Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!

Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!
Bab 25. Sebuah Keajaiban


__ADS_3

Behemoth pun telah menunjukan taringnya. Ia memiliki sebuah rencana yang matang untuk membuktikan bila Lucifer tidak berarti apa-apa bagi iblis sepertinya. Semua itu akan dilakukan demi memenuhi kapasitas dirinya sebagai penerus dari leluhur Raja Iblis berikutnya.


Iblis itu diketahui memiliki kemampuan unik yang tidak dapat dimiliki oleh iblis manapun. Ia dapat bergerak bahkan bertarung ditengah teriknya panas sekalipun. Hal itu tentu takkan bisa dilakukan oleh makhluk iblis pada umumnya yang hanya dapat memperoleh stamina terbaiknya untuk bergerak menjelang sore hingga malam hari.


Ditengah teriknya panas sang mentari yang dapat menghasilkan peluh yang luar biasa itu, Behemoth bersegera melancarkan taktiknya. Melenyapkan keberadaan pendeta agung beserta pengikutnya adalah tujuan utama Behemoth.


"T-tunggu, Tuan! Aku akan memberikan sebanyak yang kau inginkan, tetapi jangan bunuh keluargaku!" ucap seorang pendeta agung yang bersujud seraya memohon dihadapan Behemoth.


"Membunuh mereka? apakah darah mereka cukup segar untukku? haah!!!" Behemoth meraih leher pria itu dan mencekiknya dengan kuat.


"Am...pu... ni ham—"


Krek...!!!


Habis sudah riwayat pria paruh baya tersebut. Ia telah menjadi bulan-bulanan Behemoth yang nampaknya hanya bersenang-senang untuk menghabisi nyawa seluruh penghuni di kuil itu. Tulang lehernya pun nyaris tak berbentuk setelah mendapati cengkeraman yang kuat dari sang iblis yang memiliki tanda bintang hitam di dahinya.


"Kau lihat itu Lucifer? Semua akan lenyap hanya dalam sekejap mataku! Hahahaha!!!" Behemoth menjadi besar kepala setelah melenyapkan nyawa seorang pendeta agung yang berusaha melindungi keselamatan keluarganya beserta penghuni kuil yang sangat dicintainya.


Behemoth dengan segera mengeluarkan sihir apinya lalu membakar kuil tersebut berikut para penghuninya hingga menjadi abu dalam sekejap. Selepas melenyapkan keberadaan kuil, Behemoth seketika menghilangkan dirinya dalam sekejap seraya menertawakan kematian para manusia yang tidak berdosa itu.


...****************...


Rei merasakan ada sepintas bayangan mengerikan yang terlintas dalam benaknya. Ia bahkan tak sengaja meretakkan sebuah gelas yang berada dalam genggamannya setelah menerka lebih dalam apa yang telah mengganggu pikirannya.


"Rei! tanganmu!!!" sorak Zeta dari sudut depan kamar Iris dan mendapati Rei termenung tanpa memperhatikan darah yang mengucur dari telapak tangannya.


Gadis itu pun dengan segera mengambil sebuah kain dan beberapa alat medis. Ia lalu menghampiri Rei alih-alih mengobati luka pada telapak tangan pria tersebut.


"Rei, apa yang terjadi?" tanya Zeta dengan raut wajah cemas.


Iris yang mendapati kegaduhan Zeta pun dengan segera keluar dari kamarnya menuju Rei. Ia lalu terkejut setelah mendapati darah yang berceceran di atas meja. Dipenuhi rasa cemas akan pria itu, Iris menggunakan sihir penyembuhnya guna menutupi sayatan kulit yang terus mengeluarkan darah tersebut.


Rei kemudian menjelaskan apa yang sedang dirasakannya di hadapan para gadis. Ia menyebutkan bila ada sesuatu yang akan mengancam keselamatan warga kota Raven. Setelah mengatakan semua hal yang mengganjal dipikirannya, Rei menyatakan akan segera melakukan segalanya dan takkan membiarkan kejadian yang menimpa warga kota terulang kembali.


"Rei, aku menyadari siapa yang telah menolong warga kota setelah melihat keberadaanmu di atas langit beberapa waktu yang lalu," tutur Zeta seraya membaluti tangan pria itu dengan sehelai kain perban.

__ADS_1


"Ya! Benar! Aku pun melihatnya! Rei..., kau sungguh gagah di atas sana," Iris pun ikut mengungkapan perasaanya setelah menyaksikan Rei melayang di atas langit pasca kejadian yang sempat merenggut nyawa seluruh warga kota termasuk dirinya.


Kedua gadis itu pun sontak membungkukkan badannya seraya mengungkapkan rasa terimakasih yang mendalam kepada Rei yang telah berjuang sekuat tenaga melindungi mereka dan seluruh warga kota.


"Rei, aku bersedia melakukan apapun..., bila itu bisa membuat kami terus berada di sampingmu," Zeta memohon dari lubuk hatinya yang paling dalam.


"Hmm!!! Aku bersedia menjadi Istri—(prakk!!)" Iris mendapatkan layangan telapak tangan Zeta yang mendarat keras di kepalanya.


"Rei, Kami memohon dengan sangat, jika kau tidak keberatan," ungkap Zeta setelah menangani ulah adiknya yang memalukan tersebut.


