Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!

Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!
Bab 27. Kesengsaraan Dua Gadis Succubus


__ADS_3

Di penghujung sore itu, nampak dari kejauhan rombongan pasukan kerajaan yang tergesa-gesa dalam melakukan perjalanan. Mereka kemudian mendapati Rei dan Rebecca beserta Rodney bersaudara tengah berjalan melewati sebuah jembatan yang terletak di atas sungai Myrias.


"Kapten Edward! Bukankah itu orangnya?" tanya seorang ajudan kepada Kapten Edward seraya mengarahkan telunjuknya menuju Rei.


"Biar aku selidiki! Hmm..., ciri-cirinya sesuai dengan orang yang kita cari! Semuanya!!! Ayo bergegas!" seru Kapten Edward kepada seluruh pasukannya setelah menerawang dari kejauhan.


Mereka kemudian bergegas menghampiri Rei setelah mendapati pria itu sesuai dengan ciri-ciri orang yang dicari oleh pihak kerajaan. Nampak raut wajah semangat diantara para pasukan tersebut saat memacu kecepatan kuda yang terus berlari secara serempak.


Sesaat kemudian, Sang Kapten dengan segera menghentikan laju kudanya setelah tiba dihadapan Rei dan rekan-rekannya. Ia seketika melepaskan helm zirahnya seraya berjalan dengan perlahan menghampiri pria tersebut. Rebecca yang dihantui rasa cemas pun sontak memeluk Rei karena trauma dengan kehadiran pasukan itu.


"Kakak..., Aku takut..., apakah mereka ingin menculikmu lagi?" tanya Rebecca dengan raut wajah cemas.


"Jangan khawatir Rebecca, Aku pastikan kita akan baik-baik saja," Rei mengelus rambut gadis kecil itu dan berusaha menenangkannya.


Rei seketika mengepalkan sebelah tangannya dengan erat setelah mendapati kapten itu semakin mendekatinya. Namun, apa yang terjadi ternyata diluar dugaan. Kapten Edward sontak membungkukkan badannya seraya bertumpu dengan sebelah lutut layaknya seorang Ksatria dihadapan Rajanya.


"Tuan Pahlawan..., aku telah diutus oleh Raja untuk mengundangmu hadir ke istana kerajaan. Bila berkenan..., kami akan membawamu sekarang," tutur Kapten Edward.


Rodney dan ketiga saudarinya pun terkejut setelah mendengar pernyataan Kapten Edward. Mereka memasang wajah penuh kegembiraan atas apresiasi pihak kerajaan yang mengakui tindakan kepahlawanan Rei alih-alih berharap pria itu akan mendapatkan banyak keuntungan.


"Aku menolak untuk saat ini," ucap Rei dengan mata yang memandang tajam.


"Baiklah. Izinkan hamba mengetahui alasan anda," Kapten Edward berusaha membujuk Rei untuk menerima tawarannya.


"Bila kalian berkenan, aku akan mengantarkan mereka menuju rumahku terlebih dahulu," tutur Rei seraya menjelaskan.


"Zach!!! Siapkan kereta kuda dan bawa kemari dengan segera!" sorak Kapten Edward kepada ajudannya.


"Baik, Kapten!" Zach kemudian bergegas menuju istana kerajaan guna memenuhi permintaan Kapten Edward.


"Tuan Pahlawan, serahkan tugas mengantar kerabat anda kepada kami..., Demi nyawaku yang telah anda selamatkan, aku berjanji akan menjaga mereka sebaik mungkin," ungkap Kapten Edward dengan nada sopan.

__ADS_1


"Baiklah, aku menerima penawaranmu." Rei berusaha menaruh kepercayaan kepada pria tersebut.


Ia seketika menerawang pikiran Kapten Edward dan mendapati bahwa sang kapten benar-benar berkata jujur. Rei pun telah mempersiapkan segala hal apabila berita desas-desus tentang dirinya telah menyebar ke seluruh penjuru kota Raven. Dan kini, undangan dari Kerajaan adalah salah satu dari bukti menyebarnya berita tersebut.


"Tuan Pahlawan, hamba mewakili pihak kerajaan mengucapkan terima kasih atas tindakan anda yang telah menyelamatkan nyawa seluruh warga kota," ungkap Kapten Edward yang tetap mempertahankan sikap membungkuk ala ksatria-nya.


"Darimana kalian tahu bila aku benar-benar menyelamatkan kota? Apakah ada buktinya?" tanya Rei yang merasa tidak percaya dengan pernyataan Kapten Edward.


"Biarkan Raja yang menjelaskan semuanya setelah anda tiba di sana..., Ini adalah amanat dari beliau," Kapten Edward berusaha meyakinkan Rei untuk mendapatkan jawaban atas segala pertanyaannya dari Sang Raja.


Sesaat kemudian, tibalah rombongan pasukan seraya membawa beberapa kereta kuda khas Kerajaan yang akan digunakan untuk mengantar Rebecca dan Rodney bersaudara menuju rumah besar.


"Rebecca, aku percaya dengan paman itu. Jika kau percaya padaku, maka ikutlah bersamanya," Rei berbisik pada Rebecca guna meyakinkan gadis kecil itu.


