Train to The Dungeon

Train to The Dungeon
Bab 29: Penyerbuan Solo


__ADS_3

Aku dan Lisa sampai di dalam dungeon. Ketika kami keluar dari gerbong DRT, stasiun dungeon tampak lengang. Hanya ada kami berdua di sini. Biasanya, minimal ada seratus Hunter dalam satu waktu yang masuk ke dalam dungeon.


“Arka, apa benar tidak apa-apa hanya kita berdua?” tanya Lisa. Gadis itu berjalan keluar dari stasiun mengikutiku.


Aku berbalik padanya. “Tidak apa-apa, aku bisa mengatasinya.”


“Hanya sendiri?”


Aku mengangguk sembari mengeluarkan kedua senjataku, Grasscutter dan Crimson Edge.


“Apakah kamu Hunter Peringkat S atau sejenisnya?” tanya Lisa, tiba-tiba. Aku terkejut, ternyata Denis bahkan tidak bilang kalau aku Hunter Tanpa Peringkat.


“Bukan, aku bukan Hunter Peringkat S,” jawabku.


Di dalam dungeon tersebut ada sepuluh mulut gua yang merupakan jalur labirin berliku, yang bisa menyesatkan Hunter. Salah satu di antara labirin itu adalah jalan menuju lokasi bos. Aku mengaktifkan Super Sense untuk mencari hawa keberadaan bos dungeon ini.


Energi yang kuat memancar dari mulut gua nomor tiga dari samping. Saat aku menatap ke mulut gua tersebut, terasa seperti ada tekanan dan hawa mencekam yang lebih dominan di bandingkan gua lainnya. Itu pasti lokasi bos. Sementara itu, kemampuan Super Sense ku juga ternyata bisa merasakan hawa keberadaan monster lain.


Kakiku yang menapak di tanah terhubung dengan seluruh area di dalam dungeon, membuat mataku seakan bisa melihat bagian lain di dalam dungeon. Kemampuan ini membuatku tidak hanya bisa mencari keberadaan musuh, tapi juga memperkirakan dengan persis jumlah mereka.


Bibirku bergumam sembari menghitung. “Totalnya, kira-kira ada 300 monster di dungeon ini.” Aku tersenyum tipis, tidak sabar untuk membunuh monster-monster tersebut.


Selain keberadaan monster, sensor dari kulitku juga mengirimkan informasi keberadaan sejenis tumbuhan di salah satu labirin. Aku bisa melihat dengan jelas visual tumbuhan tersebut di dalam kepala. Batangnya berwarna hitam, bunganya seperti mawar, hanya saya kelopaknya memiliki pola asimetris berwarna emas dan perak.


“Lisa, apa nama tumbuhan yang kalian cari?” tanyaku, tiba-tiba.


“Cadaliflower,” jawab gadis itu sambil mendorong tangkai kacamata bundarnya yang melorot ke hidung.


“Apa kalian sudah tahu dimana letak tumbuhan itu?”


Lisa menggeleng. “Informasi yang diberikan Asosiasi Hunter bisa dipercaya, tumbuhan itu ada di dalam dungeon Stasiun Klender, tapi untuk letak pastinya mereka juga tidak tahu. Mau tidak mau kita harus menelusuri labirin ini satu per satu.”


Lisa menundukkan kepalanya, merasa bersalah karena sepertinya tugas ini akan merepotkanku.


“Cadaliflower memiliki bunga berwarna emas dan perak, benar?”


Ucapanku membuat Lisa terkejut, tapi gadis itu seketika menjawab, “Iya, benar. Itu Cadaliflower. Tangkainya hitam, ukuran batang sampai bunganya sekitar 30 cm.”


Ternyata benar, yang tadi kulihat adalah bunga Cadaliflower.

__ADS_1


“Soal lokasi, aku tahu dimana keberadaan bunga itu,” kataku.


“Bagaimana mungkin?” Lisa tercekat. “Apa orang dari Asosiasi Hunter yang memberitahu?”


“Tidak,” kataku sambil menempelkan jari di bibir, memberikan isyarat pada Lisa. “Mulai dari sini, semua yang kamu lihat tidak boleh diceritakan kepada siapa pun.”


“Termasuk Denis?”


“Kecuali Denis.”


Lisa mengangguk. “Aku mengerti, tapi izinkan aku bertanya ya nanti.”


“Itu tergantung, mungkin sebagian tidak bisa kujawab.”


Lisa nampak keberatan, tapi akhirnya ia mengangguk juga. Aku dapat melihat matanya yang haus akan jawaban. Banyak pertanyaan yang seakan ingin meledak dari mulut gadis itu. Namun, ia harus bersabar sedikit. Setidaknya, sampai pekerjaanku di dungeon harus selesai dulu.


Tring!


