan gadis itu, Sang Dewi kemudian menghimbau Angelina yang tetap mempertahankan posisi tunduknya. "Angelina, ayo pulang. Jangan menghalangi saudarimu yang sedang bertugas," Dewi Kesucian melayangkan tubuhnya lalu mengibaskan kedua sayapnya yang besar nan indah itu.
"B-baik Mama." Angelina pun turut mengepakkan sayapnya. Gadis itu kemudian mengikuti Sang Dewi dalam perjalanan pulang menuju Kahyangan. Ia pun sempat melambaikan tangannya kepada Felicia sebelum akhirnya terbang setinggi mungkin menembus langit bumi.
"Felicia, lindungilah pria yang akan menjadi titisan leluhur Dewa Kehancuran itu. Jadilah pedang yang paling tajam untuknya." Felicia seketika teringat akan perkataan sang ibunda. Sebelum akhirnya, ia memangku kepala Rei di atas pahanya seraya menunggu pria itu terbangun dari tidurnya.
...***** Rumah Besar *****...
"Felicia, Aku akan kembali menuju kahyangan," ucap Sang Dewi setelah beberapa saat melakukan perbincangan dengan Felicia.
"B-baik Mama." kata Felicia seraya mengiringi kepergian Dewi Kesucian menuju kahyangan.
__ADS_1
Langit malam pun menjadi saksi atas perpisahan Sang Dewi dengan Felicia. Setelah mengibaskan kedua sayapnya secara perlahan, Dewi Kesucian pun dengan segera menerbangkan dirinya menuju langit. Ia telah mencukupi tugasnya sebagai pengawas Felicia yang dimana gadis itu sedang menjalani amanat dari Sang Dewi.
Air mata pun tak cukup untuk membuktikan rasa sayangnya terhadap Dewi Kesucian. Jauh dalam lubuk hatinya, Felicia ingin sekali tetap berada di samping Sang Dewi selamanya. Namun, apalah daya, ia terlanjur mengiyakan tugas yang telah diberikan sang ibunda kepadanya demi menjaga kehormatan Dewi tersebut.
"Felicia, Rei saat ini sedang berada dalam bahaya. Kau harus segera menemuinya. Maka dari itu, aku telah memberikan penambahan fungsi dari cincin yang sedang kau pakai. Cincin itu tak hanya akan menghubungkanmu dengan Rei, tapi dapat membuat tubuhmu berpindah menuju tempat dimana Rei berada. Namun, sebelum menggunakannya, kau harus menguatkan bayanganmu akan dirinya. Teguhkanlah hatimu dan lindungilah dia." Felicia mengingatkan kembali perkataan Sang Dewi dalam batinya.
"Kakak! Bukankah itu malaikat?" tanya Rebecca yang telah menyingkap tirai jendela dan mendapati Felicia melayang di atas langit seraya mengibaskan kedua sayapnya.
"Demi dewa! Sungguh indah sekali malaikat itu." Jessica pun terkejut setelah menatap ke arah langit tanpa menyadari bila malaikat yang sedang dipandangnya adalah Felicia. Kedua gadis itu menjadi terkagum setelah menyaksikan apa yang telah mereka lihat di atas langit. Mereka tidak menyadari dan tidak akan bisa melihat wujud Sang Dewi tanpa seizin Dewi Tersebut.
Setelah malaikat yang mereka saksikan perlahan menghilang, Jessica dan Rebecca pun bergegas kembali menuju kamar. Kedua gadis itu tak pernah lelah membuka mata mereka demi menunggu kedatangan Rei yang sedang berkunjung ke istana Kerajaan.
...*****Disekitar Markas Bandit *****...
Suasana yang mencekam telah meliputi seluruh tempat dimana Rei dan Iblis Azazel akan melakukan duel mereka. Sang Iblis Azazel, meneguhkan keinginannya untuk menghabisi pria itu setelah mendapati kematian dari para pemuja yang telah menyebut namanya. "Memang aku tidak pernah salah dalam menilai manusia sepertimu! Rupanya kau benar-benar orang yang dimaksud oleh Behemoth!" tutur sang iblis dengan nada keras setelah mendapati tubuh Rei telah berada dihadapannya.
"Aku tidak tau apa tujuanmu! dan, mengapa kau ingin sekali membunuhku! Siapa behemoth itu? Monsterkah?" sorak Rei sambil memandang jauh pada tubuhnya yang sedang berhadapan dengan iblis tersebut. Meski kepalanya terpisah dari tubuh, Rei yang mendapati kepalanya dalam genggaman Maina pun mengambil ancang-ancang untuk menyerang Azazel. Ia dengan segera menghampiri Azazel secepat kilat.
"Hah! Terlalu lambat!" Azazel berupaya menghindar dari serangan Rei.
Namun, Rei yang terlempar setelah tak dapat mengenai tubuh Azazel pun dengan segera mengeluarkan sihir magnetnya untuk melayangkan pedang telah yang memotong kepalanya, menuju iblis tersebut.
(Zwebbb...)
Azazel pun mendapati tangan kirinya tertebas setelah menerima serangan dari pedang itu. Ia menjadi murka seraya mengeluarkan energi negatif yang mampu membakar seluruh tumbuhan disekitarnya. "Tcih! Apa kau bangga setelah berhasil memotong tanganku?!!" ujar Azazel.
Rei pun terkejut saat melihat iblis itu meregenerasikan tangannya dengan utuh. Ia pun bersiap untuk mengambil ancang-ancang guna mencari kelemahan dari Azazel, yang merupakan iblis terkuat ketiga setelah Lucifer dan Behemoth.
__ADS_1
~To be continued~