Toko Violet

Toko Violet
Di tuntut untuk bijak


__ADS_3

" Selamat malam Pak Dedi " sapa Violet di balik HP nya, sebenar nya dia enggan untuk menelepon pak Dedi karena dia harus menerima kenyataan yang akan dia dengar sendiri.


" Selamat malam mbak Violet "


" Maaf mengganggu waktu istirahat Pak Dedi, tadi saya bertemu dengan Rina di toko dan Rina menceritakan perihal tujuan pak Dedi datang ke toko " Violet mulai saja pembicaraan tanpa basa basi lagi.


" Iya mbak tadi saya ke toko dan bertemu dengan mbak Rina, rencana nya saya besuk akan menghubungi mbk Violet dan ingin mengajak makan siang untuk membicarakan masalah kontrak toko, tapi ternyata mbak Violet sudah menghubungi saya terlebih dahulu "


" Begitu ya pak, maaf saya terpaksa tidak bisa memenuhi undangan bapak karena saya juga sibuk menyelesaikan tugas di kampus " tidak ada sedikit niatan dari Violet untuk menerima undangan dari pak Dedi karena bagi dia cukup lewat telepon saja.


" Baiklah saya paham, begini mbak Vio mungkin sudah mendapat cerita dari mbk Rina mengenai rencana saya yang akan mengakhiri kontrak toko lebih cepat, saya butuh tambahan modal untuk bisnis saya mbak jadi saya akan menjual tanah dan bangunan itu, syukur kalau mbak Violet bisa membeli nya sendiri. Sebenar nya saya juga tidak enak menyampaikan ini ke mbak Violet tapi bagaimana lagi mbak saya sedang butuh uang, nanti saya akan mengembalikan uang sewa selama dua tahun yang belum berjalan dan nanti saya juga akan memberikan uang kompensasi sebagai permintaan maaf saya ke mbak Violet "


" Sejujur nya keputusan bapak sangat saya sesal kan, maaf Pak Dedi seakan tidak bisa memegang perjanjian dengan apa yang sudah pernah kita bicarakan dulu bahwa kontrak ini selesai dalam kurun waktu lima tahun entah itu akan saya lanjut apa saya hentikan, tapi saya juga tidak bisa menolak dengan apa yang pak Dedi inginkan sekarang karena salah saya juga tidak membuat surat perjanjian kontrak secara resmi antara saya dan bapak " Violet ingin meluapkan kemarahan tapi dia lebih memilih sedikit tenang agar masalah tidak menjadi lebih buruk.


" Iya saya tau saya yang salah mbak, maka dengan itu saya mohon maaf dan akan saya berikan uang kompensasi nanti ke mbak Violet "


" Bukan masalah uang kompensasi ya pak yang saya bahas tapi lebih ke bagaimana seseorang bisa di pegang omongannya, dan kembali lagi saya bisa apa karena saya juga salah tidak ada surat perjanjian yang mengikat antara kedua belah pihak " kali ini suara emosi keluar dari mulut Violet karena sedikit tersinggung dengan apa yang dikatakan pak Dedi seakan menilai dirinya terlalu murah dan gampang dengan dibayarnya uang kompensasi.


" Maaf mbak saya tau, tapi saat ini saya juga butuh uang "


" Beri saya waktu paling lambat dua bulan dari sekarang, saya akan coba cari tempat lain terlebih dahulu untuk toko saya "


" Dua bulan ya? kalau bisa jangan terlalu lama mbak karena maaf sudah ada calon pembeli yang menginginkan bangunan itu "


" Bapak, semua juga perlu proses, yang punya kepentingan bukan hanya bapak saja, di sini saya adalah pihak yang paling sangat di rugikan dan tidak bisa berbuat apa-apa,jadi mohon pengertian nya juga, saya mohon waktu selama dua bulan, tapi jika sebelum dua bulan saya sudah bisa pergi dari sana saya akan meninggalkan bangunan itu " sekarang Violet merasa tidak ada kewajiban dia untuk berkata lembut dan sopan untuk orang yang sangat egois.


" Baiklah mbak saya akan bicarakan dulu dengan istri saya, nanti akan kami kabari bagaimana keputusan selanjut nya "


" Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi pak, saya minta waktu dua bulan itu saja, meskipun saya tidak punya surat resmi perjanjian kontrak tapi saya punya bukti kwitansi yang tertulis keterangan kontrak selama lima tahun, jadi saya rasa itu juga cukup untuk bisa menuntut bapak " Violet sekedar berbicara, tidak tau apa ada dasar hukum nya jika bukti hanya berupa kwitansi pembayaran, bagi dia sekarang adalah dia bisa mendapat waktu selama dua bulan.


" Baik mbak, semoga mbak Violet segera mendapatkan tempat baru atau bagaimana kalau mbak Violet beli sendiri bangunan nya "


" Maaf Pak itu belum terpikirkan oleh saya, ya sudah kalau begitu saya tutup teleponnya karena masih ada yang harus saya kerjakan" Violet menjawab seenak nya lalu segera mengakhiri pembicaraan dengan pak Dedi.


