
" Ah lelah nya " gumam Violet saat memasuki ruang gudang setelah tiba dari kampus, dia meletakkan kepala dia atas meja.
Urusan pengajuan judul skripsi pun belum mendapat acc dari dosen pembimbing dan itu membuat Violet masih harus bekerja lebih keras lagi.
" Mbak pak Dedi apa sudah menghubungi mbak Vio? " tanya Rina dengan hati-hati karena saat menghampiri Violet, Rina tau saat ini wajah Violet menunjukkan ekspresi yang sangat lelah.
" Pak Dedi yang punya bangunan ini? " tanya Violet masih belum mengangkat kepala nya dari atas meja.
" Iya mbak " masih menjawab pendek belum menjelaskan, Violet bergerak meraih dan membuka tas nya untuk mengambil HP.
" Belum Rin, tidak ada panggilan dan pesan di HP aku " Violet masih mengecek HP nya.
" Memang nya ada apa?, beliau titip pesan ke kamu buat aku? "
" Iya mbak, tapi tadi juga sudah aku suruh untuk langsung menghubungi mbak Vio saja "
" Tapi nyata nya tidak menghubungi aku, memang nya ada apa sih? " Violet mulai penasaran saat dia menyadari wajah Rina yang dari tadi menunduk seakan enggan untuk menyampaikan tujuan pak Dedi berkunjung ke toko.
" Mbak, pak Dedi tadi bilang kalau kontrak toko ini akan di akhiri lebih cepat, nanti biaya sewa yang belum berjalan akan dikembalikan dan beliau juga mau bayar kompensasi atau semacam uang minta maaf begitu mbak karena mengakhiri kontrak lebih cepat, bangunan dan tanah ini kata nya akan dijual karena beliau sedang butuh tambahan modal untuk usaha nya, dan misalkan mbak Violet ada dana untuk membeli toko ini beliau mempersilahkan bahkan sangat senang kata nya kalau mbak sendiri yang membeli toko ini " Rina menyampaikan dengan pelan karena dia tau ini akan jadi tambahan beban untuk Violet.
" Apalagi ini, hem baiklah nanti aku menghubungi pak Dedi, aku belum bisa memutuskan Rin, aku akan pikirkan dulu " Ada suara helaan nafas panjang dari Violet yang menandakan kali ini ada sedikit beban dalam hati nya.
" Iya mbak, semoga mbak Vio segera mendapatkan solusi nya ya, maaf mbak aku tidak bisa membantu " Rina kembali menunduk, sebenar nya di hati yang paling dalam Rina pun kepikiran tentang masalah ini tapi apa daya dia yang hanya bisa membantu dengan totalitas dalam bekerja.
" Aamiin, kamu tetap berdiri tegak di samping aku saja itu sudah lebih dari membantu Rin, tetaplah bekerja seperti biasa nya dan tolong jangan bicarakan masalah ini ke Meta dan Dini, aku kuatir mereka tidak nyaman karena baru saja mereka kerja sudah dihadapkan dengan masalah toko "
" Iya mbak, kebetulan waktu pak Dedi kemari tadi Meta sedang aku suruh keluar beli tas kresek jadi aman mbak "
" Alhamdulillah " Violet mengelus dada nya pelan ada sedikit kelegaan.
" Mbak, daftar belanja manik-manik dan batu untuk pesanan souvenir mbak Nindi sudah aku siap kan tolong di cek ya item yang akan di beli, kalau mbak Vio berkenan aku akan konfirmasi segera ke grosir " Rina mengingatkan Violet karena waktu akan tetap berjalan dan kalau tidak segera belanja nanti produksi nya akan mundur dan terlalu dekat dengan deadline.
" oke Rin, setelah ini aku cek ya "
" Iya mbak, aku tinggal ke depan ya " Rina ingin memberi waktu sendiri untuk Violet.
" Rin List order di buku apa sudah ada yang dekat dengan jadwal pengambilan? " langkah Rina yang sudah akan keluar gudang berhenti kembali.
" Kemarin aku cek tinggal pesanan gelang tujuh biji untuk putri nya bu Lidia mbak, dan itu akan di ambil lima hari lagi "
" Kalau begitu aku kerjakan besuk atau lusa saja ya, hari ini setelah cek orderan manik-manik aku langsung pulang "
" Iya mbak " dan Rina pun beranjak keluar dari gudang.
Ada helaan nafas panjang lagi dari Violet, dia merasa harus segera menyelesaikan pekerjaan di toko dan segera pulang, dia akan menghubungi pak Dedi dan memikirkan solusi nya, semua itu hanya bisa Violet lakukan saat ada di dalam kamar nya yang bisa membuat dia tenang dan berpikir jernih.
