
Silvia berusaha mendapatkan perhatian gadis kecil nan imut itu. Ia bermaksud untuk menunjukan keahliannya dalam menguasai sihir kepada Rebecca alih-alih mengajaknya bermain. Namun, setelah mendapati sebuah air yang melayang dari telapak tangan sang gadis penyihir itu, rasa keingintahuan Rebecca pun seketika mencuat.
"Whoaa!!! Kakak! kakak! Ajari aku sihir itu!" ucap Rebecca seraya melompat-lompat dengan antusias.
"Baik, baik..., sebelum itu kau harus mempelajari beberapa dasar penting untuk menguasainya," kata Silvia menjelaskan.
"Hmm???" Rebecca menjadi kebingungan karena belum mengerti apapun tentang sihir.
Melihat tingkah lucunya yang menggemaskan, Silvia pun menjadi semangat untuk mengajarinya sihir air. Ia merasa bila gadis kecil itu memiliki kecocokan dengan elemen air setelah mendapati rasa minatnya yang tinggi akan sihir tersebut.
"Apa yang biasanya kau lakukan dengan air?" tanya Silvia.
"Air? Hmm..., mandi dan minum dan menangis," jawab Rebecca sambil memperagakan satu persatu kegunaan dari air dengan wajah polosnya
"M-menangis? Tidak, tidak! Air mata tidak digunakan untuk sihir!" Silvia berusaha meluruskan pemahaman Rebecca tentang air mata.
Hatinya pun seketika berbunga-bunga setelah mendapati kepolosan yang terpampang jelas dari wajah Rebecca. Silvia bagaikan terhipnotis akan keimutan dan kelucuan tingkah laku dari gadis kecil yang mempunyai hubungan erat dengan Rei tersebut.
"Kita harus mempelajari seperti apa struktur yang membentuk air serta memahami bentuk fisiknya," tutur Silvia menjelaskan.
"Aku suka air!" Rebecca salah mengartikan maksud dari Silvia tentang dasar-dasar air.
"Hmm..., kita langsung ke intinya saja," ujar Silvia seraya mengarahkan kedua tangannya ke arah rumah.
Gadis itu belum mengetahui tentang betapa besarnya rasa minat Rebecca terhadap sihir. Silvia pun menganggap anak kecil seperti Rebecca, hanya akan menghasilkan kekuatan sihir yang sangat lemah meskipun gadis kecil itu mampu melakukannya. Dengan tanpa pertimbangan terlebih dahulu, ia menyeru pada Rebecca untuk mengulurkan kedua tangannya ke arah rumah seraya memusatkan pikiran.
"Ikuti aku! Ulurkan tanganmu seperti ini," seru Silvia dengan raut wajah serius yang menatap ke arah belakang rumah.
"Oke!" Rebecca mengulurkan kedua tangannya dengan telapak yang menghadap ke arah rumah tersebut.
"Pejamkan matamu dan pikirkan seperti apa itu air! Kemudian alirkan bayangan itu menuju telapak tanganmu" tegas Silvia dengan nada keras.
"Bayangkan! Bayangkan!! Bayangkan!!!" Rebecca bersorak dengan penuh keseriusan.
byur ...,
__ADS_1
Silvia terkejut setelah mendapati seberkas air yang keluar dari telapak tangan Rebecca. Ia merasa senang melihat gadis kecil itu berhasil mengeluarkan sihir walaupun hanya menghasilkan sedikit air yang keluar menyembur menuju tanah.
"Yuhuu!!! Kamu berhasil Rebecca! Yayy!!" sorak Silvia seraya melompat-lompat dengan mata tertutup.
Namun, Rasa girang yang ditunjukkan oleh gadis penyihir itu seketika menghilang setelah mendapati Rebecca termenung alih-alih cemberut. Ia lalu mencoba untuk memahami apa yang ada di pikiran gadis kecil tersebut.
"Rebecca? Ada apa? Apa yang telah mengganggumu?" tanya Silvia dengan wajah cemas.
"Kakak..., pasti akan kecewa melihat sihirku yang terlalu kecil," tutur Rebecca yang menjelaskan segala kegelisahannya.
"Kau ingin mencobanya lagi?" Silvia mencoba menyemangati gadis kecil itu.
"Hmm!!!" Rebecca menganggukkan kepalanya dan memulihkan kembali rasa semangatnya.
Ia kemudian mengarahkan kembali kedua tangannya dengan telapak yang menghadap kearah belakang rumah tersebut. Rebecca lalu memejamkan matanya seraya memusatkan pikiran guna membayangkan seperti apa wujud dari air.
"Pusatkan pikiranmu Rebecca! Bayangkan dan hempaskan! Bayangkan keindahan air lautan, danau atau sungai yang pernah kau lihat dalam hidupmu!" tegas Silvia alih-alih memotivasi gadis kecil tersebut.
"Bayangkan! Bayangkan!! Hempaskan!!!"
