Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!

Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!
Bab 30. Menyelamatkan Para Gadis Elf!


__ADS_3

Indahnya sinar rembulan menjadi saksi atas kemunculan Rei dan Maina yang tiba dengan secepat kilat pada sebuah rerumputan ilalang yang sangat tinggi nan luas. Maina yang menyaksikan tubuhnya berpindah dengan cepat pun terkagum-kagum kepada Rei. Ia memandangi wajah pria itu dengan penuh rasa takjub. "Whoaaa!!! Tuan, Tuan! Sihir apa itu?" tanya Maina dengan penuh antusias.


"Itu adalah sihir teleportasi. Kau ingin mempelajarinya?" Rei tersenyum setelah mengetahui Maina tertarik dengan sihirnya.


"Aku ingin, Tuan! Aku ingin!!" sorak gadis elf itu seraya melompat-lompat kegirangan.


"Baiklah..., sebelum itu kita harus menyelamatkan saudarimu! Tunjukanlah padaku seberapa besar keinginanmu dalam menyelamatkan mereka!" Rei mengelus rambut Maina alih-alih memberikan semangat dan harapan pada gadis itu.


"B-b-baik Tuan!!" kata Maina sambil memberikan hormat kepada Rei. Diantara pepohonan yang menjulang tinggi, Rei mengarahkan tangannya menuju tubuh Maina. Seketika muncul sebuah cahaya yang bersinar pada tubuh gadis elf itu. Maina yang merasa kebingungan dengan segera mempertanyakan maksud tindakan Rei. "T-t-tuan..., a-a-apa yang kau lakukan?" tanya Maina dengan terbata-bata.


"Aku telah menganugerahkan sebuah sihir yang akan meningkatkan kekuatanmu," tutur Rei seraya melepaskan tangannya pada tubuh Maina.


Gadis itu pun tercengang setelah mendengar perkataan Rei. Rasa keingintahuannya yang tinggi, telah mendorongnya untuk mencoba membuktikan sihir seperti apa yang telah diberikan oleh Rei kepadanya. "Whoaaa!!! Tuan, Tuan!! Bolehkah aku mengujinya?" Maina sontak mendaratkan pukulan pada sebuah pohon yang terletak didepannya.


"Tunggu!" sorak Rei pada gadis elf tersebut.


(Brakkk...!!!)


Setelah menerima pukulan Maina, pohon itu merubuhkan batangnya secara perlahan. Rei yang mendapati hal itu pun dengan segera mengeluarkan sihirnya agar pohon tersebut tidak tumbang dan menimpa pepohonan yang lain. Ia kemudian menegakkan pohon yang tinggi itu alih-alih mengembalikan posisinya seperti semula. "Whoaaa!!! Keren!!!" Maina membuka mulutnya lebar-lebar seakan tak percaya dengan tindakannya.


Rei pun menyentil kening Maina dengan lembut setelah menyaksikan kecerobohan gadis elf itu. Ia lalu menegur Maina yang hampir saja membuat kegaduhan jika berhasil meluluhlantakkan seluruh pepohonan tersebut. "Jangan salah gunakan sihir itu. Atau keberadaan kita akan diketahui oleh mereka," tegur Rei setelah mendaratkan sentilan manja pada kening Maina.


"A-aku minta maaf," Maina seketika menunduk seraya menyesali perbuatannya. Rei pun bergegas membawa Maina menuju rumah para bandit tersebut. Ia kemudian melangkahkan kakinya secara perlahan setelah menyeru pada Maina untuk berjalan membelakanginya.


Mereka kemudian bersembunyi di balik sebuah batu besar alih-alih mengintai rumah itu dari kejauhan. Setelah mendapati dua orang bandit yang keluar dari pintu, Rei mengambil sebuah kerikil kecil lalu melemparkannya ke arah bandit tersebut.


(Prak...!!!)


"Suara apa itu!" tanya salah seorang Bandit.


"Sepertinya ada yang melemparkan batu ke arah kita!" jawab salah seorang bandit lainnya.


"Hmm!!! Aku seperti merasakan ada yang sedang bersembunyi di balik batu itu," tutur salah seorang bandit yang menaruh perhatian pada batu tersebut.


"Ya! Aku pun merasakan hal yang sama! Ayo kita kesana!" seru salah seorang bandit lainnya. Kedua bandit itu berjalan menuju Rei dan Maina yang sedang bersembunyi dibalik batu tersebut. Dengan penuh percaya diri, mereka mendekati batu itu dan tidak menyadari ancaman yang akan dilancarkan oleh Rei.


