
Maryati, menarik selang infus dari tangan Anggita, gerakan yang tiba-tiba itupun lantas membuat Anggita terbangun,
Tampak Anggita membuka matanya, dan begitu mendapati seorang Nenek yang tak ia kenal berdiri sambil menyeringai ke arahnya, Anggita pun menjerit,
Sayangnya, belum lagi jeritan itu terdengar, Nenek Maryati lebih dulu menarik bantal yang ada di bawah kepala Anggita untuk kemudian membekap wajah cantik perempuan muda tersebut,
Anggita yang tak mampu bernafas tampak kelojotan, dan dalam keadaan seperti itu, Nenek Maryati menghujamkan gunting rambut yang runcing itu langsung ke perut Anggita,
"Kau dan bayi haram mu tak berhak hidup di muka bumi, sudah terlalu banyak manusia sampah seperti mu hidup di sini, mengganggu kehidupan perempuan lain, mengambil kebahagiaannya secara menjijikan,"
Nenek Maryati bergumam-gumam sambil menghujamkan guntingnya, mencabutnya, menghujamkan lagi,
Darah Anggita mengalir begitu deras, darah itu memenuhi ranjang dan lantai rumah sakit,
"Sebentar lagi kau akan bertemu Candra, berkumpul dengannya, hahahaha... hahahaha... kalian juga mungkin akan bertemu Intan dan mantan suamiku Dadang, kalian sekelompok mahluk menjijikan pasti akan dikumpulkan dalam satu wadah besar dan dibakar di sana bukan? Hahahaha... hahahaha..."
Nenek Maryati tertawa-tawa puas,
Gunting rambut yang ia hunjamkan entah berapa kali ke perut Anggita dicabutnya,
Ia tampak terhuyung-huyung berjalan mundur ke belakang, sementara matanya tetap memandangi mayat Anggita yang bersimbah darah di atas ranjang Rumah Sakit,
Nenek Maryati sekali lagi menyeringai, ia merasa jika apa yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar, sesuatu yang memang sudah seharusnya ia lakukan pada mereka yang dengan seenaknya melakukan kesalahan,
Hingga kemudian, saat Nenek Maryati nyaris sampai ke pintu ruangan inap Anggita,
Tiba-tiba pintu kamar Anggita terbuka pelahan, seorang suster yang membawa makanan dan obat tampak masuk dan seketika menjerit histeris melihat apa yang terjadi pada pasiennya, ditambah pula ia melihat Nenek Maryati yang dengan tenang tersenyum padanya sambil memegangi gunting rambut yang berlumuran darah,
Praaaang!
Nampan dan wadah-wadah makanan yang ia bawa pun jatuh ke lantai, tumpah berantakan di sana,
Suster itu tanpa menunggu lama langsung lari keluar ruangan, sementara Andi yang mendengar jeritan dari kamar Anggita tampak lari dan langsung menuju kamar Anggita,
"Ah tidak!"
Andi berteriak manakala dibukanya pintu kamar Anggita dan mendapatkan pemandangan yang sama dengan yang dilihat suster,
Rumah Sakit dalam sekejap heboh, petugas keamanan Rumah Sakit berlarian mendatangi kamar Anggita,
"Kau, mau menangkapku?"
Tanya Nenek Maryati pada Andi yang saking syoknya sama sekali tak tahu harus melakukan apa,
Nenek itu, ia tahu ia datang bersama Siska, ia tahu jika Nenek itu adalah Nenek isteri temannya,
Tapi...