"Baiklah..., tapi kakak harus berjanji untuk segera pulang!" ucap Rebecca dengan raut wajah serius.


Rei pun berhasil meyakinkan Rebecca untuk bersedia diantarkan oleh Kapten Edward menuju rumah besar. Ia kemudian melambaikan tangannya setelah mendapati gadis kecil itu turut melambaikan tangannya kepada Rei sebelum memasuki kereta kuda.


"Rei, apa kau yakin?" Zeta mempertanyakan kepastian dari Rei tentang pasukan Kerajaan tersebut.


"Rei..., pastikan kau membawa hadiah yang sangat banyak untuk kami!" ujar Rodney seraya menepuk pundak pria tersebut dan bergegas menuju kereta kuda.


"Rei, Aku harap kau dapat mengeja namaku lebih baik lagi!!! Hmm!!!" Silvia memalingkan wajahnya alih-alih cemberut sambil bergegas menuju kereta kuda.


"R-Rei..., a-a-aku akan setia menunggumu!!!" Iris tersipu malu saat mengucapkan kata perpisahan dengan Rei dan bergegas dengan tergesa-gesa menuju kereta kuda.


"Rei, aku akan selalu mendoakan dirimu..., kembalilah pulang dengan selamat." ungkap Zeta seraya meninggalkan Rei bersama Kapten Edward lalu turut bergegas memasuki kereta kuda.


Rei pun menyaksikan kepergian orang-orang yang sangat menyayangi dirinya itu. Ia berharap bila firasatnya tidak akan pernah salah perihal kejujuran Kapten Edward. Pria itu pun seketika menghela napasnya seraya menatap ke arah langit.


Wahai Dewa, Apapun yang akan terjadi, bila itu hal mengancam keselamatan orang terdekat ku, maka izinkan aku untuk melenyapkan kota ini, batin Rei.

__ADS_1


"Tuan Pahlaw—"


"Panggil aku Rei!" Rei menyela perkataan Kapten Edward alih-alih menegurnya.


"Tuan Rei, hamba telah mempersiapkan seekor kuda untuk anda..., Zach!!" Kapten Edward berseru kepada Zach untuk membawakan seekor kuda putih nan kekar otot kakinya kepada Rei.


"Baik, Kapten!" Zach pun menggiring kuda putih tersebut menuju Rei.


Rei seketika takjub saat melihat keindahan kuda putih itu. Ia pun tanpa basa-basi menaikinya seraya menunggu aba - aba Kapten Edward yang bersiap untuk memulai perjalanan tersebut. Hingga saat sorakan perintah sang Kapten menggema, para pasukan itu pun bergegas menuju istana kerajaan dengan di ikuti oleh Rei.


...****************...


Lucifer semakin tak mengerti dengan rencana Behemoth yang tiba-tiba membunuh para pemuka agama tanpa sepengetahuan darinya. Dibalik mencekamnya suasana reruntuhan itu, ia terus menerus membolak-balikan langkah kakinya seraya memikirkan apa yang harus dilakukan.


"Renner!!! Panthea!!! kemarilah!!!" seru Lucifer dengan nada keras.


"K-k-kami memenuhi panggilanmu, Y-y-yang Mulia, " sahut Renner dengan terbata-bata.


Kedua gadis succubus itu pun dengan segera menunjukkan keberadaannya secepat kilat setelah menerima seruan dari Lucifer. Renner dan Panthea adalah salah satu dari enam pengawal pribadi Lucifer. Hanya mereka berdua yang merupakan satu-satunya iblis berwujud succubus.


Diketahui, Renner dan Panthea ditugaskan untuk turun ke bumi oleh Lucifer guna melenyapkan nyawa para lelaki yang telah tergoda oleh kecantikan mereka. Semua itu dilakukan demi mempersembahkan tumbal yang dikhususkan untuk Iblis tersebut alih-alih meningkatkan kekuatannya.


"Terkutuklah kalian!!! Apa gunanya wajah cantik dan tubuh seksi itu bila tak mampu mempersembahkan lebih banyak nyawa untukku!!! Kalian telah lalai menjalankan tugas sebagai succubus!!!" Lucifer menjadi murka setelah mendapati kehadiran kedua gadis itu.


"M-m-maafkan kami Yang Mulia...," Panthea menundukkan wajahnya alih-alih memohon.


Lucifer seketika menarik leher Phantea dengan sihir magnetnya. Ia lalu mencekik gadis iblis tersebut dengan kuat setelah mendapati lehernya telah berada dalam genggamannya.


"Mengucapkan kata maaf bukanlah sifat sejati iblis...! Kau harus tau itu!" tegas Lucifer yang semakin mengencangkan cengkeraman tangannya pada leher Panthea.


"B-ba...ik, Yang M-m-mu...li...a," ucap Panthea dengan terbata-bata.

__ADS_1


Panthea pun nyaris saja mati sia-sia karena perlakuan kejam iblis tersebut. Ia kemudian merangkak menuju Renner seraya menahan sesak yang amat menyakitkan. Kedua gadis itu selalu merasakan kesengsaraan selama mengabdi kepada Lucifer. Menerima siksaan dan menjadi bulan-bulanan Iblis itu telah menjadi rutinitas mereka sehari-hari.


~To be continued~


__ADS_2