Sebelum pulang ke rumah, Violet harus mampir terlebih dahulu ke klinik untuk mengambil obat mama yang sudah dibelikan olek kak Hafis. Tapi saat tiba di klinik ternyata kak Hafis masih belum juga datang jadi Violet pun terpaksa menunggu di kantin klinik sambil memesan secangkir kopi untuk melepaskan penat.
" Kak Dewa " sapa Violet saat mencari tempat duduk, dan Dewa langsung menoleh ke arah suara yang memanggil nya.
" Violet " jawab Dewa dengan ekspresi kaget.
" Kita ketemu yang ketiga kali nya ini kak hehehe "
__ADS_1
" Oh ya tapi kalau hitungan aku sudah lima kali "
" Hah kok bisa " Violet mengerutkan dahi nya.
" Hahaha " Dewa tertawa melihat ekspresi Violet yang kebingungan.
" Kok malah tertawa sih kak hehehe " Violet mengedarkan pandangan untuk segera mencari tempat duduk.
" Kalau kamu berkenan bagaimana kalau kita duduk bersama dalam satu meja di sini " Dewa menawarkan kursi yang ada di depan nya.
" Ehm, tidak mengganggu kan? " sebenar nya Violet enggan untuk menerima tawaran Dewa tapi dia merasa tidak enak hati kalau menolak tapi di hati nya dia sekarang lagi ingin sendiri.
" Tidak sama sekali, silahkan duduk, aku juga senang ada teman ngobrol " Dewa menunjuk kursi yang kosong.
" Baiklah kak, terimakasih " akhirnya Violet terpaksa menerima tawaran Dewa.
" Sama-sama, tapi tidak akan ada yang marah kan kalau kita duduk dalam satu meja begini " Dewa tersenyum jail tapi sebenar nya dia benci menanyakan hal ini ke Violet.
" Maksud nya kak? "
" Cuma kuatir saja nanti pacar kamu melihat kita berdua dan akan marah ke kamu "
" Ooooo, kak Dewa bisa saja, aman kak Violet tidak ada hubungan dengan siapapun hehehe " deg hati Dewa kaget dan ada sedikit kelegaan dari pernyataan yang di ucapkan oleh Violet.
" Yakin nih tidak sedang menutupi status, terus yang sedang berjalan beriringan sambil tertawa mesra saat masuk ke restoran siapa dong? "
" Eh kak Dewa kok tau, kakak ada di restoran itu juga ya waktu itu? " tanya Violet balik.
" maka nya aku tadi menyebut lebih dari tiga aku bertemu dengan kamu "
" Rahasia " Dewa menghentakkan badan nya untuk bersandar ke kursi sambil tersenyum ke arah Violet.
" Ya ya ya terserah kak Dewa lah, tidak ada hak aku harus tau " menyeruput kopi sambil melirik ke arah Dewa.
" Pertanyaan aku belum di jawab, jadi siapa dong yang bersama kamu saat makan malam di restoran? " tanya Dewa penasaran.
" Rahasia " Violet langsung tertawa sambil menutup mulut nya.
" Oke baiklah satu sama, jadi kesimpulan nya adalah kamu ketahuan bohong kalau tadi bilang tidak sedang menjadi hubungan dengan siapapun " Dewa berusaha memunculkan emosi Violet dan itu berhasil dia lakukan.
" Siapa yang bohong sih kak, aku itu serius, oke dia itu sahabat dan satu jurusan sama aku nama nya Johan, kami ke restoran itu karena ada undangan makan malam sahabat kami yang lain sedang merayakan ulang tahun nya, bagaimana puas apa kurang lengkap penyataan aku " Violet terpancing emosi karena di sebut bohong oleh Dewa.
" Hahaha, Vio kamu menggemaskan sekali kalau marah seperti ini " dan Violet pun mendelik tidak Terima di bilang menggemaskan saat diri nya sedang marah.
" Ternyata anda menyebalkan sekali " gumam Violet lirih tapi masih terdengar oleh Dewa.
" Hahaha, maaf ya maaf " Dewa sudah menghentikan tawa nya tapi tetap tersenyum.
" Kamu mengantar mama kamu periksa lagi? "
" Tidak kak, aku hanya mengambil obat nya mama tapi ternyata dokter nya belum datang "
" Eh seperti nya dokter Banu sudah datang " Dewa bingung Violet bilang dokter belum datang karena dia tau kalau dokter spesialis dalam sudah mulai praktek dari tadi bahkan antrian pasien nya sudah sangat banyak.
__ADS_1
" Oh bukan ke dokter Banu kak, tapi ke dokter hafis spesialis ortopedi " Violet gelagapan menjawab.
" Jadi tante di sini periksa ke dua dokter? "
" Ya begitulah kak, dan kak Dewa sendiri di sini apa mengambil hasil check up waktu itu? " Violet berusaha mengalihkan pembicaraan karena dia tidak mau diketahui oleh Dewa kalau dia adalah adik dari dokter Hafis.