"Jangan permainkan ka—"


Rei sontak menunjukkan dirinya seraya mencengkeram kedua leher bandit tersebut. Merasa iba atas reaksi dari wajah bandit-bandit itu, ia dengan segera melemparkan tubuh mereka secepat kilat menuju langit. Kedua bandit itu pun pada akhirnya tak dapat lagi menunjukkan eksistensinya setelah raga mereka habis terbakar di ruang angkasa. "Maina, kau masuk dari depan! Aku akan menahan mereka dari belakang," seru Rei kepada Maina setelah melancarkan aksi brutalnya.


Maina tercengang bukan main. Dengan mulut yang membuka lebar, ia membelalakkan matanya alih-alih tidak percaya atas apa yang telah dilihat dengan mata kepalanya sendiri. "Maina!!" Rei menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"B-b-baik!!!" Maina kemudian berlari dengan tergesa-gesa menuju depan rumah bandit tersebut. Maina pun mendapati dirinya telah berada di depan pintu rumah tersebut. Dengan penuh rasa semangat serta mendapatkan dukungan yang sangat baik dari Rei, Ia mengerahkan seluruh tenaganya seraya melayangkan sebuah pukulan.

__ADS_1


(Brakkk...!!! )


"S-suara apa itu!!!" ucap salah seorang bandit yang terkejut setelah mendengar suara hantaman dari arah luar. Mereka lalu berkumpul dan mendapati seorang gadis elf yang berjalan ke arah para bandit tersebut. Rasa geram pun seketika menyelimuti salah seorang bandit. Ia kemudian menghampiri Maina seraya menggenggam sebilah pedang.


"Heiii kau budak! Berani sekali kau!!!" ketus bandit tersebut.


Maina tak dapat menahan rasa kesal setelah mendengar kata 'budak' yang terngiang-ngiang dalam telinganya. Dengan penuh rasa amarah dan dendam yang telah menumpuk, ia mengungkapkan kekesalannya kepada para bandit itu. "Aku membenci kalian! Tuanku pun sangat membenci kalian! Maka, tidak ada ampun untuk penjahat seperti kalian!" ungkap Maina sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Kuuurang aaajar kau bud—"


(Bughhh!!! ...... Prakkk!!!)


Bandit itu pun melayang secepat kilat lalu menembus atap setelah dagunya menerima pukulan yang keras dari Maina. Aksi perlawanan gadis elf tersebut telah membuat salah seorang bandit lainnya merasa kesal. Bandit itu kemudian melayangkan pedangnya menuju kepala Maina.


"Maaatiiilah kau bud—"


(Bughhh!!! Slerp...!!!)


Maina pun dengan sigap menahan sabetan pedang tersebut dengan lengannya. Ia kemudian memukul tubuh bandit itu secepat kilat hingga menembus tubuhnya. Gadis itu pun sempat terkejut setelah mendapati pukulan tangannya menciptakan sebuah lubang yang besar pada tubuh sang bandit. "T-t-tidak mungkin! Dasar iblis!!!" sorak beberapa orang bandit lainnya yang tersisa seraya berlari menjauhi Maina.


Gadis elf tersebut pun dengan segera menarik tangannya dari tubuh sang bandit yang telah meregang nyawa. Ia kemudian bergegas menuju ruang tahanan para budak untuk menyelamatkan ketiga saudarinya.


...****************...


Rei menggunakan sihirnya untuk menembus pandangannya dalam rumah tersebut. Ia kemudian mendapati beberapa orang bandit yang sedang berlari menuju pintu belakang. Rei yang sudah menunggu kehadiran mereka pun dengan segera menghalangi langkah para bandit tersebut. "S-s-siapa kau!!! Jangan menghalangi jalan kami," ketus salah seorang bandit.


"Argghhh!!! Persetan kau!!!" Bandit itu merasa geram setelah mendapatkan sindiran dari Rei. Ia kemudian menghampiri Rei sambil mengacungkan pedangnya. Terpengaruh emosi yang tak terkontrol membuat bandit itu tak menyadari bila kematian sudah berada didepannya.


Rei pun menghindari layangan sebilah pedang yang meluncur dengan cepat itu. Ia pun dengan segera merebut pedang tersebut dari tangan sang bandit seraya melempar tubuh bandit itu ke arah lain. "Kau telah menyalahgunakan pedang ini!!" tegas Rei sambil menghampiri bandit tersebut dengan secepat kilat.


