
Pagi pun tiba. Aku bangun dengan perasaan menyenangkan dan lebih segar dibanding tadi malam. Rasanya tidak seperti sedang berada di dalam dungeon tingkat S. Ini terlalu santai, bahkan dungeon Cornfield yang pertama kali kumasuki pun tidak setenang ini. Aku bahkan masih sempat membuat sarapan dengan Portable Couldron.
Usai sarapan, aku pun siap melanjutkan perjalanan. Kakiku melangkah mendekati tepi danau. Semalam, aku mendapat item yang cukup menarik. Aku sempat membaca kegunaannya sekilas.
Jariku bergerak membuka menu inventory, lalu menyentuh kolom yang berisi gambar wadah bubuk.
Di hadapanku muncul benda seperti bubuk micin. Namun, setelah kuperhatikan dengan seksama itu bubuk putih biasa.
[Item: Surface Tension Powder
Item Class: A
Type: Powder
Bubuk khusus yang ditaburkan di pergelangan kaki. Bubuk ini dapat membuat penggunanya berjalan di atas cairan apa pun. Durasi penggunannya 60 menit]
“Benda ini sesuai dengan yang kubutuhkan saat ini.”
Di hadapanku terdapat danau besar yang membentang. Jika aku memutari danau ini, maka waktuku akan terpotong lebih banyak lagi. Jalur paling cepat memang lurus melintasi danau tersebut. Masalahnya, danau ini sangat luas. Jika aku memaksa berenang, bisa-bisa aku mati kelelahan di tengah danau bahkan sebelum melihat ujung tepinya.
Namun, dengan adanya item Surface Tension Powder, aku bisa mengatasi permasalahan tersebut.
Aku pun membubuhkan serbuk putih itu di sekitar sepatu.
Rasanya cukup menegangkan untuk melakukan uji coba. Namun, aku cukup menikmati perasaan ini. Ketika degup jantung berdebar kencang, ada rasa harap cemas yang tidak menentu di kepala. Jawabannya bisa ditemukan hanya dengan mencoba langsung.
Aku menarik napas panjang, berjaga-jaga andai terjebur ke danau. Setelahnya, kakiku pun memelesat cepat ke depan.
Permukaan sepatuku menyentuh permukaan air dan rasanya seperti menginjak di atas sesuatu yang padat. Permukaan air terasa stabil dan tidak bergoyang. Solid seperti di atas tanah. Mataku membulat saking takjubnya.
“Aku berjalan di atas air!”
Aku memekik girang sambil berlari melintasi danau tersebut. Berlari di atas air jauh lebih seru daripada yang kubayangkan. Aku pun tidak mencemaskan keberadaan monster-monster di danau karena sebagian besar sudah kubantai tadi malam. Memang ada satu atau dua ikan raksasa yang mencoba memakanku, tapi semua berhasil kukalahkan dengan sekali serang.
Hanya memakan waktu tiga puluh menit, akhirnya aku berhasil sampai di seberang danau.
Dari tempat ini, jarak menuju Abandoned Temple sudah semakin dekat. Aku pun langsung berlari melintasi hutan, semakin dekat dengan bangunan tua yang terbengkalai tersebut.
Beberapa monster berwujud beruang, laba-laba dan jamur muncul untuk menyerangku, tapi semua bisa kubersihkan dalam sekejap.
Lagi, aku merasa dungeon ini terlalu mudah. Memang ada sedikit kendala kemarin karena aku diserang banyak monster dalam waktu bersamaan, tapi itu tidak serta merta membuat dungeon ini menjadi sulit.
Pohon-pohon di kanan kiri semakin jarang. Akhirnya aku keluar dari hutan dan berhenti tepat di depan bangunan tua—-sebuah kuil yang terbengkalai.
__ADS_1
Aristektur bangunan itu mengingatkanku dengan candi yang ada di Myanmar. Batu-batu berbentuk kotak yang dilapisi emas menyusun bangunan megah yang tampak tidak terawat. Akar-akar tumbuhan menjalar dan tumbuh menghiasi bangunan kuil itu. Lalu ada sebuah pohon besar yang tumbuh di tengah-tengah seperti memayungi seluruh bangunan.
Aku tertegun sesaat melihat kemegahan dan aura mistis dari tempat tersebut. Begitu aku masuk ke pelataran kuil tersebut, hidungku menangkap aroma wangi yang semerbak. Di kanan kiri jalan kavling yang kulalui terdapat dua kolam besar yang dikelilingi oleh kebun bunga.
Kuil ini memiliki dua lapis gerbang yang tidak terkunci. Semua dalam posisi terbuka. Kanan dan kiri gerbang itu dijaga oleh dua patung yang seperti manusia—membawa tombak dan perisai. Seluruh tubuhnya dilapisi oleh armor yang terlihat berat.
Aku berhenti di depan pintu masuk kuil yang tertutup. Pintu itu terlihat rapuh, tapi aku merasakan tekanan yang kuat dari dalam sana.
Jantungku tidak hanya berdebar makin kencang, tapi instingku meminta untuk meningkatkan kewaspadaan. Ada sesuatu yang tidak biasa di dalam kuil ini.
Keringat dingin mengalir di pelipis, bibirku menyugingkan senyum, antusias memenuhi dadaku. Monster yang ada di dalam kuil ini mungkin jauh lebih kuat daripada yang sebelumnya.
Tanganku meraba udara kosong dan terpantul kembali ke belakang. Tak kasat mata, ada semacam selubung tipis yang melindungi sekeliling kuil tersebt.
“Mungkin sekarang waktunya menggunakan kunci.”
