Train to The Dungeon

Train to The Dungeon
Bab 33: Penghuni Danau


__ADS_3

Hari semakin gelap, jariku segera bergerak membuka menu sistem dan menuju ke bagian invetory. Tampak sebagian besar kolom-kolom tersebut mulai penuh terisi.


Aku khawatir inventory-ku akan semakin padat berisi material drop dari para monster, jadi pertama-tama akan kugunakan item Iventory Expansion Scroll untuk menambah jumlah kolom di invetory.


Telunjukku mengetuk kolom dengan gambar sebuah gulungan kertas ungu. Di hadapanku seketika muncul item tersebut. Aku membuka gulungan itu untuk mengaktifkannya. Sekejap, kolom inventory yang tadinya 100 kini bertambah menjadi 150.


“Baiklah, selanjutnya untuk berkemah…” Mataku tertuju pada kolom dengan gambar sebuah kotak hijau. Tertera nama “Goblin Survival Kit”.


Ketika ku sentuh gambarnya, ada pilihan untuk membuka kotak tersebut. Aku menyetujui dan item kotak itu menghilang. Muncul lima item baru di inventory. Ada tenda, api unggun, matras, set alat makan, dan kantong air.


Aku mengeluarkan tenda itu dari inventory. Ukurannya cukup besar dan dapat menampung sampai sepuluh orang. Setelah itu aku mengeluarkan matras untuk alas duduk dan sebuah api unggun yang kupasang di depannya.


Sekelilingku sudah berubah menjadi gelap. Terdengar berbagai suara serangga dan hewan malam dari hutan. Api unggun yang menyala-nyala melepas kehangatan yang menenangkan. Namun, suasana itu terganggu oleh suara gemuruh yang datang dari perutku. Aku lapar.


Aku lupa membawa makanan. Roti yang waktu itu kusimpan untuk bekal di dungeon Cornfield juga sudah kumakan.


“Sepertinya tidak ada pilihan selain memasak.”


Aku teringat ada item berbentuk seperti kuali yang kuadapatkan dari membunuh kelompok goblin. Setelah mengecek di inventory, ternyata benar ada. Nama item itu Portable Couldron, berbentuk kuali hitam berukuran sedang.


Saat kukeluarkan, kuali itu melayang di udara. Aku meletakkannya di atas api unggun. Muncul layar yang menjelaskan instruksi pemakaian Portable Couldron.


[Cara pemakaian: Pilih menu yang ingin disajikan dan masukkan bahan utama ke dalam kuali. Proses memasak tergantung dengan menu yang ingin disajikan]


Sepertinya item Portable Couldron ini hanya aku yang bisa menggunakannya. Fitur pilih menu makanan itu terhubung dengan sistem. Aku menggerakan jari di udara kosong untuk membuka menu makanan yang tersedia di Portable Couldron. Air liurku hampir menetes saat melihat pilihan makanan beserta foto dan bahan-bahan yang dibutuhkan.


“Beef Stew ini terlihat simpel dan enak,” ucapku sambil menekan gambar makanan tersebut. Setelahnya, muncul layar pesan di kuali.


[Beef Stew


Bahan yang dibutuhkan: Daging monster jenis apa pun x3, air


Proses memasak 10 detik]


Untuk mendapatkan air, aku menggunakan item Goblin Water Bag dan mengambil air dari danau. Untuk memastikan air itu dalam kondisi steril, aku menggunakan Skill Purifikasi untuk menetralkannya terlebih dulu sebelum memasukkannya ke kuali. Setelah dirasa cukup, aku memasukkan tiga item Tender Meat ke kuali.


Panci kuali tertutup dengan sendirinya, item itu mulai memproses bahan-bahan di dalamnya.

__ADS_1


Sepuluh detik kemudian, terdengar suara seperti “Ting”. Panci terbuka dan aroma wangi khas semur daging menguar di udara.