" Ehm, iya ambil hasil nya "
" Semoga hasil nya baik ya kak, sehat terus hehehe "
" Vio maaf ya aku harus pergi dahulu, aku sudah ada janji dengan seseorang jadi aku tidak bisa menemani kamu lebih lama di sini " Dewa melihat jam di tangan nya yang menunjukkan waktu dia harus segera pergi meskipun dia masih belum rela untuk berpisah dengan Violet.
" Iya kak silahkan, terimakasih sudah diijinkan duduk di kursi ini "
" See you again Violet, nanti kalau ada waktu luang boleh kan aku mengajak kamu minum kopi berdua " Dewa sudah berdiri dari kursi nya.
" See you kak, boleh, next time ya kak " Dewa mengangguk dan tersenyum lalu pergi meninggalkan Violet.
Beberapa saat setelah itu kak Hafis mengirim pesan ke Violet dan memberitahukan kalau diri nya sudah ada di dalam ruangan praktek.
" Kakak " sapa Violet sambil menyembulkan kepala nya di pintu.
" Masuk Vio " Kak Hafis berdiri dan memeluk Violet.
" Maaf ya menunggu lama, kakak ada jadwal operasi di rumah sakit " Violet duduk di kursi yang disediakan untuk pasien konsultasi dan di ikuti oleh kak Hafis duduk di sebelah nya.
" Iya tadi perawat kakak juga cerita " kak Hafis membelai rambut Violet lembut.
" Obat mama sudah siap kan kak? "
" Sudah semua, tolong bilang ke mama ya kakak minta maaf tidak bisa mengantar seperti biasa nya, nanti akhir pekan kakak usahakan pulang menjenguk mama, bagaimana mama masih sering mengeluh pusing? " tanya Dewa kuatir.
" Tadi pagi saat aku akan berangkat ke kampus mama mengeluh pusing, jadi aku suruh istirahat saja, tapi kakak tau kan bagaimana mama, sakit pun tetap memaksa masak untuk kita semua " tiba-tiba Violet ingat janji nya ke mama untuk bicara dengan kak Elisa tapi belum sempat dia realisasikan.
" Ya sudah nanti biar kakak telepon mama ya " dan Violet hanya mengangguk.
" Aku langsung pulang ya kak, banyak yang harus aku kerjakan untuk revisi tugas kampus " berpamitan pulang tapi menyandarkan kepala nya di lengan kakak nya.
" Jangan terlalu capek, selesaikan urusan satu per satu dengan tenang, kalau ada apa-apa hubungi kakak ya jangan di selesaikan sendiri, dan yang terpenting usahakan segera selesaikan kuliah kamu "
" Kenapa kakak kali ini seperti papa sih " Bibir Violet cemberut mendengar kakak nya menuntut lebih soal kuliah nya.
" Bukan maksud kakak seperti papa Vio, tapi kakak berkata begitu biar kamu punya motivasi untuk segera lulus dan papa tidak akan menuntut lebih lagi ke kamu, sehingga kamu pun bisa menjalankan bisnis toko kamu tanpa ada halangan " saat kak Hafis menyebut toko jantung Violet pun langsung berdetak kencang teringat juga masalah yang ada di depan mata.
" Dek " dan kini jantung Violet lebih kencang lagi berdetak mendengar panggilan dari kak Hafis karena jika dalam mode seperti itu pasti akan ada yang mau disampaikan secara serius.
" Nanti kalau sudah lulus langsung mengurus ijin untuk buka apotek di klinik ya, kita bangun pelan-pelan nanti kakak bantu, wujudkan harapan papa ya dek biar hidup kamu seimbang bisa membahagiakan orang tua dan juga bisa mewujudkan impian kamu di toko Violet " Kak Hafis bicara dengan sangat pelan agar Violet tidak tersinggung.
" Selama ini kapan aku tidak menuruti kemauan papa kak, aku hanya ingin mengekspresikan diri itu saja, tapi di atas semua itu aku tetap mengedepankan apa yang papa harapkan ke aku, jadi untuk masalah buka apotek di klinik apa ada kesempatan bagi aku menolak, tidak kan kak? "
" Iya kakak mengerti dek, kakak hanya harus menyampaikan sedini mungkin agar kamu juga bisa siap dengan segala proses pendirian apotek, kamu juga tau kan ijin nya tidak mudah, kakak janji akan membantu kamu semaksimal mungkin hingga kamu tidak merasakan kesulitan "
" Jangan di jadikan beban ya, anggap semua ini adalah sebagai tanda bhakti kita ke orang tua, klinik ini adalah impian papa jadi kita harus bisa mewujudkan semua yang papa impikan "
__ADS_1
" Terdengar seperti egois ya kak, boleh tidak sih aku bersikap egois juga sebagai seorang anak " entah perkataan Violet kali ini adalah lupaan isi hati atau karena pikirannya yang sedang tidak baik-baik saja.