
Deasy menggeser piring, lalu dia mendudukkan Violet di kursi yang dia tempati tadi, sengaja agar Violet bisa bersanding dengan kakak nya. Deasy sejak tadi sudah menangkap keterkejutan Dewa meskipun kakak nya itu berusaha tetap tenang. Saat sudah ada di samping Dewa, Violet hanya melirik lalu tersenyum malu ke arah Dewa, sungguh tidak bisa di ungkapkan perasaan Violet, dia seperti seseorang yang ketahuan bohong dengan mengaku karena urusan mama nya dia datang ke klinik, walaupun itu benar ada nya.
Sedangkan Dewa sebenar nya sangat senang karena ada keberadaan Violet di Villa itu, tapi dia pun merasa malu berbohong ke Violet kalau di klinik dia hanya sebatas sebagai pasien yang sedang check up rutin.
" Kak Dewa, kenapa kakak diam saja, sapa dong kak Violet, kakak juga kaget ya " tegur Deasy yang segera ingin menyadarkan Dewa.
" Lho kamu juga sudah kenal dengan dokter Dewa dek? " tanya kak Hafis.
" Hehehe sudah mas, kebetulan yang mengantar Deasy pesan bros saya, dan kebetulan saya juga sudah dua kali bertemu Violet di klinik, tapi sungguh saya tidak tau kalau Violet putri nya om Ilham " melirik ke arah Violet.
" Ya begini ini kalau papa kamu terlalu betah di negeri orang jadi nya kedua orang tua nya bersahabat tapi anak-anak nya tidak ada yang kenal satu sama lain " Papa menyindir pak Ibrahim sambil tertawa.
" Iya juga ya benar kata mas Ilham, keterlaluan sekali ya saya " dan semua yang ada di meja makan tertawa.
" Berarti ini putri mas Ilham yang masih kuliah ambil profesi apoteker itu ya? "
" Iya mbak "jawab mama.
" Wah keren sekali sih, masih muda tapi berbakat sekali, kuliah tapi sudah punya bisnis sampingan, dan tante sangat kagum dengan produk yang kamu buat, hand made yang sangat luar biasa, kreatif pokok nya the best deh "
" Hehehe terimakasih tante, Vio senang jika tante berkenan dengan hasil karya Vio " malu menanggapi pujian mama Dewa.
" Aku tidak salah kan ma, kak Vio cantik dan keren kan " Deasy sudah seperti fans berat nya Violet.
" Toko dan usaha Vio hanya sampingan saja mbak, nanti setelah lulus dia akan tetap mengutamakan praktek sesuai profesi dia sebagai apoteker, rencana nya klinik nanti akan ada apotek juga "
Violet yang mendengar ucapan papa langsung menunduk sambil menekan jari-jari nya dengan ibu jari, dia kecewa mengapa papa membahas hal seperti itu di depan orang lain.
" Meskipun hanya bisnis sampingan tapi tetap pertahankan ya mbak Vio, karena itu adalah bentuk dari keahlian kamu, jadi kalau bisa berjalan beriringan kenapa tidak, hal yang menyenangkan adalah hobi yang di bayar "
Deg, bahkan orang yang baru di kenal pun memberi nya semangat tapi tidak dengan papa, batin Violet.
" Iya tante terima kasih atas dukungan nya "
" Ya sudah ayo silahkan dilanjut makan nya "
Setelah makan pagi, semua berbincang dan bergurau masing-masing, para orang tua berkumpul sendiri, Deasy dan kak Elisa mengajak main anak kak Hafis, kak Rania dan kak Hafis keluar Villa menemui teman nya yang kebetulan sedang berada di kota ini juga. Dan di taman belakang ada Violet dan Dewa yang sedang mendirikan tenda untuk acara nanti malam.
" Jadi bagaimana dokter, apa hasil check up nya baik semua? " sindir Violet.
" Hehehe maaf ya "
" Terus aku panggil nya apa ini, kak Dewa atau dokter Dewa? "
" Jangan sekali-kali panggil aku dokter karena aku ingin kamu mengenal aku sebagai Dewa kakak nya Deasy "
" Hahaha " Violet hanya tertawa menanggapi ucapan Dewa.
" Kamu sendiri, kenapa kalau ke klinik ngaku nya sebagai keluarga pengantar pasien "
" Aku tidak bohong kak, pertama kita bertemu di klinik aku memang mengantar mama periksa ke dokter Banu, dan yang kedua memang bohong, sebenar nya ke dokter ortopedi memang sengaja menemui kak Hafis untuk mengambil obat mama, nah jadi bohong nya sedikit kan kak daripada kak Dewa "
Kali ini Dewa yang tertawa mendengar pembelaan dari Violet.
