Tragedi

Tragedi
26. Kegelapan


__ADS_3

Beberapa jam sebelumnya,


Candra tampak membawa mobilnya menuju apartemen di mana Anggita tinggal, ia sudah tak bisa berpikir saat ini kecuali harus mengakhiri salah satu di antara Anggita dan Siska,


Anggita, ya Anggita, dia masih muda, dia juga sangat cantik, pasti akan baik-baik saja jika Candra melepaskannya,


Biarlah, anak itu akan ia ambil dan ia rawat bersama Siska, pasti Siska akan bersedia,


Hari ini Siska mengusir pasti karena kemarahannya yang sesaat saja, ia perempuan yang sangat baik, dan Candra tahu betul akan hal itu,


Dalam waktu singkat, Siska pasti akan melupakan semuanya, memaafkan segalanya, dan mereka bisa kembali bahagia,


Candra pun seolah tenggelam dalam harapan yang semu, harapan yang meski ia sendiri tak tahu itu akan benar terjadi atau tidak,


Tapi...


Bayangan Siska histeris sungguh ternyata membuat dadanya seperti akan meledak karena marah pada dirinya sendiri,


Ia sungguh membenci dirinya saat ini, Candra sungguh begitu membenci semua yang ia lakukan hingga menjadi seperti ini,


Candra terus membawa mobilnya menuju apartemen di mana Anggita tinggal,


Hingga kemudian, saat mobil Candra akan menyebrang menuju kawasan apartemen, dari arah yang berlawanan, tiba-tiba sebuah truck box berwarna putih melaju dengan kencang dan...


BRAKH!!


Kecelakaan pun tak terelakkan, mobil yang di kendarai Candra langsung terpental dan ditabrak mobil lain yang dari arah belakangnya,

__ADS_1


Keadaan semacam itu membuat mobil yang ditabrak dari sana sini menjadikan mobil yang dikendarai Candra pun terguling,


Candra yang berada di dalam mobil sempat menggumamkan nama Siska, bayangan Siska yang sedang menangis histeris membuatnya semakin merasa seluruh yang ada pada dirinya sakit, dan...


Gelap. Semuanya menjadi gelap.


Kembali ke waktu sekarang,


Tuuuuuuut... tuuuuuuut... tuuuuuuut...


Terdengar suara bunyi pesawat telepon di rumah Nenek, tampak Nenek yang sedang duduk di kursi goyang sambil mengikuti berita penemuan kerangka Intan yang tampaknya terus digoreng dengan banyak kemungkinan motif membuat Nenek terus tertawa-tawa,


Tuuuut... tuuuuut... tuuuuuuut...


Pesawat telepon terus berbunyi, yang kemudian membuat Nenek terpaksa turun dari kursi goyangnya yang nyaman,


Siska sudah tak lagi menangis, namun keduanya matanya terlihat begitu sembab,


Perempuan muda itu terhuyung berjalan menghampiri pesawat telepon,


"Halo, selamat pagi,"


Kata Siska,


"Halo, dengan Nyonya Siska?"


Terdengar suara laki-laki dari seberang sana,

__ADS_1


"Ya betul, ini saya sendiri,"


Kata Siska, yang selanjutnya terdengar dari seberang sana laki-laki itu kemudian menyampaikan kabar buruk untuk Siska,


"Mas... Mas... Mas Candra?"


Siska tergagap, tangannya bergetar dan kemudian Siska pun jatuh ke lantai tak sadarkan diri.


Nenek Maryati yang melihat cucu kesayangannya jatuh pingsan bergegas menghampiri Siska,


Diraihnya tubuh cucunya itu, dan ditepuk-tepuknya pipinya,


"Siska... Siska cucuku yang malang, bangunlah, sadarlah..."


Kata Nenek Maryati,


Tubuh Siska terasa dingin, kedua matanya terpejam rapat, begitu juga bibirnya,


Nenek Maryati mengelus kepala sang cucu, semakin hancur hatinya melihat apa yang harus ditanggung cucunya yang malang,


"Bangunlah sayang... Semua akan baik-baik saja, bangunlah... biar nenek yang akan membereskan semuanya,"


Maryati mengusap pipi sang cucu,


Sementara di TV, berita tentang penemuan kerangka Intan kini sampai pada babak baru di mana anak pemilik toko perhiasan memberikan kesaksian jika dulu perhiasan itu memang buatan toko mereka dengan designer husus toko mereka pula,


Perhiasan yang hanya dibuat lima belas set, dan semuanya dibeli oleh pelanggan tetap yang semuanya telah meninggal.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2