Train to The Dungeon

Train to The Dungeon
Bab 32: 72 Jam


__ADS_3

Aku memelankan langkah kaki. Telingaku menangkap suara dengungan yang semakin jelas terdengar. Embusan angin yang melintas di antara sela-sela daun membawa aroma manis dan sedikit asam. Instingku memerintahkan untuk segera menghindar dengan cepat.


Aku pun refleks melompat ke udara. Di saat bersamaan melesat seekor lebah seukuran manusia dewasa. Ujung ekornya yang memiliki sengat berbentuk jarum melengkung menusuk tempat aku berdiri tadi. Lebah itu berwarna kuning dengan belang hitam, wajahnya menyerupai manusia dengan dua antena dan mata seperti kristal kaca. Dengungan yang kudengar berasal dari suara sayap semi transparan miliknya.


Mataku memindai lebah itu untuk mendapatkan informasi tentangnya. Muncul nama “Hiverheart Buzz” yang tulisannya berwarna putih. Walau demikian, kekuatan monster itu tampaknya tidak jauh berbeda dengan levelku saat ini. Gerakannya sangat gesit dan tusukan dari ekornya bisa merobohkan satu batang pohon berukuran normal.


Aku mulai terbiasa dengan pola serangannya, setelah menjejak di salah satu kepala jamur raksasa, aku lompat ke depan untuk menghadang Hiveheart Buzz. Sambil menghindari tusukan dari kedua tungkai depannya yang berbentuk tombak, aku melancarkan serangan Grasscutter ke badan monster itu dan memotongnya jadi dua.


Hiveheart Buzz mati seketika, tubuhnya yang terbelah mengeluarkan darah yang berwarna hijau.


Aku bertanya-tanya mengapa sejak tadi tidak ada pesan yang masuk dari sistem. Aku tidak tahu harus menyelesaikan misi apa. Yang kulakukan saat ini hanya mengikuti asumsi dan menuju ke lokasi bangunan kuil di bagian Barat hutan.


Saat sedang menggerutu, akhirnya yang kunantikan sejak tadi muncul—pesan dari sistem. Layar berwarna biru setengah transparan muncul di hadapanku diiringi suara notifikasi.


Tring!


[Quest: Bertahan hidup selama 72 jam (0/1)


Sub Quest: Capai Abandoned Temple (0/1)


Sub Quest: Dapatkan Item Red Crown (0/1)


Sub Quest: Bunuh Monster (1/750)


Reward: ???


Penalty: Kematian]


[Notification! Item Returning Clock tidak bisa digunakan dalam Quest ini]


Mulutku terbuka lebar saking syoknya, bahkan item Returning Clock tidak dapat digunakan. Artinya, sistem ini tidak akan membiarkanku keluar dari dungen kecuali aku menyelesaikan quest-nya. Tidak ada jalan putar balik, aku harus bersungguh-sungguh dan menuntaskan quest dalam 72 jam.


Tidak terbayangkan aku harus membunuh 750 monster hanya dalam waktu tiga hari. Melawan satu monster lebah saja tadi cukup lama. Aku tidak boleh ragu menggunakan skill, lebih cepat mengumpulkan poin membunuh monster maka itu lebih baik. Ditambah, aku juga harus menyicil perjalanan menuju bangunan kuil yang terbengkalai tersebut.


Aku pun berlari menuju Barat sambil sesekali menyisir hutan yang dipenuhi semak belukar lebat tersebut. Tiba-tiba sebuah benda terjatuh dari langit, aku tidak sempat menengadah tapi langsung lompat mundur ke belakang.


“Apa itu?”


Di hadapanku terdapat benda yang terjatuh tadi, bentuknya seperti sarang lebah tapi sangat besar. Benda raksasa itu hancur ketika menghantam permukaan, muncul aroma manis dari genangan kuning kental yang menggoda.


Namun, kuurungkan niat untuk mendekat karena mulai terdengar suara dengungan dari atas. Aku menengadah dan melihat sekumpulan Hiveheart Buzz datang menyerang.


“Bukan aku yang merusaknya kenapa kalian menyerangku?” protesku.


Aku lanjut berlari sambil menghindari sengatan monster-monster lebah tersebut. Terdengar suara gemeretak, lalu disusul oleh jatuhnya sarang lebah lainnya. Aku berhasil menghindar tapi berikutnya sekumpulan lebah lain datang menyerang. Kini ada dua koloni Hiveheart Buzz yang mengejarku.


Aku paham sekarang, setelah diperhatikan lebih seksama, sarang-sarang lebah itu berada di pohon berukuran gigantis. Ketika aku mendekat, sarang-sarang itu tiba-tiba jatuh dan merangsang para koloni Hiveheart Buzz untuk menyerangkan.


“Sial, ini terlalu disengaja, pasti perbuatan sistem agar aku bertarung.”


Memikirkan soal bertarung, aku teringat bahwa salah satu misiku adalah menghabisi 750 ekor monster. Kalau aku menghindari Hiveheart Buzz terus menerus, aku tidak akan mencapai angka tersebut. Justru, ini kesempatan yang bagus untuk menyerang mereka.


