Toko Violet

Toko Violet
Bertemu lagi


__ADS_3

Hari ini Violet ijin ke papa dan mama nya jika pulang saat toko sudah tutup, dia mengatakan akan menyelesaikan bros yang di pesan oleh budhe karena besuk dia akan ke kampus dan takut tidak punya waktu untuk menyelesaikan pesanan. Kali ini Violet menggunakan nama budhe nya sebagai alasan karena dia tau papa nya tidak akan bisa menegur kalau sudah berurusan dengan kakak pertama nya itu, ya meskipun harus tetap membumbui ijin seakan-akan mengutamakan urusan di kampus.


Papa hanya menjawab pesan Violet dengan singkat " Ya, jangan kecapekan ". Sedikit perhatian dari papa selalu menjadi mood booster untuk diri nya dan entah Violet langsung merasa semangatnya muncul dengan tiba-tiba.


Setelah kepergian Deasy dan Dewa, Violet langsung masuk ke gudang lalu duduk di meja produksi dan memulai membuat pesanan bros budhe. Saat buat pesanan bros limited edition Violet tidak pernah di bantu oleh siapapun jadi bros-bros itu murni buatan dari tangan dan kreasi nya. Tapi saat ada pesanan bros untuk souvenir yang sekiranya tidak membutuhkan keterampilan khusus maka Violet dibantu mengerjakan oleh Rina.


" Rina aku bawa bolu kukus, sebelum aku pergi ke toko tadi aku bantu mama buat bolu dulu " Violet memanggil Rina yang masih sibuk menata beberapa barang yang baru datang.


" Siap mbak Vio, sebentar ini nanggung aku selesaikan dulu ya "


" Iya "


" Kamu pulang saja sekarang Rin, biar aku yang jaga toko sambil menyelesaikan bros ini "


" Mbak, boleh kan selama satu minggu ini aku masuk shift pagi lanjut sore " jawab Rina saat masuk ke ruang gudang.


" Eh jangan Rina, nanti kamu kecapekan " Violet menjawab sambil tetap fokus merangkai bros.


" Tidak apa-apa mbak, lagian besuk ada karyawan baru jadi aku juga bisa santai kan, biar mereka yang melayani pembeli dan aku hanya duduk di meja kasir, sekalian mbak aku akan ajari mereka supaya cepat pintar menguasai protap pelayanan di toko ini " Rina sudah duduk di meja samping Violet lalu membuka kardus yang berisi bolu kukus.


" Yakin kamu tidak akan kecapekan selama satu minggu ini masuk full shift? " Violet menoleh ke arah Rina yang sudah menikmati makan bolu.


" Iya yakin sekali mbak " jawab Rina dengan suara hampir tidak jelas karena bicara sambil mengunyah.


" Tapi kalau sudah merasa capek kamu bilang ke aku ya, dan semua jerih payah kamu selama seminggu ini aku hitung lembur hehehe "


" Terimakasih mbak, ini 25 bros akan mbak selesaikan hari ini juga kah? mau aku bantu menyiapkan bahan nya? " meskipun Rina tidak pernah membuat bros limited edition tapi dia sangat mahir menyiapkan bahan paduan bros karena sering dimintai tolong oleh Violet.


" Iya boleh, aku selesaikan sekarang Rin dan tolong besuk ajari Dini sama Meta untuk mengemas ya biar sore bisa di ambil budhe ke toko "


" Oke siap mbak " Rina menggeser kursi nya untuk pindah meja dan berhadapan dengan Violet untuk menyiapkan bahan.


" Besuk aku belum tentu datang ke toko ya jadi untuk urusan Dini dan Meta aku serahkan ke kamu, besuk juga ada tukang, tadi pagi pak Ji sudah aku telepon untuk datang ke toko benahi atap plafon, seperti biasanya ya Rin belikan pak Ji minuman dan makanan "


" Siap dilaksanakan semua perintah hehehe "


" Terimakasih banyak ya Rin, sungguh kamu totalitas sekali menghandle semua keperluan toko "


" Sama-sama mbak, aku senang melakukan nya karena toko ini sudah jadi bagian hidupku, dengan toko ini aku bisa bantu bapak sama ibu untuk beli tanah biar kita tidak kontrak rumah lagi, do'akan keluarga Rina ya mbak biar cepat bisa bangun rumah sendiri " ada rasa bahagia dengan mata berkaca-kaca saat Rina cerita.

