Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!

Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!
Bab 24. Kunjungan Yang Tidak Terduga


__ADS_3

"Kakak! aku mau ituuu," Rebecca menunjuk pada sebuah kue yang telah menarik perhatiannya.


Astaga... uangku hampir menipis..., batin Rei.


Pria itu mengerutkan keningnya. Koin yang telah dikumpulkannya selama menjadi petualang pun semakin menipis karena terlalu banyak hal yang ia beli tanpa memikirkan kedepannya. Rei benar-benar kewalahan dalam menuruti setiap kemauan Rebecca.


Rebecca pun semakin tertarik setelah mencium aroma kue yang sangat enak itu. Ia dengan segera berlari seraya menghampiri pedagang kue tersebut. Matanya berkaca-kaca saat memandangi keindahan bentuk kue dan aroma yang semakin menggugah seleranya.


"Paman Arthur! Saya beli sepuluh potong kue," ujar Zeta setelah berdiri di samping gadis kecil itu seraya memperhatikan sang paman penjual kue yang sedang mengaduk adonan.


"Zeta! kemana saja kau," tegur Paman Arthur.


"Hehe..., akhir-akhir ini aku sangat sibuk menjalani misi," Zeta meninggikan alisnya sambil tersenyum.


Rebecca pun terkagum dengan sosok wanita yang berdiri disebelahnya. Ia merasakan jiwa kelembutan seorang kakak yang terpancar dari senyuman Zeta. Gadis itu berharap bisa memiliki seorang kakak perempuan seperti dirinya alih-alih membanding-bandingkannya dengan Jessica.


"Ini dia sepuluh potong kue milikmu, Zeta," ucap Paman Arthur seraya menyerahkan sekantung kue kepada Zeta.


"Terima kasih! Adik cantik...! ini untukmu, ambillah." Zeta menghadapkan tubuhnya pada Rebecca lalu memberikan sekantung kue tersebut kepada gadis itu secara cuma-cuma.


Rei yang tertinggal jauh dari Rebecca pun dengan segera menghampiri mereka. Ia kemudian mendapati Zeta yang sedang melipatkan kedua lututnya alih-alih jongkok seraya memandangi Rebecca yang tengah antusias melahap sepotong kue. Gadis petualang itu pun sontak terkejut setelah mendapati kehadiran Rei.


"R-r-rei?? sedang apa kau disini?" tanya Zeta dengan raut wajah sumringah.


"Aku sedang berjalan-jalan bersama adikku," Rei kemudian meraih tubuh Rebecca lalu menggendongnya alih-alih menegaskan hubungan diantara mereka kepada Zeta.


Zeta yang kikuk itu pun tersenyum mendapati kedekatan mereka. Ia pun berharap dapat selalu hadir dan terus menyaksikan kehangatan yang ditunjukkan oleh Rei dan adiknya itu setiap hari.


"B-bolehkah aku menemanimu?" Zeta memberanikan diri untuk menunjukan rasa kagumnya terhadap pria itu.


"Ya, tentu saja!" ucap Rei tanpa menunjukan senyuman sedikitpun dari wajahnya.

__ADS_1


Mereka kemudian melangkahkan kaki seraya berkeliling di pasar kota Raven. Ditengah padatnya kerumunan orang yang berjual beli ditempat itu, Zeta tak pernah sedikitpun menjauhkan jaraknya dari Rei. Ia seperti ingin menegaskan kehadirannya yang turut menemani perjalanan pria itu.


Rebecca yang sedari tadi sibuk mengunyah kue pun seketika memusatkan perhatiannya pada Zeta. Ia menjadi heran setelah mendapati wanita itu terus menerus memperhatikan Rei. Gadis kecil itu seperti belum memahami tentang perasaan cinta yang dirasakan seseorang terhadap orang lain.


"Kakak! Aaaaa!" Rebecca seketika mengarahkan kue yang berada dalam genggamannya kepada Rei alih-alih menyuapi nya.


"Hmm... Zweta, twewima kwasih twelah (gluk)..., Terima kasih telah membelikan Rebecca beberapa kue," ucap Rei seraya mengunyah dan menelan kue dalam mulutnya.


"T-tidak tidak! Aku memang suka memanjakan anak kecil... M-maksudku..., aku jadi teringat dengan Iris semasa kecilnya dulu," tutur Zeta sambil menundukkan kepalanya karena telah diliputi rasa canggung.


"Iris kah...? Bagaimana dengan keadaan mereka?" Rei seketika teringat tentang saudari-saudari Zeta yang pernah menjadi rekan Guildnya.


"Ah!!! bagaimana kalau kau berkunjung ke tempat kami? aku akan membuatkan kue yangg enak untuk—" Zeta menghentikan ucapannya seraya menatap pada gadis kecil itu.


"Rebecca!" sahut Rebecca menegaskan namanya.


"Rebecca? Nama yang cantik! Aku akan membuatkan kue yang enak untukmu, kau mau kan?" seru Zeta dengan penuh senyuman.


