
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Violet sedang membenahi riasan di wajah nya sebelum keluar kamar, berkali-kali dia meratakan riasan nya untuk menutupi mata sembab karena semalam tidur hampir dini hari.
" Sudah cukup, semoga papa kali ini tidak mengetahui mata sembab aku " meletakkan bedak ke atas meja rias.
" Ah terasa pusing kepalaku, kenapa tugas kuliah begitu banyak di saat toko juga tidak bisa aku tinggal begitu saja " Violet meletakkan kepala di atas meja rias nya, kepalanya terasa sangat pusing tapi dia harus tetap pergi ke kampus untuk segera pengajuan judul skripsi.
Setelah beberapa saat berpikir dengan masih meletakkan kepala nya di atas meja rias, Violet meraih HP yang tergeletak di dekat nya, dia merasa harus membereskan satu demi satu masalah.
" Halo Rin " sapa Violet kepada Rina karyawan toko nya.
" Halo, iya mbak Vi ada apa, ini aku sudah mau berangkat ke toko, ada yang mbak perlukan? "
" Rin bagaimana kalau kamu tidak usah berangkat pagi ini, kita tutup saja ya toko nya untuk pagi ini, sepertinya nanti siang aku tidak bisa jaga toko deh Rin, aku harus menyelesaikan tugas di kampus dan menemui dosen " Violet berkata dengan nada yang sangat pelan dan tidak bersemangat.
" Oh begitu, tapi kalau toko tutup kok aku tidak setuju ya mbak, mbak Vio sendiri bilang kan kalau kita lagi butuh dana untuk merenovasi bagian gudang yang plafon nya berlubang dan hampir jatuh, ehm bagaimana kalau aku hari ini jaga pagi sama sore sekalian mbak? " Rina memberanikan diri untuk menawarkan solusi.
" Jangan deh sebaik nya Rin, aku takut kamu capek, aku tidak mau kamu sakit karena kecapekan nanti siapa yang menemani aku mengurus toko " suara Violet berubah menjadi kuatir.
" Jangan kuatir mbak kan aku jaga toko pagi sore juga tidak setiap hari " Rina berusaha menenangkan kegelisahan Violet.
" Begitu ya, baiklah kalau itu mau kamu, terimakasih ya Rin, aku tanpa kamu pasti sudah jadi butiran debu, semoga kita segera dapat pengganti Sinta ya "
" Aamiin, mbak Vio bisa aja sih,iya mbak aku juga berharap seperti itu "
Sinta adalah karyawan di toko Violet yang resign karena harus membantu ibu nya berjualan kue basah di pasar, dan sejak Sinta resign akhirnya Violet ikut turun tangan dalam menjaga toko bergantian shift dengan Rina. Sebenar nya Violet sudah membuat iklan lowongan pekerjaan yang dia tempelkan di depan toko nya tapi sudah hampir satu bulan belum juga ada yang melamar, dan itu sontak membuat Violet kelimpungan juga mengatur jadwal antara mengerjakan tugas kuliah dan menjaga toko.
" Aku tutup dulu telepon nya ya Rin, sudah siang mau berangkat ke kampus, terimakasih untuk kesediaan kamu hari ini bisa full jaga toko, nanti kalau urusan aku di kampus selesai aku langsung ke toko biar kamu bisa istirahat juga "
" Iya mbak aku senang melakukan ini semua, karena mbak Vio adalah bos terbaik buat Rina hehehe "
" Apa sih Rin, biasa aja kali, ya sudah aku tutup telepon nya ya "
Violet segera keluar dari kamar nya setelah melihat jam di dinding, dia harus bergegas makan pagi dan pergi ke kampus.
" Pagi papa mama " Violet langsung bergabung di meja makan dimana papa dan mama nya sudah menikmati sarapan pagi.
" Pagi dek, kak Elisa kok belum turun dek?" tanya mama yang belum melihat sosok anak kedua nya turun dari kamar nya, karena biasa nya kedua anak gadis nya turun bersamaan.