" Hah " Violet melempar HP ke atas kasur lalu dia merebahkan tubuh nya dengan tengkurap.


" Apa yang harus aku lakukan sekarang "


Sebenar nya dia bisa saja merengek ke mama atau ke kak Hafis untuk membelikan sebuah toko kecil tapi itu tidak mungkin dia lakukan, dia bukan tipe orang yang suka bergantung kepada orang lain meskipun itu keluarga nya sendiri.

__ADS_1


" Apa aku harus menggunakan tabungan itu, tapi kan uang itu untuk, ah jangan-jangan pakai uang itu " Violet membenamkan wajah nya ke bantal untuk mengusir kebingungan.


Disaat toko sudah mulai banyak pelanggan apalagi dengan tempat yang strategis tapi harus pindah ke tempat lain itu adalah sesuatu yang sangat mengecewakan. Biasanya dengan berpindah nya sebuah toko pasti akan membuat omset bisa turun drastis. Violet pun belum punya rencana jangka panjang dengan toko nya di lima tahun pertama ini, yang dia rencanakan hanya sebatas nanti jika sewa sudah habis dia akan memperpanjang kontrak lagi sambil menata prospek ke depan nya.


" Malam ini aku hanya ingin tidur nyenyak dulu, aku belum bisa memikirkan solusi apapun untuk hari ini, sangat mendadak dan bikin aku bingung " Violet duduk, melihat jam di dinding lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu, sholat lalu dia berencana akan langsung tidur.


" Vio dek " terdengar kak Elisa membuka pintu kamar saat Violet sedang sholat.


" Kak " sapa Violet saat sudah melipat mukenah nya.


" Kamu sibuk? " tanya kak Elisa yang sudah berbaring di ranjang.


" Sebenar nya banyak sekali pekerjaan dan tugas yang harus aku selesaikan kak, tapi malam ini aku memilih untuk istirahat dulu saja, aku ingin tidur nyenyak " Violet sudah mendekat ke arah kak Elisa dan ikut berbaring di sebelah kak Elisa.


" Memang nya kalau punya beban seperti itu kamu bisa tidur? "


" Entahlah kak, tapi rasanya aku malam ini tidak ingin mikir apapun " Violet mendongak melihat kakak nya yang kini sudah berubah posisi menjadi bersandar.


" Kakak kenapa cari aku? "


" Hanya ingin melihat kamu saja, tumben semenjak pulang tadi kamu langsung masuk kamar dan tidak turun lagi "


" Ini tadi kakak habis dari kamar mama langsung ke kamar kamu, papa ke klinik menemui dokter Banu konsul keadaan mama, dan waktu aku ke kamar mama langsung menangis dan memeluk aku, sepertinya ada yang mama pikirkan ya dek "


" Kak, boleh aku bicara sebentar? " Violet mengangkat tubuh nya untuk duduk.


" Ada apa? " Kak Elisa memandang manik mata Violet.


" Bagaimana hubungan kakak dengan kak Radit? "


" Apa sakit mama ada hubungan nya dengan aku dan Radit? " Kak Elisa bertanya kembali ke Violet karena dia sebenar nya juga merasa mama memikirkan hubungannya dengan Radit.


" El, bagaimana kabar nya Radit, mama kok jarang melihat kamu video call sama Radit, Radit kok lama tidak pulang ya El " begitulah pertanyaan mama ke kak Elisa beberapa waktu yang lalu.


" Kak kenapa kakak menunduk? " Violet menyentuh dagu kak Elisa agar wajah nya terangkat karena tiba-tiba menunduk setelah bertanya.


" Jawab pertanyaan aku Vio "


" Aku rasa seperti nya memang begitu, tapi hubungan kakak dengan kak Radit baik-baik saja kan? " Violet mengulangi pertanyaan nya lagi.

__ADS_1


" Aku dan Radit baik-baik saja dek, Radit tiap hari menghubungi aku bahkan setiap saat dia selalu kirim pesan hanya untuk mengingatkan aku tentang hal-hal kecil dan sepele, tapi saat ini aku sebenar nya juga ada beban di hati, kapan hari Radit bilang ke aku setelah lulus S3 dia akan mencoba berkarir dulu selama satu tahun di sana, dia bilang mau mengumpulkan pengalaman sebelum balik dan menetap di sini "


" Apa? ck kenapa egois sekali sih, kak Radit mikir tidak sih jika di sini kakak juga butuh kepastian, terus kata kak Radit selama bekerja di sana apa dia akan tetap menikahi kak Elisa sesuai janji dia dan keluarga nya kalau pernikahan akan dilaksanakan setelah lulus dari S3 "


" Entahlah, itu yang belum aku tanyakan ke Radit, karena waktu dia telepon dan membicarakan itu aku langsung kaget dan syok dengan keputusan nya " Ada air mata yang sudah mengalir di pipi kak Elisa.


