Tragedi

Tragedi
27. Hukuman Alam


__ADS_3

Siska berjalan terhuyung-huyung memasuki bangunan Rumah Sakit, sementara itu, di belakang nya Nenek Maryati tampak berjalan dengan tenang,


Laki-laki itu pantas mati, tidak perlu ditangisi. Batin Nenek Maryati sambil tersenyum,


Ah yah, tentu saja, ini adalah pertanda jika alam pun ingin melakukan hal yang serupa dengan Nenek Maryati, yang ketika mendapatkan seseorang yang mengkhianati pasangannya, maka alam juga ingin menghukumnya, dan nyata, hukuman untuk Candra adalah kematian,


Ya, kematian, secara tragis dan mutlak,


Seandainya ia tak mati kecelakaan pun, pastinya hari ini ia akan tetap mati dan Nenek Maryati tentu saja memastikan itu,


Siska terus berjalan menuju ruangan khusus jenazah, mengikuti petugas Rumah Sakit yang mengantar,


Hingga saat melewati sebuah lorong di mana banyak ruangan di sana, tiba-tiba terlihat seorang laki-laki muda yang baru saja keluar dari ruangan,


Ia tampak sedang sibuk dengan hp nya, tapi Siska, begitu melihatnya tampak seketika menghentikan langkahnya,


"Mas... Andi?"


Siska menyapa laki-laki muda itu, meskipun ia tak begitu mengenal baik, tapi ia pernah sekali dua kali bertemu dengan teman baik suaminya itu,


Andi, laki-laki muda itu mengangkat wajahnya, ditatapnya sosok perempuan yang terlihat kurus dan kuyu di hadapannya,


Siska, Andi tampak langsung bisa mengenali isteri sah temannya itu,


"Mbak Siska?"


Andi balik memanggil Siska, tampak kemudian Siska mengangguk,


Tampak kemudian ia mendekati Siska,


"Aku dengar..."


Andi tak melanjutkan kalimatnya, tentu saja itu terlalu mengerikan untuk disebut,


Tapi, Siska tahu maksud Andi, ia pasti ingin memastikan kebenaran akan kabar kecelakaan yang membuat Candra meninggal,


"Kami akan melihatnya, dan membawanya pulang untuk dimakamkan,"

__ADS_1


Kata Siska,


Andi sejenak melihat ke ujung lorong yang di sana terdapat banyak sekali ruangan,


Petugas yang mengantar sudah tak terlihat, tampaknya ia malas menunggu Siska yang malah harus mengobrol dengan Andi,


"Jadi dia dilarikan ke Rumah Sakit ini juga,"


Gumam Andi, yang kemudian tanpa sadar menoleh ke arah pintu ruangan di belakangnya, di mana tadi ia baru saja keluar dari sana,


"Mas Andi menunggui siapa di sini?"


Tanya Siska dengan suara tergetar, ia kembali mengingat semua yang ia dengar sebelum akhirnya ribut hebat dengan sang suami,


Tampak Andi yang ditanya terlihat gugup, ia menatap Siska, dan kemudian juga menatap Nenek Maryati yang sejak tadi hanya diam dan memperhatikan dirinya saja,


"Ngg... aku..."


Belum lagi Andi menjawab, tiba-tiba...


"Nyonya Siska, mohon cepat,"


Siska menatap Andi, lalu kemudian beralih pada petugas Rumah Sakit,


"Ya Pak, baik,"


Sahut Siska,


Perempuan itu, yang untuk jalan saja masih terasa lemas tampak memaksakan diri untuk berjalan menyusul sang petugas,


Sementara Nenek Maryati tetap berdiri tak lagi mengekor di belakangnya,


Andi menoleh ke arah Nenek,


"Ngg... Nenek tidak ikut Mbak Siska?"


Tanya Andi,

__ADS_1


Nenek Maryati menggeleng pelan,


Bersamaan dengan itu, hp Andi berdering, tampaknya ada panggilan masuk,


Andi cepat melihat layar hp nya, sebuah nomor yang sejak tadi ia hubungi namun tak juga diangkat,


"Nek, permisi sebentar,"


Kata Andi pada Nenek Maryati, lalu membawa hp nya menjauh sambil mengangkat panggilan yang masuk,


"Ya Andi di sini Pak,"


Masih sempat terdengar suara Andi saat menjawab telfonnya, dan...


"Ya, betul Pak, Anggita ada di sini, saya menjaganya, dia bisa diselamatkan,"


Sayup terdengar suara Andi lagi yang makin menjauh,


Nenek Maryati menoleh sejenak melihat Andi yang kini keluar menuju ruang terbuka,


Nenek sekilas tersenyum, menatap seluruh lorong Rumah Sakit yang tampak sepi,


Setelahnya, ia mulai mengalihkan pandangan ke arah pintu ruangan di mana pasti Anggita dirawat,


Nenek Maryati berjalan mendekati ruangan tersebut, memastikan lagi tak ada yang melihat, lalu ia memutar handle pintu, membukanya pelahan dan masuk...


Anggita, perempuan itu terbaring lemah di atas ranjang dengan sprei putih Rumah Sakit,


Nenek kembali tersenyum, ia pelahan menutup pintu ruangan kamar perawatan Anggita, melangkah mendekati ranjang di mana Anggita dirawat,


"Perempuan syetan, kau ingin menyusul laki-laki yang kau cintai bukan?"


Lirih Nenek bertanya sambil menatap wajah Anggita yang cantik,


Perempuan muda itu terlihat masih terlelap dengan nyaman, tak menyadari jika ada Nenek Maryati yang kini membuka tas tangannya dan mengeluarkan gunting rambut dari dalam sana,


Dan...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2