Aku mengeluarkan set alat makan goblin. Menggunakan piring terbuat dari tanah liat, aku menampung semur daging itu. Untunglah, di dalam set tersebut juga ada sendok. Aku makan dengan lahap, rasa Beef Stew ini sangat enak. Di tambah dagingnya yang super lembut dan menyerap kuah semur yang kental dan kaya rasa.


“Pantas orang-orang suka makan daging monster, rasanya memang lebih enak daripada sapi dan ayam.”


Setelah kemunculan dungeon, banyak restoran yang mencoba menjual menu menggunakan daging monster. Di luar dugaan, daging monster mendapat sambutan yang positif karena rasanya yang enak.


Namun, ketersediaan daging monster tidak selalu ada karena Hunter pun lebih suka memakan daging itu untuk diri mereka sendiri daripada menjualnya. Ditambah, harga daging monster tidak semurah daging ayam atau sapi, jadi tetap saja hanya segelintir orang yang bisa merasakan kelezatan daging monster.


Aku termasuk orang yang baru mencicipi daging monster. Sebelumnya, aku hanya pernah mendengar dari cerita para Hunter lain maupun Youtuber yang pernah mencobanya. Ternyata mereka tidak melebih-lebihkan soal citra rasa dagingnya.


Selesai makan, aku membereskan kembali Portable Couldron dan peralatan makanku. Kekenyangan, aku berbaringan santai di atas matras. Udara malam yang berembus sedikit dingin, tapi berkat armor yang kupakai, tubuhku jadi bisa menyesuaikan diri dengan perubahan suhu tersebut.


Kelopak mataku semakin terasa berat. Perlahan, aku pun jatuh dalam tidur yang lelap.


Super Sense-ku masih aktif dalam kondisi tidur sekali pun. Kulitku merasakan getaran dari langkah-langkah kaki yang sangat banyak. Hidungku menangkap aroma amis yang tengik di udara. Telingaku mendengar suara-suara riak air dan derap kaki yang mendekat.


“Ada apa ini?” Mataku refleks terbuka karena insting mengirimkan sinyal berbahaya. Ketika aku menoleh ke samping, tampak segerombol ikan raksasa keluar dari danau dan berjalan mendekati kemahku.


Mataku memindai nama monster tersebut, Torrential Devourer. Namanya ditulis dengan warna putih, artinya monster itu masih satu level denganku.


Aku buru-buru bangkit setelah melihat kerumunan Torrential Devourer itu berlari serempak ke kemah. Mulut mereka megap-megap dan tampak gigi-gigi kecil yang runcing. Tatapan mata mereka kosong seperti ikan, tapi aku dapat merasakan hawa membunuh luar biasa dari ikan-ikan tersebut.


Jariku dengan cepat memasukkan kembali semua item kemah ke dalam inventory, lalu mengeluarkan Grasscutter dan Crimson Edge.


“Shadow Move!”


Aku mengaktifkan skill dan maju menyerang monster-monster ikan itu.


Sisik dan sirip mereka ternyata sangat tajam. Beberapa bagian tubuhku terkena sabetannya dan terluka. Namun, aku tetap menyerang dengan kecepatan penuh dan memotong-motong tubuh Torrential Devourer.


Tersisa tiga ekor di dekat danau. Ketiganya tampak syok melihatku membantai kelompok mereka dalam sekejap. Aku menoleh ke tiga ekor tersebut dengan tatapan membunuh. Sadar nyawanya terancam, ketiga Torrential Devourer itu berputar dan berlari ke arah danau. Namun, aku menyusul lebih dulu, lengan kiriku mengayunkan Crimson Edge dan menebas sisi samping badan Torrential Devourer, memotongnya jadi dua.


Sementara dua ekor lainnya aku lempar dengan kedua senjataku. Lemaparanku mengenai kepala mereka dan membunuh keduanya seketika.


“Fiuh, selesai,” gumamku lega. Sambil mengusap darah amis di dahi, aku berjalan menghampiri dua mayat monster di pinggir danau. Kucabut kedua senjataku dari kepala mereka.

