Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!

Those Tears Made Me Reincarnated As A God Of Destruction!
Bab 31. Terlahir Dari Bulu Sayap Sang Dewi


__ADS_3

Di sela petir yang menyambar, Rei menyudahi pertarungannya dengan sang iblis. Ia pun merasakan kemenangan berpihak kepadanya setelah mendapati iblis tersebut tergeletak tak berdaya.


Rei telah memastikan bila tak ada lagi tanda-tanda kehidupan yang menaungi jasad iblis itu. Ia kemudian menjatuhkan dirinya alih-alih duduk seraya menghela nafasnya secara perlahan. Rei melepaskan penatnya sambil menatap ke arah para gadis elf yang terlihat lusuh itu. "Tuan!!!" Maina bersorak pada Rei dari kejauhan.


Para gadis elf menanti kedatangan Rei dengan penuh rasa gembira atas kemenangannya. Mereka telah diselimuti rasa syukur yang amat mendalam setelah merasa terbebas dari ancaman para bandit. Kini, sudah waktunya bagi mereka untuk bersiap menyambut kedatangan sosok pahlawan yang telah Maina dambakan itu.


"M-maina..., A-aku sudah ... tidak ... tahan ... lagi," ucap Myuna dengan terbata-bata karena menahan rasa lapar di perutnya.


"Myuna! Myuna!! Jangan mati!!! Bertahanlah! Hwaaaa!" Maina pun merengek seperti bayi setelah mendapati Myuna tak sadarkan diri.


"Bodoh! Myuna tidak akan mati. Ia hanya kelaparan," tegur Myana seraya mengeluarkan senyuman tipisnya.


"My... u... na!!!" Maina menggerak-gerakkan tubuh Myuna setelah mengetahui sandiwara dari gadis itu.


"Ma... i... na..., a-aku lapar." ucap Myuna yang bersenda gurau sambil membuka sebelah matanya.


Morina sontak tertawa setelah menyaksikan tingkah laku Myuna. Ia melampiaskan rasa rindunya atas kebahagiaan yang telah lama tidak dirasakan oleh para gadis elf tersebut. Myana yang mendapati Morina tertawa pun tak kuasa menahan air matanya setelah selama ini selalu merasakan penderitaan yang terus dialami oleh para gadis elf yang imut itu.


"Aku sudah lama tidak melihatmu tertawa, Morina," Myuna terkagum-kagum saat memandangi wajah Morina yang tertawa dengan lepas.


"Aku pun begitu," kata Myana seraya menyeka air matanya.


"Aku juga! Aku sudah lama tidak melihatmu menangis, Myana," Maina pun mencurahkan isi hatinya dan turut bersedih setelah mendapati tangisan Myana.


Kini, bendera kebebasan pun telah berkibar dalam kehidupan para gadis elf. Mereka sudah menanti kehidupan baru yang akan mengubah takdir dari gadis-gadis tersebut. Maina kemudian mendapati Rei mulai beranjak dari tempatnya. "Maina! Apa kau menyukainya?" tanya Myuna yang sontak merangkul Maina seraya memandangi pria tersebut dari kejauhan.


"S-suka? T-tidakk tidak! Ia adalah guru sekaligus Tuanku," Maina tersipu malu dan menyebabkan kedua pipinya memerah.


"Myuna, apa kita bisa mempercayai orang itu?" tanya Myana dengan penuh prasangka buruk.


"Hmm..., tenang saja! Jika ia berani macam-macam, Maina yang akan menghajarnya!" jawab Myuna seraya tersenyum lalu mengencangkan rangkulannya pada tubuh Maina. Myana pun tertawa setelah mendengar pernyataan dari Myuna yang tidak menyadari bila kekuatan yang ada pada diri Maina merupakan anugerah yang telah diberikan oleh Rei.


Mereka kemudian mengalihkan perhatiannya pada Rei dan mendapati pria itu menghentikan sejenak langkahnya dari kejauhan. "Tuan? tanya Maina yang kebingungan dengan sikap Rei.

__ADS_1


Seketika Rei merasakan ada sesuatu yang melesat menuju dirinya. Dan, saat akan menoleh kearah belakang, ia mendapati sebilah pedang yang melayang dengan secepat kilat.


(Zwebbb...)


Rei sempat melihat iblis itu berdiri dengan tegak, sebelum akhirnya ia menutup matanya dengan perlahan. Ia tak sempat menghindari layangan pedang yang mengenai lehernya tersebut. Pria itu seketika merubuhkan tubuhnya yang terletak tak jauh dari potongan kepalanya.


