
Di malam hari, hujan masih tampak mengguyur meski tak sederas seharian tadi,
Anggita berdiri gelisah sambil bersandar di pintu kaca yang menuju balkon apartemennya,
Kedua matanya yang kini mulai memerah menatap terus layar hp yang ada di tangannya,
Sudah lebih dari dua puluh kali ia mencoba melakukan panggilan ke sebuah nomor yang ia namai Sayang,
"Ke mana dia,"
Lirih suara Anggita setengah menggerutu, wajah cantiknya kini mulai ditekuk sedemikian rupa,
"Tega,"
Lirih Anggita lagi dengan mata yang berkaca-kaca, dan mulai memainkan jemarinya di hp miliknya,
Menulis kata-kata yang begitu panjang untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan,
Mas?
Mas, kamu tidak lupa dengan janji kita kan?
Mas!
Ke mana kamu?
Kenapa hp tidak aktif?
Kamu sengaja, iya kan?
Kamu saat ini bersama isteri mu kan?
Jangan katakan kamu menikmati suasana malam ini dengannya!
Aku tidak rela Mas!
Mas!
Laki-laki baji**an! Begitu mudahnya melupakan janji!
Anggita terus menulis berbagai kata yang melintas di pikirannya, apapun yang saat itu terlintas, maka itu pulalah yang ia tulis dan kirimkan ke nomor dengan nama sayang itu,
Sampai kemudian, setelah ia merasa telah banyak sekali yang ia kirimkan, Anggita yang kesal tampak melempar hp nya ke atas karpet bulu yang ada di dalam ruangan apartemen itu,
Anggita tampak menangis karena terlalu kesal, dibawanya langkahnya dengan kasar menuju tempat tidurnya, lalu melompat ke atas tempat tidur yang empuk itu,
Anggita dengan posisi tengkurap tampak kemudian menangis tersedu-sedu, sambil sesekali tangannya menarik seprei lalu memukuli kasur dengan tangannya berkali-kali untuk meluapkan kekesalan,
Ya, kesal, tentu saja dia kesal, karena laki-laki yang merupakan kekasihnya sudah membuat janji dengannya sejak dua tiga hari lalu, jika malam ini ia akan menginap di apartemen Anggita,
Menginap untuk menghabiskan waktu malam bersama, sambil membicarakan hubungan mereka nanti ke depannya akan bagaimana mengingat Anggita kini telah berbadan dua,
"Tega, tega!!"
Kata Anggita lagi dengan kesal sambil menangis dan memukuli kasur,
"Kau tega sekali sengaja menon aktifkan hp agar tak bisa dihubungi, demi tetap bersama isteri yang kurus dan mandul,"
Anggita terdengar terus menggerutu,
Wajahnya yang cantik tampak basah oleh air mata yang terus bercucuran, dadanya sakit membayangkan kekasihnya tengah mendekap isterinya di tengah suasana hujan seperti saat ini,
__ADS_1
Suasana yang begitu romantis untuk dilewati pasangan, yang seharusnya dialah yang bersama sang kekasih saat ini,
Anggita menangis semakin menjadi manakala bayangan sang kekasih kini tengah bersama isterinya di dalam kamar dan menikmati kebersamaan mereka,
"Aku tidak rela mas... sungguh aku tidak rela..."
Rintih Anggita pilu.
...****************...
"Gimana rasanya? Udah lebih enak dibanding yang pertama?"
Tanya Siska pada Candra, suaminya, yang kini duduk di sebelahnya sambil menikmati steak buatan Siska,
Malam ini, seperti yang dijanjikan Siska, ia memasak makanan kesukaan sang suami karena akhirnya tak jadi pergi,
Tampak mereka menikmati steak bersama Nenek di ruang makan, meskipun Nenek lebih memilih dibuatkan chicken katsu pada Siska,
"Usahakan setiap hari pulang cepat agar bisa makan masakan isterimu saja di rumah,"
Kata Nenek, menyela,
Candra menatap Nenek mertuanya yang duduk di seberang meja, yang berhadapan dengan Siska,
"Kadang Mas Candra sibuk lembur Nek,"
Siska terdengar mencoba membela sang suami,
Nenek memotong chicken katsu nya dengan pisau,
"Jangan terlalu sering lembur, apalagi lembur di luar rumah, banyak perempuan syetan di luar yang senang mengganggu suami orang,"
Kata Nenek lagi, yang kali ini membuat Candra yang tengah mengunyah potongan steak jadi tersedak dan terbatuk-batuk,
"Laki-laki yang tak bisa menjaga pandangan akan mudah terjebak oleh perempuan-perempuan syetan, kau harus hati-hati Candra, kau sudah memiliki cucuku, dia perempuan yang baik dan tak pernah sekalipun menyalahimu,"
Kata Nenek lagi,
Candra yang batuknya telah reda, tampak mengangguk lalu minum air putih dengan gugup,
Wajahnya entah kenapa terlihat memerah, entah karena baru saja tersedak, atau justeru entah karena yang lain,
"Mas Candra tidak akan melakukannya Nek, aku mengenalnya sejak remaja,"
Ujar Siska yang masih berusaha sekuat tenaga membela suaminya,
"Ya kan Mas?"
