
Aku sudah melakukan penyerbuan solo selama empat hari. Total ada dua dungeon yang sudah kubersihkan, sementara yang ketiga sedang kulakukan sekarang.
Hari ini aku bertugas membersihkan Dungeon Tingkat 3. Arenya jelas jauh lebih luas dibandingkan Dungeon Tingkat 2. Sementara Denis tengah mengumpulkan tumbuhan, aku pergi bertarung melawan bos.
Bos yang kuhadapi kali ini bernama Pangolin Rodder, monster Kelas B. Wujudnya mengingatkanku pada hewan trenggiling jawa. Kalau berdiri, monster ini tingginya bisa mencapai 6 monster. Walau levelku lebih tinggi dibandingkan Pangolin Rodder, bagian luar tubuh monster itu dilapisi sisik tebal yang sangat keras. Kedua sabitku bahkan tidak bisa menembusnya.
Satu-satunya cara untuk melukai Pangolin Rodder adalah dengan menusuk bagian bawah tubuhnya yang tidak terlindungi sisik. Namun, monster ini sering menggulung tubuhnya dan berputar seperti bola yang bergerak secara acak.
Aku harus membuatnya diam dan membuka diri dari posisi bergulung tersebut.
“Grim Domination,” ucapku, mengaktifkan skill.
Terasa getaran yang kuat di sekeliling. Seperti ditarik oleh sesuatu yang kuat, Pangolin Rodder yang sedang bergulung tiba-tiba merentangkan tubuhnya. Badan besar monster itu merapat ke permukaan, kepalanya tertunduk ke bawah dan ia gemetaran karena berusaha melawan tekanan dariku.
Grim Domination adalah skill untuk menundukkan lawan secara paksa. Kemampuan ini hanya bekerja kepada monster yang levelnya setara atau lebih rendah dibandingkan diriku.
Melihat posisi tubuh Pangolin Rodder yang terbuka, seketika aku maju menyerangnya. Sabetan panjang membentang di leher dan perut monster itu, hampir memotong tubuhnya menjadi dua. Seketika, bar HP Poangolin Rodder menyusut sampai habis. Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan suara seperti mendecit lalu mati.
Tring!
[Bunuh Anteater Warrior (200/200)
Bunuh Anteater Wizard (100/100)
Bunuh Blindant Chaser (10/10)
Bunuh Pangolin Rodder (1/1)]
[Reward: Ant Acid Potion x10, Hunter Kit Chest, Acidius Blade, Status Point +5]
[Anda telah naik level!]
[Anda memperoleh Achievement “New Hunter Approach”]
[Anda mendapatkan kesempatan untuk memperoleh Job. Terima atau Tidak?]
Tawaran mendapat Job? Bahkan saat ini statusku tidak jelas antara Hunter sungguhan atau bukan. Namun, karena sudah ada tawaran seperti ini lebih baik tidak kusia-siakan. Mungkin dengan ini akhirnya aku bisa benar-benar menjadi Hunter.
“Aku menerimanya.”
Tring!
[Anda menerima kesempatan memperoleh Job]
[Anda memperoleh Item “Dvintara Express Ticket”]
[Anda memperoleh Item “Abandoned Temple’s Key]
Penasaran, aku langsung membuka inventory untuk mengecek item tersebut. Tampak, di sudut kiri atas inventory terdapat item berbentuk kartu multitrip berwarna hijau tosca dan di sebelahnya sebuah item berbentuk kunci emas dengan gagang berukir liana.
[Item: Dvintara Express Ticket
Item Class: S
Type: Card
Kartu satu kali perjalanan pulang-pergi ke Sacred Jungle Dungeon]
[Item: Abandoned Temple’s Key
__ADS_1
Item Class: S
Type: Key
Kunci untuk membuka pintu di reruntuhan kuil Sacred Jungle Dungeon]
Kedua item yang baru kudapatkan ternyata saling terhubung. Untunglah, aku tidak perlu mencari kuncinya lagi seperti Donerhaim Dungeon. Namun, melihat klasifikasi kelasnya, apakah dungeon yang akan kumasuki ini juga berada di tingkat yang sama seprti Donerhaim Dungeon—Tingkat S.
Jika demikian, aku harus mempersiapkan diri sebaik mungkin dan tidak boleh gegabah. Sistem ini tidak mungkin bermurah hati begitu saja. Untuk memperoleh Job ‘pemberian’ seperti ini, pastinya sistem sudah menyiapkan tantangan yang sulit untuk kulalui.
