
Rei menyudahi segala kesibukannya di istana kerajaan. Hiruk pikuk suasana di tengah aula yang dihadiri oleh para bangsawan telah membuatnya merasa jenuh. Ia dengan segera bergegas menuju pintu gerbang istana alih-alih meninggalkan tempat tersebut. "Tuan!!" sorak salah seorang bangsawan seraya mengejar Rei.
Rei yang mendengar sorakan tersebut kemudian menghentikan langkah kakinya lalu menatap kearah pria itu. "Ya! Ada apa?" tanya Rei.
"Huft..., huft ... Saya dengar anda sedang mencari rumah," kata Bangsawan itu dengan nafas yang terengah-engah.
"Ya, untuk tujuh orang," Rei memberikan isyarat dengan jarinya.
"Perkenalkan, aku adalah Marquess Charles Van Zofnade. Sesuai perintah dari Yang Mulia Raja, akulah yang akan menjadi fasilitator anda," tutur Charles sambil membungkukkan badannya.
"Umm..., baiklah," Rei membalikkan badannya lalu bergegas meninggalkan Charles seraya melambaikan tangan.
"Tuan!! Besok pagi aku akan menjemputmu!! Bersiaplah!" sorak Charles kepada Rei yang dari kejauhan. Sinar rembulan mengiringi setiap langkah dari perjalanan Rei menuju rumah besar. Dengan menatap ke arah langit, ia berharap dapat memberikan segalanya yang terbaik untuk orang-orang disekitarnya.
Ditengah perjalanannya melewati jembatan sungai Myria, Rei merasakan ada sesuatu yang mengawasinya di balik pohon. Ia terus berjalan tanpa memperhatikan pohon itu alih-alih tak merasakan apapun. Dan setelah melangkah beberapa ratus meter dari sungai tersebut, Rei semakin terganggu dengan orang itu. "Jangan bersembunyi, tunjukkanlah dirimu." tegur Rei.
Dengan raut wajah cemas, gadis elf yang bersembunyi dibalik pohon itu menunjukkan dirinya kepada Rei. Ia kemudian melangkahkan kakinya dengan perlahan menuju pria tersebut setelah mengetahui pengintaiannya terbongkar. "A-aku ...." Gadis elf itu menutupi wajahnya lalu bersimpuh dihadapan Rei.
Ia pun sontak meneteskan air mata karena tak sanggup menceritakan sesuatu yang telah menimpa dirinya. Rei yang merasa pernah mengenalinya pun dengan segera menenangkan gadis elf tersebut. "Ada apa? Bukankah kau salah satu dari gadis elf yang pernah ku temui waktu itu?" tanya Rei seraya mengelus kepala sang gadis.
"M-myana, Morina..., Myuna...." Gadis itu menyebutkan nama-nama saudarinya sambil menunjukan ekspresi kesedihan.
"Dan kau Maina bukan? Ada apa dengan mereka?" Rei menggenggam kedua bahu Maina alih-alih membujuk gadis itu untuk mengungkapkan apa yang terjadi. Merasa iba dengan kesedihan Maina, Rei pun tak mampu mendesaknya. Ia kemudian berinisiatif untuk menggunakan sihir guna membaca apa yang tersirat dalam pikiran gadis tersebut. Mind Possesing! batin Rei.
Seketika terpancar cahaya biru yang menyinari wajah Maina. Tanpa di sadari olehnya, pria itu memasuki alam pikiran gadis elf tersebut. "Reymond! Aku telah membawakan budak-budak sesuai pesanan mu!"
"Hahaha!!! Kerja bagus!! Selain berguna bagi kerajaan, kau pun berguna bagi para pedagang budak! Ini, ambil bayaranmu!"
"Tcih!! Aku sebenarnya sudah tak sudi bekerja untuk kerajaan itu!"
Rei menjadi geram setelah mengetahui apa yang dilihatnya dalam pikiran Maina. Dengan wajah yang menyeringai tajam, ia meneruskan penerawangannya.
"Myana, aku takut ...."
"Maina, Morina, Myuna! Aku akan melawan orang itu sendirian! Kalian cepatlah pergi sejauh mungkin!"
__ADS_1
"T-tidak!!! Maina tak ingin kehilanganmu J-jangan Myana!!!"
"Aaargghh!!! Apa yang kau lakukan dengan tanganku!! Dasar budak rendahan!!!"
"Kalian!!! Cepat pergi!!!"
"Ayo Maina! Percayalah pada Myana! Ia akan segera menyusul kita!"
Rei kemudian melihat ketiga gadis itu berlari menuju sebuah pematang sawah yang luas. Mereka dengan segera merangkak dengan perlahan alih-alih menghindari kejaran dari para bandit.
"Ssttt! Jangan menangis Maina..., kalau tidak mereka akan menyadari kita,"
"Morina, Maina..., Kalian pergilah duluan..., aku akan menunggu disini dan menghalangi mereka...,"
"Apa kau yakin?"
"Cepatlah!!!"
"Hei!!? itu dia! Ayo cepat tangkap!!!"
"Morina, Maina..., cepat!!!"
Rei kemudian mendapati Myuna menendang bandit itu dengan keras. Merasa tak terima dengan perlakuan gadis tersebut, sang bandit kemudian melayangkan pukulannya pada perut Myuna hingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Myuna!!!"
"Ayo Maina! Kita harus mencari bantuan dari para petualang untuk menyelamatkan mereka!"
Dengan gigi yang menggertak, Rei meneruskan penerawangannya dan mendapati kedua gadis itu berlari dengan tergesa-gesa seraya memasuki pedalaman hutan yang lebat.
