
" Bagus kan kak pemandangan nya? " Violet mengedarkan pandangan menatap kagum atas keindahan ciptaan Tuhan.
" Iya, amazing ini Vio "
Hembusan angin sepoi-sepoi menerpa kulit di tambah dengan udara puncak pegunungan yang sangat dingin membuat Dewa sedikit kuatir.
" Pakai jaket nya dulu nanti kamu kedinginan "
" Hehehe, dingin sih tapi tidak masalah aku masih baik-baik saja "
" Kalau aku tau udara nya begitu dingin seperti ini lebih baik tadi aku menolak ajakan kamu kesini " rasa bersalah tiba-tiba menghampiri Dewa, ingat dengan pesan kak Hafis.
" Eh kak Dewa tidak suka ya dengan suasana yang seperti ini? " salah mengartikan ucapan Dewa.
" Aku hanya kuatir sama kamu Vio, kamu kan tidak kuat dengan udara dingin seperti ini " menatap Violet dengan tatapan sendu penuh kekuatiran.
" Jangan berlebihan deh kak, aku ini sudah besar jadi bisa mengendalikan diri "
" Sudah ayo di pakai dulu jaket nya, atau kita kembali saja ke villa "
Rasa kuatir Dewa sudah di luar nalar bagi Violet, kenapa juga begitu kuatir dan perhatian batin Violet. Tapi dari pada berdebat Violet menurut saja kemauan Dewa, tanpa menunggu nanti Violet memakai jaket yang sudah disiapkan oleh Dewa.
" Nah gitu, aku hanya ingin kamu tetap aman Vio, kalau masih dingin pakai punya aku juga ya "
" Kak Dewa, sudah kak ini sudah cukup ya, jangan kuatir lagi " Violet memberikan senyum terbaik nya agar Dewa lebih tenang.
" Ayo di minum dulu jeruk nya, biar badan kamu hangat " kini Dewa menyodorkan gelas ke arah Violet.
Violet meminum jeruk panas sambil kembali mengedarkan pandangan menikmati pemandangan di depan nya.
" Sering kesini? " tanya Dewa saat di melihat mata Violet yang berbinar senang.
" Tiga kali ini kak " menoleh, senyum lagi.
" Sama siapa ke sini? " entah kenapa jadi muncul rasa penasaran bagi Dewa.
" Pertama sama kak Hafis dan kak Elis waktu kita liburan di villa, kedua bersama Johan, dan ketiga bersama kak Dewa "
" Hanya berdua sama Johan? pasti dokter Hafis tidak tau kalau kamu ke sini bersama Johan "
Dewa yakin kakak nya Violet itu tidak akan mengijinkan adik nya pergi berdua dengan lelaki yang tidak begitu di kenal.
" Kak Dewa ih, kenapa tau kalau aku tidak ijin, waktu itu mendadak kak karena aku lagi benar-benar ingin refreshing jadi aku bolos kuliah dan mengajak Johan ke sini, tapi itu sudah lama kak "
" Jangan di ulangi lagi, hindari pergi berdua dengan lelaki meskipun lelaki itu sudah kamu anggap sahabat kamu, apalagi pergi nya tanpa ijin ke keluarga "
" Beda ya? sekarang kan aku juga pergi berdua dengan lelaki, masih mending Johan sudah sahabat dan kenal lama sama aku, lha dengan kak Dewa kan baru kenal sebentar "
" Beda, karena aku sudah ijin dan dapat ijin, dan meskipun kita baru kenal tapi aku punya jaminan orang tua aku untuk orang tua kamu, jadi misal terjadi apa-apa jelas ada yang akan bertanggung jawab atas diri kamu " Dewa membela diri dan tidak mau dibandingkan dengan Johan.
" Hahaha, kak Dewa ini ya " Violet tertawa sambil menggelengkan kepala mendengar ucapan Dewa yang begitu serius.
HP Violet berdering, di layar HP tertera nama Rina melakukan video call, dan tanpa menunggu lama Violet pun menerima panggilan dari Rina.
" Halo Rin "
" Mbak Vio dimana? " Rina berbicara sambil berbisik, terlihat wajah Rina yang tidak tersenyum seperti biasa nya.
" Hai Rin ada apa? aku masih di luar kota acara keluarga " Violet memang tidak berpamitan kepada Rina karena dia benar-benar tidak ingin memikirkan toko dan dia yakin Rina bisa diandalkan untuk mengurus toko.
" Mbak ini ada mas Candra, dia ke sini mencari mbak Vio dan dia minta nomer HP mbak Vio, sudah aku bilang kalau aku tidak berani memberikan nomer HP mbak Vio tapi dia malah duduk di sofa dan mengancam tidak akan pergi dari toko sebelum di beri nomer nya mbak Vio, bagaimana ini mbak? " wajah Rina terlihat panik sesekali melihat ke arah pintu gudang takut Candra mengikuti nya sampai ke gudang.
