Toko Violet

Toko Violet
Saran dan solusi


__ADS_3

" Vio bagaimana? " tanya Sandra saat melihat Violet sudah mendekati nya, dan Johan pun langsung mendongak melihat kedatangan Violet.


" Ada beberapa revisi, tapi alhamdulillah tidak banyak juga, lusa di suruh mengajukan lagi " Violet menghela nafas panjang membuang sedikit kecewa.


" Ah kamu yang orang nya teliti dan cekatan saja ada revisi, terus bagaimana dengan aku Violet " Johan masih saja berkeluh kesah padahal dia sama sekali belum mengerjakan skripsi nya.


" Ayolah Jo yang semangat, kalau tidak segera kamu mulai nanti kapan berakhir nya " Violet berusaha memberi semangat ke Johan.


" Apa semua yang di mulai pasti akan berakhir? " pertanyaan Johan yang tidak jelas membuat Sandra mengerutkan alis nya.


" Jo semua yang kita mulai pasti ada akhir nya, dan akan membawa dampak pada diri kita, selesai dengan hasil indah dan bahagia atau selesai dengan hasil jelek dan kecewa, kita yang dilahirkan pun juga akan menghadapi kematian kan jadi ada permulaan dan pasti ada akhir nya " Violet membuat perumpamaan atas pertanyaan Johan.


" Kalian berdua itu sebenarnya bahas tentang apa sih? " Sandra bingung lalu memandang Johan dan Violet bergantian.


" Hahaha aku pun tak tau San " jawab Violet ikut bingung.


" Itulah yang aku takutkan, jika aku memulai nanti pada akhir nya yang aku dapatkan adalah kekecewaan bahkan bisa lebih fatal dari itu " Johan masih terus membahas sambil memandang Violet dengan lekat.


" Jo hidup itu adalah pilihan dengan segala resiko nya jadi harus berani mengambil sikap, ayolah kamu ini sebenarnya kenapa sih Jo, apa kamu ada masalah dengan tugas skripsi ini, perlu aku bantu? " Violet baru tersadar sepertinya Johan sedang mengalami masalah.


" Kenapa kamu selalu baik sama aku Vio?, tidak ini bukan masalah skripsi, sudahlah jangan dibahas lagi " Johan menundukkan kepala nya.


" Eh anak ini, kamu kira hanya Vio yang baik hati, aku tuh juga sering bantu mengerjakan tugas kamu tau " Sandra yang tersinggung langsung berkomentar sambil memukul bahu Johan.


" Mulai kan mulai, kapan sih kalian tidak bertengkar " Violet tertawa melihat kedua sahabat nya yang selalu berdebat dan bertengkar.


" Itu salah satu point mengapa aku tidak menyebut nya baik hati " Johan menahan senyum karena ucapan nya sendiri.


" Dasar kamu ya, awas saja nanti kalau minta pertimbangan saat ada tugas " Sandra melengos cemberut menanggapi perkataan Johan.


" Jangan nge gas ah, nanti aku belikan es krim vanila satu box ya " kebiasaan Johan selalu membawakan es krim vanila jika Sandra membantu nya mengerjakan tugas.


" Hem aku juga mau " celetuk Violet sambil fokus menatap HP nya.


" Nanti kamu aku bawakan bunga Vio " jawab Johan.


" Tidak mau, gak bisa di makan, aku mau nya sama seperti Sandra tapi yang rasa coklat " menoleh ke arah Johan sambil menjulurkan lidah nya mengejek.


" Dasar tidak peka " gumam Johan lirih tapi masih terdengar oleh Sandra.


" Eh " batin Sandra sambil menoleh ke arah Johan.


" Iya halo ma ada apa? " Violet menerima telepon dari mama sambil pergi berlalu dari tempat duduk.


" Jo " panggil Sandra.


" Hem "


" Kamu suka sama Vio? " tanya Sandra langsung tanpa basa basi lagi.


" Maksud kamu apa? " tanya Johan balik.


" Kamu suka sama Vio? " Sandra kembali mengulang pertanyaan nya.


" Jangan buat argumentasi sendiri, aku hanya kagum " jawab Johan sambil memainkan HP nya.


Jika dibandingkan dengan Violet, Johan memang lebih dekat dengan Sandra karena Sandra adalah teman dari SMA. Sedangkan dengan Violet dia hanya dekat sebatas sahabat, disisi lain karena perasaan Johan terhadap Violet yang sudah dianggap sebagai wanita idaman nya membuat Johan sedikit menjaga image di depan Violet.


" Kalau kamu suka bilang saja ke dia, jangan di pendam seperti ini " Sandra berusaha memberi saran kepada Johan.