" Kakak " Violet mendekat dan menghapus air mata di pipi kak Elisa.


" Aku bingung Vio " suara kak Elisa semakin serak dan menangis lebih kencang.


" Jangan menangis, nanti mama dengar kak, kita cari solusi nya bersama jangan sedih ya " kak Elisa hanya mengangguk lalu Violet menggenggam tangan kak Elisa mengalirkan sentuhan agar kak Elisa lebih tenang.


" Kak, apapun masalah nya harus cepat di selesaikan, kakak jangan hidup di atas ke egoisan kak Radit yang menggantung kakak seperti ini, ayo kakak harus tegas, tanya ke kak Radit apa dia masih ingat dengan janjinya untuk segera menikahi kakak setelah lulus S3, dan misalkan itu dia tepati apa kakak sanggup tinggal bersama kak Radit selama kak Radit bekerja di sana, bicarakan semua itu dengan kak Radit kak jadi jangan diam saja biar semua jelas dan bisa mengambil sikap "


" Aku tau, aku pun ingin melakukan seperti yang kamu katakan tapi saat ini Radit sedang menyelesaikan tugas akhir jadi apa pantas aku bertanya seperti itu, sedangkan janji Radit ke aku baru bisa dia tepati saat lulus, sekarang kan belum lulus Vio apa kakak punya hak untuk bertanya sedangkan waktu nya belum tiba "


" Kak, kalau kakak hanya menunggu janji saat kak Radit lulus seperti nya tidak masalah, tapi sekarang kak Radit punya impian lain di sana, apa ada pertanyaan atau pernyataan dari kak Radit, Elis nanti kalau aku sudah lulus kita menikah ya tapi tolong ijinkan aku berkarir di sini dulu untuk mencari pengalaman dan apa kamu mau ikut aku di sini atau tetap di sana menunggu aku sampai setahun lagi?, apa ada ucapan dari kak Radit yang seperti itu kak? " dan Kak Elisa hanya menggelengkan kepala pelan.


" Bertanya ke kak Radit pun tidak harus to the point kak, jadi kakak harus bisa membuat suasana ngobrol setenang mungkin, sambil bergurau misal nya, atau dengan nada manja merengek ke kak Radit, jadi dengan seperti itu aku yakin kak Radit tidak akan tersinggung dengan ucapan dan pertanyaan kakak "


" Iya nanti akan aku coba, aku hanya takut membuat kesalahan yang akan memantik emosi dari Radit, aku sangat mencintai dia Vio jadi aku takut kehilangan dia " benar kak Elisa memang sangat mencintai kak Radit hingga dia rela melakukan apapun agar tetap bersama dengan Radit.


" Jangan pernah takut kak, aku yakin kak Radit pun sangat mencintai kakak jadi dia tidak akan emosi dan salah paham jika itu tentang kakak, ingat kak semua harus jelas dan kalau tidak di coba bicara dari hati ke hati maka tidak akan menemui jawaban, pada akhir nya kakak sendiri yang punya beban tentang masa depan kakak dan kak Radit enjoy saja karena dia yang merencanakan semua nya "


" Iya, aku mengerti, terimakasih ya sudah diberi saran dan solusi, akan aku siapkan dulu semua nya agar aku bisa bicara dengan Radit sesegera mungkin "


" Satu lagi ingat kita itu satu keluarga yang pasti nya akan selalu mendukung dan melindungi kakak, terutama mama, mama sangat sayang dengan kakak, mama sangat mengkuatirkan kakak, jadi demi mama juga lakukan yang terbaik untuk hidup kakak " Violet kembali menggenggam tangan kak Elisa.


" Iya dek, terimakasih ya, dan harus nya yang menjadi psikolog iku kamu bukan aku karena ternyata jadi psikolog pun aku tidak bisa mengontrol emosi aku "


" Bukan begitu kak, ibarat nya kita itu manusia yang tidak sempurna, belum tentu seorang guru bisa menggurui diri nya sendiri, seorang dokter belum tentu bisa mengobati sakit nya sendiri jadi kita memang diciptakan untuk saling membutuhkan satu dengan yang lain "


" Hahaha pinter nya, adik aku sudah dewasa ya sekarang, aku salut sama kamu, love you adik kecilku, ya sudah kamu tidur kata nya tadi mau tidur nyenyak, maaf ya aku ganggu dengan cerita aku, malam ini aku mau tidur di kamar ini saja sama kamu boleh kan? " kak Violet mengusap sisa air mata di wajah nya.


" Boleh, peluk aku ya kak hehehe " Violet langsung merebahkan dirinya yang di ikuti oleh kak Elisa.


" Semangat kak, mimpi indah ya " Violet menarik selimut sambil memeluk kak Elisa.


Dalam hati Violet bergumam, " terus aku akan menceritakan ke siapa tentang masalah yang aku hadapi sekarang"

__ADS_1


__ADS_2