__ADS_1
Violet menghembuskan nafas panjang, jika dia bertahan tidak memberikan nomer HP nya maka karyawan dan toko nya dalam posisi tidak nyaman, tapi kalau dia memberikan nomer HP nya maka dia sendiri yang akan kesulitan. Violet terdiam sebentar sepertinya memikirkan sesuatu sambil menunduk sedangkan Dewa sudah terlihat kuatir melihat Violet.
" Kak Dewa bantu aku ya " Violet menoleh ke arah Dewa.
" Rina berikan HP kamu ke dia "
" Iya mbak aku tutup dulu ya telepon nya "
" Tidak perlu Rin, langsung saja, sekarang " perintah Violet dengan tegas.
" Oh baik mbak " dan Rina berjalan cepat ke arah Candra.
" Mas ini mbak Vio mau bicara "
Tanpa menjawab Candra langsung menyambar HP yang masih di bawa Rina.
" Violet, harus ya aku mengancam dulu baru kamu mau bicara sama aku? "
" Ada apa mas, langsung saja ke point nya, untuk apa minta nomer HP aku? " suara Violet berubah menjadi sedikit ketus dan wajah nya terlihat sangat kesal.
" Tenang kan diri kamu dulu sayang, aku tidak bisa jika bicara sama kamu lewat telepon seperti ini, kita bertemu dan kita selesaikan semua nya, aku akan menjelaskan ke kamu dengan baik-baik dan kita bisa memulai hubungan kita dari awal lagi, beri aku kesempatan Vio, aku mencintai kamu "
Dewa masih belum mengerti apa yang terjadi antara Violet dengan lelaki bernama Candra, tapi dari sikap Violet yang dingin dan enggan menatap Candra di tambah dengan mata Violet yang sudah berkaca-kaca ingin menangis, itu menandakan bahwa hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.
" Mas tolong ya jangan ganggu aku terus, sudah tidak ada yang perlu di bahas lagi, aku mohon kamu mengerti "
" Aku tidak bermaksud mengganggu kamu Vio, tidak sama sekali, aku melakukan ini semua karena aku ingin menebus kesalahan aku ke kamu, aku masih sangat mencintai kamu Vio bahkan rasa cinta ini semakin besar untuk kamu "
" Maaf mas, itu sudah tidak mungkin, aku sudah tidak bisa bersama kamu lagi "
" Aku tau aku salah, aku menghancurkan kepercayaan kamu, tolong sayang maafkan aku "
" Sudah cukup, aku tidak bisa bersama kamu mas karena saat ini aku sudah punya calon suami "
" Hah, semua itu alasan klasik dan aku tidak percaya sama sekali, asal kamu tau sayang, selama ini kamu tidak lepas dari pandangan aku jadi aku tidak percaya dengan ucapan kamu. Selama kita tidak bersama aku yakin kamu masih sendiri kecuali hanya Johan lelaki yang ada di samping kamu tapi dia pun hanya sebatas sahabat kamu saja " dengan begitu percaya diri Candra yakin bahwa Violet tidak pernah ada hubungan dengan lelaki lain selepas bersama nya.
" Kata siapa itu alasan klasik, dan untuk sekarang kamu harus percaya atas apa yang di ucapkan oleh Vio, aku adalah Dewa calon suami Violet "
mata Candra membelalak saat melihat di layar HP Violet kini ada wajah lelaki yang mengaku calon suami Violet.
" ****, kamu mau membohongi aku dengan cara apa lagi Vio? aku yakin ini hanya akal-akalan kamu agar aku menjauh dari kamu "
Candra sedikit pun tidak menggubris apa yang di ucapkan oleh Dewa.
" Aku peringatkan ya, mulai sekarang jangan pernah berusaha mendekati atau mengganggu calon istri ku " entah mengapa wajah Dewa pun terlihat marah dan seperti orang yang cemburu.
" Berikan HP nya ke Violet, aku tidak ada kepentingan dengan mu " akhir nya Candra juga tersulut emosi.
" Tidak untuk saat ini dan selama nya, Violet sekarang adalah milikku kamu mengerti "
Panggilan video call pun langsung di matikan oleh Dewa, tanpa menunggu ucapan lagi dari Candra.
" Maaf kak Dewa jadi terlihat dengan masalah aku " menunduk lagi dan sudah keluar air mata meskipun dengan sekuat apapun Violet menahan nya.
" Tidak masalah, asal kamu tidak dalam masalah " menaruh HP Violet di atas meja.
" Terimakasih kak " suara Violet terdengar serak.
" Kenapa? siapa dia? sudah jangan menangis " Dewa mengusap pelan bahu Violet.
" Aku selalu takut dengan dia kak " Violet masih enggan untuk bercerita bahkan untuk mengingat Candra dia sudah muak.
__ADS_1
" Jangan takut Vio, ada aku yang sudah masuk dalam masalah kalian, jika kamu membutuhkan bantuan aku katakan saja "
Violet hanya mengangguk sambil berkali-kali mengusap air mata nya yang tidak bisa berhenti mengalir, dan bahkan semakin terisak.
" Jangan seperti ini Vio, aku tidak bisa mendengar suara tangis kamu " dengan nada lembut Dewa berusaha menenangkan Violet.