__ADS_1


" Tidak semudah itu menaklukkan hati nya San, tau sendiri kan dia hanya fokus pada impiannya saja tanpa ingin menjalin hubungan dengan siapapun " ya Violet memang pernah mengikrarkan impian nya kepada Johan dan Sandra yang sudah dia anggap sebagai sahabat.


sebelum dia merasa cukup impiannya tercapai maka dia enggan untuk menjalin hubungan percintaan yang dia anggap rumit, dia masih fokus dengan bisnis dan kuliah nya dan tidak ingin terpecah karena urusan yang bagi dia belum waktu nya untuk dipikirkan.


" Tapi apa salah nya mencoba Jo " kembali Sandra memberi semangat ke Johan.


" Aku belum bisa menerima resiko nya San, nanti kalau dia marah bagaimana?, sedangkan bagi dia harus nya aku paham kalau dia tidak ingin menjalin hubungan khusus terlebih dahulu, apalagi di saat seperti ini dia sangat fokus dengan skripsi nya " tanpa di sengaja Johan curhat kepada Sandra.


" Jo segera selesaikan skripsi kamu, dan setelah semua beres katakan kepada Vio maksud hati kamu, aku yakin saat itu skripsi dia juga sudah selesai jadi dia pasti akan mempertimbangkannya " tiba-tiba Sandra punya ide gila buat Johan, selain menyemangati sahabat nya agar segera memulai buat skripsi dia juga berpikiran kalau Violet tidak akan bisa menolak dengan mudah nya karena satu dari impiannya pun sudah terlampaui yaitu lulus kuliah.


" Terimakasih semangat dan saran nya San, akan aku coba menata hati terlebih dahulu, sudah hentikan membahas ini, Vio berjalan ke arah kita " Johan melirik langkah Violet yang mendekat kembali ke arah kursi.


" Aku pergi dulu ya, mama aku sakit tekanan darah nya tinggi lagi dan minta di antar periksa ke klinik " ada raut kuatir di wajah Violet.


" Kamu hati-hati ya Vio, kalau ada apa-apa kabari aku " Sandra memegang tangan Violet untuk sedikit memberi semangat ke Violet.


" Pasti itu, terimakasih ya " Violet menepuk pelan genggaman tangan Sandra.


" Jo aku duluan ya, semangat buat kamu ingat segala sesuatu yang di mulai selalu ada resiko nya " Violet memberikan senyum terbaik nya untuk Johan.


" Terimakasih ya Vi, kamu hati-hati di jalan " Johan mengacungkan jempol nya seakan menyetujui ucapan Violet.


" oke Bye semua " Violet berlari kecil meninggalkan kedua sahabat nya untuk pergi ke parkiran, sedangkan Johan tidak berhenti memandang kepergian Violet.


" Sudah jangan hanya di pandang tapi harus di perjuangkan hehehe " Sandra menepuk lengan Johan.


" Aku mau ke perpustakaan San, cari bahan literasi, kamu mau ikut " Johan sudah beranjak berdiri dari kursi.


" Cie yang mau segera selesai skripsi nya " goda Sandra sambil tertawa.


" Ngacau kamu, ada dan tidak ada rasa itu aku juga harus cepat menyelesaikan skripsi " bantah Johan dengan menekan suara nya.


" Tapi kan sekarang lebih semangat lagi, soal nya ada dua tujuan yaitu lulus dan mengungkapkan perasaan " Sandra menutup mulut nya yang masih tertawa.


" Maaf aku sudah ada janji dengan Galih jadi kamu sendirian saja ya, setelah ini aku dijemput hehehe "


" Ya sudah kalau gitu aku pergi dulu, salam ke Galih dan jangan macam-macam kalian kalau berpacaran " Johan langsung pergi melambaikan tangan sambil berlalu.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


" Mama pusing? bagaimana kalau kita masuk ke ruangan kakak dulu sambil menunggu kakak meeting " mama yang sakit tapi Violet yang bersandar di lengan mama sambil bergelayut manja.


" Tidak perlu mama tidak begitu pusing, kita tunggu di sini saja, mama lebih suka melihat orang berlalu lalang "


" Mama mikir apa sih, kok sampai tinggi sekali tekanan darah nya? "


" Mama tidak mikir apapun dek, cuma mama sedikit kurang tidur saja " mama berusaha mengelak.


" Kenapa kurang tidur sih ma? " masih terus mencecar pertanyaan ke mama.


" Entahlah tiap jam 2 dini hari mama sudah mulai terjaga tidak bisa tidur " keluh mama.


" Nah itu arti nya mama sedang memikirkan sesuatu, ada apa sih ma? " Violet tidak menyerah berhenti bertanya ke mama.


" Bagaimana ya dek, mama selalu teringat hubungan kak Elisa dengan Radit, kakak kamu semakin bertambah umur tapi Radit masih terobsesi meraih S3 nya " suara mama sudah mulai lirih dan serak menahan tangis.