__ADS_1


" Wah serius Rin, aku turut senang untuk itu, kamu itu ya kalau butuh sesuatu jangan sungkan bilang sama aku " Violet meletakkan bros yang di pegang nya kemudian meraih tangan Rina karena kaget dan ikut senang dengan pencapaian keluarga Rina.


" Serius dong mbak, terimakasih ya berkat mbak Vio dan keluarga mbak kami bisa nabung "


" Kami hanya perantara rejeki kalian dari Tuhan, jadi tidak perlu berlebihan untuk berterimakasih"


" Ya ya ya, begitulah mbak Vio yang hobi lain nya selalu merendah hahaha " tawa Rina membuat Violet langsung cemberut dan melepaskan genggaman tangan Rina lalu melanjutkan merangkai bros.


Tepat jam 8 malam pintu toko di tutup, omset hari ini pun mendapat sangat banyak dan itu membuat Violet dan Rina keluar dari toko dengan sangat bahagia.


Di perjalanan pulang Violet tiba-tiba membelokkan mobil nya ke gerai penjual martabak, dia teringat papa nya yang sangat suka martabak telor dan mama nya yang suka martabak manis.


" mas mau martabak telor bebek spesial 1 sama martabak manis spesial satu ya, atas nama Violet " setelah memesan dan membayar Violet mencari tempat duduk karena memang yang antri masih banyak, setelah duduk dia mengambil HP nya untuk memberi kabar ke mama kalau dia masih mampir beli martabak.


Sejak Violet turun dari mobil, ada sepasang mata yang melihat nya dengan lekat bahkan nyaris tidak berkedip sambil menyunggingkan senyum di bibir nya. Ya dia adalah Dewa lelaki yang datang ke toko Violet siang tadi, Dewa tidak terbesit untuk menghampiri dan menyapa Violet tapi dia hanya memperhatikan semua yang ada pada diri Violet. Karena kebiasaan Violet yang selalu cuek jika berada di luar zona nyaman nya maka Violet pun tidak tau jika kali ini ada yang sedang memperhatikan dan memandangnya dengan tatapan yang sangat lekat.


" Cantik " Dewa bergumam lirih dan masih terus memandang Violet.


" Karakter nya sama persis dengan mama ya kak " begitulah ucapan Deasy saat di mobil yang sekarang sedang mengisi pikiran Dewa.


" Kenapa juga malam ini aku bertemu dengan nya lagi " batin Dewa sambil tersenyum tipis.


Dewa langsung tersadar dari apa yang sedang dia pikirkan sekarang, sebelum berdiri dari kursi Dewa sedikit merapikan penampilannya, siapa tau jika nanti tidak sengaja Violet mengetahui keberadaannya dia merasa masih layak untuk di pandang.


" Ini pesanan nya kak " Dewa hanya mengangguk sambil melirik ke arah kursi yang menjadi tempat duduk Violet, tapi ternyata yang diharapkan Dewa tidak terjadi, ternyata Violet masih fokus memandang HP nya sambil senyum-senyum sendiri.


" Terimakasih " sekali lagi Dewa melirik ke arah Violet dan dia langsung pergi dengan sedikit rasa kecewa.


Saat melintasi mobil yang di bawa oleh Violet, Dewa menyempatkan untuk berhenti sebentar dan memandang sekilas, di bagian kaca belakang ada tulisan " TOKO VIOLET" berukuran kecil berwarna ungu lengkap dengan nomer hp. Meskipun itu adalah mobil milik mama nya tapi sering sekali di pakai Violet jadi dia pun tidak segan untuk memasang stiker di kaca belakang mobil sebagai sarana promosi.


" Ada apa denganku ini sih " Dewa kembali berjalan untuk menuju ke mobil nya.


Sedangkan Violet yang masih duduk menunggu antrian baru merasa ada yang berbeda " kok sepertinya ada yang memperhatikan aku sih " batin nya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh gerai.


" Jangan-jangan ada makhluk halus nya disini, hih " Violet bergidik sendiri sambil meraba tengkuk nya.


jam 9 kurang 15 menit Violet tiba di rumah, dan ternyata di rumah sedang ramai karena ada kak Hafis bersama anak dan istri nya.


" Kakak " Violet langsung berjalan dan menghambur memeluk kak Hafis, ya Violet memang adik kesayangan kak Hafis dan itu membuat Violet menjadi sangat manja bila berada di dekat kakak pertamanya itu.

__ADS_1


" Vio bersihkan diri dulu, kamu habis bertemu banyak orang " Papa menegur tanpa mengalihkan perhatian sambil memangku Leyta putri dari kak Hafis.