Aku membuka inventory dan mengeluarkan item Abandoned Temple’s Key. Kunci di tanganku berwarna emas, gagangnya memiliki ukiran liana yang cantik. Di kepalanya terdapat simbol pohon dengan dua lingkaran.
Ketika aku mendekatkan ujung kunci itu ke lapisan pelindung, muncul layar sistem di hadapanku.
[Selamat datang Player!]
[Item dibutuhkan Abandoned Temple’s Key (1/1)]
[Silakan masuk!]
Kunciku hilang menjadi butiran debu emas. Kurasa sekarang sudah aman untuk melangkah maju. Kakiku pun menapaki wilayah yang tadi dihalangi oleh perisai pelindung. Tidak terjadi apa-apa, aku berhasil mencapai kuil terbengkalai ini.
Tring!
[Quest: Bertahan hidup selama 72 jam (0/1)
Sub Quest: Capai Abandoned Temple (1/1)
Sub Quest: Dapatkan Item Red Crown (0/1)
Sub Quest: Bunuh Monster (414/750)
Reward: ???
Penalty: Kematian]
Aku mengamati layar berisi perkembangan quest, masih banyak yang belum diselesaikan. Aku hanya berharap di dalam kuil ini akan ada cukup banyak monster. Setidaknya, untuk memenuhi jumlah yang diminta oleh quest.
__ADS_1
Kakiku melangkah ke dalam mulut kuil bangunan yang kanan kirinya tertutup oleh akar rambat. Di dalam sangat gelap. Saat mataku akan mulai beradaptasi, tiba-tiba obor di sekeliling dinding lorong pintu masuk menyala.
Bagian dalamnya tersusun oleh balok-balok yang dilapisi emas. Bahkan gagang obornya pun terbuat dari emas.
Aku dapat melihat dengan jelas. Suasana di dalam kuil memang lebih terang, tapi atmosfernya tetap terasa mencekam. Aku harus hati-hati, jangan lengah dan perhatikan andai ada jebakan.
Super Sense-ku merasakan getaran di permukaan. Ada mahluk lain di dalam kuil, itu pasti monster. Jumlahnya cukup banyak, mereka tidak bersembunyi tapi sepertinya berkumpul di bagian-bagian tertentu di dalam kuil ini.
Aku menyentuh dinding lorong, seketika sensor di kulitku menerima informasi ruang-ruang dan jalan di kuil. Ada beberapa bagian ruang yang terkunci, kemampuan Super Sense-ku tidak bisa mencapainya.
Lorongnya dipenuhi jalan berliku, tapi tidak terlalu rumit dan cabang jalannya hanya sedikit.
“Mungkin lebih sederhanan daripada yang kubayangkan,” gumamku, sedikit tenang.
Lorong yang kulalui mulai berubah menjadi hall yang besar dan luas. Bagian dalam hall itu memiliki kaca-kaca yang dihiasi ornamen warna-warni. Terdapat motif floral dan seorang ksatria di sana. Di antara pilar-pilar emas yang megah terdapat obor yang jauh lebih besar sebagai sumber penerangan.
Saat sedang mengamati sekeliling, aku mendengar langkah kaki. Dari salah satu pintu lorong, keluar sebuah mahluk.
Tingginya mencapai dua meter, seluruh tubuhnya terbuat dari kayu yang melilit dan rekat. Kedua tangannya bercabang dan besar. Kepalanya berbentuk seperti bonggol bunga yang bermekaran.
Mataku memindai monster tersebut. Wicked Woody, monster itu memiliki nama yang ditulis dengan warna kuning. Artinya, ia sedikit lebih kuat dibandingkan levelku saat ini.
Monster itu melihatku dan mengeluarkan suara teriakan yang aneh. Suaranya khas dengan bunyi ‘kek’ yang panjang dan berulang-ulang. Ketika aku berkedip, monster itu tiba-tiba sudah ada di depanku.
“Sial, dia sangat cepat.”
Berkat Super Sense aku berhasil menghindari pukulannya. Tidak hanya gesit, pukulan dan tendangan monster itu sangat kuat. Akar-akar di kedua lengannya bergerak dan membentuk sesuatu di punggung tangannya. Bentuknya panjang dan tajam.
“Dia membuat pedang?’
Wicked Woody maju menyerangku lagi dengan dua senjata baru di tangannya. Aku memang bisa menghindar, tapi sulit mencari celah dari gerakan monster itu.
Terlalu terpaku pada Wicked Woody, aku tidak menyadari ada monster lain di ruangan tersebut. Ia merayap dari atas pilar. Ketika aku membelakanginya, monster itu tiba-tiba lompat dan menyergapku dari belakang. Cakarnya yang terbuat dari kayu sangat tajam—menusuk daging di tubuhku dan meninggalkan luka yang dalam.
Monster itu salto ke belakang, aku berbalik untuk memindai namanya. Crawler Cutree, namanya juga tertulis dalam warna kuning. Ia merayap di lantai, bergerak dengan keempat tungkainya seperti laba-laba. Ia sangat gesit dan berhasil menyergapku beberapa kali.
Di saat bersamaan, aku juga terpojok oleh serangan Wicked Woody. Tubuhku bersimbah barah, terkena sabetan pedang Wicked Woody dan gigitan dari Crawlerr Cutree.
Aku melompat ke belakang, memberi jarak yang cukup dari monster-monster tersebut.
“Heal.” Aku menyembuhkan diri. Sementara, kedua tanganku mengencangkan genggaman pada gagang senjata. Mataku menatap tajam kedua monster tersebut.
“Aku tidak akan meremehkan monster di dungeon ini lagi.”
__ADS_1
Kakiku memasang kuda-kuda menyerang.
“Kali ini, aku akan membalas serangan kalian.”