
Candra yang terus diusir oleh Siska akhirnya memutuskan benar-benar pergi dalam keputusasaannya,
Ia tentu tak bisa berkata apa-apa lagi karena memang ia yang membuat kesalahan secara sadar,
Merasa jenuh dengan rutinitas pernikahan yang terlalu datar membuatnya mencoba bermain api dan kini akhirnya bukan dirinya saja yang terbakar, tapi semua,
Candra keluar dari rumah Nenek mertuanya sambil menangis, dadanya begitu sakit karena dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan yang begitu dalam,
Sementara itu, Nenek Maryati yang mendengar mobil Candra di depan rumah sepertinya pergi, kini tampak kemudian keluar dari kamar,
Didapatinya Siska yang masih menangis sambil duduk di atas lantai rumah yang masih terbuat dari tegel dengan warna abu-abu,
Nenek Maryati berjalan pelahan mendekat, mengulurkan tangan sambil mengelus kepala sang cucu,
"Jangan tangisi laki-laki seperti dia,"
Kata Nenek,
Siska tampak mendongakkan kepalanya, matanya yang berurai air mata menatap wajah sang Nenek,
Tampak Nenek kemudian menunduk dan meminta Siska berdiri,
"Masih ada Nenek, kau tak sendirian, jangan sedih,"
Kata Nenek lagi,
"Apa aku begitu jelek Nek? Apa aku begitu nista karena tak bisa memberikan keturunan hingga layak diperlakukan seperti ini?"
Siska meraung, meluapkan seluruh apa yang ia rasa dan pikirkan,
__ADS_1
Nenek tentu saja menggeleng,
"Tidak, kamu sangat cantik dan juga baik, tak ada perempuan sebaik dan secantik kamu yang Nenek kenal, jangan berkecil hati hanya karena laki-laki jahat seperti Candra,"
Nenek berkata sambil menuntun Siska masuk ke dalam kamar,
"Perempuan itu memiliki anak, dia subur, tidak seperti ku, ya kan Nek?"
Siska kembali bergumam,
Nenek menghela nafas,
"Untuk apa kau cemburu dengan perempuan yang menjadikan rahimnya murah?"
Nenek lantas mendudukkan Siska di atas tempat tidurnya, lalu menyuruhnya berbaring,
Ujar Nenek sembari mengelus kepala cucu kesayangannya,
Siska yang mendengar kata-kata Nenek hanya bisa menangis di atas tempat tidurnya,
Membayangkan Nenek akan memanggil kakak-kakak Siska pulang dan mendatangi keluarga Candra untuk meminta pertanggungjawaban saja rasanya Siska sudah begitu hancur,
Ya hancur, sebagaimana kini nasib rumah tangganya yang tak tahu lagi akan bagaimana,
Hujan di luar sana kini sudah mulai mereda, dan begitu subuh datang, tampak hujan akhirnya reda,
Nenek merebus air untuk ia menyeduh teh sendiri, seperti biasa, ia pun menyalakan TV untuk menonton berita,
"Seorang tetangga dari lokasi di mana kerangka ditemukan memberikan kesaksian baru-baru ini, setelah polisi mengumumkan korban teridentifikasi sebagai Intan Larasati yang dilaporkan hilang di tahun 1977, dan sempat pihak keluarga meminta mantan majikannya diusut namun sampai hari ini tidak ditemukan jejaknya,"
__ADS_1
Tampak pembawa berita perempuan yang bicara, lalu...
"Saksi dikabarkan adalah tetangga sekaligus juga majikan dari asisten rumah tangga yang dulu cukup dekat dengan korban, sayangnya beliau tidak berkenan hadir untuk wawancara di studio karena alasan kesehatan,"
Pembawa berita laki-laki berganti yang bicara,
Suara siulan ceret dari air yang mendidih terdengar, Maryati dengan senyuman yang misterius kini tampak mematikan kompor,
Tangannya yang meski telah dipenuhi keriput tampak meraih gagang ceret dan lantas langsung ia tuang ke dalam gelas yang telah ia siapkan satu kantung teh celup kesukaannya,
"Kami akan hadirkan narasumber kita pagi ini untuk berbincang tentang kasus yang menghebohkan ini, kasus yang karena telah dua puluh tahun berlalu dan dinyatakan kadaluarsa, yang kemungkinan besar pelaku tidak bisa ditangkap dan di hukum atas apa yang telah dilakukan,"
Pembawa berita laki-laki bersuara lagi,
Suaranya berselang-seling dengan suara sendok teh yang beberapa kali membentur dinding gelas karena Nenek mengaduk teh nya,
Nenek Maryati kembali tersenyum, senyuman yang misterius,
Di pelupuk mata masih jelas bayangannya saat ia menusuk Intan berkali-kali, masih terngiang suara rintihannya menahan sakit, dan bahkan aroma anyir darahnya yang mengalir dari tubuh yang baru saja dinikmati suaminya.
"Alam juga tahu, kau tak perlu dibela, hingga aku tak perlu dihukum karena membinasakan perempuan syetan seperti mu."
Gumam Nenek Maryati sambil tersenyum, lalu...
"Anggita, itukah nama perempuan syetan yang baru?"
Gumam Nenek pula, yang kemudian terkekeh-kekeh.
...****************...
__ADS_1