" Iya pa " Violet dan kak Hafis saling pandang dan menahan tawa, yang satu menahan tawa karena adik nya kena marah dan yang satu menahan tawa karena merasa seperti anak kecil yang sedang dimarahi


Sebelum pergi ke kamar untuk mandi Violet mampir ke dapur menemui dan memberikan martabak ke mama yang sedang sibuk membersihkan sisa makan malam bersama dengan kak Rania dan kak Elisa.


" Cepat mandi sana nanti keburu dimarahi papa lagi lho " goda kak Elisa dan diikuti suara tawa lirih dari mama dan kak Rania, Violet tidak menjawab tapi pasang muka cemberut lalu pergi dari dapur tanpa suara.


" Kenapa kok praktek di klinik pa, kenapa tidak di rumah sakit saja, kan itu milik orang tua nya? " sekilas pertanyaan dari kak Hafis saat Violet sudah mendekat dan duduk di sebelah kakak nya sambil menyandarkan kepala nya di bahu dengan manja.


" Dia tidak mau menggeser posisi dokter Toni jadi selama dokter Toni belum pensiun dia tidak mau jika praktek di rumah sakit, tidak apa-apa klinik kita belum ada spesialis neurologi juga kan "


" Ah papa sama kak Hafis ini selalu bahas klinik jika bertemu " gumam Violet dalam hati tapi tidak ada keinginan untuk ikut ngobrol, dia hanya ingin berada di samping kakak nya sambil memejamkan mata mencari kehangatan dan kenyamanan.


" Iya pa, besuk aku siapkan ruangan nya dan besuk aku juga akan sampaikan ke dokter yang lain kalau klinik akan ada tambahan dokter lagi "


" Untuk sementara nanti perawat poli akan papa kirim dari rumah sakit, jadi kamu segera buka lowongan untuk rekrut perawat, oh iya dia minta perawat yang sudah menikah dan sudah berumur 30 tahun keatas, satu lagi kalau bisa utamakan perawat laki-laki " Kak Hafis memicingkan mata nya bingung dengan apa yang disampaikan oleh papa.


" Kenapa begitu pa? "


" Papa juga tidak tau alasan nya apa, tadi dia hanya menyampaikan seperti itu saat menemui papa, dan pak Ibrahim hanya bilang turuti saja kemauan anak nya "


" Nanti akan Hafis sampaikan ke bagian administrasi sesuai dengan apa yang papa katakan " melirik ke arah bahu dan merasakan deru nafas Violet yang tenang, kak Hafis mengangkat tangan nya dan langsung memeluk Violet yang ternyata memang sudah tertidur, disingkap rambut Violet yang menutupi sebagian wajah nya dengan satu tangannya lagi.


" Sudah tidur Vio, kecapekan dia mengurus toko kecil nya itu " papa melihat apa yang sedang dilakukan kak Hafis, membelai lembut rambut Violet dan hal itu tidak pernah dia lakukan ke Elisa.


" Iya, dia masih lucu dan menggemaskan ya pa " mencubit ujung hidung Violet yang mancung, dan berhasil membuat Violet bergerak tapi langsung tidur lagi.


" Tapi keras kepala, sebentar lagi Vio lulus kuliah jadi segera siapkan yang papa minta dari kamu " papa ikut memandang anak bungsu nya itu dengan sedikit tersenyum.


" Nanti aku akan bicara pelan-pelan dulu sama Vio " kecupan sayang mendarat di pucuk kepala Violet, ya hanya dengan kak Hafis Violet bisa luluh jika sedang berdebat dengan papa. Begitupun papa selalu menurut jika kak Hafis sudah bilang nanti biar aku yang mengurus Vio.


" Bangunkan adik kamu kak, biar dia naik ke kamar nya " kata mama saat ikut bergabung di ruang keluarga.


" Biarkan begini dulu ma, aku pun masih merindukan Vio, lama dia tidak se manja ini ke aku " usap-usap lagi rambut Violet.


" Kamu itu kak, jangan dibiasakan seperti itu, adik kamu sudah besar " tegur mama yang melihat kak Hafis sangat posesif ke Violet.


" Nanti kalau dia sudah menikah aku pasti melepasnya ma, dan mungkin saat itu juga aku akan patah hati, aku masih ingin dia menjadi adik kecil ku yang menggemaskan "

__ADS_1


Mama hanya bereaksi dengan menggelengkan kepala mendengar apa yang dikatakan kak Hafis.


__ADS_2