
Kegelapan disertai gelombang angin yang mengguncang, menjadi saksi atas pertarungan mereka. Rei dengan kepala yang terputus, masih mengokohkan tubuhnya dihadapan iblis Azazel. "Dan, apa kau puas sudah memotong kepalaku?" katanya.
Ia pun mengeluarkan energi dari dalam tubuh yang memunculkan gelombang cahaya berwarna merah. "Demi para gadis elf, gadis ras serigala, Zeta, Silvia, Iris, dan Rodney, juga Jessica dan Rebecca serta Felicia. Dengan seluruh harapan mereka yang berlabuh pada kekuatanku, akan ku hadapi kau dengan senang hati!" sorak Rei dari belakang tubuhnya.
"Hahaha!!! Darah dalam tubuh itu sangatlah menggiurkan! Biarkan aku melahapnya!" sindir Azazel seraya menatap pada Maina yang tengah menggenggam potongan kepala Rei dari kejauhan. Azazel kemudian memunculkan sebilah sabit yang panjang dari tangannya. Ia pun turut mengarahkan sabit itu ke arah Rei. Dengan segala kemurkaan, Azazel melesatkan tubuhnya secepat kilat.
(Zwoof...)
Rei yang telah bersiap menerima serangan Azazel, menjadi terkecoh saat iblis itu melewati tubuhnya dengan gesit. Ia kemudian menyadari, bila Azazel mengincar kepala Maina. Demi mencegah pergerakan Azazel, Rei pun mengeluarkan sihir pelambat waktu. "God motion!" ucapnya. Seketika rotasi waktu pun melambat, dan Rei bergegas menggerakkan tubuhnya menuju Azazel yang telah bersiap melayangkan sabit ke kepala Maina.
Sihir pelambat waktu yang dianugerahkan para Dewa kepadanya, hanya berdurasi lima detik. Dalam kesempatan itu, Rei melesatkan tubuhnya secepat kilat dan berhasil memegang tangan Azazel yang sabitnya hampir mengenai kepala Maina. Ia lalu menarik tangan sang iblis dan menghempaskannya ke arah lain.
Maina yang sempat melihat pergerakan Azazel pun terkejut dengan apa yang telah terjadi. "T-Tuan!" Ia lalu mendapati tubuh Rei yang seketika melesat secepat kilat menuju Azazel.
Azazel tak mampu menahan tubuhnya yang terhempas dengan cepat. Ia lalu terkejut saat tubuh Rei telah tiba dihadapannya. Iblis itu kemudian melayangkan sabitnya guna menghalau pergerakan tubuh Rei. Namun, Rei dapat menghindar.
Dengan segenap kekuatan, tubuh Rei menghujamkan tinjunya ke tubuh Azazel. Iblis itu pun tak mampu mengelak dan terpental ke arah bawah. "Bajingan kau!!!" kata Azazel sebelum tubuhnya mendarat dengan sangat keras ke atas tanah.
Setelah melihat Azazel terkapar, tubuh Rei yang masih melayang dilangit, memunculkan sihir api yang sangat besar dari tangannya. Ia lalu mengangkat tangannya dan mengarahkan gelombang api yang dahsyat tersebut ke arah Azazel.
(Zuuuussss ... Boom ... Duaarr!!!)
Gelombang api itu menghantam tubuh Azazel dan menghasilkan ledakan nuklir yang amat besar. Seluruh area yang menjadi sasarannya pun hangus terbakar dan tertutupi oleh kepulan asap yang tebal.
__ADS_1
Sebelum terjadinya ledakan, Rei dari kejauhan mengeluarkan sihir perisainya guna melindungi tubuhnya dari ledakan tersebut. Ia pun turut mengeluarkan sihir perisai guna melindungi para gadis Elf dari radiasi ledakannya. Semua itu dilakukannya dalam sekejap mata.
"A-apa yang telah terjadi?" tanya Myuna dengan mata yang tertutup. Ia turut menutup telinganya sebelum terjadinya ledakan.
"Huft ... hampir saja." Myana menghela nafasnya setelah mendapati perlindungan dari sihir perisai milik Rei. Ia pun menyaksikan ledakan yang amat dahsyat itu.
"A-aku k-kira aku akan m-mati," kata Morina dengan terbata-bata. Ia mendapati tubuhnya bergetar karena rasa takut saat mendengar ledakan sihir tersebut. Morina pun turut menutup kedua matanya sebelum ledakan itu terjadi.
Maina masih menutup kedua matanya. Sambil menggenggam kepala Rei dengan erat, ia merasakan kengerian yang mendalam saat mendengar suara ledakan yang masih terngiang-ngiang dalam telinganya itu. "T-t-tuan ... aku takut," kata Maina yang turut menggetarkan tubuhnya.
"Maina, jangan cekik aku," tegur Rei. Ia mendapati lehernya tergenggam dengan kuat karena ketakutan Maina. Rei menjadi iba setelah mendapatkan reaksi dari gadis elf tersebut.