Kakiku yang tadinya berlari ke depan seketika berhenti. Tubuhku memutar ke belakang, mataku mengincar koloni yang jaraknya saat ini paling dekat.


“Ada sekitar 25 lebah di koloni itu, baiklah, aku sudah tahu posisi mereka semua.”


Setelah menghela napas panjang, aku maju sambil mengerahkan Skill Shadow Move. Tubuhku yang menghilang di dalam bayangan dengan mudah menyusup di antara para lebah itu dan membantai mereka satu per satu.


Aku membunuh seekor lebah terakhir, tapi disaat bersamaan dua ekor lebah dari koloni lain menyerang dan berhasil menusuk punggungku. Seperti tersetrum, aku tersentak kaget dan lompat menjauh dari koloni baru yang datang menyerang.


[Warning! Anda terkontaminasi racun Hiveheart Buzz]

__ADS_1


[Tubuh Anda mengalami Slow 5%]


“Kecepatan berkurang karena terkena racun lebah ini?” Aku menyentuh luka di punggung. Karena efek pasif Skill Pain Absorber aku memang tidak merasakan sakit, tapi dari luka tersebut muncul gelembung besar yang bentuknya aneh sekaligus mengerikan.


Aku bergidik sendiri saat meraba permukaannya yang kenyal.


“Fokus, Arka!” peringatku pada diri sendiri. Beberapa lebah datang menyerangku, aku pun melompat di antara batang-batang pohon untuk menghindari.


Peringatan dari sistem benar, tubuhku bergerak lebih lambat dibanding biasanya. Efek racun ini sangat mengganggu, aku harus membersihkannya dari tubuhku.


“Purification!” seruku, mengaktifkan skill.


[Warning! Racun Hiveheart Buzz di tubuh telah menghilang. Efek slow sudah dihapus]


Untunglah aku punya skill Purification, sehingga masalah efek racun bisa teratasi. Aku menggunakan Shadow Move lagi dan membunuh koloni Hiveheart Buzz lainnya.


Aku semakin terbiasa menghadapi mereka, bahkan serangan dari dua koloni sekaligus tidak membuatku gentar. Tanganku mengayun dengan gesit memotong-motong tubuh lebah itu sambil menghindari satu demi satu sengatan mereka.


“Hyah!” Aku mengerahkan segenap tenaga dan membunuh satu koloni terakhir sebelum akhirnya keluar dari area pohon-pohon gigantis tersebut.


Kakiku mendarat di atas salah satu batu besar. Dadaku naik turun berusaha menstabilkan napas. Adrenalinku berpacu dengan kencang karena pertarungan barusan.


[Anda telah naik level!]


[Quest: Bertahan hidup selama 72 jam (0/1)


Sub Quest: Capai Abandoned Temple (0/1)


Sub Quest: Dapatkan Item Red Crown (0/1)


Sub Quest: Bunuh Monster (151/750)


Reward: ???


Penalty: Kematian]


[Anda memperoleh Beesting’s Hiveheart x154]


Aku membuka inventory dan mengambil Energy Drink. Setelah meminum satu kaleng item tersebut rasanya tubuhku menjadi lebih segar. Memang tidak ada peringatan Level Fatigue yang muncul, aku hanya ingin mengantisipasinya lebih awal.


Di area selanjutnya adalah hutan dengan pohon-pohon berukuran normal. Tajuknya rapat dan terasa sedikit angin yang berhembus.


Pohon-pohon di sekelilingku terlihat asing, mungkin spesiesnya berbeda dari yang ada di dunia manusia. Walau sekilas aku mengira mereka seperti pohon beringin. Diameter batanngya besar-besar dan banyak yang memiliki akar rambat, menjulur sampai lantai hutan.


Beberapa pohon juga memiliki akar papan yang tebal dan menjalar ke berbagai tempat. Aku harus berhati-hati agar tidak tersandung akar tersebut.


Aku memperlambat langkah, Super Sense-ku mendeteksi kehadiran mahluk lain di sekeliling. Aku merasa diawasi oleh beberapa pasang mata. Hawa membunuh yang kuat terasa menguar dari tempat-tempat mereka bersembunyi.


Kedua tanganku sudah bersiap andai ada serangan kejutan dari monster-monster tersebut.


Bibirku bergerak, menghitung jumlah monster yang sedang bersembunyi di dalam hutan tersebut. Berkat peningkatan kemampuan indraku, keberadaan mereka pun dapat terlacak dengan jelas.


“Satu di belakang pohon itu…dua di atas tajuk….”


Saat aku sedang mengamati posisi-posisi bersembunyi mereka, akhirnya adalah salah satu monster yang keluar dan melakukan serangan kejutan.


Bibirku tersenyum tipis, “Aku sudah tahu kamu ada di sana sejak tadi!”


Cakaran tajam dari monster berbulu hitam tersebut berhasil kutangkis, sebagai gantinya aku menyabetkan Grasscutter dan Crimson Edge di perut dan leher monster itu.