Memang terdengar merepotkan, tapi entah mengapa jantungku justru berdebar karena semangat dan tidak sabar menantikan masuk ke dalam dungeon tersebut. Semakin kuat musuhnya, aku jadi makin ingin bertarung melawannya.
“Baiklah, sekarang aku melapor dulu ke Denis.” Putusku. Aku memastikan sekali lagi tidak ada sesuatu yang tertinggal di dalam sarang bos tersebut. Tidak lama kemudian, aku pun berlari menuju ke lokasi Denis berada.
Begitu sampai di tempat, Denis juga sudah menyelesaikan tugasnya. Ia mengumpulkan 100 jenis tumbuhan Ravigia Gornigus. Tumbuhan ini terlihat seperti kantung semar, hanya saja ukurannya hampir satu meter dan ia memakan monster-monster semut di dalam dungeon.
Denis keluar dari kubangan air, punggungnya memapah jaring besar yang di dalamnya terdapat tumbuhan Ravigia Gornigus.
“Sini, biar kubawakan,” tawarku. Kasihan juga melihat Denis kesulitan membawa tumbuhan sebanyak itu. Apalagi armor pakaiannya dengan jubah berumbai-rumbai sangat tidak efisien dipakai bergerak di dalam air.
“Hufh.. terimakasih!” Denis langsung terduduk lemas begitu sampai di atas jembatan kayu yang menghubungkan jalan dua terowongan.
Aku mengangkat jaring menggembung itu dengan mudah dan menyampirkannya di punggung. Denis yang sudah berkali-kali melihat kemampuanku hanya bisa tersenyum sambil mengangkat jempolnya.
“Kuat seperti biasanya ya,” ucap laki-laki itu sembari bangun.
“Denis, apa kamu sudah melakukan booking untuk dungeon selanjutnya?” tanyaku sambil berjalan menuju stasiun dungeon.
“Belum,” jawab Denis. “Kenapa? Mau aku booking sekarang?”
“Tidak. Baguslah kalau belum di booking. Aku berencana libur dulu seminggu.”
“Begitulah,” jawabku sekenanya sambil mengedikkan bahu. “Akan ku kabari kalau urusanku sudah selesai.”
“Oke!” Denis mengacungkan jempolnya lagi. “Terima kasih juga buat bantuannya selama beberapa hari ini.”
Aku hanya tersenyum tipis pada Denis. Tidak lama, kami sampai di stasiun dungeon dan naik ke gerbong. Kereta itu meluncur keluar dari portal dungeon dan tiba kembali di Stasiun Jatinegara.
***
Keesokan harinya, aku memberitahu Tante Tara kalau akan ikut pelatihan Porter selama seminggu di Asosiasi Hunter. Kondisi Tante Tara sudah sangat baik, sehingga tidak masalah meninggalkannya di rumah sakit sendirian.
Tante Tara belum tahu soal perkembangan kekuatanku, ia masih melihatku sebagai Hunter Tanpa Peringkat yang bekerja sebagai Porter. Aku juga sudah meminta Chika untuk tidak memberitahu soal ini ke Tante Tara, untung Chika mau berkonspirasi dengan sandiwara yang kubuat. Namun, suatu hari nanti aku ingin memberitahu Tante Tara soal ini.
Bukan hanya Tante Tara, suatu hari nanti orang-orang pun akhirnya akan mengetahui kekuatanku. Sampai saat itu tiba, aku harus memastikan diriku sudah benar-benar kuat.
Sambil menunggu taksi online datang menjemput, aku memeriksa ulang status profilku.
Name: Arkana Ganendra | Level: 40
Race: Human | Job: -
Element: - | Path: -
Title: Goblin Slayer
Guild: - :
Pet: -
__ADS_1
HP: 600 (+1050)
MP: 1150 (+500)
STR: 65 (+15) | INT: 55 (+50)
VIT: 50 | DRB: 50 (+45)
DXT: 61 (+50)
Status point: 64
“Semoga ini cukup,” gumamku. Jika pun kekuatanku masih kurang, aku bisa menggunakan status poin untuk meningkatan semua atribut dasar dan mempersempit selisih kekuatan.
Taksi online akhirnya tiba di pick up area rumah sakit. Aku masuk ke dalam mobil dan kendaraan itu langsung melaju ke Stasiun Juanda.