Violet malah semakin menangis tersedu mendengar ucapan Dewa, iya karena ucapan lembut itu pernah dia dengar dari mulut Candra. Gejolak di hati Violet tidak bisa terbendung, rasa sakit dan kecewa berbaur jadi satu sejak kejadian itu.
" Sudah jangan menangis " akhir nya Dewa pun tidak tahan untuk meraih tubuh Violet lalu memeluk nya, meskipun ada rasa canggung tapi dia lawan demi untuk memberi ketenangan untuk Violet.
" Kak Dewa " Violet ingin berontak dengan perlakuan Dewa tapi juga enggan untuk lepas dari pelukan Dewa.
" Sudah seperti ini dulu sampai kamu tenang "
" Aku dan dia dulu sangat dekat kak, bahkan satu kampus menilai kami sedang berpacaran, aku nyaman bersama dia, dan kami pun selalu bersama, tapi semua itu hancur kak, beberapa saat setelah dia menyatakan cinta nya ke aku dia berubah, Candra tidak bisa melindungi fitrah ku sebagai perempuan, aku hampir di lecehkan oleh nya " tangisan Violet semakin kencang.
" Jangan di ingat jika itu membuka luka hati kamu " tanpa sadar Dewa mencengkeram bahu Violet ikut merasakan marah atas cerita yang barusan dia dengar.
" Aku sudah berusaha melupakan dia kak, bahkan aku muak jika mengingat dia, tapi aku selalu di ganggu, empat tahun kak dia bersikap seperti itu ke aku, hidup aku tidak tenang dengan teror sikap dan ucapan cinta nya ke aku, aku benci semua itu hingga beberapa waktu yang lalu akhir nya aku blokir nomer dia "
" Jangan takut ya, aku akan bantu kamu, semua akan berakhir Vio "
" Maaf ya kak, gara-gara aku acara kita berubah jadi begini, malu juga aku sampai kak Dewa mengaku sebagai calon suami aku "
Violet segera menarik tubuh nya dari pelukan Dewa, wajah nya kini terlihat memerah karena malu.
" Tidak masalah, aku suka melakukan itu sama kamu, semoga menjadi doa terbaik buat kita "
" Maksud nya kak " mengusap mata dan pipi membersihkan sisa air mata.
" Ingat bagi lelaki itu aku adalah calon suami kamu jadi jika dia mengganggu kamu lagi bilang ke aku, kalau perlu aku akan datangi dia "
" Kak Dewa tidak perlu terlalu jauh juga masuk dalam masalah aku, tidak semestinya begitu kak, sudah cukup terima kasih ya untuk bantuan hari ini "
" Kamu tau seorang lelaki kalau sudah benar-benar jatuh cinta dia sulit untuk menyerah dengan mudah nya, aku yakin dia masih tidak percaya dengan pengakuan kita tadi " Dewa berusaha menyadarkan Violet akan hal penting yang harus dia ketahui.
" Benar juga ya kak, apalagi tadi tadi dia bilang kalau aku tidak pernah lepas dari pandangan dia "
" Itu arti nya dia selalu mengawasi kamu Vio " memperjelas maksud ucapan nya.
" Kak Dewa bagaimana kalau Candra tau bahwa hubungan kita memang bohong, kita kan tidak sering bertemu kak " kali ini Violet baru sadar dan merasa kuatir.
" Dan itu arti nya kita memang harus sering bertemu " ada senyum simpul di bibir Dewa.
" Mana mungkin kak Dewa, aku kan juga tidak mau membebani kak Dewa, kakak juga sibuk kan, ah maaf ya kak, aku tadi hanya berpikir dari satu sisi tanpa memikirkan resiko nya " Violet merasa bersalah.
" Aku sudah bilang akan membantu kamu sampai dia menyerah untuk memperjuangkan kamu, mulai sekarang kita harus sering pergi bersama atau kalau perlu aku akan antar jemput kamu jika kamu keluar rumah " entah ide gila apa yang muncul di kepala Dewa.
" Hehehe, kak Dewa bisa saja, nanti judul nya Candra menyerah tapi kita dapat masalah baru "
" Apa itu masalah nya? "
" Bisa-bisa kak Dewa di mintai pertanggung jawaban dari papa karena sering pergi berdua sama aku " Violet menutup wajah nya karena bingung sendiri.
" Hahaha, ya bagaimana lagi, itu bagian dari resiko aku karena sudah berjanji akan membantu kamu "
" Kak Dewa jangan terbebani dengan apapun ya, aku pasti akan baik-baik saja kak " berusaha mengurai benang kusut yang barusan dia ciptakan dengan menampakkan bahwa dia adalah wanita kuat yang bisa mengatasi masalah nya sendiri.
" Kamu pun jangan menghalangi aku saat aku ingin menepati janji aku "
" Baiklah-baiklah kak, terserah kak Dewa saja "
__ADS_1
Dewa tersenyum melihat Violet yang sedang kebingungan, bagi Dewa ini adalah ekpresi Violet yang sangat menggemaskan dan membuat Dewa semakin ingin menggoda saja.