" Dan lebih menyedihkan lagi sejak pagi bertemu mama kamu aku tidak menyadari kalau kita sudah pernah bertemu di klinik, maka nya aku kaget tadi mendengar suara kamu, andaikan aku ingat sama mama kamu pasti aku bisa mengendalikan diri dari keterkejutan "
" Eh iya ya, mama kok juga tidak ingat ya dengan kak Dewa hahaha "
" Sungguh kejutan yang luar biasa Vio, aku suka ada kamu di sini, kemarin saat papa mengajak untuk memenuhi undangan om Ilham aku agak tidak setuju, tapi sepertinya sekarang aku enggan hari esok akan datang karena kita sekeluarga akan berpisah "
" Apa sih kak "
" Nanti kalau ada waktu senggang kita keluar ya, kita jalan-jalan berdua " Dewa tidak menyiakan kesempatan untuk mengajak Violet.
" Tidak enak sama yang lain kak, harus ya kita keluar jalan-jalan berdua "
" Nanti aku yang minta ijin ke om Ilham "
" Ajak Deasy ya kak, aku tidak enak kalau kita keluar berdua "
" Di lihat saja nanti, Deasy mau ikut apa tidak " Ada senyum yang tidak bisa di artikan oleh Dewa.
" Hem, ternyata kalian tidak terpisahkan ya sejak dari meja makan tadi " tegur Deasy sambil menggendong Leyta.
__ADS_1
" Eh kenapa kamu yang gendong Leyta, kak Elisa mana? sini biar aku gendong " Violet mengedarkan pandangan mencari kak Elis, lalu dia menyodorkan tangan ke arah Leyta karena tidak enak hati menitipkan ke Deasy.
" Kak Elis masih video call kak, sudah biarkan Leyta sama aku, dia lucu menggemaskan "
" yakin nih, kalau begitu aku lanjutkan bantu kak Dewa ya pasang tenda nya "
" Yakin dong "
Violet selalu tertawa kalau melihat Deasy, dia anak yang ceria dan menyenangkan jadi Violet pun suka menanggapi kelakuan Deasy.
" Kak, boleh tidak aku minta di ajari buat bros, aku masih belum bisa move on dari semua yang kakak buat " mengayunkan pelan tubuh Leyta karena terlihat sudah mulai mengantuk.
" Deasy, jangan merepotkan Violet, masih banyak yang Violet kerjakan di toko dan menyelesaikan skripsi "
" Boleh, kalau aku ada waktu luang kita bertemu di toko ya, nanti aku ajari "
" Jangan di buat beban permintaan Deasy, kamu harus fokus dulu sama tugas akhir kamu "
Eh kenapa jadi mengatur aku, gumam Violet dalam hati.
" Apa juga hak kakak melarang kak Vio, lagian mbak Vio kan juga bisa memilah waktu, aku juga tidak mungkin kan memaksa kak Vio, aku siap menunggu kok kapan waktu luang nya kak Vio, dasar kak Dewa posesif "
" Deasy" Dewa menekan panggilan nya ke Deasy karena malu di sebut posesif.
" Sudah-sudah, kalian ini selalu bertengkar.
" Aku masuk dulu kak, Leyta sudah tidur mau aku taruh di ranjang saja, jangan terlalu dekat sama kak Dewa ya nanti pusing kalau kak Vio jadi korban keposesifan dia "
" Deasy "
" Hahaha, Deasy lucu nya "
" Maaf ya, Deasy memang selalu tidak bisa memilah ucapan nya "
" Kenapa sih kak, bagi aku biasa saja, jangan baper begitu sama adik sendiri "
" Aku hanya tidak rela Deasy merepotkan kamu "
" Putri mas Ilham memang cantik-cantik, kak Elis cantik jadi tidak salah kalau Radit jatuh cinta, dan kamu Violet tidak kalah cantik nya, kreatif dan ramah lagi, ah tante selalu kagum sama kamu kalau ingat hadiah yang di berikan Deasy "
" Tante sudah dong, dari tadi memuji saja kan Vio jadi malu "
" Manis nya kalau senyum, iya kan Dewa " tante Ani mencubit hidung Violet.
" Kenyataan nya begitu ma "
" Apa lagi sih kak " tersipu malu dan heran mengapa satu keluarga ini suka memuji berlebihan.
" Jadi kalian sebenar nya sudah bertemu berapa kali? "
" Tiga tante "
" Lima ma "
Violet dan Dewa menjawab bersamaan yang di ikuti kebingunan serta tawa dari tante Ani.
" Kenapa jawaban kalian tidak sama? Dewa apa kamu bertemu dengan Violet di alam mimpi kamu juga kok bisa lebih dari tiga? "
" Sepertinya begitu ma " melirik ke arah Violet yang terlihat malu.