" Aku kira kak Elis tadi sudah turun ma jadi aku tidak mampir ke kamar nya, aku pikir aku sudah kesiangan jadi langsung turun saja "
__ADS_1
" Kamu bergadang lagi ya tadi malam " pertanyaan papa membuat Violet kaget, bagaimana tidak kaget karena usaha nya menutupi mata sembab dengan make up tidak berhasil mengelabui papa nya.
" Iya pa maaf, Vio harus menyelesaikan tugas karena hari ini Vio akan mengajukan judul skripsi ke dosen pembimbing " Violet menjawab dengan suara lirih.
" Kalau kamu belum mendapatkan karyawan baru dan tidak bisa membagi waktu dengan tepat lebih baik kamu tutup dulu toko kamu itu, papa tidak ingin kamu mendapat nilai jelek gara-gara pikiran kamu terpecah " papa berkata dengan tegas sehingga membuat Violet hanya bisa terdiam dan menunduk sambil melanjutkan mengunyah makanan, meskipun rasa masakan mama yang selalu terasa enak, kini terasa menjadi hambar.
Dari awal papa memang tidak begitu mendukung dengan toko Aksesoris yang di rintis oleh Violet, alasan nya hanya satu karena papa ingin Violet fokus dalam belajar dan nanti ada waktu nya sendiri untuk bekerja. Tapi dengan kegigihan nya dia dapat meyakinkan papa meskipun dengan sedikit pertengkaran kecil.
" Ingat janji kamu kalau kamu tidak akan mengorbankan apapun demi toko kecil kamu itu " papa menimpali lagi.
Deg
" Iya pa Vio ingat semua itu " hanya dengan jawaban singkat saja yang sanggup di berikan Violet agar tidak menimbulkan debat dengan papa nya.
" Sudah sudah, lanjutkan makan kamu dek nanti kamu terlambat berangkat ke kampus, papa juga segera selesaikan makan nya kata nya mau ada meeting pagi ini " mama berusaha mengakhiri situasi yang sudah canggung.
" Baik ma " hanya jawaban singkat lagi yang keluar dari mulut Violet.
" Pagi pa ma, pagi adik kecilku hehehe" sapa kak Elisa yang baru saja turun dari kamar nya.
" Pagi kakak " jawab mama.
" Iya kak, kalau gitu Vio pakai mobil mama saja ya dek " ucap mama yang langsung mengalihkan pandangan Violet dari piring karena semenjak di tegur papa dia langsung melamun.
" Tidak usah deh ma soal nya setelah dari kampus mau ke toko dulu, kemarin kata mama sore ini ada acara sama budhe jadi mobil nya mama pakai saja, aku pagi ini tetap berangkat sama kak Elis nanti biar pulang nya Vio pakai mobil online "
" Ma aku berangkat dulu ke kantor, kalian berdua hati-hati berangkat nya " papa beranjak dari kursi meja makan dan meraih tas kerja nya yang sudah disiapkan mama di atas meja ruang keluarga, lalu mama pun ikut beranjak untuk mengantar papa.
" Kenapa? ditegur papa lagi? " tanya kak Elis yang melihat Violet hanya menunduk dari tadi dan di jawab dengan anggukan kepala oleh Violet.
" Sabar, ingat apa yang selalu kakak dan mama katakan, jangan berkecil hati buktikan ke papa bahwa kamu bisa " dan Violet hanya menjawab dengan anggukan kepala lagi.
" Habiskan makanan nya dek, setelah itu kita berangkat ya " kak Elisa mengelus rambut ikal Violet memberi asupan semangat untuk adik nya, dan Violet hanya membalas dengan senyuman.
" Hari ini bawa mobil mama dek, nanti mama biar di jemput sama budhe " mama mendekati Violet dan mencium pucuk kepala anak nya, karena tau saat ini Violet butuh dukungan dari mama nya.
" Mama yakin minta jemput budhe? " Violet meraih tangan mama yang masih menempel di bahu nya.
" Yakin sayang jangan kuatir kan acara mama dengan budhe, bagi mama yang penting anak-anak mama aman dan nyaman " memeluk dan mencium pipi Violet dari belakang.
__ADS_1
" Terimakasih ya ma, mama is the best, love you mama " Violet menyentuh pipi mama yang masih mencium manja pipi nya.
