
Wahai diriku, semua pasti akan baik-baik saja, batin Rei.
Ia tetap bersikeras mempertahankan sikap meditasinya seraya memusatkan pikiran. Namun, Dewi Kesucian selalu saja berupaya untuk menggoda keimanan pria tersebut. Rei kemudian terkejut setelah mendapati tubuhnya melayang dengan sendirinya.
Pria itu harus dihadapkan dengan ulah Sang Dewi yang berusaha memindahkan tubuhnya menuju sekumpulan para bidadari. Rei pun tak memberanikan diri untuk membuka mata setelah mendapati dirinya telah berada diantara mereka.
Dewa!!! Apa yang harus kulakukan! batin Rei seraya memejamkan matanya.
"Rei, Jangan sungkan! Bermainlah dengan mereka. Itu dapat memulihkan staminamu dengan cepat!" tegur Sang Dewi sambil mendorong punggung pria tersebut menuju para bidadari.
"T-t-tidak, Dewi! Aku bisa melakukannya s-sen... glek-glek-glek," Rei pun tenggelam setelah mendapati tangan seorang bidadari yang mendorong tubuhnya ke dalam air.
Ibu, ayah... aku akan melakukannya dengan mereka, t-t-tidakkk!!! batin Rei yang melihat bidadari tersebut memeluk tubuhnya didalam air.
Rei pun dengan sontak berlari terbirit-birit menuju tepi telaga setelah merasakan sentuhan yang penuh dengan kelembutan dari tubuh sang bidadari yang memeluknya. Ia merasa hal itu sangat memalukan untuk seorang manusia sepertinya.
"Huft... huft... huft... hampir sajaa," ucap Rei dengan nafas terengah-engah.
Para bidadari itu sedikit terkejut dengan tindakan Rei. Mereka merasa tidak enak hati atas perbuatan yang telah dilakukan kepada pria tersebut. Maksud hati ingin memanjakan Rei, Dewi Kesucian malah menjadi merasa bersalah atas sikap inisiatif itu.
"Wahai Dewi, apakah Dewa Kehancuran sudah tidak menginginkan kami lagi?" tanya salah seorang Bidadari dengan raut wajah cemas.
"Aku rasa tidak begitu. Mungkin beliau hanya belum terbiasa dengan tradisi telaga ini," tutur Sang Dewi menjelaskan.
"Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan untuk membuat beliau bersedia menghabiskan waktunya dengan kami?" Para Bidadari menaruh harapan pada Sang Dewi.
__ADS_1
"Bagaimana kalau begini ....." Dewi Kesucian merencanakan sebuah siasat kepada para Bidadari.
Belum sempat ia melepaskan penatnya, jantung Rei semakin berdegup kencang atas kejadian yang baru saja terjadi. Ia pun merasa telah menjadi pria yang munafik karena telah menolak ajakan dari Sang Dewi. Rei sejenak termenung seraya menatap pada sebatang pohon kelapa yang tinggi.
Lebih baik aku tenangkan pikiran dengan meminum air kelapa itu, batin Rei dalam hati.
Tanpa pikir panjang, pria itu pun segera memanjat sebuah pohon kelapa alih-alih menikmati buah kelapa yang hijau nan besar tersebut. Setelah dirasa dekat dari jangkauan, Rei dengan antusias menarik buah itu hingga terjatuh ke atas tanah. Namun, perhatiannya seketika tertuju pada sebuah teriakan yang bersumber dari telaga.
"To-tolong!!! ... tolong!!!" sorak seorang bidadari seraya berpura-pura tenggelam.
Mendapati situasi yang gawat tersebut, Rei dengan segera terjun dari pohon kelapa dan bergegas menyelematkan bidadari yang sedang tenggelam itu. Ia lalu meraih tubuh sang bidadari dan berusaha menenangkannya.
"Tenang, tenang! Peluk punggungku dengan erat!" ujar Rei.
Sang Bidadari pun tak ingin melewatkan kesempatan emas itu. Ia dengan sontak merapatkan tubuhnya pada punggung pria yang besar nan kokoh tersebut seraya menampilkan sebuah senyuman yang menandakan kebahagiaan di wajahnya.