Stasiun Juanda tampak ramai seperti biasanya. Aku turun dan langsung menuju ke gate ticket yang sudah mati dan berdebu karena lama tidak terpakai. Para Hunter umumnya masuk lewat dua pintu utama dan tidak melakukan peminadaian di gate ticket lagi. Namun, aku ingat kalau item yang diberikan oleh sistem tetap dapat digunakan walau gate ticket di stasiun sudah mati.
Tanganku mengoperasikan sistem menu dan mengeluarkan Dvintara Express Ticket. Benda itu terlihat seperti kartu tap kebanyakan. Hanya saja warnanya hijau tosca, lapisannya tebal seperti logam dan terdapat simbol pohon dengan dua lingkaran di belakangnya.
“Simbol ini sepertinya tidak asing,” aku mengamati gambar di sudut kiri kartu tersebut. “Akan kupikirkan nanti soal ini.”
Aku meletakkan kartu tersebut di mesin pindai, seketika muncul pemberitahuan sistem di depan wajahku.
Tring!
[Player teridentifikasi Arkana Ganendara]
[Akses Infinity Train diberikan. Silakan masuk!]
Tubuhku melewati gate ticket, dan seketika aku memasuki dimensi lain yang terpisah dari orang-orang di luar sana. Di dalam dimensi itu, aku berada di dalam stasiun Juanda seorang diri. Di beberapa bagian aku dapat melihat refleksi orang-orang yang berada dimensi satunya, mereka seperti tidak menyadari kehadiranku.
Setiba di peron, Infinity Train ternyata sudah datang. Aku menaiki gerbong kedua dan memandangi jendela kaca besar di samping. Kereta itu pun mulai melaju dan masuk ke dalam portal berwarna merah yang muncul di atas rel.
Pemandangan di sekeliling tampak seperti perpaduan merah dan hitam. Ada percikan listrik yang kuat di sepanjang lorong yang kulewati. Begitu kereta keluar, aku langsung disuguhkan oleh pemandangan hutan hujan yang luas.
Sepanjang mata memandang hanya terdapat pohon-pohon mulai dari ukuran normal sampai gigantis. Langitnya biru cerah dengan awan putih yang bergulung-gulung.
Aku turun dari gerbong, keluar dari stasiun dan langsung menjejakkan kaki di alas rumput yang terasa seperti permadani. Embusan anginnya pun sejuk dan menyegarkan. Jika tidak ingat saat ini sedang berada di dalam dungeon, aku pasti sudah memutuskan untuk berkemah.
“Oke, waktunya bertarung.”
Aku sudah bersiap dengan kedua senjataku di tangan. Setelah menarik napas beberapa kali, aku pun berjalan keluar dari safe area dan masuk ke mulut hutan.
Terdengar suara burung-burung bersahutan dan serangga hutan. Tajuk-tajuk pepohonan yang lebat menciptakan bayangan di lantai hutan tersebut.
Berhubung pesan misi dari sistem belum muncul, aku pun tidak tahu harus berbuat apa. Kemampuan Super Sense ku juga belum mendeteksi keberadaan monster di sekitar. Apa karena jarakku masih terlalu dekat dengan Safe Area.
Aku mengingat-ingat, “Kunci yang diberikan oleh sistem secara spesifik menyebut Abandoned Temple, mungkin tujuanku adalah sebuah bangunan tua?”
Menebak-nebak, aku pun melompat dari satu dahan ke dahan lain, berusaha menaiki salah satu pohon berukuran gigantis yang tingginya mungkin mencapai dua puluh meter.
Aku tiba di atas puncak tertinggi pohon tersebut. Mengandalkan kemampuan Super Sense, aku menajamkan penglihatanku dan mulai mencari sesuatu yang tampak seperti bangunan di tengah hutan.
“Ah, itu dia.” Gumamku.
Di arah Barat, tampak sebuah bangunan seperti candi yang disusun dengan balok-balok batu berwarna keemasan. Sebuah pohon besar tumbuh menembus bangunan tersebut, menimbulkan kesan magis yang memayungi wilayah tersebut.
Tidak terlihat bangunan lain, aku yakin kalau tempat itu adalah tujuanku. Kakiku menjejak dengan kuat dan tubuhku terlontar ke bawah. Aku berhasil mendarat di dahan-dahan pohon sampai kembali ke tanah. Kaki ku lalu melangkah ke arah Barat, menuju ke bangunan tersebut.
__ADS_1