
Bangunan tinggi besar yang menjulang di hadapanku adalah ‘istana’ milik sang raja goblin. Terdiri dari lima tingkat yang disambung oleh tangga kayu, bangunan itu tampak luas dan kokoh dari luar. Di paviliun yang letaknya paling tinggi terdengar suara geraman.
Dari pintu paviliun utama itu keluar sesosok raksasa setinggi tiga meter. Kulitnya hijau, tubuhnya tinggi besar berotot dengan rambut hitam panjang. Ia memiliki sepasang mata merah menyala dan gigi taring yang besar dan tajam. Tubuhnya dilapisi oleh armor dan tangan kirinya mengangkat tubuh seorang wanita yang kukenal.
“Mama!” Chika berseru takala melihat ibunya, pingsan di dalam genggaman raja goblin tersebut.
“Walau pun dia raja, tapi wujudnya tidak seperti goblin,” gumamku sambil memindai monster tersebut.
Muncul sebaris nama singkat, “Ogre” berwarna merah di atas kepala monster itu berserta dengan garis bar HP-nya yang panjang. Monster ini sudah melewati dua kali tahap evolusi, pantas ia menjadi raja para goblin tersebut.
“Ogre.” Aku memandang monster itu, horor. Di dalam buku panduan Asosiasi Hunter, Ogre termasuk dalam monster Kelas A. Mereka agresif, petarung handal dengan kekuatan mengerikan, tapi sangat gesit. Ini tidak akan menjadi pertarungan mudah, terlebih karena peringkat monster ini berada di atasku.
Tring!
[Quest: Capai lokasi pemimpin goblin (1/1)]
Layar dari sistem muncul, tapi sesuatu yang baru pertama kali kulihat terjadi. Tulisan di layar itu hilang timbul seperti mengalami glitch, lalu perintah questnya berubah.
[Quest: Bunuh Ogre (0/0)]
Aku menelan ludah. Di dalam hati, sebenarnya aku merasa girang menantikan pertarungan yang solid dan menantang. Namun, menyadari bahwa ada nyawa lain yang harus kuprioritaskan disini, aku lebih berharap monster-monster yang kuhadapi tidak terlalu sulit agar bisa meminimalisir jatuhnya korban.
Chika tidak kuasa melihat kondisi ibunya, ia berlari ke arah Ogre itu, tapi untung Ravi menangkap tubuhnya dengan cepat.
“Hentikan, Ravi! Aku ingin menyalamatkan Mama!” Chika memberontak.
“Apa kamu bodoh? Kalau kamu gegabah menyerang, monster itu justru akan membunuh Ibumu!” sentak Ravi sambil menguatkan kurungan lengannya di tubuh Chika.
Walau tubuh Ravi lebih kecil dari Chika, tapi karena dia Hunter Peringkat A, otomatis tenaganya jauh lebih besar dan kuat dibandingkan gadis itu. Chika akhirnya kelelahan dan berhenti melawan. Air matanya tumpah dan ia menangis sesugukan.
Ogre itu mengangkat tangannya yang menggenggam tubuh Tante Tara. Mataku membelalak saat ia melempar Tante Tara begitu saja, seperti membuang mainan yang sudah tidak terpakai.
Ravi yang berada paling dekat dengan arah jatuh Tante Tara langsung lompat dan menangkap wanita itu. Ia mendarat di samping Chika, menggendong Tante Tara lalu merebahkannya di atas rumput.
“Mama, bangunlah!” seru Chika sambil menggoyang-goyang tubuh ibunya.
__ADS_1
Ravi mengamati Tante Tara dengan seksama, pakaiannya sebagai robek dan menampilkan kulitnya. Ravi dengan sigap melepas seragamnya dan menggunakannya untuk menutupi tubuh Tante Tara. Kuakui walau mulutnya tidak bersahabat, tapi sikapnya cukup gentle kepada wanita yang lebih tua.
Ravi menatap keheranan pada bagian bawah tubuh Tante Tara. Matanya menangkap cairan kental putih yang mengalir dari bawah roknya.
“Apa ini?” tanya Ravi sambil menyentuh cairan tersebut. Anak laki-laki itu mengendusnya dan ia mengernyit seketika.
Chika yang melihat ekspresinya, langsung menatap cairan putih kental di antara sela-sela jari Ravi. Ia dengan cepat menyadari apa yang telah dialami ibunya. Wajah gadis itu mengeras, kemarahan juga menderanya.
“Monster brengsek!” seru Chika, marah.
Sambil berlari, Chika lompat tinggi di udara. Ia menyerukan teknik terkuatnya.
“Path of Chaos, Spider Lily!”
Saat Chika menyebutkan “Path of Chaos”, ia sedang mengaktifkan kekuatan berkah dari Dewa tersebut.
Hunter yang mendapatkan berah dari Dewa, memiliki satu kemampuan unggul dengan mengaktifkan bantuan dari berkah tersebut. Kekuatan yang dihasilkan menggunakan berkah akan berkali-kali lipat lebih kuat, sekaligus menguras energi dalam jumlah besar.
Tubuh Chika memancarkan cahaya ungu, di atas kepalanya muncul simbol delapan arah berwarna hitam.
Listrik memercik dari sekujur tubuhnya, ia melemparkan benang-benang yang membentuk jalinan seperti sarang laba-laba.