Hal itu pun terus berlansung selama berulang-ulang. Setelah menggiring salah seorang bidadari menuju tepi telaga, ia kemudian mendapati sorakan dari bidadari lainnya yang dengan sengaja menenggelamkan diri seraya bersorak alih-alih memohon pertolongan darinya. Rei terus menerus menyelamatkan bidadari itu satu persatu tanpa menyadari keanehan yang terjadi.
Sementara, Sang Dewi yang menyaksikan kejadian itu pun hanya bisa tersenyum setelah melihat ulah para bidadari yang saling berebut untuk mendapatkan perhatian dari Rei.
Hehe ... M**aafkan keinginan egois mereka Rei, batin Dewi Kesucian yang tak kuasa menahan tawanya.
Setelah dirasa tiada lagi bidadari yang harus di selamatkan, Rei pun kemudian menjatuhkan dirinya ke atas tanah. Ia kehabisan tenaga setelah berulang kali menyelamatkan para bidadari itu secara berturut-turut tanpa menyadari bahwa semuanya hanyalah siasat yang telah direncanakan oleh Dewi Kesucian.
"Wahai Dewi, bolehkah kami menjaganya hingga terbangun?" tanya salah seorang bidadari kepada Dewi Kesucian yang sedang menghampiri mereka.
__ADS_1
"Hmm, Ya! Tentu saja! Lakukan sesuka kalian!" Sang Dewi lalu beranjak meninggalkan Rei dengan para Bidadari.
Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, para Bidadari pun kemudian berunding untuk menentukan siapa yang berhak memangku kepala pria itu dengan pahanya. Lalu, Bidadari yang terpilih dengan segera meletakkan kepala Rei di atas paha. Sedangkan yang lain hanya bisa menggigit bibir seraya mengibaskan sayap mereka.
Hingga beberapa saat kemudian, Rei pun mulai memasuki alam mimpinya. Dalam mimpi itu, ia bertemu kembali dengan Zuzu, Sang adik tercinta yang telah terlebih dahulu meninggalkan Rei untuk selamanya.
Zuzu! Tidak!! Jangan menangis! Jangan takut, aku akan selalu bersamamu. Zuzu! kau mau kemana? Tunggu! Rebecca?! Tidak! Jangan kesana, kalian akan jatuh! Zuzu! Rebecca!!
"Rebecca!!!" Rei dengan sontak terbangun dari tidurnya setelah mengalami mimpi yang sangat buruk.
"Rei? ada apa!!" Jesicca terkejut setelah mendengar suara Rei dan bergegas menghampiri nya.
"Huftt ...." Rei menghela nafasnya secara perlahan.
Pria itu pun mendapati dirinya sudah berpindah dimensi. Sesaat kemudian, Rei memperhatikan Jessica dengan wajah yang menatap tajam. Ia kemudian melihat Rebecca yang muncul dibalik pintu seraya memperlihatkan raut wajah cemasnya. Perasaan dalam hatinya pun luluh saat menatap ke arah dua gadis tersebut.
Rei kemudian beranjak dari ranjangnya. Ia melangkahkan kakinya secara perlahan menuju kedua saudari yang telah menanti diujung pintu. Jessica dan Rebecca pun terkejut setelah mendapati Rei yang sontak memeluk mereka dengan erat. Pria tersebut tak kuasa menahan air matanya setelah mendapati kedua gadis yang disayanginya baik-baik saja.
"Jessica, Rebecca ... Syukurlah!!" tutur Rei seraya memeluk mereka dengan erat.
"Kakak...? jangan menangis..., aku jadi ikut berse...dih hwaaa!!!" Rebecca pun turut menjatuhkan air matanya.
"Rei, Kami telah mengetahui apa yang telah menimpa seluruh warga kota. Dan, syukurlah..., kau adalah penyelamat kami," tutur Jessica yang ikut meneteskan air matanya setelah merasakan begitu besarnya perjuangan Rei dalam melindungi mereka.
Mereka pun berpadu dalam kesedihan yang amat mendalam. Rei merasa bersalah karena telah lalai dalam melindungi kedua orang tersayangnya itu. Ia pun takkan bisa membayangkan apa jadinya bila kedua gadis itu benar-benar meninggalkan dirinya untuk selamanya. Sebab, hanya merekalah yang menjadi alasan utama Rei, untuk tetap tegar dan semangat dalam memenuhi tugasnya sebagai titisan Dewa Kehancuran.
__ADS_1
~To be continued~