__ADS_1


[Anda memperoleh Viscous Mucus x51]


[Anda memperoleh Prestine Fish Scale x62]


[Anda memperoleh Fish Meat Fragrance x82]


Aku sudah merasa situasi lebih tenang dan aman. Ketika akan berbalik untuk mendirikan kemah kembali, terdengar suara meletup-letup dari riak air.


Firasatku tidak enak. Ketika menoleh ke arah danau, tampak gelombang besar terbentuk. Dari tengah pusaran air itu muncul kepala monster seperti buaya raksasa. Mata kuningnya yang memiliki iris runcing menatap keji ke arahku.


Aku menghela napas panjang. “Yang benar saja?”


Efek kurang tidur membuat emosiku menjadi sedikit sulit diatur. Kekesalan memenuhi hatiku. “Biarkan aku istirahat, monster sialan!”


Sambil berseru marah aku lompat ke arah monster buaya raksasa itu. Namanya adalah Croco Vandalgreen. Panjangnya mencapai 20 meter dan ukuran kepalanya pun bisa menelan satu mobil utuh. Namun, aku masih tenang karena kekuatan level itu masih tidak jauh berbeda denganku.


Mengerahkan segenap energi, aku lompat ke atas kepala Croco Vandalgreen dan melayangkan tinjuan kuat. Monster itu menggeram keras ketika aku memukulnya, kepalanya seketika terantuk dan terjebur ke dalam air.


Aku mendarat di punggungnya dengan mata pisau mengarah di kulitnya yang tebal. Memusatkan kekuatan, aku mencabik kulit tebalnya sampai bagian daging Croco Vandalgreen terlihat. Setelah itu, aku melayangkan serangan bertubi-tubi di bagian itu sampai membentuk luka yang dalam dan memanjang.


Croco Vandalgreen marah, ia keluar dari air sambil membalikkan tubuhnya. Seperti buaya air tawar yang pernah kusaksikan di internet, Croco Vandalgreen juga mengeluarkan teknik andalannya, yaitu memutar tubuhnya di air dengan brutal dan ganas.


Aku melihat garis bar HP Croco Vandalgreen sudah tersisa dibawah 30%. Aku bisa menggunakan Skill Elimination untuk menghabisinya dengan cepat.


“Elimination!” seruku.


Ketika skill itu aktif, mataku dapat melihat titik lemahnya seketika. Aku melesat cepat dari udara, menghadang setiap serangan Croco Vandalgreen yang berusaha menggagalkan langkahku. Begitu tiba di depan wajahnya, aku masuk ke dalam mulut Croco Vandalgreen dan melukai bagian dalamnya. Langit-langit mulutnya penuh sabetan kedua senjataku, terus sampai ke pangkal lehernya aku membuat luka sobekan memanjang.


Aku melubangi daging monster itu dari dalam, lalu keluar dari bekas luka yang tadi sempat kubuat. Serangan itu seketika menghabisi Croco Vandalgreen. Monster buaya itu lunglai lalu terjatuh di atas permukaan danau. Jasadnya mengapung di atas air.


[Anda telah naik level!]


[Anda memperoleh Achievement “Deadliest Catch”]


[Anda memperoleh Reward “Surface Tension Powder”]


[Warning! Fatigue Level meningkat 8%]

__ADS_1


Aku melompat dan kembali ke pinggir danau. Napasku naik turun tidak karuan karena kelelahan. Buru-buru, aku mengeluarkan Energy Drink dan menegak satu kaleng jus buah tersebut. Meteran Fatigue Level-ku pun kembali menjadi nol.


Setelah sedikit tenang, aku kembali menggelar matras dan api unggun. Tanganku terlalu lemas untuk mengeluarkan tenda. Akhirnya aku tertidur di alam terbuka, hanya ditemani sebuah api unggun.


__ADS_2