Kekuatan yang besar dan dahsyat,. Jangkauan serangannya luas dan daya rusaknya cukup kuat. Bangunan itu hancur dan roboh seketika, menjadi puing-puing yang berserakan di atas rumput hitam karena terbakar oleh listrik.
Chika tampak kelelahan, ia menggunakan segenap kekuatannya untuk melancarkan teknik tersebut. Namun, aku merasa itu ide yang buruk. Mataku tidak bisa menemukan keberadaan Ogre tadi. Ia berhasil meloloskan diri dari jeratan benang Chika sebelum serangan itu mengenainya.
“Chika! Hati-hati!” seruku.
Baru saja kubilang, di belakang Chika muncul sekelebat bayangan Ogre tersebut. Raksasa itu mengangkat tangan kirinya yang membawa kapak dengan pisau besar tajam di kepalanya. Chika yang terlalu lemas tidak akan bisa menghindar.
Sebelum pisau kapak itu membelah tubuhnya jadi dua, aku berhasil lompat ke tempat mereka dan menyambar tubuh Chika. Sambil memapahnya, aku memutar tubuh dan turun ke bawah.
“Aku bahkan tidak bisa menyadari keberadaannya,” gumam Chika, penuh sesal. “Maaf, aku ceroboh.”
“Tidak apa-apa, tolong jangan gegabah seperti tadi,” ucapku sambil menurunkannya.
__ADS_1
Aku harus menjernihkan kepalaku. Bukan hanya Chika yang marah setelah tahu perbuatan keji yang sudah dilakukan Ogre itu pada Tante Tara. Hatiku pun mendidih, tanganku terkepal menahan emosi dan di isi kepalaku hanya ada niat untuk menghancurkan raksasa itu sampai ke bagian terkecil tubuhnya.
“Monster sialan,” umpatku. Namun, aku tidak boleh mementingkan ego semata di sini. Mataku melirik kesebelas wanita lain yang baru dikeluarkan dari kurungan kayu. Mereka tampak ketakutan dan tidak berdaya.
“Ravi, Chika, bawa semua sandera keluar dari sini,” perintahku.
“Bagaimana denganmu?” tanya Ravi.
“Aku masih punya urusan dengan raksasa jelek itu,” jawabku sambil melempar tatapan penuh dendam pada Ogre.
“Berhati-hatilah,” pesan Chika. Setelah berkata seperti itu, Chika dan Ravi langsung membawa pergi kesebelas sandera dan Tante Tara. Mereka berlari ke arah portal berada.
Ravi sempat menoleh ke belakang dan berteriak padaku, “Jika sudah ada Hunter Peringkat S, akan kuminta mereka membantumu!”
Di dalam hati, aku menggerutu. “Itu tidak mungkin kan? Chika sendiri yang tadi bilang mereka semua sedang berada di dalam dungeon lain.”
Ogre itu tiba-tiba tersenyum miring padaku, seperti meledek. Ia mengacungkan jari telunjuknya yang berkuku hitam, lalu memutar pergelangan tangannya. Ia menarik telunjuknya ke belakang beberapa kali sambil menyeringai.
Monster sialan satu itu sedang memprovokasiku.
“Kamu yang meminta,” ucapku sambil memasang kuda-kuda, kedua tanganku sudah menggenggam Grasscuter dan Crimson Edge.
Aku menatap Ogre di hadapanku dengan aura membunuh. Beberapa detik kami hanya terdiam di posisi masing-masing. Aku menunggu momen yang tepat, begitu pun dengan Ogre tersebut.
Saat sehalai daun yang terbawa oleh angin mendarat di dekat sepatuku, momen itu yang kugunakan untuk memelesat secepat mungkin ke arah Ogre.
Aku berseru sambil berputar di udara, tangan kiriku mengayunkan Crimson Edge tepat ke lehernya. Namun, Ogre itu tiba-tiba menoleh ke arahku. Ia bisa membaca gerakanku. Lengannya yang besar dan berotot menggapai tangan kiriku dan menarik tubuhku seketika.
Ia berteriak sambil melempar tubuhku.
Aku terkejut dan tidak bisa mengelak. Tubuhku menghantam salah satu bangunan yang masih berdiri. Bangun itu roboh seketika. Untungnya, aku menggunakan armor saat ini, sehingga rasa sakit mau pun damage yang kuterima tidak terlalu besar.
Sayangnya, aku terlalu naif—berpikir bahwa serangan Ogre hanya akan sampai di sana. Ogre itu seketika maju ke depanku. Serangannya sangat cepat, mataku bahkan tidak bisa mengikuti kecepatannya. Ia menyabetkan kapak besarnya ke arahku.
Goresan besar terbentuk di perut, darahku muncrat seketika dari luka tersebut. Mulutku membatukkan darah. Luka itu sangat dalam sampai aku harus memeganginya agar isi perutku tidak keluar. Ogre itu tidak memberiku kesempatan. Saat melihatku masih berdiri, tangan kanannya mengepal dan meninju wajahku.
__ADS_1
Aku terlempar dan menghantam tanah dengan keras. Jantungku berdebar kencang, seiring dengan rasa sakit yang mulai menjalar hebat. Berbagai pesan dari sistem bermunculan dan mataku dipenuhi oleh layar-layar peringatan.
Aku merinding saat melihat garis bar HP milikku berkurang lebih dari 80% dan masih terus menurun.