Train to The Dungeon

Train to The Dungeon
Bab 22: Pemukiman Goblin


__ADS_3

Saat aku keluar dari portal, tampak pemandangan rumput hijau membentang luas. Terdapat jembatan-jembatan kayu yang menghubungka antara satu dataran dengan lainnya. Langit biru dan cerah, angin sejuk berembus menerpa kulitku.


Tempat ini seperti surga, andaikan tidak ada pemukiman goblin di atasnya. Tidak jauh dari portal, aku dapat melihat tenda-tenda kumuh para goblin. Terdapat lima pemukiman di area tersebut, tampak beberapa goblin berlalu lalang di sana, mengerjakan aktivitas harian mereka.


“Itu sarang goblin?” tanya Chika, heran.


“Aku juga tidak menyangka,” tanggapku. Seingat informasi yang kubaca dari buku panduan Asosiasi Hunter, sarang goblin ada dua macam. Sarang yang terletak di dalam labirin, atau sarang di atas permukaan, biasanya berbentuk pemukiman.


Masalahnya, Asosiasi Hunter tidak pernah bilang kalau sarang goblin bisa sampai sebesar ini.


Sarang goblin biasanya sederhana dan hanya terdiri dari satu pemukiman. Namun, di hadapanku ada lima pemukiman yang dibangun. Sementara di dataran paling ujung dan luas, terdapat pemukiman yang lebih kecil tapi tampak lebih megah, terlihat dari ukuran dan jumlah tingkatan bangunannya.


Pemukiman goblin memiliki pagar dari kayu dengan ujung runcing. Rumah-rumah mereka terbuat dari kayu dan penutup terpal merah kecoklatan. Ada kuali raksasa di tengah setiap pemukiman, tapi ada juga perapian yang lebih kecil di dekat rumah-rumah itu.


Mataku mengaktifkan pemindai, mencoba mencari manusia-manusia yang dijadikan tahanan oleh para goblin.


“Ketemu!” seruku saat melihat nama-nama manusia yang diculik muncul di dalam layar sistem..


“Apa? Apa?” Chika ikut bersemangat.


“Ada beberapa manusia ditahan di dalam pemukiman paling ujung. Jumlahnya ada 12 orang.”


“Banyak sekali!”


“Memang, kita harus segera menyelamatkan mereka.”


Saat aku dan Chika sudah bersiap untuk pergi, suara yang tak asing di telinga menghentikan langkahku.


“Tunggu, kalian berdua!” Ravi ternyata menyusul kami. Ia keluar dari portal dengan napas terengah.


“Kuperingatkan sekali lagi! Ini berbahaya! Belum terlambat untuk kembali!”


Aku sudah kesal karena bocah ini tidak bisa berhenti mengoceh. Ia terlalu meremehkanku atau anak ini memang sebenarnya tidak punya hati. Aku berbalik dan melangkah ke depannya. Kutatap lekat-lekat manik hitam miliknya.


“Dengar, Ravi,” ucapku penuh penekanan. “Keluargaku diculik oleh goblin sialan ini, aku tidak peduli dengan semua laranganmu. Aku akan menyelamatkan keluargaku, apa pun resikonya.”


Ravi tercekat. Ia tiba-tiba terdiam. Bukan karena kalimatku, tapi karena saat ini aku memancarkan aura membunuh yang sangat kuat padanya. Sampai-sampai, Chika yang merasakan aura tekanan dariku pun ikut mundur ke belakang.


“Aku menyusul kalian untuk membantu,” ucap Ravi, pelan. Matanya berkilat-kilat, membalas tatapanku. “Kalian tanggung jawabku!”


Aku menghela napas. Tidak ada gunanya meladeni bocah idealis seperti Ravi.


“Lakukan apa yang kau mau. Tapi jangan halangi aku.”


Aku berbalik dan berjalan meninggalkannya, Chika melangkah mengikutiku. Ia sempat berbalik kepada Ravi dan menggeleng, seakan memberi isyarat “jangan ikut campur”.


Ternyata, Ravi teguh sesuai perkataannya. Ia langsung berlari mengejar kami berdua dan sampai di sebelahku dalam sekejap.


“Kamu kuat,” ucapnya tiba-tiba. “Hunter Tanpa Peringkat tidak mungkin membunuh monster Kelas B seperti tadi.”


“Kerasukan apa kamu sampai tiba-tiba memuji seperti itu?” tanyaku, sinis.


“Aku hanya menyampaikan fakta,” balasnya. “Pantas kamu tadi datang ke Registrasi Ulang.”

__ADS_1


“Ternyata benar itu dirimu,” gumamku.


“Apa?”


“Lupakan saja.” Perhatianku teralih karena muncul pesan dari sistem.


Tring!


[Quest: Capai lokasi pemimpin goblin (0/0)


Bunuh Hobgoblin (0/100)


Bunuh goblin jenis apa pun (0/200)


Reward: ??? ]


Aku menyeringai. Angka yang fantastis untuk perburuan monster. Aku membayangkan levelku yang akan naik dalam sekejap setelah menyelesaikan quest ini.


“Quest kuterima,” gumamku. “Terima kasih, sistem.”


Dadaku bergelora karena menerima misi tersebut. Kedua tanganku sudah bersiap dengan Grasscutter dan Crimson Edge. Kini, tinggal mengatur Chika dan Ravi agar tidak menyerobot mangsaku.


“Kalian berdua,” panggilku pada Chika dan Ravi.


“Ada apa?” tanya Chika, diikuti lirikan dari Ravi.


“Aku akan maju di depan sendiri, lalu kalian berdua bersihkan monster yang terlewat olehku.”


“Jika kamu keberatan, pintu portal masih terbuka di belakang,” jawabku pada Ravi. “Silakan pergi.”