"TUAAAN!!!" Maina bersorak dengan nada yang sangat tinggi alih-alih tak terima dengan kejadian yang telah dilihatnya. Gadis elf itu dengan segera menghampiri jasad Rei yang telah terpotong menjadi dua bagian. Dengan dihantui rasa kesedihan yang amat mendalam, Maina meraih potongan kepala Rei lalu menghubungkannya dengan tubuh pria tersebut.


Rasa amarah yang telah berkecamuk dalam hatinya, membuat Maina tak mampu lagi membendung air matanya yang jatuh secara perlahan membasahi wajah pria itu. Maina mengerang terus menerus setelah mendapati orang yang telah disayanginya itu meregang nyawa secara mengenaskan. "TIDAKKK!!! TUAAAN!!! JANGAN TINGGALKAN AKU!!! HAAAARGGGHHH!!!" sorak Myuna yang menempelkan keningnya pada kening Rei seraya memukul tanah dengan kedua tangannya berulang-ulang kali.


Myuna, Myana dan Morina pun bergegas menghampiri Myuna yang telah kehilangan kendali emosinya. Mereka pun berusaha menenangkan gadis elf itu yang terus menerus memukul tanah alih-alih melampiaskan kesedihannya. "Hentikan, Maina! Tanganmu akan terluka," Myuna berusaha menahan pukulan Maina setelah mendapati tangan gadis itu memerah memar.


Morina pun mencoba memperhatikan wajah pria itu. Ia kemudian terkejut setelah mendapati Rei membuka matanya secara perlahan. Myana yang turut memperhatikannya pun seketika menjerit ketakutan seraya melontarkan kata-kata. "Aaaaaa!!! D-d-dia masih hidup!" sorak Myana.


Rei pun telah membuka matanya dengan sempurna. Ia kemudian mendapati Maina yang menatap wajahnya dengan penuh kesedihan. "Maina, berhentilah menangis," ucap Rei yang berusaha menggerakkan tangannya dari tubuh yang terpisah seraya menyeka air mata yang membasahi kedua pipi Maina.


"T-Tuan! B-bagaimana caranya kau bisa hidup k-kembali, setelah kepalamu terpenggal?" Maina diselimuti rasa heran atas keajaiban yang dimiliki oleh Rei.


"Bukan saatnya untuk dipikirkan, Maina!" Rei berusaha meyakinkan Maina untuk tidak mempedulikan keanehan yang terdapat pada dirinya.


"B-baik, Tuan!"


Setelah mendengar instruksi dari Rei, Maina dengan segera meraih kepala pria itu lalu memeluknya dengan sangat erat tanpa menghalangi pandangannya. Ia dan para gadis elf lainnya pun segera menyingkir sejauh mungkin setelah mendapati tubuh Rei berdiri dengan sendirinya. "Whoaaa!!! Hebat!" Maina terkagum saat melihat tubuh Rei bergerak menuju iblis tersebut.


Tetap hidup meskipun tanpa kepala dan tidak mengeluarkan darah sedikitpun ... hmm..., Dewa kah? batin Myuna. Ia yang menyaksikan keajaiban pada pria tersebut pun merasa heran setelah tak mendapati setitikpun darah yang mengalir dari leher Rei. Ia kemudian tertegun dan mulai meyakini bila pria itu bukanlah manusia biasa, melainkan sosok Dewa yang sedang bersemayam dalam tubuh manusia.


...****************...


Felicia merasakan kegelisahan yang terus menerus menghantuinya setiap saat. Ia pun semakin tak dapat menahan rasa cemasnya ketika Rei tak kunjung mendatangi rumah tersebut.


Hatinya telah menelan suatu firasat buruk yang selalu menjalar dalam pikirannya. Felicia yang sedari tadi terduduk diam ditengah kasurnya pun tak dapat menahan rasa kantuk yang semakin memberatkan matanya. Tuan Rei, aku merindukanmu. Cepatlah pulang, batin Felicia seraya merebahkan tubuhnya keatas kasur.


Pria itu biasanya selalu menghubungi Felicia melalui sihir telepati saat ia benar-benar dalam keadaan terdesak. Namun, hingga detik ini, Felicia tak jua menerima kabar dari Rei. Rasa kantuk yang semakin memberatkan matanya, membuat Felicia tak sengaja memejamkan matanya.

__ADS_1


"Felicia, bangunlah." ucap Sang Dewi Kesucian setelah mendapati Felicia tertidur. Sang Dewi pun berniat untuk mengunjungi Felicia karena rasa rindunya yang amat mendalam pada gadis tersebut. Ia dengan segera turun dari langit seraya menampakkan diri dan mendapati dirinya telah hadir dalam kamar Felicia.