"Kakak! Kita harus pergi kerumah kak Zeta! Sekarang!" tegas Rebecca pada Rei dengan penuh semangat.


"Baiklah! Tapi berjanjilah untuk menjaga sikapmu," ucap Rei.


"Siap, Tuan!" Rebecca memberikan hormat kepada Rei alih-alih menaati perkataannya.


Setelah membeli beberapa kebutuhan untuk Rodney dan kedua saudarinya, mereka pun bergegas menuju tempat kediaman Rodney bersaudara. Rei kemudian menawarkan dirinya untuk membawakan beberapa kantung bawaan yang terlalu berat untuk dibawa oleh seorang gadis seperti Zeta. Gadis itu pun tak bisa menolak tawaran dari Rei yang telah bersusah payah membujuknya.


Sesaat setelah tiba didepan sebuah gerbang kayu yang telah usang, Silvia yang telah menanti dihalaman rumah pun dengan tergesa-gesa menghampiri mereka dan mendapati Rei menggendong seorang gadis kecil yang sangat cantik menurutnya.


"Rei? Siapa gadis ini? Wah!! Cantik sekali!" puji Silvia dengan raut wajah gemas.


"Dia adalah adikku, Rebecca," kata Rei menjelaskan.

__ADS_1


Rebecca pun tersipu malu setelah mendapati sanjungan dari Silvia. Ia tidak bisa menerima pujian begitu saja dari orang yang belum sama sekali dikenalnya. Anak itu mudah merasakan canggung bila ada seseorang yang secepat itu memuji dirinya.


Rei yang melihat kecemasan Rebecca pun dengan segera melepaskan rangkulannya dari gadis itu. Ia lalu berinisiatif untuk mempererat hubungan diantara mereka karena telah menyimpan rasa kepercayaan yang tinggi pada Silvia. Pria itu berpikir jika Rebecca semakin mendapatkan banyak teman, itu akan mempercepat pertumbuhannya.


"Rebecca, apa kau ingin bermain dengannya?" tanya Rei.


"Ya! Ayo bermain bersamaku, Rebecca! Aku akan menunjukan sihir yang luar biasa!" imbuh Silvia seraya meyakinkan gadis kecil itu.


Rasa ingin tahunya yang tinggi pun merebak dalam dirinya. Rebecca menjadi antusias setelah mendapat bujukan dari Silvia. Ia diliputi rasa penasaran dengan ilmu sihir yang akan ditunjukkan oleh gadis itu.


"Baiklah! Silvia, jagalah dirinya selagi tidak bersamaku," Rei telah menebak isi hati Rebecca yang sangat ingin bermain dengan gadis penyihir itu.


Silvia yang telah mendapatkan izin dari Rei pun dengan segera menggenggam erat tangan Rebecca seraya membawanya menuju halaman belakang rumah. Hatinya berbunga-bunga setelah berhasil mendapatkan perhatian dari gadis imut itu.


"Apa kau telah mengajarinya sesuatu, Rei?" tanya Zeta setelah mendapati Rei termenung memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Belum. Tapi ada kemungkinan aku akan mengajarinya sihir bila umurnya telah mencukupi," jawab Rei seraya menjelaskan.


"Jika kau berkenan, Aku akan membujuk Silvia untuk mengajarinya beberapa sihir dasar," tutur Zeta sambil melangkahkan kakinya menuju kedalam rumah lalu diikuti oleh Rei yang berjalan dibelakangnya.


Rei pun termenung seraya memikirkan dalam-dalam tentang tawaran itu. Sebab, ia khawatir bila suatu saat nanti pria itu tak bisa menjadi guru yang layak bagi Rebecca karena kurangnya pemahaman dirinya tentang sihir. Rei merasa yakin bila Silvia adalah guru sihir yang tepat untuk Rebecca.


"S-s-se-selamat datang, Rei!!!" Iris yang telah menanti dari dalam rumah pun terkejut setelah mendapati kedatangan Rei.


Gadis itu sontak menghampiri Rei seraya memeluknya dengan erat. Ia seperti dirasuki rasa rindu yang amat mendalam setelah sekian lama tak berjumpa dengan pria yang telah menanam benih cinta di hatinya tersebut.


Zeta pun tercengang bukan main setelah mendapati Iris dengan seenaknya memeluk Rei tanpa rasa malu sedikitpun. Ia yang gusar dengan ulah adiknya itu pun dengan segera memukul kepala Iris alih-alih melontarkan kekesalannya atas tindakan kurang sopan sang adik terhadap Rei.


"Sakit!!!" lirih Iris seraya mengusap-usap kepalanya.


"Bersikaplah yang sopan pada tamu!" tegur Zeta dengan raut wajah geram.

__ADS_1


Iris pun membungkukkan badannya berulang kali seraya meminta maaf atas tindakan spontannya terhadap Rei. Ia sejenak menyadari bila perbuatannya itu telah menyebabkan pipinya menjadi kemerahan. Gadis itu sontak berlari menuju kamarnya karena tak mampu menahan rasa malu yang amat mendalam.


~To be continued~


__ADS_2