Ravi diam seribu kata. Wajahnya menunjukkan kemarahan, tapi ia akhirnya memilih mengalah dan mematuhiku. Bagus, lebih baik seperti itu.


“Chika,” aku memanggil gadis yang sedang meregangkan kedua kakinya tersebut.


Chika pasti tengah bersiap untuk menyerang dan mengikuti kecepatanku seperti tadi. Namun, kali ini aku tidak akan menahan kekuatan asliku, Chika tidak mungkin bisa mengejarnya.


Aku juga tidak mungkin setengah-setengah saat mengerjakan quest dari sistem. Salah-salah malah nyawaku nanti yang melayang.


“Kamu memanggil?” tanya Chika padaku.


Aku tersenyum lembut padanya.


“Berhati-hatilah,” ucapku sambil membelai kepalanya. “Jika sesuatu terjadi pada dirimu, Tante Tara pasti akan sangat sedih.”


“Aku akan baik-baik saja!” jawab Chika, yakin. Kuperhatikan semburat merah muncul dipipinya. Ia tampak menggemaskan dengan wajah seperti itu.


“Aku akan melindunginya.” Ravi tiba-tiba ikut masuk ke pembicaraan. Aku menghela napas, bocah satu ini benar-benar berbakat merusak suatu momen.


“Terserah kamu saja,” jawabku, malas.


“Kamu juga, jangan segan meminta bantuan kalau di depan ada masalah!” kata Ravi.


“Sudahlah, kamu urus saja bagian belakang bersama Chika,” tanggapku.

__ADS_1


Kami semakin dekat dengan pemukiman pertama. Aku mulai melihat penampakan Hobgoblin di sekitar sarang tersebut. Hobgoblin adalah wujud evolusi dari goblin. Mereka kuat, cerdas dan berbahaya. Asosiasi Hunter mengklasifikasi mereka ke dalam Monster Kelas B.


Hobgoblin memiliki perawakan manusia jaman batu dengan rahang besar dan dua taring bawah mencuat dari sela-sela bibir. Hidungnya besar lebar dengan anting-anting emas. Mereka berkulit hijau atau merah. Memiliki rambut hitam panjang yang biasanya diikat ke belakang. Tubuhnya berotot dan mengenakan pakaian dari kulit. Salah satu tangannya biasa membawa senjata seperti gada atau pedang.


“Aku akan menyerang sekarang,” ucapku, memberi aba-aba pada Chika dan Ravi.


Setelah menarik napas dalam-dalam, aku mengaktifkan Shadow Move dan melesat seketika ke pemukiman tersebut. Hobgoblin yang sedang bersantai tidak menyadari datangnya seranganku. Dalam sekejap, monster-monster setinggi dua meter itu roboh terkena tebasan kedua aritku.


Beberapa Hobgoblin yang sudah sadar langsung maju menyerang. Mereka dibantu oleh Goblin Paladin dan goblin-goblin biasa yang juga tinggal di pemukiman tersebut. Mereka mengangkat gada-gada dan pedang, lalu menghunuskannya ke arahku. Sekali lagi, aku menghilang menggunakan Skill Shadow Move, muncul di belakang mereka dan langsung menebas leher monster-monster itu sampai putus.


[Anda telah naik level!]


Aku menyeringai. Ini terasa seperti panen level dalam sekejap. Kedua tanganku mengepal erat gagang senjata, menahan rasa girang yang meluap-luap.


Dalam sekejap, aku berhasil menghancurkan pemukiman pertama. Bangunan-bangunan roboh, sebagian terkena percikap api unggun dan terbakar. Rumput hijau yang menjadi alas pemukiman itu kini berwarna merah darah. Aku melangkah santai keluar dari pemukiman sambil mengibaskan kedua senjataku, membersihkannya dari sisa darah.


Kulihat Chika dan Ravi hanya bisa menganga di balik semak-semak.


“Dia tidak mungkin Hunter Tanpa Peringkat kan?” tanya Ravi pada Chika.


“Dulu dia pernah cerita kalau tidak berhasil mendapatkan Rebirth,” balas Chika, masih menatapku dengan ekspresi heran. “Apakah mungkin proses Rebirth bisa tertunda?”


“Aku belum pernah mendengar hal semacam itu,” kata Ravi.


“Hei, Ravi, kau Peringkat A, bukan?”


“Kenapa?”


“Menurutmu, apakah kemampuan Arka setara dengan Peringkat A saat ini?”


Ravi tampak berpikir. “Jika Job-nya adalah Assasin, aku bisa mengonfirmasi hal itu.”


“Arka tidak punya Job, dia bahkan tidak tergolong Hunter Peringkat apa pun.”


“Ah, benar juga.”


Kedua pelajar Akademi Hunter di sana bicara keras sekali sampai aku bisa mendengarnya dari kejauhan. Ya, tidak apa-apa kalau mereka justru asik bergosip tentangku, artinya situasi di sekeliling mereka aman.


Aku berbalik ke arah Chika dan Ravi, memberi tahu mereka kalau akan melakukan penyerangan ke pemukiman kedua.


“Ayo, kita pergi juga,” ajak Ravi pada Chika.


Keduanya berlari membuntutiku di belakang, agak jauh. Mereka menatap ngeri pemukiman goblin yang tadinya berdiri megah kini tinggal puing-puing dengan mayat bergelimpangan. Rasanya seperti melihat pembantaian. Tapi kali ini, manusia lah yang membantai monster.


Layar sistem muncul lagi di hadapanku, memberitahu progres pengerjaan quest.


[Quest: Capai lokasi pemimpin goblin (0/0)


Bunuh Hobgoblin (15/100)


Bunuh goblin jenis apa pun (32/200)


Reward: ??? ]

__ADS_1


__ADS_2