" Apa nilai matematika kak Dewa bagus tante? "
" Hahaha kalian itu lucu sekali sih, sudah ah tante masuk dulu mau bantu mama kamu masak buat makan siang, kalian lanjutkan saja pekerjaan kalian "
" Kak, nanti jadi? "
" Apa nya? "
" Jalan-jalan nya? "
" Wah sudah tidak sabar ya mau jalan-jalan sama aku? " Dewa menggoda Violet.
" Kak Dewa ih, maksud aku kalau memang ada acara keluar bagaimana kalau jangan malam hari, kita pergi nya siang setelah makan atau menjelang sore, aku tidak mau ketinggalan acara ala-ala camping ground keluarga kita "
__ADS_1
" Begitu ya, boleh setelah makan siang bagaimana? "
" Iya kak aku setuju siang saja, aku beri tau Deasy ya kak "
" Iya tapi kita selesaikan menata perlengkapan untuk nanti malam dulu "
" Siap kak Dewa "
Makan siang kali ini tidak berada pada satu meja, semua menikmati makan sesuai selera tempat mereka masing-masing, ada yang di tenda ada yang di teras belakang dan ada yang tetap di meja makan. Dan setelah makan siang Dewa langsung mengirimkan pesan ke Violet untuk segera bersiap pergi.
" Cieeee, cantik nya yang mau kencan berdua "
Deasy menggoda Violet yang baru keluar dari kamar dan menghampiri semua keluarga yang berkumpul di ruang tengah. Di sana sudah ada Dewa yang terlebih dahulu bergabung untuk meminta ijin ke papa Violet dan papa nya.
" Siapa yang kencan Deasy, kita hanya jalan-jalan ayo kamu ikut ya "
" Maaf kak, hari ini aku adalah adik dari kak Elis bukan adik dari kak Dewa jadi aku sudah ada kegiatan sendiri dengan kak Elis "
" Aahh nanti aku bawa pulang kamu Deasy " jawab kak Elis dan di ikuti tawa semua orang yang ada di situ.
" Ya sudah Dewa pamit dulu, om ijin ya bawa Violet jalan-jalan "
" Iya silahkan, Hati-hati di jalan "
" Pa ma, Vio pergi dulu, mari semua "
Saat sudah keluar dari gerbang villa, Violet menghembuskan nafas panjang seperti ingin melepaskan sesak di dada, hingga Dewa pun menoleh ke arah Vio.
" Kenapa? "
" Apa kak? "
" Kenapa menghela nafas panjang? "
" Entahlah, kok aku tadi malu ya kak di depan keluarga kita, aku tidak tau apa yang mereka pikirkan tapi mereka semua memandang kita dengan senyum-senyum seperti kita ada hubungan khusus saja "
" Kenapa harus malu, kalau kita benar ada hubungan khusus juga memang nya kenapa?
" Ah kak Dewa, memang nya kak Dewa tadi ijin nya kita kemana sih? kok waktu aku keluar kamar semua melihat aku dengan senyuman yang tidak bisa si artikan "
" Aku bilang, om Ilham saya ijin ya mau mengajak Violet kencan "
" Kak Dewa serius? jangan bercanda deh kak, maksud nya apa coba? " Violet cemberut mendengar jawaban Dewa.
" Hahaha serius banget sih menanggapi, tapi misal nya aku ijin seperti itu diijinkan tidak ya sama om Ilham, anak perempuan bungsu pasti di sayang sekali dan susah mendapat ijin "
"Bisa-bisa nya jail ke aku, kalau mau ajak aku kencan yang perlu kak Dewa perjuangkan adalah ijin dari kak Hafis hahaha "
" Sepertinya begitu, tadi waktu aku ijin yang menjawab bukan om Ilham tapi malah dokter Hafis, mau kemana? jangan pulang terlalu malam dokter Dewa hahaha "
" Hahaha dia begitu posesif sama aku kak, bahkan kulitku sedikit saja tergores kak Hafis tidak pernah rela "
" Mungkin suatu hari nanti akan ada yang lebih posesif dari kak Hafis " Dewa tersenyum penuh arti.
" Ah seperti nya tidak akan bisa tergantikan kak "
" Kenapa kamu polos sekali sih Vio? lihat saja nanti "
Violet hanya mengerutkan dahi nya bingung dengan ucapan Dewa.
" Kamu tau tempat yang bagus dan nyaman buat ngopi? "
" Aku suka pemandangan kak, apa kak Dewa suka cafe yang menyajikan pemandangan? "
" Aku ikut mau kamu Vio "
" Baiklah kak kita kesana, eh tapi tempat nya dingin sekali kak dan aku lupa bawa jaket "
" Aku sudah bawakan jaket untuk kamu "
" Eh "
Saat Dewa pamit tadi, kak Hafis berpesan kalau Violet tidak kuat dengan udara dingin, biasa nya dia tiba-tiba menggigil jadi kak Hafis mengingatkan untuk tidak mengajak Violet ke tempat lebih tinggi dan terbuka.
__ADS_1