Tragedi

Tragedi
24. Sebuah Senyuman


__ADS_3

Candra mengaktifkan hp miliknya dengan hati-hati, di luar sana terdengar suara gemuruh geledek yang mengiringi turunnya hujan yang semakin deras,


Tangan Candra sedikit gemetar, manakala begitu layar hp nya menyala, yang tampak tak lama setelah itu adalah pesan-pesan baru yang sangat banyak dari Anggita,


Pesan baru yang entah berapa detik sekali gadis itu kirimkan padanya itu pun seolah membuncah manakala hp Candra kembali aktif,


Candra menatap nanar layar hp nya, ketika satu jarinya membuka pesan-pesan Anggita yang nyaris memenuhi layar,


Pesan yang semula hanya bertanya Candra ada di mana, pesan yang semula hanya menyampaikan betapa ia rindu dan tak ingin terlalu lama menunggu,


Pesan penuh cinta dan keinginan untuk segera menuntaskannya kemudian berubah menjadi pesan penuh amarah sumpah sarapah,


Pesan yang kemudian makin lama juga berisi tentang ancaman, bahkan...


Candra tangannya semakin gemetaran, melihat foto yang kemudian tampak dikirimkan Anggita,


Foto silet dan juga pergelangan tangan gadis itu,


Datang sekarang, atau kamu tak akan melihatku dan juga tak akan pernah bisa melihat anakmu!


Melihat pesan terakhir Anggita itu, tanpa berpikir panjang lagi, tampak Candra langsung menghubungi Anggita,


Laki-laki muda berparas tampan itu pun membawa hp nya keluar dari kamar,


Lama, tak ada jawaban.


Dada Candra pun tentu semakin berdegup kencang, begitu bergemuruh layaknya langit di luar sana yang kini suara gemuruhnya semakin terdengar keras,


"Ayolah angkat sayang, angkat,"


Gumam Candra sembari mondar mandir panik di ruang tengah yang di mana di sana untuk ruangan nonton TV, ruang makan dan juga dapur kecil khusus untuk Siska membuat kue, ataupun sekedar kopi dan teh,


Sekitar enam kali Candra berusaha menghubungi Anggita tak juga ada jawaban, ia pun lantas menghubungi seseorang, yang tampaknya adalah temannya,


"Ya,"


Untunglah suara itu langsung terdengar di sana,


"Ndi, kau ada di mana?"


Tanya Candra,

__ADS_1


"Aku? Di apartemen ku, hujan deras di luar, kau jadi menginap di sini kan?"


Tanya teman Candra bernama Andi itu,


Candra menghela nafas,


"Tidak Ndi, Siska tak melepaskan aku pergi, aku tak tega menolaknya, tak bisa,"


Ujar Candra,


Ganti Andi kini yang menghela nafas,


"Sudah kuduga pada akhirnya kau akan mulai gamang saat nanti kau lelah berbohong pada isteri mu, aku sudah peringatkan sejak awal sebelum kau bermain api terlalu jauh,"


Ujar Andi,


"Sudahlah, tunda ceramahnya, kumohon, pergilah ke tempat Anggita, aku tidak bisa menghubunginya, ia mengirimiku foto yang mengerikan, ia mengancam akan bunuh diri jika aku tidak datang, aku takut dia nekat,"


Kata Candra dengan suara bergetar karena panik luar biasa,


"Hah, sungguh?"


"Ya Ndi, kumohon, pergilah ke sana, aku tak mau dia celaka dan anakku... calon anakku, selamatkan dia, aku akan segera menyusul Ndi, tolong,"


"Ya... ya... baiklah,"


Kata Andi,


Candra kemudian memberikan kode kunci pintu apartemen miliknya yang ia sengaja cicil untuk tempat tinggal Anggita,


Setelah itu Candra mematikan hp nya, namun begitu ia berbalik, tiba-tiba dilihatnya Siska telah berdiri di belakangnya,


Perempuan itu menatap nanar Candra, wajahnya menyiratkan kesedihan, kemarahan, kekecewaan dan entah apalagi yang Candra bahkan tak sanggup membayangkan apa yang kini memenuhi dada isterinya,


"Sa... sayang, ak... aku..."


"Aku tak percaya ini Mas, kau... kau..."


Tangis Siska pun pecah,


Baru saja Neneknya memperingatkannya, tapi tiba-tiba mimpi buruk itu sudah terjadi begitu saja,

__ADS_1


"Ak... aku bisa jelaskan sayang,"


Candra berusaha meraih Siska, tapi Siska menampik tangan suaminya, hingga hp milik suaminya itu terpental ke arah pintu kamar Nenek,


Candra yang sudah kehilangan fokus, yang di mana kepalanya rasanya sudah mau pecah tampak menangis pula, ia meremas rambut kepalanya sendiri dengan kedua tangannya,


"Bagaimana bisa kamu tega melakukannya padaku Mas? Apa ini hanya karena aku belum memiliki anak? Apa karena ini kau merasa berhak berselingkuh? Apa karena ini kamu merasa tak masalah mencari rahim lain untuk mendapatkan anak?"


Tanya Siska di tengah tangisannya yang semakin menjadi, ia bersimpuh di atas lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak dan sakit,


"Sayang, ku mohon, dengarkan penjelasan ku, aku..."


"Aku tak butuh penjelasan Mas, apa yang kau lakukan sudah jelas pengkhianatan untuk pernikahan kita yang suci,"


Kata Siska masih sambil terus tersedu, saat kemudian tangan Candra berusaha meraihnya lagi, Siska pun kembali menampik dengan kasar tangan sang suami,


"Jangan sentuh aku, sejak malam ini ku haramkan tanganmu menyentuhku, pergilah! Pergi!!"


Kata Siska dengan suara yang meninggi,


Candra yang antara masih ingin merengkuh Siska agar perempuan itu bisa tenang, tapi juga di lain sisi ia juga khawatir dengan kondisi Anggita dan calon anaknya, akhirnya terjebak dalam kebingungan yang seolah nyaris membuatnya gila,


"Pergilah! Kau bilang kau khawatir dengan calon anakmu bukan?! Pergilah!!"


Usir Siska lagi.


Dalam keributan keduanya, tanpa mereka sadari pintu kamar Nenek terbuka pelahan,


Nenek Maryati keluar dari sana, yang kemudian mendapati hp milik Candra di dekat pintu kamarnya,


Sebuah panggilan masuk terlihat di hp itu, panggilan masuk dari Andi,


Nenek meraih hp itu, lalu dibawanya masuk kembali ke dalam kamar,


Nenek mengangkat panggilan dari Andi, yang kemudian terdengar suara Andi di seberang sana,


"Ndra, benar Anggita mencoba bunuh diri, ia mengiris pergelangan tangannya dengan silet, aku langsung melarikannya ke Rumah Sakit terdekat, kau langsung ke sana ya,"


Kata Andi, yang kemudian kembali menyebutkan nama Rumah Sakitnya,


Setelah mendengar nama Rumah Sakit di mana Anggita dilarikan untuk dilakukan upaya penyelamatan, Nenek Maryati pun menutup panggilan itu.

__ADS_1


Seulas senyuman tampak di sudut bibirnya, senyuman aneh yang menyiratkan sesuatu.


...****************...


__ADS_2