"M-m-maaf, Tuan!" Maina sontak mengendurkan pelukannya. Ia pun memberanikan diri membuka kedua matanya.
Selepas menghilangnya kepulan asap tersebut, Rei pun berniat untuk memastikan keberadaan Azazel. "Maina! Bawa aku ke tempat sumber ledakan!" seru Rei pada Maina.
"Semuanya jadi hangus," kata Myuna saat melihat-lihat area disekitarnya.
"Andai saja Tuan tidak mengeluarkan sihirnya, kita pasti sudah lenyap," sambung Myana seraya memeluk punggung Myuna.
Apa iblis itu benar-benar lenyap? batin Rei seraya menatap pada tempat tersungkurnya Azazel yang telah menghilang. Ia pun bertanya-tanya apakah Iblis itu benar-benar lemah. Atau mungkinkah Azazel sempat menghindar dari hantaman sihir apinya. "Bersiaplah! Aku akan memindahkan kalian ke rumahku!" kata Rei kepada seluruh gadis elf.
Myuna, Myana, dan Morina sempat bingung. Mereka tak mengerti dengan maksud perkataan Rei. "M-maksud Tuan?" tanya Myuna dengan wajah polosnya.
__ADS_1
"Mass teleportation!" Rei pun sontak mengeluarkan sihir teleportasi masalnya dan memindahkan tubuhnya serta tubuh para gadis elf secepat kilat, menuju rumah besar.
"Whoaaa!!! Keajaiban apakah yang telah kurasakan tadi!" kata Myuna dengan segala kehebohannya. Ketiga gadis elf itu terkejut setelah mendapati tubuh mereka berpindah dengan cepat. Rei dan para gadis elf pun telah tiba didepan gerbang Rumah besar.
"Tuan! Apakah ini rumah anda?" tanya Maina seraya terkejut saat memandangi rumah besar.
"Ya! Mulai hari ini, kalian boleh tinggal bersamaku. Dan aku akan menjadi penanggung jawab kalian," jawab Rei. Ia memastikan bila para gadis elf tidak akan merasakan kesengsaraan lagi. Demi melindungi hidup mereka, Rei akan menjadi pengasuh serta memenuhi segala kebutuhan para gadis elf tersebut.
Zeta yang tengah merenung seraya bersandar dibalik gerbang pun dikejutkan dengan kehadiran Rei beserta para gadis elf. "R-r-Rei?!!!" katanya. Ia pun menghampiri mereka dan terkejut saat menyaksikan apa yang ada dihadapannya. "K-k-kepalamu???" Dengan mulut yang menganga lebar, gadis itu tak dapat menahan kesadarannya. Ia lalu jatuh pingsan saat menatap kepala Rei yang tergenggam erat dalam pelukan Maina.
"Zeta ada apa!"-Silvia menatap potongan kepala Rei-"K-k-kepalamu Rei?" Ia pun turut jatuh pingsan karena tak percaya apa yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri.
"Silvia ada a—pa ..." Iris terkejut saat mendapati kepala Rei terpisah dari tubuhnya. Ia pun marah dan menatap tajam ke arah Maina yang tengah memeluk kepala Rei. "Apa yang telah kau lakukan kepada Rei!" kata Iris. Ia dengan polosnya menuduh Maina karena telah memotong kepala Rei.
"Aku tidak akan memaa—"
"Iris! Tenanglah! Aku masih hidup!" ucap Rei seraya memotong perkataan Iris. Ia meyakinkan gadis itu untuk tidak menaruh emosinya pada Maina.
Iris pun sontak jatuh pingsan setelah mendapati potongan kepala Rei yang berbicara kepadanya. Rodney yang sempat melihat mereka dari kejauhan pun turut jatuh pingsan setelah menyaksikan apa yang telah dilihatnya dengan mata kepala sendiri.
Jessica yang tengah menidurkan Rebecca pun mendengar kehebohan diluar rumah. Ia kemudian bergegas menuju gerbang rumah, demi memastikan apa yang telah terjadi. "Rei?" tanya Jessica seraya menatap pada potongan kepala Rei.
"T-tunggu Jessica! Kau jangan terkejut! Jangan sampai jatuh pingsan. Aku baik-baik saja. Nanti akan ku jelaskan apa yang telah terjadi." tutur Rei. Ia memastikan Jessica untuk tetap tenang dan mengontrol pikirannya. "Jessica! Kemana Felicia?" tanya Rei dengan nada serius.
__ADS_1
"Aku tidak melihatnya kembali, sejak ia memutuskan untuk mencari keberadaanmu." kata Jessica. Ia pun perlahan menghampiri tubuh Rei yang sedang berdiri dengan tegak. Jessica tercengang dengan apa yang ada dihadapannya. "Rei, apa yang telah terjadi padamu?" Pertanyaan itu benar-benar terlontarkan dari mulutnya. Jessica sempat menaruh perhatiannya pada keempat gadis elf. Ia menjadi iba setelah mendapati lusuhnya kondisi mereka.
~To be continued~