
Berang, geram, dan murka, semua itu telah mendarah daging dalam diri Lucifer. Ia semakin hanyut dalam rasa ketidakpercayaannya setelah mengetahui Venom, prajuritnya terbaiknya telah dikalahkan dengan mudah oleh Rei.
"Tcih! Aku telah memelihara seorang pecundang!" Lucifer melontarkan segala kekesalannya.
Venom selama ini dikenal kuat dan cerdas akan taktiknya dalam menaklukkan berbagai kerajaan manusia yang menolak untuk tunduk serta patuh terhadap Lucifer. Namun, kekalahan dirinya dalam melawan Rei sama hal nya dengan menginjak-injak harga diri iblis tersebut.
Lucifer pun tak ingin ambil pusing. Ia dengan segera memikirkan bagaimana cara agar kerajaan-kerajaan yang berada dalam naungannya tak berkhianat setelah mengetahui lenyapnya keberadaan Venom, sang iblis ahli siasat.
"Nampaknya kau sedang kesulitan, Lucy!"
Lucifer semakin geram mendengar sebutan itu. Ia kemudian menggertakkan giginya seraya memperhatikan kemunculan sosok iblis yang mengenakan jubah hitam dengan tanda bintang hitam di dahinya. Iblis itu menginjakkan kakinya dengan perlahan menuju singgasana Lucifer.
"Behemoth! Apa kau belum juga mengakui kekalahanmu setelah bertarung denganku?" Lucifer menatap tajam ke arah Behemoth.
"Kalah? Dalam kamusku, hanya ada kata mengalah, Lucy!" Behemoth terus menerus mengintimidasi Lucifer yang telah terpancing emosinya.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan itu atau..., akan ku cincang seluruh organ dalam tubuh ini," Lucifer mendekatkan tubuhnya pada tubuh Behemoth seraya meraba tubuh iblis tersebut.
"Hei, hei! Rasa organ tubuh yang telah mengalah untukmu ini sangatlah tidak enak! Justru aku penasaran dengan rasa organ yang bersemayam dalam tubuhmu ini, Lu...ci...fer!" Behemoth membalas ancaman Lucifer sambil mengelus dada iblis itu.
Behemoth merupakan salah satu dari delapan kandidat iblis terkuat yang akan menjadi wadah kebangkitan leluhur Raja iblis berikutnya. Sikap merendahkan iblis lain telah menjadi makanan sehari-hari baginya.
Ia diketahui memiliki tali persaudaraan dengan Lucifer. Mereka merupakan salah satu putra dari Azores, Iblis leluhur yang memimpin wilayah bagian barat dari Kerajaan Iblis. Diceritakan bahwa Azores adalah seorang pionir yang telah menyatukan seluruh rakyat dan pejuang iblis dalam peperangan berhari-hari mereka melawan Para Dewa.
Azores kemudian menikahi anak rekan seperjuangannya. Dari hasil pernikahan itu, ia dikaruniai empat orang anak yang diantaranya adalah Rizores, Negus, Behemoth, dan yang termuda, Lucifer. Hanya Behemoth dan Lucifer lah yang tersisa dari keluarga itu setelah Ayah dan kedua kakak mereka gugur dalam pertempuran.
Semasa kecilnya, Behemoth selalu bertengkar dengan Lucifer. Namun, ia turut mengalah bila memperebutkan sesuatu dari adiknya itu. Hingga pada detik-detik terakhir kematian Azores, pionir tersebut mempercayakan sisa-sisa perjuangan serta harta warisan sepenuhnya kepada Lucifer. Hal itu membuat Behemoth menjadi kecewa. Ia kemudian memutuskan untuk berkelana demi memperdalam ilmu sihirnya sendiri.
__ADS_1
Azores mengetahui bila putra bungsunya memiliki anugerah yang telah diberikan oleh leluhur raja iblis sebelumnya. Oleh sebab itu, perhatiannya kepada Lucifer melebihi perhatiannya pada Behemoth. Namun, ia juga telah mengantisipasi bila suatu saat nanti, kedua kakak beradik itu akan bertarung satu sama lain. Oleh sebab itu, Azores memberikan seluruh kekuatannya kepada Lucifer guna menyeimbangi perlawanan dari Behemoth.
"Kalau saja kakek tua itu tidak memberikan kekuatannya kepadamu secara cuma-cuma, tentu aku telah menghabisimu!" ketus Behemoth setelah melihat keangkuhan adiknya itu.
