Train to The Dungeon

Train to The Dungeon
Bab 21: Portal di Taman


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kami bertemu dengan beberapa kelompok goblin biasa maupun Goblin Paladin. Aku menyerang duluan dengan bergerak maju cepat dan menebas leher goblin-goblin itu, sementara Chika membereskan goblin-goblin yang bersembunyi atau berusaha melarikan diri.


Chika bisa mengimbangi kecepatan seranganku dengan baik. Ia lompat sambil melakukan gerakan akrobatik yang mengesakan, benang-benang miliknya mengitari para goblin, menjerat tubuh mereka disertai dengan aliran listrik yang membunuh seketika.


Akhirnya, kami sampai di Taman Puspa. Taman rekreasi dengan lapangan luas dan arena bermain itu tampak dijaga oleh beberapa Goblin Champion. Ada beberapa goblin berambut putih yang mengenakan anting-anting, jubah panjang dan membawa tongkat. Mereka adalah Goblin Shaman yang bisa menggunakan kemampuan sihir. Goblin Shaman juga termasuk dalam Monster Kelas B.


Di tengah lapangan luas itu terdapat lingkaran besar dengan bias biru yang memercikkan energi ke berbagai arah.


“Itu portalnya,” tunjuk Chika. “Tapi, banyak sekali penjaganya.”


“Aku bisa bereskan mereka,” ucapku, tenang.


Saat aku akan melangkah keluar dari gang perumahan, emapasan angin berbentuk sabit melesat ke arahku. Sontak, aku melompat mundur ke belakang.


Kepalaku menengadah ke atas, terlihat seseseorang mengenakan seragam Akademi Hunter. Tubuhnya pendek, wajahnya seperti anak-anak. Ia lompat dari atap rumah dan mendarat di depanku dengan ekspresi pongah yang menyebalkan.


“Mundur warga sipil!” tegurnya sambil mengibaskan tangan.


“Hei, kami Hunter!” sela Chika, kesal. “Ravi, biarkan kami lewat!”


“Kamu kenal dia?” tanyaku pada Chika.


“Kami seangkatan, sekelas malah,” jawab Chika sambil bersedekap.


Aku beralih menatap bocah bernama Ravi tersebut. Ia jelas beberapa tahun lebih muda dari Chika. Namun, fakta kalau anak laki-laki ini sudah bersekolah di Akademi Hunter menunjukkan bahwa dia bukan Hunter sembarangan. Penasaran, aku memindai anak itu.


[Name: Ravindra Gatari


Race: Human | Rank: A


Job: Marksman | Element: Wind


Path: Serenity


Alliance: Hunter Academy]


Badannya memang kecil dan usianya masih muda, tapi ia Hunter Peringkat A. Kemampuannya tidak bisa kuanggap remeh, tapi kalau harus meladeninya, bisa-bisa Tante Tara keburu dilukai oleh para goblin sialan itu. Aku harus mencari kesempatan untuk lolos dari pengawasannya.


“Asosiasi Hunter melarang siapa pun mendekati portal sampai Hunter Peringkat S tiba. Aku hanya menjalankan tugasku disini,” terang Ravi, tegas.

__ADS_1


“Bagaimana dengan tahanan para goblin itu? Mereka keburu terluka kalau menunggu Hunter Peringkat S tiba!” seru Chika, tidak terima.


“Tahanan? Jangan mengarang! Tidak ada informasi seperti itu!” bantah Ravi.


“Ya sudah, biarkan kami masuk kalau begitu! Akan kubuktikan kalau mereka juga menculik para warga!”


“Kalau kubilang tidak ya tidak! Hunter Peringkat B sepertimu hanya bisa bicara! Kamu lihat gerombolan Goblin Champion di lapangan?” Ravi menunjuk monster-monster itu dengan ibu jarinya. “Sebelum masuk portal, tubuhmu sudah akan dipotong-potong oleh mereka!”


“Sok tahu! Kalau belum dicoba mana bisa menyimpulkan seperti itu!” mata Chika sudah berkaca-kaca. Jelas, ia menahan agar emosinya tidak meledak. Tangannya terkepal, ingin meninju bocah berwajah sengak di hadapannya.


Kalau diperhatikan lagi, ekspresi meremehkan dari Ravi membuatku teringat dengan seseorang. Ah, benar. Anak laki-laki di Registrasi Ulang yang mengataiku “sampah” adalah Ravi. Aku ingat sekarang dan jadi ikut merasa kesal.


“Bocah, minggir sana,” akhirnya aku ikut bicara. Nada suaraku terdengar intimidatif dan mataku menatapnya dengan tajam.


Ravi tampak terkejut karena merasakan tekanan kekuatan milikku. Ia heran dan beberapa kali melirik badge tanda Hunter Tanpa Peringkat yang masih tersemat di mantelku.


“Aku tidak akan membiarkan seorang pun lewat!” seru Ravi, melawan tekanan dariku. “Jika ada warga sipil atau Hunter yang terluka di area ini, itu tanggung jawabku!”


Bocah keras kepala. Kurasa tidak ada cara selain memaksa masuk.


“Baiklah, jika ini yang kamu mau,” ucapku sebelum mengaktifkan Shadow Move. tubuhku menghilang ditelan oleh bayangan, dalam sekejap aku lolos dari pengawasan Ravi.