Mataku sempat memindai identitasnya sebelum monster itu mati. Namanya adalah Duskfang Pouncer. Nama monster itu masih ditulis dalam warna putih. Walau aku merasa dia sedikit lebih kuat dibandingkan Hiveheart Buzz, tapi tetap saja levelku masih lebih unggul darinya.

__ADS_1


Duskfang Pouncer memiliki wujud seperti setengah manusia dan setengah macan kumbang. Wajah mereka menyerupai hewan, tapi postur tubuhnya seperti manusia. Tingginya dua meter, sekujur tubuh mereka ditutupi bulu hitam dan mereka memiliki buntut seperti macan.


Serangan mereka datang dari cakar-cakar kuku yang tajam dan kuat. Sekali aku melihatnya menebas salah satu batang pohon sampai hancur. Mereka juga menyerang secara berkelompok.


Begitu aku membunuh salah satu rekan mereka, Duskfang Pouncer lain yang tadinya bersembunyi kini satu per satu bermunculan dan menyerangku sekaligus.


Aku cukup kesulitan menghindar sambil menyerang. Itu karena mereka mampu bergerak mengimbangi kecepatanku.


“Aku tidak bisa begini terus! Shadow Move!”


Setelah mengaktifkan skill, aku menjadi sedikit lebih unggul dari mereka. Aku berhasil menebas kepala para Duskfang Pouncer yang muncul, walau tubuhku sendiri tidak luput dari luka.


“Heal,” gumamku sambil menyembuhkan diri.


Belum lama situasi tenang, dari balik pohon-pohon melesat beberapa Duskfang Pouncer. Aku menghindari serangan mereka, tubuhku terpojok oleh sebuah pohon besar di belakang. Namun, itu tidak masalah. Saat mereka datang aku berencana menggunakan Shadow Move untuk mengelabui mereka.


Tiba-tiba, sesuatu melilit kakiku dan menjerat seluruh tubuhku. Aku bahkan telat meresponnya. Akar pohon besar di belakangku bergerak, sulurnya menjadi lentur dan mencengkram tubuhku dengan kencang.


Pohon-pohon ini ternyata hidup jauh melebihi yang kubayangkan. Mereka menjerat dan membuatku tidak bisa bergerak. Di saat bersamaan, gerombolan Duskfang Pouncer pun datang menyerang ke arahku.


Aku harus menghentikan mereka semua dan memanfaatkan kesempatan—sekecil mungkin—-untuk melepaskan diri dari jeratan akar pohon.


“Grim Domination!”


Kedua mataku memancarkan bias berwarna hijau. Seketika muncul tekanan yang besar dan memaksa kelompok Duskfang Pouncer itu untuk tunduk di hadapanku. Mereka mengaum dan menolak, tapi tidak mampu melawan tarikan gravitasi yang kuat.


Sementara itu, aku mengalirkan setiap kekuatan ototku untuk membebaskan diri dari jeratan akar. Aku berteriak sambil merentangkan kedua tangan dengan paksa, jeratan akar-akar itu pun hancur seketika.


Baru mendarat di permukaan, beberapa sulur dan akar kembali merayap ke arahku. Kedua tanganku dengan cepat memotong akar-akar tersebut.


“Tidak hanya monster, sekarang aku juga harus waspada dengan keberadaan akar-akar penjerat ini.”


Efek dari skill Grim Domination masih tersisa, para Duskfang Pouncer itu belum dapat bergerak sepenuhnya. Kesempatan itu kumanfaatkan untuk menebas leher mereka semua.


Aku menghela napas lega, berhasil terbebas dari situasi tidak terduga yang sedikit mengancam.


Sambil memantau sekeliling, aku kembali melanjutan perjalanan. Sesekali muncul Duskfang Pouncer dari balik semak-semak atau pohon, tapi aku berhasil mengatasinya dan membunuh monster-monster tersebut.


[Anda telah naik level!]


[Anda memperoleh Steel Claw x154]


[Anda memperoleh Panther’s Heart x150]


[Anda memperoleh Panther’s Fur x160]


Tidak terasa, senja telah tiba. Aku keluar dari hutan tepat saat matahari mulai tenggelam. Aku tiba di pinggir sebuah danau raksasa. Cahaya jingga yang menghiasi langit memantul di atas permukaan danau. Seketika suasana terasa tenang dan syahdu.


Aku sudah dapat melihat puncak dari pohon besar yang memayungi banguan tua tujuanku, jaraknya sudah tidak jauh.


Akan berbahaya jika aku melanjutkan perjalanan di malam hari, lebih baik aku beristirahat di sini dan membangun kemah sederhana.


Di saat bersamaan, layar dari sistem muncul untuk memberitahu perkembangan misi yang kukerjakan.


[Quest: Bertahan hidup selama 72 jam (0/1)


Sub Quest: Capai Abandoned Temple (0/1)


Sub Quest: Dapatkan Item Red Crown (0/1)


Sub Quest: Bunuh Monster (311/750)

__ADS_1


Reward: ???


Penalty: Kematian]


__ADS_2