"Hah! Akui saja kekalahan mu! Berlutut padaku adalah cara yang tepat untuk mengakuinya!" Lucifer tak ingin kalah dalam pertarungan mulut dengan kakaknya.
Cekcok diantara kedua bersaudara itu pun semakin memanjang. Hingga beberapa saat kemudian, Lucifer memiliki sebuah ide untuk mempertahankan keberadaannya. Ia lalu berunding dengan Behemoth yang telah bersiap untuk menghunuskan pedangnya karena terlanjur termakan emosi.
"T-tunggu dulu! Aku akan memberikan beberapa keuntungan untukmu" Lucifer berupaya menghentikan pergerakan Behemoth.
Mendengar bujukan itu, Behemoth pun menunda niatnya untuk menghabisi Lucifer. Ia menyarungkan kembali pedangnya seraya menghela nafas dengan perlahan.
"Bila kau mau memberikan seluruh kekuatanmu, maka aku akan menuruti permintaanmu!" tutur Behemoth sambil membetulkan kerah jubahnya.
"Tidak! tidak sepenuhnya ku berikan, tapi ini akan sangat menguntungkan bagimu," Lucifer kemudian duduk pada singgasananya dan menjelaskan rencana liciknya kepada Behemoth.
"Haha! Tugas rendahan seperti itu akan selesai dalam satu kedipan untukku!" ketus Behemoth seraya memudarkan keberadaannya.
Ia kemudian bergegas menghilangkan keberadaannya dari hadapan Lucifer. Behemoth telah menduga bila adiknya telah mengalami sebuah penghinaan yang amat besar hingga dirinya secara rela menggantungkan nasibnya pada iblis tersebut.
...****************...
Suasana pagi yang indah disertai kicauan burung yang merdu membuat Rei melangkahkan kakinya menuju halaman rumah besar. Ia kemudian memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar kota guna mencari tahu keberadaan iblis-iblis yang akan mengancam keamanan kota tersebut.
"Selamat pagi Tuan," sapa Felicia sambil menenteng sekantung belanjaan.
"Ya, pagi. Apa yang kau beli Felicia?" Rei menatap tajam pada kantung itu.
__ADS_1
"Aku membeli beberapa kebutuhan untuk para gadis, Tuan," tutur Felicia seraya mengangkat barang belanjaannya.
Rei dan Felicia pun terkejut setelah mendapati sebuah kegaduhan yang terjadi dalam rumah besar.
"Tidak mau!!!" sorak Rebecca dengan diiringi suara pecahan beberapa perabotan dari dalam rumah itu.
"Rei!! Kalau ingin keluar, bawalah Rebecca bersamamu!" Jessica bersorak dari atas teras rumah besar.
"Kakak!!! aku ikut!!!" Rebecca keluar dari pintu besar lalu berlarian menuju arah Rei dengan penuh semangat.
Jessica pun merasa gemas dengan kelakuan adiknya itu. Ia turut menghampiri Rebecca dan mendapati gadis itu bersembunyi dibalik tubuh Rei. Merasa lelah menghadapi tingkah laku anak yang super nakal itu, Jessica memohon kepada pria tersebut.
"Rei, aku minta maaf..., tapi tolonglah bawa anak nakal ini bersamamu," ucap Jessica seraya berharap.
"Wlee~ Aku tidak suka Jessica!" Rebecca menjulurkan lidahnya alih-alih menyindir kakaknya.
Jessica semakin tak dapat menahan rasa geramnya setelah tersindir oleh Rebecca. Ia lalu mencubit sebelah pipi gadis kecil itu seraya melampiaskan rasa kesalnya. Jessica sangat memahami sifat asli Rebecca yang selalu membuatnya kewalahan dalam mengurusi adik kandungnya itu.
"Hwaaaa!!" Rebecca seketika menangis setelah mendapatkan sebuah perlakuan yang tidak enak dari kakaknya.
"Sudah, sudah .... ayo, kita jalan Rebecca," Rei bergegas membawa gadis kecil itu pergi seraya menenangkannya.
Rei dan Rebecca pun berlalu meninggalkan Jessica yang dipenuhi rasa bersalah atas tindakannya terhadap sang adik. Ia berharap Rebecca takkan menaruh rasa benci padanya selepas pulang dari perjalanannya bersama Rei.
Sementara, Rei hanya bergeming tanpa mengeluarkan reaksi apapun setelah menyaksikan ulah dari kedua bersaudari itu. Yang terpenting baginya adalah melindungi keselamatan mereka dan terus berusaha dalam menjaga senyuman kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu.
~To be continued~
__ADS_1