Seketika muncullah gelombang air yang sangat besar yang menyembur dari telapak tangan gadis kecil itu. Gelombang air yang meluncur dengan sangat cepat itu menerjang bagian belakang rumah hingga menembus sela sela dari bangunan tersebut. Silvia yang menyaksikannya pun tercengang seraya membuka mulutnya lebar-lebar.
"Whoaaa!!!" sorak Silvia yang terkejut sambil menggenggam kepalanya.
Gadis itu telah diselimuti rasa ketidakpercayaan atas apa yang telah dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Anak kecil seusia Rebecca yang sempat diremehkannya pun berhasil mempresentasikan sihir air yang amat luar biasa menakjubkan. Hal itu semakin membuatnya gemas akan keajaiban gadis kecil tersebut.
...****************...
Selepas kejadian yang amat mengejutkan itu, Zeta dan Iris pun mendapati getaran yang bersumber dari rumah mereka, yang sudah tak layak dihuni tersebut. Lalu, mereka pun tercengang alih-alih tidak percaya setelah mendapati bangunan itu secara perlahan merobohkan pondasinya hingga rata dengan tanah.
Rodney yang telah kembali dari misinya pun turut menyaksikan hal itu dari kejauhan. Ia sontak terkejut seraya bergegas menghampiri rumah yang telah ambruk tersebut.
"T-t-tidakk!!! Rumahkuuu!!!" Rodney jatuh tersungkur ke atas tanah sambil meratapi kehancuran bangunan itu.
"Rei! Kau harus bertanggung jawab!" Silvia menjadi berang terhadap pria tersebut karena ulah orang terdekatnya.
__ADS_1
Disaat kesedihan telah merasuki seluruh penghuni rumah tersebut, hanya Zeta yang bergeming seraya memikirkan apa yang harus dilakukan. Seketika terlintas ide dalam benaknya yang dapat memuluskan keinginan hatinya untuk mengikuti perjalanan Rei.
"Rei, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?" tanya Zeta yang seolah-olah memaksakan Rei untuk menentukan pilihannya.
"Hmm..., Rebecca, apa kau mengizinkan mereka untuk tinggal bersama kita?" Rei mengalihkan pertanyaan Zeta seraya menyerahkan keputusannya pada Rebecca.
"Ya!!! Aku ingin terus bermain bersama Silvia!" tegas Rebecca dengan penuh semangat.
Zeta menjadi senang bukan main setelah mengetahui jawaban yang keluar dari mulut gadis kecil tersebut. Ia lalu menghampiri Rodney yang sedari tadi terus meratapi kehancuran properti yang dimilikinya itu.
"Hei! Apakah bagus, pria berbadan besar sepertimu menangis dihadapan para gadis?!" Zeta menegur Rodney yang telah membuatnya malu karena tingkah laku pria itu.
"Ibu, Ayah..., Maafkan kami yang tidak bisa menjaga peninggalan kalian ini dengan baik," tutur Rodney dengan raut wajah sedih seraya meratapi langit.
"Sudahlah sudah! Rei telah menunggumu disana!" Zeta meraih tangan besar pria itu lalu membangunkannya.
"T-tapi..., Hwaaa!!! rumahkuu!!!"
"Ayolah!! Jangan seperti anak kecil!" tegur Zeta sambil menarik tangan Rodney sekuat mungkin.
Mereka pun berjalan dengan penuh kesedihan melewati puing-puing rumah tersebut. Sebuah tempat yang telah menjadi penyatu kehangatan dan saksi bisu yang menyimpan banyak kenangan tentang keluarga itu. Dengan penuh berat hati, Rodney kemudian mengikhlaskan dirinya untuk meninggalkan bangunan yang telah hancur tersebut.
"Iris! Bagaimana dengan barang-barang yang masih bisa diselamatkan?" tanya Zeta kepada Iris.
"T-t-tenang saja! Aku sudah memasukannya kedalam inventori sihirku!" jawab Iris.
"Lalu Silvia, apakah benda-benda sihirmu telah diselamatkan?" Zeta mengalihkan pertanyaannya kepada Silvia yang telah kembali dari rumah tersebut guna mencari perlengkapan sihirnya.
"Ya! Syukurlah masih banyak yang bisa diselamatkan," tutur Silvia seraya melampiaskan rasa syukurnya.
"Baiklah! Jika semua sudah siap, ayo berangkat!" seru Zeta.
Rodney dan saudari-saudarinya pun bergegas mengikuti perjalanan Rei menuju rumahnya. Ia tak ingin memikirkan lebih dalam atas apa yang telah menimpa rumahnya itu. Rasa sedih dihatinya pun memudar setelah mendapati Rei bersedia menerima kehadiran mereka untuk tinggal bersamanya.
Rei pun tetap menjaga sikapnya dalam menanggapi kejadian yang telah menimpa Rodney bersaudara. Meskipun ia sempat menaruh kekecewaan pada gadis kecil tersebut, akan tetapi rasa bangganya yang tinggi telah menutupi rasa kecewanya atas ulah Rebecca, setelah mendapati keajaiban yang datang dari gadis kecil nan polos itu.
__ADS_1
~To be continued~