(Zlebbb...)


"Argghh!!! Le...pas...kan a...ku," lirih sang bandit setelah mendapati tubuhnya terhunus pedang yang sangat tajam itu.


Rei melepaskan pedang itu dari tubuh sang bandit setelah mengarahkan pedangnya menuju perut bandit tersebut. Beberapa saat kemudian, bandit itu menutup matanya dan kehilangan seluruh nyawa. Wahai Dewa! Ini belum cukup untukku! Rei membatin dalam hatinya.


Setelah melihat rekannya meregang nyawa, salah seorang bandit yang tersisa pun tak ingin kehilangan kesempatan untuk menyerang Rei yang sedang lengah itu. Ia kemudian melempar sebilah pisau yang tajam ke arah Rei dengan secepat kilat.


(Tink...!!!)


Rei yang telah mengetahui serangan itu pun dengan secepat kilat mengarahkan pedangnya alih-alih menangkis pisau tersebut. Ia kemudian mengarahkan pandangannya menuju sang bandit. "Usahamu itu hanya sia-sia! Biarkan aku yang berusaha untuk melenyapkanmu!" ucap Rei dengan nada keras.


Mendengar ucapan itu pun tak membuat bandit tersebut merasa gentar. Ia kemudian berlari dengan membabi-buta seraya mengacungkan pedangnya menuju Rei yang telah menanti serangannya.

__ADS_1


(Zlebbb...)


Seketika darah menitik dengan perlahan dari tubuh bandit tersebut. Pandangannya pun memudar saat menatap wajah Rei yang telah menancapkan sebilah pedang ke tubuhnya. "A...za...zel ...." Bandit itu melontarkan sebuah kalimat dengan terbata-bata.


Sang bandit yang tak lagi mampu menahan rasa perihnya pun kemudian menjatuhkan diri ke atas tanah alih-alih meregang nyawa seketika. Berakhirlah riwayat dan sepak terjang orang yang diketahui sebagai ketua segerombolan bandit tersebut.


Rei yang belum sempat menarik pedangnya dari jasad sang bandit pun tiba-tiba dikejutkan dengan kemunculan sebuah cahaya yang memerah diatas langit. Awan seketika meluncurkan banyak petir yang menyambar, seolah-olah memberikan firasat buruk pada pria tersebut.


Pria itu memikirkan apa yang akan terjadi setelah mengingat kembali perkataan terakhir para bandit yang telah dilumpuhkannya satu persatu. Ia pun seketika merasakan sesuatu yang akan menimpanya setelah menyaksikan keanehan yang terjadi pada langit. "Shield of God!" Rei dengan sontak bersorak seraya merapalkan sihir perisainya setelah mendapati semburan api yang muncul dengan secepat kilat mengarah padanya.


Ia lalu menahan terjangan sihir api yang amat besar itu tanpa memperhatikan kemunculan sosok iblis dibelakangnya. Rei dengan sekuat tenaga menahan perisainya agar sihir api tersebut tak dapat mengenainya.


Besarnya kekuatan dari gelombang api yang menerjang itu, membuat Rei tak mampu lagi menahan perisainya. Ia pun dengan segera memindahkan tubuhnya secepat kilat alih-alih menghindari malapetaka tersebut.


(Duarrr ....!!!)


Sihir yang amat dahsyat itu menerjang pepohonan yang menjuntai tinggi lalu menghasilkan sebuah ledakan besar. Ledakan itu pun telah mengalihkan perhatian Maina yang merasa cemas akan keselamatan Rei. Ia kemudian bergegas menuju ruang bawah tanah guna menyelamatkan ketiga saudarinya.


Selepas menghindar dari marabahaya tersebut, Rei pun terkejut setelah mendapati lehernya telah berada dalam genggaman sang iblis yang sedari tadi bersembunyi dari hadapannya. Rei menjadi bertanya-tanya mengapa iblis itu sulit ditebak pergerakannya, hingga mampu berpindah secepat kilat seraya memojokkan dirinya. "Aku tidak akan mengampunimu!!! Kau telah menghabisi nyawa pemuja yang menyebut namaku!" tutur Iblis tersebut dengan murka seraya menguatkan cengkeraman pada leher Rei.