" Ma aku pun merasa begitu tapi jangan di pikir sendiri, coba bicarakan ini dengan papa nanti kalau sudah ketemu solusi nya baru bicara dengan kak Elis " Violet mengangkat kepala nya dan membelai pipi kanan mama nya.


" Sudah pernah mama sampaikan ke papa tentang kekuatiran mama dek tapi jawaban papa, memang Radit masih menempuh study ya bagaimana lagi, memang ya keluarga Radit juga sudah minta ijin ke keluarga kita agar sabar menunggu sampai Radit lulus, tapi bagaimanapun kak Elis itu perempuan jadi mama ikut kuatir dengan gunjingan di luar dek terutama dari keluarga mama " mama menunduk sudah ingin menangis.

__ADS_1


" Eh tidak boleh nangis, tidak boleh sedih nanti naik lagi tensi nya " Violet menangkup wajah mama nya kemudian mencium pipi mama.


" Mama sedih dek, mama tau kakak kamu pasti juga ingin segera di halal kan tapi seperti nya kakak kamu tidak bisa berbuat lebih dari yang dia ingin kan " akhir nya meluncur juga air mata mama.


" Mama, sudah sudah jangan nangis, nanti Vio coba ya tanya bagaimana dan apa yang sebenar nya kak Elis mau, jadi nanti kita bisa ambil langkah apa yang harus nya kita lakukan " Violet mencoba menenangkan mama.


" Jangan kuatir kan apapun ma, serahkan segala urusan kepada Tuhan, yakinlah ma apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan dan itu pasti yang terbaik untuk kita " Violet berusaha tersenyum agar mama nya segera tenang.


" Terimakasih mama sudah di ingat kan, kamu itu ya ternyata sekarang sudah dewasa " mama ikut tersenyum setelah mendengar ucapan Violet yang sangat bijak.


" Vio bukan anak kecil lagi mama "


" Tapi kak Hafis bilang kamu masih lucu dan menggemaskan " mama mencubit dagu lalu mencubit hidung Violet.


" Karena aku suka di manja kak Hafis ma jadi aku selamanya akan berlagak lucu dan menggemaskan di depan kakak hahaha " Violet tertawa karena mengingat betapa kak Hafis selalu memanjakannya.


" Kakak sama adik nya sama saja " mama ikut tertawa menimpali.


" Dek janji ya tolong bicara pelan-pelan ke kak Elis, sungguh mama tidak tega jika bicara langsung ke kakak kamu soal Radit, mama takut sebelum bicara mama tidak bisa menguasai emosi dan menangis "


" Iya mama, dan mama sekarang jangan mikir berlebihan ya, yakin ma yakin semua pasti ada solusi nya " kembali bergelayut manja ke lengan mama.


" Kalau kamu sudah punya pacar belum dek? " goda mama.


" Nanti saja kalau sudah ada yang cocok hehehe " dan tidak sengaja Violet melihat sosok yang baru dia kenal keluar dari lorong.


" Kak Dewa " Violet langsung menyapa Dewa yang hanya fokus berjalan lurus ke depan.


" Violet " Dewa langsung berhenti saat tau ada yang menyapa.


" Hehehe ketemu lagi ya kak " dengan wajah malu Violet basa basi.


" Jodoh mungkin ya hehehe " deg Dewa kaget sendiri dengan ucapan nya.


" hehehe bisa saja kak Dewa "


" Kok disini, siapa yang sakit? " tanya Dewa.


" Mama kak, periksa ke dokter spesialis dalam, kak Dewa apa juga periksa? "


" Ehm, iya hanya cek rutin saja "


" Oh cek laboratorium ya kak, memang perlu ya kita rutin cek kesehatan " Violet menimpali.


" Tante sakit apa? " tanya Dewa sambil mendekat ke arah mama dan bersalaman.


" Ma ini kenalkan nama nya kak Dewa "


" Dewa tante " Dewa memperkenalkan diri


" Ah iya nak Dewa, tante hanya tensi nya sedikit naik saja "


" Oh ya, nak Dewa ini kakak tingkat nya Vio? " mama penasaran siapa Dewa.


" Bukan tante saya hanya pengagum produk bros di toko Violet tante " tersenyum sambil melirik ke arah Violet.


" Begitu ya, tapi nak Dewa tidak memakai bros buatan Vio kan? "


" Mama " tegur Violet.

__ADS_1


" Hahaha bukan saya tante tapi mama yang pakai, tante ini bisa saja " Dewa tertawa membayangkan kalau diri nya yang pakai bros.


" Maaf ya kak, mama ini ada saja sih " Violet malu dengan apa yang dikatakan mama.


__ADS_2