Jelas Andi tak tahu jika Nenek itu bisa melakukan hal semacam ini, apalagi ia terlihat sama sekali tidak takut setelah menghabisi seorang manusia,
Tubuh Andi gemetar, melihat seorang pembunuh tampak begitu tenang seperti Nenek Maryati,
__ADS_1
Nenek Maryati tersenyum, ia lalu dengan tenang duduk di kursi di dalam ruangan yang telah dipenuhi bau darah,
"Perempuan seperti dia, yang menggunakan kecantikan untuk mengganggu suami orang, sudah sepantasnya memang dihukum demikian, aku membantu alam memusnahkan mereka,"
Kata Nenek Maryati,
"Ta... tapi Nek, ini melanggar hukum,"
Kata Andi tergagap,
Nenek Maryati tersenyum ke arah Andi,
"Hukum? Kenapa memangnya? Salah sendiri tak ada hukum yang bisa membuat mereka para pengkhianat jera, terlalu lamban, membuat orang-orang seperti ini semakin banyak,"
Kata Nenek Maryati lagi,
Andi menatap mayat Anggita yang terbujur di atas ranjang Rumah Sakit dengan wajah tertutup bantal dan perut terburai dengan darah di mana-mana,
Andi perutnya terasa mual, ia lantas muntah-muntah,
Bersama dengan itu petugas keamanan Rumah Sakit dan juga banyak perawat laki-laki berdatangan,
Nenek Maryati ditangkap tanpa perlawanan, ia justru dengan tenang terus mengatakan apa yang ia katakan pada Andi,
Nenek dibawa para petugas keamanan untuk diamankan,
Sementara itu, Siska yang sejak tadi sibuk mengurus jenazah suaminya tiba-tiba dikejutkan berita dari petugas Rumah Sakit yang mengantarnya, bahwa Nenek yang datang bersamanya telah membunuh seorang pasien Rumah Sakit,
Siska yang mendengarnya tentu saja terkejut bukan main,
Teriak Siska,
"Dia sudah diamankan pihak keamanan Rumah Sakit, sebentar lagi polisi akan datang,"
Kata petugas Rumah Sakit tersebut,
Siska yang tak bisa percaya begitu saja berlari keluar dari ruangan di mana saat ini Candra sudah selesai dikafani,
Siska berlari menyusuri koridor Rumah Sakit yang panjang,
Ia sempat melihat kamar di mana tadi sempat bertemu dengan Andi dipenuhi banyak orang,
Siska pun berlari ke arah sana,
"Kasihan sekali, dia sedang hamil,"
Kata seorang perawat laki-laki yang berdiri di dekat pintu,
"Dia hamil dari suami perempuan lain, aku rasa itu karma yang memang harus ia tanggung,"
Kata perawat perempuan,
__ADS_1
"Ah yah, Nenek itu bilang, perempuan itu adalah pengganggu rumah tangga cucu perempuannya,"
Kata perempuan yang sepertinya penunggu pasien di Rumah Sakit tersebut,
"TKP jangan dirusak, bubar... bubar..."
Terdengar petugas keamanan Rumah Sakit datang kembali, membuat kerumunan yang heboh ingin melihat TKP langsung membubarkan diri,
Siska yang berada di sana terdorong ke belakang dan ke kanan kiri tak jelas,
Sempat akan jatuh tapi ia bertahan karena ingin melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri, jika memang benar ada yang terbunuh di sana dan Nenek nya adalah pelakunya,
Hingga, saat kerumunan berlarian menjauh, Siska terhuyung menuju pintu ruangan tempat di mana terjadi pembunuhan,
Ruangan kamar yang jelas tadi di depannya ia berpapasan dengan Andi, teman suaminya,
Darah tampak di mana-mana di dalam ruangan, dan sosok mayat perempuan di atas ranjang terbujur kaku dengan kondisi mengenaskan,
"Tidak! Tidak mungkin,"
Siska terhuyung ke belakang, melihat semuanya dan membayangkan Neneknya yang melakukan rasanya ia tak bisa percaya,
"Anda Nyonya Siska?"
Dan dalam keadaan demikian, tiba-tiba sebuah suara terdengar bertanya,
Siska menatap laki-laki dengan kumis tebal berseragam petugas keamanan Rumah Sakit,
"Ya Pak, saya... saya Siska,"
Kata Siska gemetaran,
"Nenek Anda sudah kami amankan, mohon ikut dengan kami,"
Kata salah satu petugas keamanan itu,
Siska mengangguk mengerti, ia menurut saja mengikuti salah satu petugas keamanan tersebut,
Nenek, apa yang Nenek lakukan? Kenapa Nenek sekeji itu? Batin Siska menangis,
Di ruangan di mana Nenek Maryati diamankan, tampak Nenek duduk dengan tenang menghadapi petugas keamanan dan juga beberapa staf Rumah Sakit yang sebagian adalah perempuan,
"Aku melakukannya untuk cucuku, aku juga melakukannya untuk semua perempuan yang disakiti perempuan macam dia yang ku bunuh, aku ingin semua dari mereka yang merasa memiliki wajah cantik berpikir dengan baik saat akan merebut suami perempuan lain,"
Kata Nenek dengan matanya yang berkaca-kaca,
"Wajah cantik harusnya bisa mencari laki-laki yang masih sendirian, jika wajah cantik untuk merebut suami orang, maka wajah cantik itu harus dirusak, hahahaha ... seperti Intan, kalian tahu apa yang aku lakukan pada wajah itu?"
Nenek menyeringai ke arah orang-orang di ruangan tersebut,
"Aku menghantamnya dengan palu besar,"
__ADS_1
Kata Nenek Maryati, lalu tertawa terbahak-bahak.
...****************...