" Aish manja banget sih, tidak salah kan kakak sering menyebut adik kecil " goda kak Elisa melihat kelakuan manja Violet.
" Sudah besar bukan kecil aku tuh " Violet melengos dan itu membuat mama tertawa gemas.
" Nanti usahakan tidak pulang malam lagi ya dek " ucap mama pelan.
" Iya ma Vio akan usahakan pulang secepat nya, minta do'a nya ya ma agar toko segera dapat pengganti Sinta, do'akan Vio juga ya ma agar urusan di kampus lancar "
" Iya sayang do'a mama selalu menyertai anak-anak mama "
Akhir nya setelah menyelesaikan makan Violet dan kak Elisa berangkat bersama dengan mengendarai mobil sendiri-sendiri. Dalam perjalanan Violet terus mengingat perkataan papa nya dia berpikir sebelum papa nya mencabut pemberian ijin agar toko bisa tetap buka maka dia harus segera mencari karyawan lagi.
" Ahh semangat Vio, kamu pasti selalu bisa menyelamatkan toko itu apapun cara nya, ada Rina yang bergantung hidup dari toko itu jadi kamu tidak boleh menyerah. Selesaikan tugas kampus dan segeralah mencari solusi dengan cepat untuk toko kamu " Violet bergumam sendiri di dalam mobil.
Setelah 20 menit Violet sampai di parkiran kampus, melihat jam yang ada di pergelangan tangan nya dia tersenyum dan lega karena masih ada waktu 15 menit lagi untuk menemui bu Riani dosen pembimbing nya. Violet berjalan ke arah taman dekat perpustakaan dan duduk di salah satu kursi taman, dia mencoba merilekskan pikiran terlebih dahulu sebelum menemui bu Riani dengan menikmati suara gemericik air mancur yang ada di dekat kursi nya. Dia hirup dalam-dalam udara pagi yang masih segar sambil melepaskan kembali dengan pelan-pelan.
" Hei Let " sapa Johan yang seketika membuat Violet membuka mata nya kaget.
" Kebiasaan kamu tuh selalu bikin kaget, pelan-pelan kenapa sih manggil nya " kesal Violet karena merasa terganggu oleh Johan, dan itu membuat bibir nya manyun cemberut.
" Hehehe, mikirin apa kok diam sambil mata kamu terpejam " Johan memandang lekat wajah Violet yang selalu dia kagumi dalam diam.
" Tidak mikir apapun cuma mau rileks saja soal nya habis ini kan aku mau ketemu bu Riani " masih dengan wajah cemberut.
" Kamu jadi hari ini pengajuan judul? ck bikin illfeel saja kamu Let, aku saja belum siap dengan judul skripsi " keluh Johan dan kali ini membuat Violet tersenyum.
" Kamu tau kan Jo banyak yang harus aku lakukan apalagi mengurus toko juga jadi aku ingin segera selesai, kamu yang semangat dong kata nya pingin segera lulus habis itu kerja dan nikah hahaha " kali ini Violet tertawa lepas menggoda Johan.
" Nikah sama kamu ya Let " Johan memancing tanggapan Violet dengan tersenyum.
" Ih nikah sama aku Jo, apa jadi nya nanti kalo kita nikah, aku yakin dunia tidak akan baik-baik saja " jawab Violet asal dan masih disertai dengan tawa nya.
" Kamu belum tau saja Let bagaimana jika aku sudah serius dengan perempuan " Johan menundukkan kepala nya, entah bagaimana lagi cara dia mengendalikan rasa yang dia simpan dalam diam untuk Violet.
" Eh jo bu Rania sudah kirim pesan ke aku suruh menemui di ruangan nya, aku tinggal dulu ya next kita ngobrol lagi, semangat ya segera selesaikan yang harus kamu perjuangkan " Violet mengepalkan tangan nya ke atas untuk menyemangati Johan dan langsung berlalu pergi dengan berlari kecil.
" Kamu salah satu yang ingin aku perjuangkan Violet, tapi aku tidak tau harus menyelesaikan dengan cara apa karena aku tidak tau juga harus memulai dari mana " gumam Johan dalam hati sambil terus memandang sosok Violet yang semakin jauh berlalu.
__ADS_1