[Quest: Bunuh Pinktail Piggy (0/300)]


Bunuh Bobora Piguie (0/10)]


Muncul pesan dari sistem. Lagi-lagi, aku merasa seperti sistem ini mengetahui apa yang kubutuhkan dan kuinginkan. Ia bisa memberiku misi yang sesuai dengan kondisi terkini, termasuk saat aku berniat membersihkan dungeon ini seorang diri.


Aku menoleh ke arah Lisa. “Ikuti aku dan jangan sampai terpisah.”


“Baik!” Lisa menuruti perkataanku.


Aku langsung memelesat ke mulut gua nomor lima. Tujuanku adalah membersihkan labirin tempat Cadaliflower berada. Lorong gua itu dihiasi oleh obor-obor api yang menyala temaram, tapi penglihatanku sangat jernih dan jelas.


Aku bisa mendengar dan merasakan getaran dari gerakan Lisa di belakang. Lalu, 50 meter dari belokan ke kiri terdapat derap langkah kaki dalam jumlah banyak. Itu pasti monster dungeon.


Tepat, setelah aku berbelok, terdapat sepuluh monster dengan wujud dan rupa babi. Mereka berdiri dengan dua kaki, tubuhnya pink, mengenakan armor sederhana dan memiliki rambut hitam yang dikepang satu. Babi-babi itu membawa obor dan kapak batu, seketika maju bersamaan menyerang ke arahku.


Mataku memindai nama monster-monster tersebut, muncul tulisan Pinktail Piggy berwarna putih di atas kepala mereka.


Sekejap, aku membunuh semua monster babi itu. Begitu Lisa sampai di tempat, ia terperanjat melihat mayat monster yang bergelimpangan di sepanjang lorong yang kulewati.


“Lisa!” panggilku.

__ADS_1


Lisa yang masih tertegun melihat mayat-mayat monster Kelas D tersebut sontak menoleh ke sumber suara.


“Arka?” sahutnya.


“Cepat, jangan terlalu jauh dariku!”


“Baik!” Mengabaikan pemandangan di sekelilingnya, Lisa pun melanjutkan lari ke tempatku.


Saat Lisa tiba di ujung labirin, ia melihat sebuah ruang luas yang dipenuhi tumbuhan Cadaliflower. Terdapat beberapa bercak darah di atas bunga tersebut. Aku baru saja membunuh beberapa Pinktail Piggy yang bersembunyi di di antara bunga-bunga Cadaliflower.


Sepertinya mereka berjaga di sana dan siap menyergap siapa pun yang berhenti untuk mengambil bunga-bunga tersebut.


Aku melihat layar sistem. Tidak sampai 30 ekor Pinktail Piggy yang kubunuh. Mau tidak mau, aku harus segera pindah ke lorong lainnya untuk memburu sisa dari mereka.


“Luar biasa, kamu benar-benar membunuh mereka semua seorang diri.” Lisa berdecak kagum.


“Berapa banyak tumbuhan yang akan kamu kumpulkan?” tanyaku sambil membersihkan sisa darah di mata pisau Grasscutter dan Crimson Edge.


“Seratus bunga,” jawab Lisa sambil berlutut. Lisa memutar tangannya di tangan, ia mengucapkan sesuatu seperti mantra. Seketika muncul lingkaran dengan bias kuning yang cukup terang.


“Itu kan..,” aku tertegun melihat kemampuan Lisa.


“Ini kemampuan penciptaan ruang,” Lisa tersenyum kecil. “Walau aku Fighter, tapi aku mencoba mempelajari teknik ini agar bisa bekerja dengan praktis.”


Dari dalam bias tersebut, Lisa menjulurkan tangannya lalu mengeluarkan buku tebal, sebuah sekop, dan karung—untuk keperluan identifikasi dan menggali tumbuhan.


Walau setiap Hunter memiliki kemampuan pengendalian elemen, tapi hanya segelintir yang bisa mempelajari kemampuan penciptaan ruang. Fungsi ruang tersebut sama seperti sistem inventory yang kumiliki, bisa untuk menyimpan benda. Hanya saja, kapasitas kemampuan penyimpanan di ruang Hunter, umumnya lebih kecil dan terbatas.


“Berapa maksimum kapasistas ruang itu?” tanyaku.


“Hanya tiga,” jawab Lisa malu-malu. “Harga item untuk meningkatkan kemampuan ini sangat mahal, tapi aku merasa sudah sangat terbantu walau kapasitasnya kecil.”


Entah bagaimana reaksi Lisa kalau tahu aku memiliki ruang penyimpanan dengan seratus kapasitas—yang bahkan masih bisa ditambah.


“Lisa, kamu tetap di sini dan kumpulkan tumbuhan Cadaliflower.” Aku memberi instruksi.


“Kamu mau pergi?”


“Benar, aku harus membersihkan dungeon ini.”

__ADS_1


“Sendiri? Melawan bos?”


Aku hanya tersenyum kecil padanya sebelum pergi. Dari kejauhan, aku lihat Lisa yang awalnya tertegun kini sudah kembali fokus menggali tanah untuk memanen Cadaliflower.


__ADS_2