"Suara itu..., Mamaaa!!!" Felicia terkejut setelah melihat kehadiran Sang Dewi. Gadis itu sontak memeluk Dewi Kesucian dengan penuh rasa manja. Hatinya seketika berbunga-bunga saat mendapati kunjungan Sang Dewi yang telah lama tak ia jumpai.


"Felicia, bagaimana kabarmu?" tanya Sang Dewi sambil melepaskan pelukan dari gadis itu dengan penuh kelembutan.


"Aku baik-baik saja Mama," jawab Felicia.


"Syukurlah," Dewi Kesucian melepaskan senyumannya yang begitu indah kepada Felicia.


Rei selama ini telah salah memahami sosok gadis pengawalnya. Felicia bukanlah seorang manusia yang dapat menjelma menjadi pedang belaka. Ia sejatinya tercipta dari salah satu bulu sayap sang Dewi Kesucian yang telah gugur akibat menerima serangan dari para iblis.


Diketahui pada zaman dahulu, saat tercetusnya perang perdana melawan rakyat iblis, para Dewa yang saling berjibaku dalam menghadang terjangan pasukan iblis itu pun mendapati bulu sayap mereka gugur setelah menerima serangan sihir dari iblis-iblis tersebut.


Dewa Kehancuran yang mendapati hal itu pun dengan segera menyeru kepada para Dewa lainnya untuk mengumpulkan bulu sayap mereka yang telah gugur satu persatu, guna menghindari penyalahgunaan dari sang iblis yang terobsesi dengan salah satu bagian dari tubuh para Dewa tersebut.


Felicia pun tercipta setelah sang Dewi memungut salah satu dari bulu sayapnya yang telah gugur di medan perang pasca kemenangan para Dewa. Ia kemudian memberikan anugerahnya seraya mengubah wujud bulu-bulu itu menjadi berbagai macam bentuk benda dan makhluk hidup.


Dari sekian banyaknya bulu yang gugur, hanya dua bulu yang merubah wujudnya menjadi seorang bayi manusia. Sang Dewi pun memutuskan untuk merawat kedua bayi tersebut dan membawanya menuju kahyangan.


Dewi Kesucian merasakan kebahagiaan yang luar biasa setelah mendapati kedua bayi itu hadir dalam kehidupannya. Ia merawat mereka dengan penuh kasih sayang yang tiada bandingnya. Bertahun-tahun kemudian, kedua bayi tersebut pun tumbuh dan berkembang menjadi sosok anak kecil yang sangat polos dan suci.


Ia pun memutuskan untuk memberikan nama pada kedua anak gadisnya. Felicia dan Angelina, itulah yang terpikirkan dalam benak Sang Dewi saat menatap penuh kasih sayang pada kedua gadis kecil tersebut.


Namun, setelah melewati perang besar-besaran melawan Raja iblis hingga menyebabkan kematian bagi Dewa Kehancuran yang telah mengorbankan dirinya, keseimbangan kahyangan pun menjadi tidak stabil.


Pasca perang terakhir melawan rakyat iblis, Para Dewa pun memutuskan untuk menjaga amanat dari Sang Dewa Kehancuran sebelum akhirnya, beribu-ribu tahun kemudian, mereka memutuskan untuk menjadikan Rei sebagai wadah dari reinkarnasi Dewa tersebut.


Dewi Kesucian pun terpilih sebagai Dewa pendamping Rei. Ia kemudian mengubah tubuh mungil yang hanya berlapiskan pakaian lusuh itu, menjadi sosok pria dewasa nan tampan dan gagah. Ia juga telah memberikan titipan anugerah dari para Dewa untuk pria tersebut.


Sang Dewi pun turut memberikan beberapa anugerahnya kepada Rei. Namun, Jauh sebelum hal itu terjadi, Ia menyeru pada kedua anak gadisnya terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang bersedia mendampingi Rei dalam menjalankan tugasnya. Kemudian, Felicia yang paling antusias dalam menanggapi seruan Sang Dewi pun akhirnya terpilih.


Lalu, Dewi Kesucian memberikan anugerahnya pada Felicia agar dapat mengubah wujudnya menjadi sebilah pedang. Ia kemudian menitipkan pesan pada sang gadis untuk terus melindungi Rei dan menjadikan dirinya pedang yang paling tajam untuk pria tersebut.

__ADS_1


~To be continued ~


__ADS_2