“Apa yang kamu lakukan? Itu bahaya!” Ravi berseru memperingatkan. Namun, bukan hanya Ravi yang terkejut, Chika pun sama paniknya.


Aku dapat merasakan kehadiran semua goblin yang ada di lapangan. Bibirku bergumam menghitung jumlah mereka semua.


“Dua belas Goblin Champion dan tiga Goblin Shaman.”


Tring!


[Quest: Bunuh Goblin Champion (0/12)


Bunuh Goblin Shaman (0/3)


Reward: ??? ]


Aku tersenyum tipis, menyambut misi yang diberikan oleh sistem. Kedua tanganku kini menggenggam Grasscutter dan Crimson Edge. Aku menarik napas dalam-dalam sebelum mengaktifkan Skill Shadow Move.


Sembari tubuhku ditelan oleh bayangan, kakiku melangkah mendekati kerumunan Goblin Champion tersebut, tidak terdeteksi oleh mereka. Sekelebat, aku lompat ke Goblin Champion yang jaraknya paling dekat sambil menyabetkan Grasscutter, memotong tenggorokannya sampai putus. Kepala monster itu terpental dan berguling di rumput, mengejutkan goblin-goblin lainnya.

__ADS_1


Aku bisa mendengar goblin-goblin itu berseru. Salah satu Goblin Shaman mendeteksi keberadaanku dengan sihirnya dan ia memerintah goblin-goblin lain untuk menyerang ke arahku.


Sebuah gada diayunkan kepadaku, tapi bisa kuhindari dengan berkelit ke samping. Aku lompat ke atas pundaknya dan memotong lehernya sampai putus. Saat serangan datang dari kiri dan kanan, aku maju ke depan dan mengincar Goblin Champion yang tampak lengah. Crimson Edge kulayangkan dan menusuk tenggorokannya sampai menembus kepala.


Cepat, aku berpindah tempat ke belakang dan memotong dua leher Goblin Champion, lalu melesat lagi ke depan sambil menghindari serangan bertubi-tubi dari gada Goblin Champion yang mulai mengmauk.


Aku menendang badan salah satu Goblin Champion sampai roboh, lalu kutusuk kepalanya. Sambil melompat menghindari serangan pedang salah satu goblin, aku melayangkan tendangan dan membuatnya jatuh tersungkur. Kulempar Crimson Edge dan seketika menebas lehernya sampai putus.


Terasa hawa panas mendekat, begitu berbalik kulihat beberapa bola api melayang ke arahku. Mengaktifkan Shadow Move, aku berlari menghindari semua serangan sihir itu dan tiba di depan Goblin Shaman yang menyerangku tadi. Grasscutter-ku memutilasi tubuhnya seketika.


Kali ini hawa dingin berputar di sekitarku. Dari lingkaran biru muda di langit melesat bongkah-bongkah es tajam, aku berlari zig-zag untuk menghindarinya. Aku menemukan Goblin Shaman yang menyerangku dan langsung melemparkan Grasscutter ke wajahnya. Penyihir itu mati seketika.


Tersisa satu Goblin Shaman yang mencoba menggangguku dengan sihir-sihir tanah. Aku lompat mundur ke belakang, mencabut Grasscutter lalu gantian melemparnya ke wajah Goblin Shaman yang terakhir. Penyihir itu tumbang dengan kepala pecah.


Goblin Champion yang tersisa berlari menyerbu ke tempatku. Aku berlari dalam posisi rendah, menyelip di antara kaki mereka, naik ke atas pundak dan memelintir kepala salah satu goblin sampai putus. Raksasa itu tumbang dan aku menjarah senjata gadanya. Kuayunkan gada dengan rantai itu ke wajah Goblin Champion di kanan kiri yang berusaha menangkapku.


Jumlah mereka semakin dikit, aku langsung mengambil Grasscutter yang berada di dekat mayat Goblin Shaman. Sambil mengerahkan Shadow Move, aku maju ke arah mereka, menyabetkan mata pisau Grasscutter dan memotong empat tubuh Goblin Champion yang tersisa di lapangan itu.


[Anda telah naik level!]


[Anda telah naik level!]


[Quest: Bunuh Goblin Champion (12/12)


Bunuh Goblin Shaman (3/3)


Reward: Goblin Survival Kit, Status point +3 ]


Darah goblin yang lengket dan bau membanjiri lapangan, sebagian mengenai wajah dan pakaianku. Bersimbah darah, aku memungut Crimson Edge yang tadi kulempar ke salah satu goblin.


Aku bisa melihat ekspresi Chika dan Ravi yang melongo dari kejauhan. Terutama Ravi, mulutnya menganga lebar saking terkejutnya.


Chika seketika melompat turun dari atap rumah dan mengejarku. Kami berdua berada di depan portal dungeon dan bersiap untuk masuk.


“Arka, aku tidak tahu bagaimana kamu bisa sekuat ini, tapi aku lega, setidaknya kita bisa menyelamatkan Mama bersama,” ucap Chika.


“Ya, kita akan membawanya kembali.”


Kakiku melangkah memasuk portal, diikuti oleh Chika. Tubuh kami terbungkus oleh cahaya biru dan menghilang dalam sekejap.

__ADS_1


__ADS_2