Siska pun meraih tangan Candra yang terasa dingin,
Sekilas Candra mengangguk sambil tersenyum ke arah Siska, lalu kembali memilih minum air putih lagi hingga habis,
"Mas habiskan saja dulu makan malamnya Mas, setelah itu istirahat,"
Kata Siska lembut,
Candra menoleh ke arah Siska lagi, lalu tampak ia mengangguk,
Laki-laki berwajah tampan itupun lantas mencoba menikmati kembali steak buatan isterinya yang tinggal dua potong lagi,
Namun, karena kata-kata Nenek yang begitu pedas dirasa, Candra kini tak lagi mampu merasakan kelezatan daging yang telah diolah dengan lezat oleh Siska untuknya,
__ADS_1
"Perempuan syetan yang senang dengan suami orang lain harus dicincang,"
Tiba-tiba Nenek kembali berkata, meski suaranya seperti gumaman saja, tapi jelas suara Nenek masih bisa didengar oleh Siska dan Candra yang duduk di hadapannya,
"Cincang sampai habis, agar mereka jera, agar yang lain tak ikut-ikutan,"
Tambah Nenek, yang kali ini sambil menusuk chicken katsu di piringnya, suara ujung pisau yang ia tusukkan ke daging ayam tertembus hingga ke bawah hingga menimbulkan suara yang khas karena membentur piring,
"Mata perempuan yang suka memandangi wajah suami perempuan lain, sebaiknya kita colok dengan garpu!"
Kali ini Nenek berganti menusuk bagian potongan chicken nya dengan sendok garpu,
Siska dan Candra yang melihat Nenek bersikap aneh jadi saling berpandangan,
Candra memberikan isyarat pada Siska agar sebaiknya mengajak Nenek masuk ke dalam kamar saja,
Siska yang mengerti dan karena ia pun merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukan Neneknya, cepat Siska pun berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Nenek,
"Sudah Nek, kita masuk kamar saja ya Nek,"
Siska merangkul Neneknya sambil berusaha mengajaknya berdiri agar bisa kembali ke kamar saja,
"Kamu harus hati-hati Siska, jangan percaya begitu saja pada laki-laki, mereka tak sepenuhnya bisa dipercaya, di depan kita baik tapi bisa saja di belakang kita mereka berbuat jahat,"
Kata Nenek,
"Iya Nek, Siska tahu Nek, tapi Mas Candra tidak akan seperti itu Nek, percayalah pada Siska, ya..."
Nenek tampak memandangi cucunya,
Wajah sang cucu yang cantik dan polos sebagaimana gadis yang masih kecil, sementara kemudian Nenek beralih memandang Candra yang tampak langsung gugup,
"Kenapa kau gugup?"
Tanya Nenek pada Candra yang kebingungan harus menjawab apa,
"Sudah Nek, sudah, Mas Candra hanya sedang banyak pikiran soal pekerjaannya Nek, ya kan Mas?"
Siska menatap ke arah Candra yang masih terlihat gugup hingga hanya bisa mengangguk saja,
Siska lantas menatap Neneknya,
"Nah, Nenek kini sudah bisa tenang bukan? Mas Candra jika pulang malam karena ia banyak pekerjaan yang harus diselesaikan saja Nek, bukan karena hal lain,"
Kata Siska sambil mengajak Nenek berdiri dari duduknya untuk kemudian diajaknya kembali masuk ke dalam kamar,
"Aku mengawasi mu Ndra,"
Kata Nenek pada Candra yang wajahnya seketika memerah lagi,
Siska yang tak mau Neneknya bicara aneh-aneh lagi akhirnya cepat menggandeng sang Nenek menuju kamar,
"Kamu harus hati-hati Siska, dengar dan ingat-ingat kata-kata Nenek, jangan percaya begitu saja pada laki-laki, mengerti siska..."
Kata Nenek pada Siska berulangkali,
Bahkan saat mereka telah masuk ke dalam kamar, Nenek masih mengatakan hal yang sama,
"Iya Nek, iya, Siska akan ingat, sekarang Nenek istirahat saja, ya Nek ya..."
Siska membantu Nenek naik ke atas tempat tidur,
__ADS_1
Untunglah Siska memang orang yang selalu bisa sabar menghadapi Neneknya, meskipun perilaku Nenek seringkali membuat pusing, tapi nyatanya, Siska memang sangat menyayanginya.
...****************...