"Huft... huft... huft... sepertinya kita berhasil menjauh dari mereka..., huft... huft ...,"
"Huft... huft..., M-myanaaa..., Myunaaa...,"
"Itu dia! Kalian!!! Tangkap mereka!!!"
__ADS_1
"Maina! Kau cepatlah lari dan carilah pertolongan!"
"Tidakkk!!! Aku tidak ingin kehilanganmu, Morina!"
"Cepat!!!"
Maina pun berlari meninggalkan Morina yang berusaha menghalangi para bandit. Ia semakin putus asa setelah mendapati ketiga saudarinya tertangkap oleh kejaran mereka. Dengan hati yang diselimuti kesedihan, Maina melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kota Raven.
Rei pun sontak menutup kedua matanya setelah menyaksikan perbuatan keji yang dilakukan para bandit terhadap Morina. Mereka menelanjangi gadis yang telah tak sadarkan diri itu lalu membawanya pergi sejauh mungkin. Wahai Dewa! Lindungilah Jessica, Rebecca, para gadis serigala dan Rodney bersaudara! Aku akan memberikan hukuman yang layak untuk para bandit itu! batin Rei.
"Maina! Ayo selamatkan saudari-saudarimu!" kata Rei. Maina terkejut setelah mendengar suara yang penuh harapan itu. Ia pun menganggukkan kepalanya seraya menyeka air mata yang mengalir deras membasahi kedua pipinya.
Rei yang telah mengetahui keberadaan para bandit itu pun dengan segera mengeluarkan sihir teleportasinya guna menyingkat waktunya untuk menyelamatkan para gadis elf tersebut.
Ia lalu mengangkat tubuh Maina alih-alih menggendongnya. Gadis itu seketika tercengang setelah mendapati lingkaran sihir yang memutari tubuh Rei. Mereka sontak menghilang setelah sihir itu menyerap tubuh Rei dan membawanya menuju tak jauh dari tempat persembunyian para bandit.
...****************...
Sinar rembulan yang terang benderang menghiasi malam di kota Raven. Di sebuah tempat lokalisasi yang terletak di pinggir kota tersebut, Renner dan Phantea berniat melancarkan aksinya guna memenuhi tugas yang diberikan oleh Lucifer. "Renner! Ingat! Malam ini kita harus mendapatkan sepuluh pelanggan!" seru Phantea.
"S-s-sepuluh?" Renner menjadi gugup setelah mendengar seruan Phantea.
"Ya! Diantara mereka, kita harus merayu salah seorang yang memiliki jabatan tertinggi atau lebih baik lagi jika orang itu adalah pemuka agama," Phantea melebarkan sisi gaun yang menutupi dadanya alih-alih memberikan pesona kepada para tamu yang hadir di tempat tersebut.
"B-b-baik!" Renner pun turut meninggikan kain yang menutupi pahanya guna memenuhi hasrat para pengunjung. Kedua gadis iblis itu pun dengan segera keluar dari biliknya. Mereka lalu memasuki sebuah aula besar yang didalamnya terdapat kerumunan orang-orang yang akan melakukan sebuah pesta.
Ditengah keramaian pesta itu, Renner mendapati seorang pria yang melirik penuh nafsu padanya. Ia kemudian memandangi penampilan orang tersebut dan tak menyadari bila pria itu adalah Reymond, seorang anggota pasukan keamanan kerajaan yang telah menjual para gadis elf. Renner dengan segera mengeluarkan sihir penggodanya alih-alih menarik perhatian pria tersebut. "Hei cantik..., maukah dirimu menemani malamku yang indah ini?" rayu Reymond kepada Renner itu seraya mengelus dagu gadis succubus itu.
"T-t-tentu saja," Renner tersipu malu dan memalingkan wajahnya ke arah lain. Reymond pun semakin tak dapat menahan rasa birahinya. Ia kemudian menarik lengan gadis iblis tersebut lalu membawanya menuju sebuah bilik yang telah disiapkan untuk para tamu. Pria itu tak menyadari bila kecantikan Renner telah mempengaruhi pikirannya yang semakin terbelenggu oleh hawa nafsu.
Sesaat setelah memasuki bilik tersebut, Reymond dengan segera melucuti pakaiannya. Ia pun dirasuki nafsu birahi yang menggebu-gebu setelah mendapati Renner merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tanpa pikir panjang, pria itu menghampiri Renner lalu memeluknya dengan erat. "Hahaha!!!" Renner seketika tertawa seraya merubah wujudnya menjadi iblis yang menyeramkan.
"Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lu—" Reymond membelalakkan matanya setelah memandangi wajah Renner. Ia terkejut saat melihat wajah yang hancur tak berbentuk itu. Reymond pun sontak mendorong tubuhnya ke arah lain alih-alih menjauh dari gadis iblis tersebut. . "S-s-siapa kau?!!!" kata Reymond dengan raut wajah ketakutan.
"Kau adalah mangsaku! Kau adalah persembahan untuk Yang Mulia Lucifer!" Renner mengarahkan kedua tangannya menuju pria itu seraya menghampirinya.
__ADS_1
"T-tidakk!!! Ja...ngan..., aaargghh...," lirih Reymond setelah mendapati tubuhnya berada dalam dalam genggaman Renner. Ia kemudian menghisap seluruh darah dan energi dalam tubuh pria tersebut. Ia lalu memakan habis daging dan tulang dari tubuh Reymond tanpa tersisa sedikitpun. Tamatlah riwayat anggota pasukan keamanan kerajaan yang telah menipu Rei lalu menjual para gadis elf itu dengan segala kelicikannya.
~To be continued~