Rei pun tak bisa begitu saja mengacuhkan permintaan dari kedua gadis yang memohon kepadanya. Walau telah dipikirkan secara matang, hal itu tentu akan menambah beban yang akan dipikulnya seorang diri. Ia pun memutuskan untuk menambahkan Zeta dan keluarganya, masuk dalam daftar perlindungannya.


"Zeta, Iris..., aku sangat percaya akan kemampuan kalian dalam bertarung. Tapi sebelum itu, ulurkan lah tangan kalian," Rei pun beranjak dari kursinya seraya mengarahkan kedua tangannya pada dua gadis tersebut.


"B-baik!" Zeta dengan segera mengulurkan tangannya kepada Rei dan diikuti oleh Iris yang turut mengulurkan kedua tangannya kepada pria itu.


"Pejamkan lah mata kalian! Bila sudah tak mampu membayangkannya, maka bukalah!" Rei kemudian mengeluarkan sihir yang dapat membawa pikiran kedua gadis itu masuk menuju alam bawah sadarnya.


T-tidak!! Tuan..., tolong jangan bunuh hamba...


Lepas... kan a...aku da...sar k-k-kau i...blis


Am... pu... ni ham—


(krek...!!!)


"Tidakkk!!!" Iris dengan sontak membuka matanya seraya menjerit histeris.


Gadis itu seketika menggenggam tangan Rei dengan erat. Ia mulai merasakan hawa kengerian yang menyelimuti sekujur tubuhnya akibat membayangkan serangkaian pembunuhan yang dilakukan oleh sosok menyeramkan saat memejamkan kedua matanya.


"Jika kalian tidak sanggup melawan rasa takut itu, maka aku sarankan untuk tidak mengikuti ku," Rei menegaskan kepada mereka tentang rintangan apa yang akan dihadapi bila mengikuti perjalanannya.


"Bila itu dirimu, aku akan mempersiapkan mentalku untuk tetap mengikuti perjalananmu dalam keadaan apapun," Zeta balik menegaskan tentang keberanian dirinya kepada pria tersebut.


Mereka yang belum sempat menuntaskan pembicaraan penting itu pun seketika dikejutkan dengan kemunculan gelombang air yang sangat besar dan cepat.

__ADS_1


"Zeta, Iris!! Berpegangan yang erat!!" Rei telah mengambil ancang-ancang untuk berpegangan pada sebuah tiang rumah setelah mendapati terjangan gelombang air yang datang secara tiba-tiba memasuki rumah itu dari arah belakang.


Byurr ....!!!


Gelombang air yang sangat besar itu pun seketika menyapu bersih seluruh perabotan rumah dan menembus keluar melalui sela-sela jendela. Rei dan yang lainnya tak bisa berkata apa-apa setelah mendapati tubuh mereka basah kuyup karenanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?!" ucap Zeta seraya memeras bajunya


"A-air darimana itu uhukk uhukk," Iris merebahkan tubuhnya setelah tak sanggup menahan terjangan air yang memasuki mulutnya.


Rei dengan segera bergegas menuju halaman belakang rumah guna menelusuri penyebab datangnya air tersebut. Ia pun mendapati Silvia yang tercengang sambil memandang takjub pada Rebecca yang tengah menjulurkan kedua tangannya.


"Whoaaa!!!" Silvia terkagum-kagum pasca melihat aksi Rebecca.


"Sil...via!!!" tegur Zeta dengan nada geram seraya menghampiri gadis itu.


"T-t-tidak!!! Itu bukan ulahku!" Silvia berusaha membela diri setelah mendapati Zeta berang terhadapnya.


"Air itu berasal dari sihirmu bukan!!! Jangan mengelak!" Sang kakak merasa yakin bila Silvia adalah dalang dibalik semua itu.


"Aku tidak melakukan apa-apa!!!" Silvia terus berusaha meyakinkan Zeta yang telah bersiap melayangkan pukulannya terhadap gadis itu.


"Rebecca, apa kau yang melakukannya?" tanya Rei sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Rebecca.


"Rebecca..., Rebecca bisa membuat sihir, kakak!!!" Gadis kecil itu sontak memeluk Rei dengan eratnya alih-alih meluapkan kegembiraan.


Zeta dan Iris pun tercengang setelah mendengar pernyataan yang keluar dari mulut gadis kecil tersebut. Mereka tidak menyangka bila anak seusai Rebecca mampu mengeluarkan sihir air yang amat luar biasa. Zeta pun membatalkan niatnya untuk meremas kepala Silvia seraya berbisik pada gadis itu.


"Apa yang telah kau ajarkan padanya?" bisik Zeta.


"A-a-aku hanya mengajarkan sihir dasar untuk menguasai elemen air. Lalu aku menyuruhnya untuk memusatkan pikiran sambil membayangkan seperti apa wujud dasar air itu. Dan setelah dia berusaha mengeluarkannya, inilah yang terjadi!"


Zeta pun mengarahkan pandangnya pada kedua orang tersebut dan mendapati Rei menyentil kening Rebecca secara lembut. Sepintas muncul dari dalam hatinya untuk menasehati gadis kecil itu. Namun, Ia merasa segan untuk melakukannya karena hubungan Rebecca yang sangat dekat dengan Rei.


~To be continued~

__ADS_1


__ADS_2