Rei pun kehabisan akal. Ia harus bertarung melawan sesaknya nafas akibat mendapatkan cengkeraman yang kuat pada lehernya. Pria itu meronta-ronta seraya mengayunkan kedua kakinya alih-alih tak kuasa menahan sesak. Dalam ketidakberdayaannya saat menatap iblis tersebut, Rei diharuskan untuk menerima kenyataan bila ia akan mati dengan segera di tangan sang iblis. W-w-wahai D-d-dewa..., B-berikanlah K-kekuatan...mu batin Rei dalam kondisi tak berdaya.


Ia kemudian memejamkan sejenak kedua mata setelah merasa yakin bila dirinya tak mampu lagi menahan tekanan yang amat kuat itu. Rei pun mendapati dirinya telah memasuki alam bawah sadar. Ia kemudian berjalan terhuyung-huyung tak tentu arah dan mendapati bayangan Zuzu yang berlari seraya mendekatinya. "Kakak! Jangan menyerah!!! Bertahanlah demi Zuzu!!!" tegur Zuzu seraya memeluk Rei.


"Zuzu..., aku sudah letih. Mungkin ini saatnya aku akan bersamamu lagi untuk selamanya," ungkap Rei dengan raut wajah sedih.


"Tidak!!! Kakak, Bertahanlah! Kakak! Kakakkk!!!"


"TUUUAANNN!!!" sorak Maina dengan sekuat tenaga setelah menyaksikan Rei tak sadarkan diri dalam genggaman tangan iblis tersebut. Rei seketika membuka matanya lebar-lebar. Ia teringat akan janjinya pada Dewi Kesucian setelah mendapati bayangan Zuzu yang menyemangatinya dalam mimpi.


Setelah mendapati kehadiran Maina yang bersorak kepadanya, Rei pun seketika membangkitkan gairah bertarungnya yang hilang seraya menggerakkan tangannya secara perlahan. Ia lalu berusaha meraih kedua tangan sang iblis guna melepaskan diri dari cengkeraman sosok menyeramkan tersebut. "Le...pas...kan a...ku!!!" ucap Rei dengan terbata-bata.


Ia dengan sekuat tenaga memaksakan tangan sang iblis agar terlepas dari lehernya. Namun, iblis tersebut semakin mengeraskan cengkeraman guna melemahkan pergerakan Rei. "Berusahalah semampumu sebelum kematian memaksaku untuk merenggut nyawamu!" ketus sang iblis dengan wajah murkanya.


Pria itu tak ingin patah semangat. Ia kemudian mengepalkan tangannya seerat mungkin hingga muncul sebuah cahaya merah yang bersinar dari kepalan tangannya. Rei pun memutuskan untuk melancarkan serangan mematikannya pada iblis tersebut. "Aaaaarggghhhhh!!!!!" Rei mengerang seraya melepaskan cengkeraman yang kuat itu.


Sang iblis pun tak dapat menahan perlawanan Rei yang gigih melepaskan genggaman dari tangannya. Ia kemudian mendapati pria itu berhasil melepaskan cengkeramannya yang amat kuat dan berpindah ke belakang tubuhnya.


Dengan penuh amarah yang membelenggu dirinya, Rei pun memeluk tubuh sang iblis itu lalu membantingnya sekuat tenaga ke arah belakang layaknya pegulat. "Aaaarrggghhh!!!!"


(Brukkk....!!!)


Punggung iblis tersebut pun sontak mendarat ke atas tanah dengan sangat cepat hingga mampu meremukkan tulang-tulangnya. Hantaman yang kuat dari tubuh sang iblis itu membuat tanah disekitarnya bergetar hingga menghasilkan gempa yang sangat dahsyat. Gumpalan asap pun mengepul seraya menutupi keberadaan mereka. "Myuna, Myana, Morina! Berpengangan padaku!" Maina menyeru pada ketiga saudarinya setelah mendapati tanah disekitar mereka bergetar dengan hebat.

__ADS_1


Getaran itu mampu membuat tanah disekitarnya menjadi retak hingga beberapa ratus meter. Selepas memudarnya gumpalan asap di sekitar Rei, Para gadis elf pun tercengang alih-alih tak percaya saat melihat iblis itu tergeletak tak berdaya diatas tanah. Mereka kemudian mengalihkan pandangannya menuju Rei yang berdiri tegak seraya meletakkan kakinya di atas tubuh iblis tersebut.


~To be continued ~


__ADS_2